BUKU TAMU

Farhan
Assalamu'alaikum Wr. Wb. Jalur mana yang harus ditempuh untuk rekruitmen sebagai Penerbang ? informasi mengenai Taruna AAU dan PSD...
Ade Kurniawan
Assalamu'alaikum Wr. Wb. Pak, apakah ingin mendaftar Taruna AAU dari jurusan yang tertera jurusan T. Penerbangan, T. Mesin, T. Ele...
Asarella Sasrianto
Selamat siang Pak, Kapan penerimaan Tamtama PK TNI AU Gelombang II ?, apakah untuk kejuruan Paskhas saja ?, dan apakah j...
Mansyur
Kapan pendafaran Tamtama PK TNI AU di Lanud Sultan Hasanuddin dan di mana tempat pendaftarannya Pak ?
Dede Sukandi
Selamat Pagi Bapak/Ibu, Apakah lulusan D.3 Keperawatan/Kesehatan bisa mengikuti pendaftaran Perwira TNI AU dan bagaimana cara...
Supriyadi Basya Al-Bashri
Bapak Admin, Bagaimana cara mendapatkan buku dan naskah seperti yang ada dalam menu pustaka pada website TNI AU ? sebagai anak ban...
M Habilrokhim
Assalamu'alaikum Wr. Wb. Apakah lulusan Universitas Terbuka dapat mengikuti pendaftaran Perwira ?
Rian Achmad
Salam dirgantara !Jika ingin berkunjung ke Lanud Iswahjudi Madiun, apa saja persyaratannya ? saya ingin melihat langsung Alutsista...
Galih Aktia Oktaviani
Bagaimana dengan hasil nilai UN 6.2, bisa atau tidak mendaftar Bintara PK TNI AU saya berminat sekali, terima kasih sebe...
Vanes Fransisco
Selamat pagi Bapak/Ibu, Apakah seleksi dan pendidikan dikenakan biaya dan berapa biaya yang dikeluarkan ? mohon informasinya, teri...
Agung Prabowo
Assalamu'alaikum Wr. Wb. Apakah rekrutmen Taruna AAU sudah ditutup ? mengapa halaman website http://au.rekrutmen-tni.ilmci.co...
Oni Setiawan
Apakah lulusan D.4 Komputerisasi bisa mengikuti pendaftaran prajurit TNI ?
Rizqi Jauhari
Selamat Pagi, Apakah lulusan Akademi Angkatan Udara bisa menjadi seorang penerbang pesawat tempur TNI AU ?
Renaldi Wicaksono
Assalamu'alaikum Wr. Wb. Di mana alamat lengkap pendaftaran Taruna/Taruni Akademi TNI ? saya tinggal di Purworejo, pengi...
Oni Setiawan
Assalamu'alaikum Wr. Wb. Apakah lulusan D.4 Komputerisasi Akuntansi setara S.1 gelar Sarjana Sains Terapan bisa mengikuti pendafta...

LETKOL KES. Dr WAWAN MULYAWAN PUTRA KOPRAL RAIH GELAR DOKTOR

Dispenau - 10/01/2012

Letkol Kes. DR. Dr. Wawan Mulyawan, Sp.BS., bersama keluarga usai mempertahankan desrtasinya di Aula FK UI. Selasa (10/1)

Letkol Kes Dr. Wawan Mulyawan berhasil mempertahankan disertasinya dihadapan dewan penguji yang diketuai Guru Besar Tetap Ilmu Bedah Syaraf FK UI Prof. dr. RM Padmosantjojo, Sp.BS (K), dengan anggota dr. Nuryati Siregar, MS, Sp.PA (K) PhD, Dr. dr Agus Turchan, SpBS (K) dan DR. dr. Sri Widia A Jusman, MS, serta Promotor Dr. rer. Physiol. Dr Septelia Inawati Wanandi dan Letkol Kes. Dr. dr Isdwiranto Iskanto, MSc di Aula FK UI, Selasa (10/1). Putra seorang kopral tersebut mengambil judul disertasi “Analisis respon adaptasi jaringan otak pasca induksi hipoksia hipobarik intermiten pada tikus : Kajian khusus pada ekspresi hypoxi-inducible factor-1a”.

Guru Besar Tetap Biokimia dan Biologi Molekuler FK UI Prof dr Muhamad Sadikin, DSc, mengatakan bahwa Letkol Kes. Dr. dr Wawan Mulyawan, Sp.BS., telah meruntuhkan mitos bahwa seorang militer tidak boleh berpikir bebas, yang konon hanya siap menjalankan perintah. Kata-kata siap yang selalu diucapkan kepada tim Promotor ternyata membuktikan kesiapan penelitian atas inisiatif sendiri bukannya siap menerima perintah semata.

Disebutkan dalam disertasinya bahwa resiko akibat terjadinya perubahan tekanan udara dari normobarik ke hipobarik secara akut adalah decompression sickness (gangguan tubuh akibat perbedaan tekanan udara di luar di dalam tubuh) dan kekurangan oksigen disebut hipoksia hipobarik. Resiko hipoksia hipobarik masih menjadi masalah hingga saat ini, karena angka terjadinya kebocoran pressurized cabin masih saja terjadi baik di penerbangan sipil maupun penerbangan militer, walau teknologi penerbangan semakin canggih.

Pada tahun 2000 di Amerika Serikat telah terjadi sebelas kejadian dekompresi pada pesawat komersial atau setiap 50.000 jam terbang, sedangkan US Air Force mengindikasikan hasil yang sama. Demikian juga terhadap G-Force pada penerbangan pesawat tempur terdapat resiko terjadinya kekurangan oksigen pada saat black out berupa hipoksia stagnan dan saat red out dengan terjadinya cedera re-perfusi.

Dalam penelitian membuktikan bahwa dengan pemberian latihan hipoksia yang terkendali dan berulang-ulang (intermiten) ternyata akan meningkatkan ketahanan otak dan jantung terhadap kekurangan oksigen yang berat dan fatal, jelasnya.

Selanjutnya hasil desertasi ini telah diserahkan dan dalam proses perbaikan untuk dimuat dalam majalah kedokteran penerbangan yang paling bergengsi dan dapat dikatakan sebagai artikel pelopor dalam bidangnya yang menggali sampai aspek seluler dan monokuler.


 

follow-us

VIDEO