BUKU TAMU

Zainal
Assalamu'alaikum wr.wb Selamat pagi, maaf sebelumnya . Saya ingin tanya kalo pendaftaran Sekbang PSDP TNI 2014 kapan ya dibukanya...
Anggraini
Assalamu'alaikum, Mohon informasi apakah lulusan sarjana Olahraga tahun ini bisa mengikuti pendaftaran Perwira Karier TNI, di...
Dinul Habib Ulul Azmi Daniel
Assalamu'alaikum Apa persyaratan menjadi pilot TNI AU ? apakah pendaftarannya membutuhkan biaya ? terima kasih, wassalamu'alaikum.
Parramatta Adri Satyawada
Assalamualaikum Wr. Wb. Mohon info pendaftaran Wamil tahun 2014, seandainya bisa persyaratan apakah yang harus dipenuhi untuk mend...
Irfan Nurhadiansyah
Assalamualaikum Wr. Wb. Cita-cita saya dari kecil ingin menjadi TNI dan ingin mengikuti seleksi, dengan tinggi badan 161 cm,...
Ora Putra
Selamat siang Bapak/Ibu admin, Apakah jurusan Pendidikan Seni Musik bisa mengikuti seleksi penerimaan Perwira Karier TNI? Moh...
Rachell Nurman Zulkarnain
Saya mahasiswa jurusan Teknik Mesin Universitas Jember, di Malang. Apakah ada lowongan kerja praktek sesuai bidang jurusan saya pa...
Brian Julio Zesar
Selamat sore bapak/ibu, Lulusan S1 jurusan Akuntansi, bisakah daftar TNI-AU ? mohon informasinya. terima kasih.
Ignatius Sitorus
Saya tahun depan tamat SMA Unggul Del, bagaimana cara pendaftaran prajurit TNI AU? terima kasih.
Agnes
Selamat pagi, mohon informasi penerimaan calon Tamtama PK TNI AU Gelombang II TA 2014 ? terima kasih.
Annisa
Selama mengikuti kegiatan seleksi tingkat daerah maupun seleksi tingkat pusat di Akmil Magelang, apakah diperbolehkan dan diberi k...
Rifal Fauzi
Assalamu'alaikum Wr. Wb. Cita-cita saya ingin menjadi TNI dengan kondisi mata minus satu, mohon pendapatnya.
Betty
Saya sebagai keluarga menanyakan alamat lengkap dan kode pos untuk mengirim paket, buat anggota Prada yang tinggal di ba...
Rifki
Assalamu'alaikum Wr. Wb. Bagaimana cara bisa menjadi pilot di TNI AU ? 
Oscar
Apakah lulusan D3 Perhotelan bisa mengikuti test Perwira PK TNI ? terima kasih.

LANUD MAIMUN SALEH

DANLANUD MAIMUN SALEH
Letkol Pnb Darmanto

Tugas Pokok

Sebagai satuan pelaksana Komando Operasi TNI Angkatan Udara I, bertugas menyiapkan dan melaksanakan pembinaan dan pengoperasian seluruh satuan dalam jajarannya, pembinaan potensi dirgantara serta menyelenggarakan dukungan operasi bagi satuan lainnya.

Visi & Misi

Visi. Pangkalan Udara sebagai ujung tombak TNI AU selalu siap melaksanakan tugas bidang pembinaan dan operasi guna tercapainya tugas pokok.

 

Misi

  • Mampu menyelenggarakan pembinaan dan penyiapan satuan-satuan dalam jajarannya.
  • Mampu melaksanakan pembekalan dan pengadaan materiil bagi satuan satuan dalam jajarannya.
  • Mampu menyelenggarakan Binpotdirga
  • Mampu menyenggarakan pemeliharaan sarana prasarana dan fasilitas pendukung yg menjadi tanggung jawabnya.
  • Mampu mengadakan koordinasi dengan badan-badan dan instansi lain.
  • Mampu mengajukan saran dan pertimbangan kepada Pangkoopsau I mengenai hal-hal yang berhubungan dengan bidang tugasnya

Profil

-

Sejarah

SEJARAH SINGKAT

Pangkalan Udara Maimun Saleh di Sabang dibangun sejak zaman penjajahan Belanda. Pada waktu Jepang menguasai Indonesia, Pangkalan Udara Sabang juga merupakan Home Base yang sangat vital dalam rangka mengontrol arus pelayaran di Selat Malaka dan Samudra Hindia, termasuk pelaksanaan operasi udara pemboman di Burma, Malaysia dan kepulauan Ceylon. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, Pangkalan Udara Sabang dikuasai oleh Sekutu (Inggris dan Australia).

