BUKU TAMU

Dwi Susanto
Assalamu'alaikum Wr. Wb. Pak usia saya 23 tahun pada bulan Juli, apakah bisa mengikuti pendaftaran prajurit? persyaratan pend...
Puspparini Noviana Indah
Selamat siang, Mohon informasi bagaimana teknis melaksanakan field trip dari sekolah ke Lanud Halim Perdanakusuma ? terima kasih.
Ravalent Marshal Marpaung
Saya Kelas 1 SMA jurusan IPS dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP)/kurikulum 2006, terdapat pelajaran Kimia dan Fisika...
Setyo Nugroho
Saya Kelas XII SMA, bagaimana dengan belum mendapatkan ijazah ? sesuai persyaratan pada form pendaftaran onlin...
Lola Ismeliani
Assalamu'alaikum Wr. Wb. Saya tinggal di Cirebon, ingin menjadi Taruni AAU, selain mendaftar online datang ke Lanud yang telah dit...
Aziz
Assalamu'alaikum Wr. Wb. Pendaftaran online pengisian tahun kelulusan diisi tahun berapa ? dan data nilai akhir, apakah nilai rata...
Martanda
Selamat sore Admin yang bertugas, Apakah boleh pendaftaran prajurit TNI menyertakan surat keterangan akte dalam proses ? kemu...
Santo Michael Sihombing
Selamat siang, Bagaimana cara pendaftaran online Taruna AAU ? pada pengisian pilihan tahun kelahiran yang ters...
Desky Rawindra
Assalamu'alaikum Wr. Wb. Pak kapan pendaftaran Tamtama PK TNI AU Gelombang II Tahun 2015 ?, untuk anak saya di Tanjung Pinang, apa...
Rizqi Jauhari
Assalamu'alaikum Wr. Wb. Kemarin saya telepon ke Lanud Husein Sastra Negara, untuk pendaftaran Taruna AAU sudah dibuka, apakah ben...
Irwan Toni
Assalamu'alaikum Wr. Wb. Pak kapan pendaftaran CPNS TNI AU bagi Perawat ?
Mochamad Fahrurozi
Assalamua'laikum Wr. Wb. Saya ingin menjadi Taruna Akademi TNI, informasi melalui google, tidak ada kebutuhan lulusan SMK Administ...
Imam
Pak saya daftar Taruna Akademi TNI secara online, setelah daftar online datang ke Kodam. Apakah langsung datang ke Kodam dengan me...
Derra Diatama Riany
Assalamu'alaikum Wr. Wb. Bapak/Ibu, pada pendaftaran online ditentukan Nilai Akhir, maksudnya rata-rata nilai akhir raport semeste...
Anjan Wibowo
Selamat sore, Kapan pendaftaran Perwira PSDP TNI Tahun 2016 dan apakah tahun ini dibuka pendafataran ?

LANUD HALIM PERDANAKUSUMA

KOMANDAN LANUD HALIM PERDANAKUSUMA
Marsma TNI Sri Pulung Dwatmatsu, SE
.


Tugas Pokok

Tugas Pokok

“Menyiapkan dan melaksanakan pembinaan dan pengoperasian seluruh satuan dalam jajarannya, pembinaan potensi dirgantara serta menyelenggarakan dukungan operasi bagi satuan lainnya”.

Visi & Misi

V i s i

 

1. Bahwa TNI Angkatan Udara menggunakan media udara /dirgantara sebagai ruang gerak dan juangnya.

2. Bahwa TNI Angkatan Udara sebagai pengaman, pengawal dan penegak kedaulatan negara di udara / dirgantara Nasional siap untuk beroperasi dan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.

3. Bahwa TNI Angkatan Udara sesuai dengan sifat alutsistanya menghadapi situasi apapun cepat tanggap / bereaksi untuk melaksanakan Operasi Udara.

4. Bahwa Pangkalan Udara sebagai ujung tombak TNI Angkatan Udara selalu siap melaksanakan tugas pokoknya baik dalam bidang pembinaan maupun operasi.