Pangkalan Udara Sabang adalah salah satu Pangkalan Udara di wilayah Kodau I yang terletak di Pulau Weh, merupakan Pangkalan Udara terdepan di Wilayah Barat Indonesia, yang juga merupakan pintu gerbang Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Pangkalan Udara Sabang mempunyai panjang landasan 1.400 m, terletak di kampung Cot Ba’u kira-kira 4 km disebelah Timur kota Sabang. Keadaan Pangkalan Udara Sabang sendiri merupakan suatu daerah terbuka, tidak berpagar yang dibatasi kampung-kampung, yaitu kampung Cot Ba’u, Ujung Karang dan Cot Abeuk. Landasan membujur dari arah Timur ke Barat berupa rumput, karang dan beton sebagian serta mempunyai dimensi 1.400 x 60 mtr dengan azimut 100 sampai 280. Fasilitas Aerodrome masih sangat sederhana dan mampu didarati pesawat-pesawat transport sampai ukuran C-130 B, pada musim kering. Namun dengan berjalannya waktu perbaikan demi perbaikan telah dilakukan, sehingga falilitas pangkalan terus meningkat dari waktu-ke waktu. Pada tahun 2003 fasilitas aerodrom Pangkalan sudah meningkat cukup pesat dan landasan berukuran 1.850 x 30 dan mampu didarati C-130 Hercules dan F-28 atau sejenis.

Pasang surut perjuangan kemerdekaan ikut mewarnai perkembangan Pangkalan Udara Sabang. Pangkalan Udara Sabang terletak di pulau Weh, yang merupakan pulau terbarat Indonesia. Posisi ini menyebabkan Pangkalan Udara Sabang sangat strategis dipandang dari sudut militer. Dengan adanya surat keputusan dari KSAP dan Menteri Agraria yang tumpang tindih antara AURI dan ALRI, maka masing-masing pihak merasa memiliki Pangkalan Udara Sabang, namun polemik ini akhirnya diakhiri dengan tetap mengacu kepada surat keputusan dari KSAP.

Pangkalan Udara Sabang sangat strategis untuk pelaksanaan operasi udara terutama dalam mengatasi konflik yang terjadi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Oleh karena itu Pangkalan Udara Sabang merupakan salah satu pilihan untuk menjadi pangkalan aju bagi pelaksanaan operasi terpadu di Provinsi NAD.
 
Dengan diterbitkannya Undang-undang tentang kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas Sabang th. 2000, maka Pangkalan Udara Sabang tidak hanya digunakan untuk kepentingan militer tetapi juga dapat berfungsi untuk kepentingan roda perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Sabang. Oleh karenanya penggunaan Pangkalan Udara Sabang harus dapat digunakan untuk kepentingan keduanya. Untuk mempersiapkan Pangkalan Udara/Bandar Udara Sabang menjadi pintu gerbang udara Sabang, maka pembangunan berbagai fasilitas telah giat dilaksanakan.

 

Dengan takdir Tuhan Jang Maha Kuasa jang tak dapat dielakkan oleh siapa atau apapun djuga. Maka pada hari Djum’at tanggal 1 Agustus 1952 djam 09.25 telah terdjadi ketjelakaan terbang dengan sebuah pesawat intai Auster IV–R–80 di Pangkalan Udara Semplak (Bogor) jang dikemudikan oleh sdr. Sersan Udara Penerbang Maimun Saleh.

Dalam Ketjelakaan ini sdr. Maimun Saleh gugur pada saat itu djuga. Lebih djauh dapat didjelaskan, bahwa peristiwa jang sangat menjedihkan itu terdjadi ketika diadakan latihan routine diatas Komando Pangkalan Udara Semplak dan apa jang menjebabkan terdjadinja ketjelakaan tersebut belum dapat diketahui.

Catatan Sejarah LANUD MAIMUN SALEH

Esok harinja tanggal 2 Agustus 1952 djam 06.35 djenasah alm. sdr. Maimun diangkut dengan pesawat dari Pangkalan Udara Tjililitan ke Kotaradja (Atjeh) tempat dimana alm. tersebut dilahirkan.

Alm. Maimun Saleh dilahirkan pada tanggal 14 Mei 1929 di Kotaradja.

Berturut turut ia mendapat didikan pada sekolah ,,Taman Siswa’’ dan ,,Sekolah Menengah Islam’’ di Kota kelahirannja itu.

Pada bulan Agustus 1949 sdr. Maimun Saleh diterima mendjadi murid penerbang di Kotaradja dan pada tahun 1950 ia dipindahkan ke Sekolah Penerbang di Kalidjati dimana ia telah berhasil memperoleh idjasah sebagai penerbang klas 3 pada 1 Pebruari 1951. kemudian ia masuk Squadron IV (Pengintai Darat) dan turut serta dalam semua operasi jang didjalankan oleh Squadron tersebut.