 

M i s i

 

1. Menyelenggarakan pembinaan dan penyiapan satuan-satuan dalam jajarannya.

2. Mengumpulkan dan merekam data-data guna menyempurnakan taktik/teknik operasi dan latihan.

3. Melaksanakan pembekalan dan pengadaan material bagi satuan-satuan jajarannya.

4. Menyelenggarakan pemeliharaan alutsista sampai dengan tingkat sedang.

5. Menyelenggarakan pembinaan potensi dirgantara.

6. Menyelenggarakan pemeliharaan sarana dan prasarana serta fasilitas pendukung yang menjadi tanggung jawabnya.

7. Menyelenggarakan pemeliharaan sarana dan prasarana serta fasilitas pendukung yang menjadi tanggung jawabnya.

8. Mengadakan koordinasi dengan badan-badan instansi terkait di dalam dan di luar Lanud.

9. Mengadukan saran dan pertimbangan kepada Pangkoopsau mengenai hal-hal yang berhubungan dengan bidang tugasnya.

 

Profil

Gerbang Utama Lanud Halim Perdanakusuma


Hampir setiap Pangkalan TNI AU memiliki gerbang utama yang umumnya terletak dipintu masuk pangkalan. Bagi Lanud Halim Perdanakusuma, gerbang utama yang ada memiliki bentuk khas.

Gerbang yang dibuat pada masa Komandan Lanud dijabat Marsma TNI Teddy Sumarno memiliki ukuran yang cukup besar. Dengan adanya gerbang utama itu, maka setiap orang yang melewati jalan raya protokol yang menghubungkan Bandara Halim dengan Cawang, akan melihat sebuah pemandangan indah yang menunjukkan bahwa dilokasi itulah Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma berada.

Kondisi gerbang semakin marak ketika Komandan Lanud dijabat Marsekal Pertama TNI Eko Edi Santoso menambahkan sebuah monumen pesawat P-51 Mustang dibagian depannya. Monumen pesawat “Cocor Merah” itu sekaligus menunjukkan bahwa di pangkalan udara ini pada tahun 50-an pernah ditempati oleh Skadron III Pemburu yang berisikan pesawat P-51 Mustang.

Sejarah

Sekilas Lanud Halim Perdanakusuma


Berawal dari Konfrensi Meja Bundar di Den Haag antara Pemerintah Belanda dan Indonesia tanggal 23 Agustus 1949, Pangkalan Udara Cililitan dengan segala fasilitas yang ada diserahkan ke Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Upacara penyerahan dilakukan 20 Juni 1950 didepan Base Operation Pangkalan Udara Cililitan

Kasau komodor Udara S. Suryadarma yang menerima penyerahan itu dan ditandai dengan penurunan bendera Belanda merah-putih-biru untuk digantikan bendera Indonesia merah-putih. Tiga hanggar yang saat itu ikut diserahkan dan saat sekarang ini masih ada adalah hanggar Skadron 31, Skadron 17, dan hangar Skatek 021. Disamping itu ada pula perkantoran, gudang-gudang, bengkel dan rumah sakit serta perumahan. Nama Cililitan pada 17 Agustus 1952 diganti dengan nama seorang pahlawan TNI Angkatan Udara, Marsekal Muda TNI (Anumerta) A. Halim Perdanakusuma. Surat Keputusan KSAU Nomor : 76 Tahun 1952 adalah dasar penggantian nama itu.

Pangkalan TNI AU (Lanud) Halim Perdanakusuma yang secara keseluruhan memiliki daerah seluas 1.700 hektar adalah satu dari enam Lanud kelas A (utama) Lanud Halim Perdanakusuma memiliki landasan pacu sepanjang 3000 meter.

Sejak tahun 1977 sampai sekarang sudah tercatat 33 Perwira TNI AU pernah memimpin pangkalan ini. Lanud Halim dipimpin seorang Perwira Tinggi berpangkat Marsekal Pertama TNI (Bintang Satu). Dari 33 Komandan Lanud Halim Perdanakusuma itu, tiga diantaranya berhasil menjadi Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KASAU), yakni Marsekal TNI Soekardi, Marsekal TNI Siboen, dan Marsekal TNI Sutria Tubagus.