Dengan gugurnja sdr. Maimun Saleh, Angkatan Udara kita kehilangan pula jang mempunjai hari kemudian dalam pambangunan Angkatan Udara Republik Indonesia. Achirnja kepada keluarga alm. sdr. Maimun kami dari Angkasa atas nama seluruh Anggota AURI tak lupa menjampaikan perasaan turut berduka tjita atas gugurnja sdr. Maimun.

Almarhum adalah seorang Penerbang Daerah Istimewa Atjeh, telah gugur pada tanggal 1 Agustus 1952 dalam usia kl. 25 tahun dan dimakamkan di Aneuek Galong Sibreh Ketjamatan Suka makmur Kabupaten Atjeh Besar. Guna mendjadi kenang2an nama : MAIMUN SALEH telah diabadikan untuk lapangan terbang Militer LHO’ NGA dan Detasemen AURI Banda Atjeh (dahulu Koetaradja) pada tanggal 9 April 1954 oleh Angkatan Udara Republik Indonesia.

PEMBENTUKAN KOMANDEMEN III AURI KUTARAJA

Setelah perang kemerdekaan semua instalasi peninggalan tentara Jepang menjadi terbengkalai tidak terurus. Maka diambillah keputusan oleh Pemerintah untuk menyerahkan pengelolaan semua fasilitas peninggalan tentara Jepang kepada TRI. Dengan demikian semua fasilitas bidang keudaraan diserahkan kepada AURI dan mulailah AURI membentuk perwakilan di berbagai wilayah.

Periode 1946 – 1950 Pembentukan Perwakilan AURI di Kutaraja

Pada tanggal 12 November 1946, untuk pertama kalinya dibentuk perwakilan AURI diwilayah Aceh yang berkedudukan di Kutaraja (sekarang Banda Aceh), dengan komandannya Sersan Djajusadi dan bermarkas di Neusoe, Kutaraja. Anggota staf waktu itu hanya 4 orang saja, kemudian ditambah personil yang didatangkan dari Maguwo (Yogyakarta) dan Padang, sehingga akhirnya personil AURI waktu itu menjadi 17 orang. Lapangan terbang yang digunakan untuk keperluan operasi waktu itu adalah :

1. Lapangan terbang Lhok Nga (sebelah selatan kota Banda Aceh).

2. Lapangan terbang Blang Bintang (sebelah timur kota Banda Aceh).

Dalam tahun 1948, dibentuklah Komandemen III AURI yang berkedudukan di Kutaraja. Bertindak selaku Komandan Komandemen AURI Kutaraja waktu itu adalah O.U.I. Soeyoso Karsono. Dalam tahun itu pula dibentuk Pendidikan Penerbang, yang berpusat dilapangan terbang Lhok Nga dengan instrukturnya Kapten Udara Mulyono. Baru puluhan pemuda pelajar yang ikut melamar, setelah mengikuti testing dengan ketat menurut ukuran waktu itu, 5 orang pemuda yang lulus yaitu :

1. Maimun Saleh.

2. T. Zainal Abidin.

3. T. Iskandar

4. Abubakar.

5. Mukhtar.

Disamping pendidikan Penerbang tersebut diatas, sejak tahun 1948-1950 di lapangan terbang Lhok Nga juga telah dibuka Sekolah Tehnik Udara yang dipimpin oleh O.M.U.i Sadjad, dengan para instrukturnya anggota AURI dari Maguwo (Yogyakarta). Pendidikan tersebut bersifat teori dan praktek. Dalam praktek, para siswa melakukan perbaikan sebuah pesawat terbang pemburu Hayabusha bekas peninggalan Jepang yang tadinya hanya tinggal rongsokan saja, akhirnya berkat ketekunan para siswa Tehnik Udara tersebut, pesawat tersebut telah dapat dihidupkan mesinnya tetapi belum sempat diterbangkan.

Pada masa perjuangan fisik rakyat Aceh telah menyumbangkan sebuah pesawat Dakota RI-001 “Seulawah” kepada pemerintah RI untuk melanjutkan perjuangan kemerdekaan RI dan sebagai modal kekuatan udara yang menghubungkan daerah-daerah di Sumatera-Jawa yang sekaligus untuk memelihara Persatuan dan Kesatuan Rakyat Indonesia. Pesawat RI-001 melakukan operasi penerbangan keluar negeri yaitu ke Burma. Dari hasil operasi penerbangan Pesawat RI-001 ini antara lain untuk membeli sebuah pesawat Dakota lagi, untuk membiayai pendidikan AURI di luar negeri serta untuk membeli senjata.

Sedangkan Lapangan Terbang Lhok Nga dipergunakan untuk mendarat pesawat RI-001 yang masih berkedudukan di Burma. Pendaratan dilakukan pada malam hari sekitar pukul 01.00 s/d 03.00 WIB untuk kerahasiaan, dengan mengangkut alat perlengkapan militer, amunisi juga mengangkut tokoh-tokoh perjuangan yang bertugas sebagai penghubung Pemerintah RI. Secara tidak berlebihan dan sebagai fakta peranan AURI dan Lapangan Terbang Lhok Nga pada waktu perjuangan fisik telah memberikan andil/modal yang cukup besar bagi kelanjutan perjuangan RI. Seperti diketahui satu-satunya daerah yang tidak sempat diduduki oleh Belanda pada perang kemerdekaan I dan II adalah daerah Aceh, yang merupakan daerah salah satu modal dasar perjuangan kemerdekaan RI selanjutnya.

Dalam uraian ini dapat di catat tokoh-tokoh AURI yang bergerilya di Aceh pada waktu perang kemerdekaan I dan II adalah sebagai berikut :

1. O.U. I Soeyoso Karsono.

2. O.U. II Berahim Bakti.

3. Kapten Ud. Mulyono.

4. O.M.U. I R. Sadjad.

5. O.M.U. II Zaidun Bakti.

6. O.M.U. II Soenaryo.

7. O.M.U. III Haryono.

8. O.M.U. III Moekarto.

9. O.M.U. Soeratmo.

10. O.M.U. III Djoenaidi.

Lapangan-lapangan terbang yang masih berada dalam keadaan baik sewaktu perang kemerdekaan I dan II di daerah Aceh adalah sebagai berikut :

1. Lapangan terbang Lhok Nga Aceh Besar.

2. Lapangan terbang Blang Bintang Aceh Besar.

3. Lapangan terbang Cot Ba’u Sabang.

4. Lapangan terbang Blang Petik Pidie.

5. Lapangan terbang Tutut Semayum.

6. Lapangan terbang Tambo Bireuen.

7. Lapangan terbang Teupin Mane Bireuen.

8. Lapangan terbang Blang Lacang Lhokseumawe.

9. Lapangan terbang Sungai Yu Kuala Simpang.

10. Lapangan terbang Cot Gapu Bireuen.

Berdasarkan Keputusan Kepala Staf Angkatan Perang Nomor : 023/P/KSAP/1950 tanggal 25 Mei 1950 tentang Lapangan Terbang serta Bangunan-bangunan yang termasuk Lapangan dan Alat-alat yang berada di Lapangan dan sungguh-sungguh diperlukan untuk pemeliharaan Lapangan-lapangan menjadi milik Angkatan Udara Republik Indonesia. Yang ditandatangani oleh Kepala Staf Angkatan Perang Kolonel TB. Simatupang. Dengan adanya surat keputusan tersebut maka menjadi jelas pangkalan mana saja yang menjadi tanggung jawab AURI, dengan demikian AURI perlu membentuk perwakilan untuk mengelola pangkalan-pangkalan tersebut.

Periode 1950 – 1958 Penetapan Sabang sebagai Pangkalan AURI

Dalam bulan Pebruari 1950 sebagian Perwira, Bintara, dan Tamtama AURI Banda Aceh dibawah pimpinan Kapten Udara Mulyono, dipindahkan ke Polonia (Medan), untuk mengadakan penerimaan penyerahan lapangan terbang Polonia dari Militaire Luchvaart Belanda kepada AURI. Ikut serta kadet-kadet penerbang yang dilatih secara teori di kutaraja (Lhok Nga) untuk melanjutkan praktek terbang. Dan dilapangan terbang Polonia ini pula kapten udara Mulyono belajar terbang dengan pesawat Mustang P-51, dibawah pimpinan/instruktur perwira-perwira penerbang Belanda.

Disamping itu beberapa orang Bintara dan Karyawan Sipil AURI Banda Aceh juga dikirim ke Sabang untuk ditetapkan sebagai penghubung/perwakilan AURI Banda Aceh di Sabang, yang bermar -kas di jln. Melati No. 5 Sabang. Anggota-anggota AURI Banda Aceh yang dikirim ke Sabang diantaranya adalah :