Kalau ada yang mengatakan bahwa Lanud Halim Perdanakusuma merupakan pangkalan terlengkap adalah benar. Disamping memiliki sebuah Organisasi Wing, Tiga Skadron Udara dan satu Skadron Teknik. Pangkalan ini ditempati lebih 20 satuan lain TNI/TNI AU termasuk ada disana Markas Komando Operasi TNI AU I (Makoopsau I), Markas Komando Pendidikan TNI AU (Makodikau), Markas Komando Pertahanan Udara Nasional (Makohanudnas), Markas Komando Sektor Hanudnas I (Makosek Hanudnas I), Dinas Survei dan Pemotretan Udara (Dissurpotrudau), Dinas Psikologi TNI AU (Dispsiau), dan Rumah Sakit Pusat TNI AU (Ruspau) “dr. Esnawan Antariksa”.

Didaerah Lanud Halim Perdanakusuma terdapat pula PAP II Cabang Bandara Halim Perdanakusuma (Sipil) dan Universitas S. Suryadarma (Unsurya). Lanud Halim Perdanakusuma juga merupakan pintu keluar masuknya tamu-tamu negara yang datang sebagai tamu resmi Pemerintah RI. Pejabat negera RI sendiri, baik itu perjalanan keluar negeri maupun kunjungan kedaerah, selalu menggunakan Lanud Halim Perdanakusma sebagai tempat keberangkatan maupun kedatangan. Skadron Udara 17 VVIP/VIP merupakan Skadron yang menyiapkan pesawat-pesawat untuk digunakan oleh Pejabat Tinggi Negara termasuk Presiden dan Wakil Presiden.

Dalam kaitan operasi militer TNI, Lanud Halim Perdanakusuma merupakan pangkalan tolak bagi pasukan-pasukan tempur dari semua Angkatan maupun Pasukan Pengamanan dari Polri, kedudukan Skadron 31 Angkut Berat dengan pesawat Hercules pengangkut pasukan, menyebabkan Komandan Wing I Lanud Halim Perdanakusuma berfungsi sebagai Komandan Satgas Udara Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC).

Kesibukan sebagai pimpinan Lanud Halim Perdanakusuma masih dibebani pula tugas pembinaan dibidang olah raga kedirgantaraan, selaku Ketua Federasi Aero Sport Indonesia Daerah (Fasida) DKI Jakarta


Belanda Menyerahkan Pangkalan Cililitan


Tanggal 20 Juni 1950 ada upacara serah terima yang dilaksanakan di apron base oparation Pangkalan Udara Cililitan. Pihak Militaire Luchvaart (ML) menyerahkan Pangkalan Udara Cililitan dan KSAU Komodor Udara Surjadi Suryadarma mewakili Angkatan Udara RI (AURI) untuk menerima penyerahan itu. Acara itu berlangsung lancar, karena memang pihak ML mentaati hasil Konfrensi Meja Bundar yang dilaksanakan di Den Haag, Belanda.

Konfrensi yang berakhir 23 Agustus 1949 itu diikuti oleh Pemerintah Belanda dan Pemerintah Republik Indonesia yang baru empat tahun merdeka. Hasil konfrensi itu antara lain bahwa ML harus menyerahkan semua Pangkalan Udara yang ada di Indonesia kepada AURI, salah satunya Pangkalan Udara Cililitan. Pangkalan yang diserahkan berikut semua fasilitas yang ada termasuk pesawat-pesawat terbangnya.

Dari fasilitas di Lanud Cililitan yang ikut diserahkan terdapat bangunan-bangunan, hanggar, kantor, gudang-gudang, perumahan anggota termasuk Rumah Sakit. Diantara bangunan itu yang masih ada sampai tahun 2003 ini antara lain Hanggar Skadron 31, Hanggar Skadron 17 dan Hanggar Skatek 021 yang merupakan bukti sejarah. Sementara bangunan lain sudah banyak mengalami perubahan.