1. Sersan udara Yusuf.

2. Sersan udara Siam.

3. PNS Djakfar.

4. PNS Islan.

Pada tahun 1953-1957 pecah peristiwa DII/TII di Aceh. Perhubungan darat Kutaraja - Medan nyaris terputus, yang sesekali dilewati dengan mempergunakan konvoi, maka peranan pesawat AURI pada waktu itu memegang peranan yang cukup penting dalam mengangkut amunisi, bahan makanan, pasukan dan lain sebagainya, untuk keperluan penumpasan pemberontakan DII/TII tersebut. Mengingat kondisi keamanan di Lhok Nga tidak mengijinkan lagi karena pecahnya peristiwa DII/TII tersebut, maka pada tahun 1958, KSAU Marsekal Suryadarma telah memerintahkan agar AURI yang berkedudukan di Kutaraja/Banda Aceh segera pindah ke Sabang. Pemindahan tersebut dibawah pimpinan Komandan AURI Kutaraja LMU I R. Oetoyo. Sebagian anggota AURI ada yang tinggal di Kutaraja ditetapkan sebagai penghubung/perwakilan dan perwakilan AURI wilayah Aceh berkedudukan di Sabang.

Mulai saat itu pangkalan udara Sabang ditetapkan menjadi pangkalan udara AURI dalam bentuk detasemen udara dan seluruh operasi udara di wilayah Aceh dikendalikan dari Lanu Sabang.

PEMBENTUKAN PANGKALAN UDARA SABANG

Pangkalan Udara Sabang memiliki nilai yang sangat strategis karena terletak diujung barat Indonesia atau orang sering menyebut di kilometer nol. Sangat strategis karena pengamatan baik wahana udara maupun laut dapat dilakukan dengan optimal diwilayah Sabang. Oleh karena itu baik AURI maupun ALRI pada saat itu sangat berkepentingan untuk menghadirkan kekuatan Alutsista di wilayah Sabang.

Periode 1958 – 1963 Pembentukan Pangkalan Udara Sabang

Dengan dipindahkannya AURI/TNI AU yang berkedudukan di Banda Aceh ke Sabang, sejak itu pulalah TNI AU mulai benar-benar mengelola pangkalan udara Sabang, untuk dapat melaksanakan tugas pokok TNI AU yaitu Swa Bhuana Paksa atau menjadi sayap tanah air.

Pengelolaan dan peningkatan pangkalan udara Sabang dimantapkan lagi setelah adanya surat keputusan Menteri/Panglima Angkatan Udara Laksamana Muda Udara Omar Dani Nomor 23 Tahun 1963 tanggal 15 Juli 1963 yang menetapkan bahwa Pangkalan Udara Sabang adalah Pangkalan Udara Militer yang dikelola penuh oleh TNI AU. Tanggal 15 Juli 1963 ditetapkan sebagai hari jadi Pangkalan TNI AU Sabang.

Disamping itu Lanud Sabang berkewajiban mengawasi beberapa Air Strip di Aceh yaitu Lhokseumawe, Bireuen, Samalanga, Padang Tidji, Lhok Nga, Troemon.

Periode 1963 – 1982 Sebagai Pangkalan Aju

Dengan adanya Skep Dirjen Agraria Nomor SK. 2/H-Peng-68 tanggal 02 Agustus 1968 tentang pemberian hak pengelolaan tanah militer kepada Departemen Pertahanan Keamanan RI cq. Angkatan Laut RI yang terletak di Sabang (Pulau Weh), maka terdapatlah dua dokumen yang sama mengenai status lapangan terbang Sabang yang terletak di desa Cot Ba’u di Sabang. Hal ini sangat berpengaruh dalam rangka pengembangan Lanud Sabang selanjutnya.

Mengingat letak geografis, politis dan psychologis Sabang sebagai ujung barat dari tanah air kita dan juga meningkatnya objek-objek vital di daerah Aceh, maka meningkat pulalah nilai strategis Lanud Sabang. Oleh karena itu sesuai dengan strategi penggelaran Pangkalan Udara dalam konsepsi Pertahanan Daerah Udara I Tahun 1979-1984 Lanud Sabang ditetapkan sebagai Pangkalan aju bagi operasi-operasi udara untuk pengamatan udara dan maritim di daerah Samudra Hindia, Kepulauan Nikobar, Teluk Benggala dan Selat Malaka. Kedudukan yang strategis dan dengan peningkatan kemampuan Lanud Sabang akan memperluas jangkauan operasi pengamatan udara dan maritim kearah lautan di sekitarnya.

Periode 1982 – 1985 Penggelaran Alutsista

Menyadari Lanud Sabang merupakan pangkalan aju bagi operasi-operasi udara serta meningkatnya nilai strategis dari Lanud Sabang, maka mulai pertengahan tahun 1982 dengan konsentrasi usaha yang optimal Lanud Sabang berusaha untuk meningkatkan segala fasilitas, sarana dan prasarana dalam rangka mendukung kegiatan operasi-operasi udara. Pada saat itu dilaksanakan pembangunan hanggar pesawat, tower pengatur lalu lintas udara dan kantor “base operation” untuk mendukung operasi udara. Dengan fasilitas, sarana dan prasarana yang masih sangat sederhana sejak awal tahun 1983 Lanud Sabang telah mampu menerima dan melaksanakan penggelaran Alutsista udara yaitu Pesawat OV-10 Bronco dalam rangka pelaksanaan operasi udara penumpasan gerakan separatis GAM selama tiga bulan, C-130 B untuk pelaksanaan dukungan logistik dan Paum 112 dengan pesawat F-27 Foker. Hal ini merupakan kebanggaan Lanud Sabang. Disamping itu merupakan harapan bagi masyarakat Sabang khususnya dan masyarakat Aceh pada umumnya, harapan tersebut muncul sejak tahun 1950-an. Karena masyarakat Aceh sejak awal revolusi fisik telah terjadi hubungan yang cukup unik dan mendalam dengan TNI AU yaitu dengan hadirnya pesawat angkut RI-001 Seulawah.

 

Dengan diterbitkannya surat keputusan Menteri/Panglima Angkatan Udara Laksamana Muda Udara Omar Dani Nomor 23 Tahun 1963 tanggal 15 juli 1963 yang menetapkan bahwa Pangkalan Udara Sabang adalah Pangkalan Udara Militer yang dikelola penuh oleh TNI AU dan Skep Dirjen Agraria Nomor : SK. 2/H-Peng-68 tanggal 02 Agustus 1968 tentang pemberian hak pengelolaan tanah militer kepada Departemen Pertahanan Keamanan RI cq. Angkatan Laut RI yang terletak di Sabang (Pulau Weh), maka terdapatlah dua dokumen yang sama mengenai status lapangan terbang Cot Ba’u di Sabang. Hal ini menyebabkan masing-masing pihak merasa berhak untuk mengelola lapangan terbang ini.

Aslog KASAL dengan Surat Nomor : B/1285/IX/1984 tanggal 3 September 1984 tentang rencana pembangunan kantor perwakilan TNI AL di Lanud Sabang, TNI AL ingin membangun kantor perwakilan di Lanu Sabang seluas 10 x 30 m2 dengan bangunan bertingkat, namun dijawab oleh Aslog KASAU Marsekal Pertama TNI Ir. Sukendro Wardojo bahwa bangunan tersebut dirasa cukup tidak perlu bertingkat, dengan jawaban surat nomor : B/900-16/239/1/Slog. Dari fakta surat menyurat tersebut masing-masing pihak berkepentingan untuk menggelar Alutsista di Lanud Sabang karena letak yang cukup strategis yaitu di corong barat Indonesia. Namun demikian jauh sebelum itu telah terbit Keputusan Kepala Staf Angkatan Perang Nomor : 023/P/KSAP/1950 tanggal 25 Mei 1950 tentang Lapangan Terbang serta Bangunan-bangunan yang termasuk Lapangan dan Alat-alat yang berada di Lapangan dan sungguh-sungguh diperlukan untuk pemeliharaan Lapangan-lapangan menjadi milik Angkatan Udara Republik Indonesia. Yang ditandatangani oleh Kepala Staf Angkatan Perang Kolonel TB. Simatupang. Maka jelaslah kepemilikan Lanu Sabang.

PENGEMBANGAN PANGKALAN DAN BANDAR UDARA MAIMUN SALEH

Periode 1985 – 1996, Reorganisasi TNI

Reorganisasi TNI dilaksanakan pada tahun 1985, di dalam pelaksanaan reorganisasi tersebut salah satunya adalah pengalihan pembinaan Satuan Radar 209 Sabang dari Kosekhanudnas III Medan (Kohanudnas) ke Lanud Maimun Saleh (Koopsau I), sehingga Satrad 209 Sabang berada di bawah pembinaan Lanu Sabang. Oleh karena itu segala bentuk surat menyurat bidang pembinaan berada dibawah Lanu Sabang. Sedangkan dalam bidang operasi Satrad 209 tetap dibawah kendali Kosek Hanudnas III Medan.

Pengendalian operasional pangkalan semula berada di Kota Sabang tepatnya di Jalan Diponegoro no. 54. Pada tahun 1985 dimulai pembangunan kantor Markas Komando Lanu didalam komplek pangkalan. Maka setelah pembangunan selesai kantor Lanu Sabang di Dirgantara dipindahkan ke Pangkalan pada bulan September 1986.

Tahun 1985 Free Port Sabang ditutup, secara ekonomi sangat berdampak kurang baik terhadap kehidupan masyarakat Sabang dan hal ini juga berpengaruh langsung terhadap kehidupan anggota Lanu. Dalam kedinasan juga berpengaruh, karena peran Pemda cukup besar dalam membantu terselenggaranya operasional Lanu. Dengan ditutupnya Free Port Sabang berarti pendapatan asli daerah menjadi menurun dan berdampak pula kemampuan Pemda Tingkat II untuk membantu operasional Lanu.