Hampir 300 Pesawat Diserakan Kepada AURI


Masih dalam kaitan hasil Konfrensi Meja Bundar, AURI disamping menerima sejumlah Pangkalan Udara dari ML, juga menerima penyerahan hampir 300 buah pesawat terbang bekas pakai ML dari delapan jenis. Jumlah itu terdiri dari 25 pesawat pembom B-25 Mitcchell, 29 pesawat angkut C-47 Dakota, 30 pesawat pemburu P-51 Mustang, 74 pesawat latih lanjut AT-16/T-6G Harvard, 46 pesawat latih dasar BT-13 Valiant, 62 pesawat latih mula L-47 Piper Cub, 22 pesawat latih / pengintai Auster Aiglet dan sembilan pesawat Amphibi PBY-5 Catalina. Penyerahan pesawat-pesawat itu dilakukan di pangkalan Udara Cililitan bersamaan dengan acara penyerahan Pangkalan Udara Cililitan tanggal 20 Juni 1950.


Pesawat Pembom Merah Putih Pertama


Kalau pada tanggal 27 Oktober 1945, sebuah pesawat Cureng beridentitas Merah Putih diterbangkan oleh Pak Adisutjipto di Pangkalan Udara Maguwo, Yogyakarta, maka pada tanggal 29 April 1950 sebuah pesawat pembom B-25 Mitchell dengan nomor registrasi M-456 milik ML diserahkan kepada AURI. Pesawat yang berada di Hanggar 3 ML itu sudah beridentitas merah-putih, hari itu ditarik untuk dipindahkan ke Hanggar I AURI. Petugas penariknya adalah seorang tehnisi (flight engineer) bernama Sersan Udara Z. Palmelay. Di Hanggar I AURI, pesawat itu kemudian diperiksa secara teliti oleh para tehnisi sebagai bagian dari rencana penerbangannya pada esok harinya. Untuk rencana penerbangan pesawat pembom beridentitas Merah-Putih untuk pertama kalinya itu, disiapkan seorang Captain Pilot Letnan Udara I PGO. Noordraven, Co-Pilot Letnan Muda Udara I RJ. Ismail, flight engineer Sersan Udara Z. palmelay dan seorang juru radio Sersan Udara Hasibuan.

Pada tanggal 30 April 1950 pagi hari, sebuah bomber B-25 Mitchell M-156 dengan lambang bendera Merah-Putih diekornya, mulai lepas landas di landasan pacu Pangkalan Udara Cililitan. Pesawat itu terbang dengan mulus diatas Pangkalan dan sekitar angkasa Jakarta selama 1 jam dan mendarat dengan selamat. Hari itu sebuah pesawat pembom AURI terbang untuk pertama kali di angkasa negaranya sendiri dan diawaki oleh bangsanya sendiri. Setelah itu, dengan pesawat yang sama diawaki Captain Pilot RJ. Ismail dan Co-Pilot Letnan Udara Satu Patah serta tiga awak lainnya Sersan Hasibuan, Sersan Palmelay dan Kopral Udara Manapa ditugaskan untuk membantu Panglima Teritorium IV di Makassar untuk melaksanakan operasi bantuan udara

Masih dengan pesawat pembom B-25 Mitchell M-456 ditugaskan untuk mengantar KSAU Komodor Udara S. Suryadarma ke Singapura, menghadiri peringatan Hari Jadi RAF tanggal 9-10 Desember 1950 di Pangkalan Udara Changi. Para awak B-25 adalah Letnan Muda Udara I RJ. Ismail (Pilot), Letnan Udara I Suharsono Hadinoto (Copil), Sersan Udara Z. Palmelay, Sersan Udara Agus dan Sersan Udara Slamet.