Komandan Lanud waktu itu Letkol Lek IW. Sasmito telah memiliki konsep untuk memperpanjang landasan supaya dapat didarati oleh pesawat yang lebih besar dan konsep tersebut disampaikan ke Pemda TK I. Pelaksanaan perpanjangan terrealisasi setelah sekian lama. Disamping itu beliau juga merintis pembuatan lapangan Golf 9 hole yang merupakan lapangan golf pertama di Sabang. Ide kreatif beliau juga melaksanakan program pemagaran pangkalan untuk mengamankan asset pangkalan. Pada saat itu juga mulai dilaksanakan pengaspalan landasan secara bertahap.

Pimpinan TNI AU merasa perlu untuk mengabadikan nama pahlawan kusuma bangsa, terutama putra daerah menjadi nama pangkalan udara. Maka keluarlah Surat Keputusan Perubahan nama Lanu Sabang menjadi Lanud Maimun Saleh dilaksanakan berdasarkan Surat Keputusan KASAU Nomor : Skep/06/I/1986 tanggal 18 Januari 1986 tentang Penggantian Nama Pangkalan TNI AU Sabang menjadi Pangkalan TNI AU Maimun Saleh atau sering disebut Lanud MUS. Maimun Saleh diambil dari putra terbaik Aceh yang telah gugur dalam pelaksanaan tugas operasi penerbangan

Th. 1986 Lanu Sabang resmi berubah menjadi
Pangkalan TNI AU Maimun Saleh (Lanud MUS) dan
Bangunan Mako Lanud MUS

TNI AU melihat perlu menghadirkan kekuatan udara diwilayah paling barat Indonesia, maka pada tanggal 11 Oktober 1988 Radar Early Warning Thomson TRS 2215 D yang dibeli dari Perancis mulai digelar di Sabang, untuk sementara penempatan disebelah Runway 10, namun karena cakupan (coverage) kurang bagus, maka pada tanggal 13 Juli 1991 Radar dipindahkan diatas puncak gunung Iboih yang memiliki cakupan (coverage) yang sangat bagus dan masih berada didalam pulau Weh. Penggelaran Radar tersebut bertujuan untuk mengawasi udara di wilayah corong barat Indonesia.

Pada tahun 1989 Gerakan Aceh Merdeka mulai meningkatkan kegiatannya dalam bidang kemiliteran, maka pada tahun 1991 mulai digelar “Operasi Rencong Terbang” dengan home base pesawat berada di Bandara Blang Bintang. Pengoperasian Bandara Blang Bintang dilaksanakan oleh personel Lanud Maimun Saleh Sabang untuk mendukung operasi udara dengan alutsista pesawat OV-10 Bronco dan pesawat A-4 Sky Hawk, Lanud Maimun Saleh Sabang sebagai alternate base. Operasi udara Rencong Terbang tersebut berakhir pada tahun 1995.

Lanud Maimun Saleh bukan hanya digunakan untuk kegiatan operasi kemiliteran saja, namun juga mendukung kegiatan lain yang berkaitan dengan ekonomi kerakyatan. Maka pada tahun 1993 Lanud Maimun Saleh selama kurang lebih 3 bulan membantu pelaksanaan export ikan tuna dari Sabang ke Singapura menggunakan pesawat Transhal milik Pelita Air Service yang dioperasikan oleh salah satu perusahaan swasta Singapura.

Pada Th 1994 dengan dimotori oleh Komandan Lanud Letkol Lek Rispandi mencoba membuka kembali Lapangan Golf 9 hole yang telah lama terbengkalai. Lapangan Golf tersebut merupakan sarana berkumpulnya para Pejabat Sabang secara informal untuk memecahkan berbagai persoalan Sabang. Disamping itu juga sebagai sarana olah raga bagi masyarakat Sabang dan sekaligus para tamu yang berkunjung ke Sabang.

Periode 1996 – Sekarang, Pengembangan Pangkalan dan Bandara.

Sejalan dengan berkembangnya wilayah Aceh, maka Pemda Aceh merasa perlu memperpanjang landasan dengan merealisasikan rencana lama Letkol Lek. IW. Sasmito. Pada awal th 1997 dimulai program memperpanjang landasan dan pekerjaan berakhir pada Desember 1998. Landasan yang semula 1.400 m menjadi 1.850 m, run way 28 sepanjang 150 m dan run way 10 sepanjang 300 m. Perpanjangan run way ini sangat besar artinya bagi pelaksanaan operasi udara, karena landasan menjadi sangat mungkin didarati pesawat C-130 Hercules dan F-28 atau sejenis.