Skadron Udara Dibentuk


Dari delapan jenis pesawat terbang yang diserahkan ML kepada AURI dengan jumlah yang hampir 300 buah itu. Kemudian dipikirkan penempatannya. Melalui penetapan KSAU Nomor : 2811 / KS / 1951 tanggal 21 Maret 1951, dibentuk Group Operasional yang berisi empat Skadron Udara bagi pesawat-pesawat yang berada di Pangkalan Udara Cililitan, Jakarta, yaitu Skadron I Pembom pesawat B-25 Mitchell, Skadron Udara III Pemburu pesawat P-51 Mustang. Skadron Udara IV Pengintai pesawat Auster dan Piper Cub dan Skadron V Angkut Operasional pesawat C-47 Dakota dibentuk di Pangkalan Udara Andir, Bandung dengan nama Djawatan Angkutan Udara Militer (DAUM).

Baru sebulan Skadron-Skadron Group Operasional terbentuk, menyusul Penetapan KSAU Nomor 28A/II/KS/1951 dengan susunan Skadron udara yang baru, yaitu Skadron I Pembom pesawat B-25, Skadron II Angkut pesawat C-47 Dakota. Skadron III Pemburu pesawat P-51 Mustang, Skadron IV Pengintai Darat pesawat Auster dan Skadron V Pengintai Laut pesawat PBY-5A Catalina.


Lanud Tjililitan Menjadi Lanud Halim Perdanakusuma


Melalui Surat Keputusan KSAU Nomor : 76/ 48/ PEN-2/52 tanggal 17 Agustus 1952, maka nama Pangkalan Udara Tjililitan diganti dengan Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma. Dalam surat keputusan itu, juga diubah nama tiga Pangkalan TNI AU yang lain yaitu Pangkalan TNI AU Maguwo di Yogyakarta menjadi Adisutjipto, Pangkalan TNI AU Bugis di Malang menjadi Abdulrachman Saleh dan Pangkalan TNI AU Andir, Bandung menjadi Husein Sastranegara.

Acara pergantian nama Pangkalan Tjililitan itu antara lain ditandai dengan pembukaan selubung nama Halim Perdanakusuma di pintu gerbang yang bentuknya masih sangat sederhana, bertepatan dengan acara peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-7.

Komandan


Kapten Iskandar
(1950-1951)

Kapten Moeharto
(1951-1952)

Kapten Jacub
(1952-1956)

Kapten Adm Abasuki
(1956-1958)

Letkol Noorsain
(1958-1961)

Letkol Pnb Bill Sukanto
(1961-1963)

Letkol Pnb Susanto
(1963-1965)

Kol. Pnb Wisnu Djajengminardo
(1965-1966)

Kolonel Pnb Roesman
(1966-1968)

Kolonel Pnb Sukardi
(1968-1970)

Kolonel Pnb Slamet Noer Prapto
(1970-1973)

Kolonel Pnb Soejitno
(1973-1975)

Kolonel Pnb A. Umar Safiudin
(1975-1977)

Marsma TNI Siboen D
(1977-1981)

Marsma TNI Suparman N.
(1981-1983)

Marsma TNI Hardadi M.S.
(1983-1986);

Marsma TNI Djauhari
(1986-1989)

Marsma TNI T. Tarigan Sibero SE, MBA
(1989-1990)

Marsma TNI Sudiarso SE
(1990-1991)

Marsma TNI M. Amin Kahar
(1991-1992)

Marsma TNI Sutria Tubagus, S.IP
(1992-1994)

Marsma TNI Iskak Kurmanto, S.IP
(1994-1996)

Marsma TNI Abdullah Syirat, SE, S.IP
(1996-1997)

Marsma TNI Mulyanto D.
(1997-1998)

Marsma TNI Tedy Sumarmo, SE
(1998-1999)

Marsma TNI Iwan Sidi, S.IP
(1999-2001)

Marsma TNI Eko Edi Santoso, S.IP
(2001-2002)

Marsma TNI Erry Biatmoko
(2002-2004)

Marsma TNI Sukirno KS
(2004-2005)

Marsma TNI Amirulloh Amin
(2005-2007)

Marsma TNI Boy Syahril Qamar. SE.
(2007-2009)

Marsma TNI Bagus Puruhito
(2009-2010)

Marsma TNI Nurullah, S.IP
(2010-Sekarang)


()


()


()
_________________________________________________________________________

 

follow-us

VIDEO