TNI AU saat itu merasa perlu melaksanakan validasi organisasi dan dilaksanakan pada tahun th 1999, maka pembinaan Satuan Radar 209 dikembalikan ke Kosek Hanudnas III Medan, berdasarkan Skep Kasau Nomor : Skep/43/II/1999 tgl. 22 Pebruari 1999 tentang pengalihan pembinaan Satuan Radar 209 Sabang dari Lanud MUS (Koopsau I) dikembalikan ke Kosek Hanudnas III Medan (Kohanudnas). Dengan demikian Lanud Maimun Saleh tidak lagi melaksanakan pembinaan terhadap Satuan Radar 209 Sabang, namun statusnya menjadi satuan samping.

Usaha untuk menerbitkan sebuah Undang-undang tentang kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas Sabang sedang dilakukan oleh Pemda TK I bersama Pemerintah Pusat dengan DPR RI. Setelah peluang tersebut ada dan mungkin dilakukan, maka atas prakarsa Pemda TK I Aceh membuat Surat Kesepakatan Bersama (SKB) penggunaan sebagian tanah TNI AU untuk keperluan pengembangan Bandar Udara Nomor : SKB/9/X/2000 tanggal 16 Oktober 2000 ditandatangani oleh Wakasau Marsekal Madya TNI Mudjiono Said, Dirjen Perhubungan Udara Bpk. Sunaryo Y. dan Gubernur DI Aceh H. Ramli Ridwan, SH. SKB tersebut membuktikan adanya tekad yang bulat Pemda TK I Aceh untuk memajukan Sabang dan sekaligus pintu gerbang udara Sabang yaitu Pangkalan Udara/ Bandar Udara Maimun Saleh. Maka mulai saat itu berbagai pembangunan untuk pengembangan Bandar Udara dan Pangkalan Udara dilakukan.

Pada tanggal 21 Desember 2000, UU Nomor: 37 tahun 2000 tentang Sabang sebagai kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas telah diundangkan. Sejalan dengan Undang-undang tersebut semakin besar peluang untuk membangun Sabang sebagai kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas, Pangkalan Udara/Bandar Udara Maimun Saleh merupakan salah satu sasaran yang perlu dikembang- kan karena merupakan pintu gerbang udara Sabang. Sebagaimana di pangkalan udara lain diseluruh Indonesia, pangkalan udara akan digunakan secara bersama oleh militer untuk operasi udara dan oleh sipil untuk keperluan kesejahteraan. Penggunaan bersama ini merupakan komitmen bersama insan udara agar investasi yang demikian besar dapat berdaya guna.

Tekad yang demikian kuat Pemda TK I Aceh dan Pamda TK II Sabang untuk membangun, diwujudkan dengan membuat jembatan udara bagi kota-kota kabupaten di wilayah Daerah Istimewa Aceh dengan mensubsidi penerbangan pesawat Sabang Merauke Air Carter (SMAC) yang dimulai pada tahun 2001 dan Lanud Maimun Saleh menjadi salah satu mata rantai jembatan udara tersebut. Penerbangan pertama satu minggu sekali, kemudian meningkat menjadi 2 kali dan sekarang menjadi 3 kali. Dengan demikian Lanud Maimun Saleh merupakan penyambung salah satu mata rantai jembatan udara yang berorientasi kepada kesejahteraan masyarakat.

Mengingat telah berkembangnya wilayah Aceh dan gejolak politik di wilayah Aceh, maka jembatan udara yang dilakukan TNI AU semula menggunakan pesawat F-27 Foker, mulai tahun 2001 Paum 122 diganti menggunakan pesawat C-130 Hercules, yang kapasitasnya lebih besar. Dengan demikian apabila masih terdapat tempat duduk, maka masyarakat dapat memanfaatkan fasilitas tersebut untuk melaksanakan perjalanan ke Medan dengan pesawat TNI AU.

Berkembangnya Pangkalan Udara/Bandar Udara Maimun Saleh, menuntut adanya fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai. Oleh karena itu TNI AU perlu membangun Rumah Sakit Lanud Maimun Saleh pada akhir tahun 2002 dengan kapasitas 12 tempat tidur. Dengan adanya fasilitas tersebut maka melengkapi dan meningkatkan pelayanan kesehatan bagi pengguna jasa transportasi pesawat udara.

Rumah Sakit Lanud Maimun Saleh

Sebagai konsekuensi logis dari penandatanganan SKB tersebut adalah Pemda TK I Aceh menyelesaikan sertifikasi tanah Lanud MUS. Pada akhir tahun 2003 sertifikasi tanah dengan susah payah telah berhasil diselesaikan. Masalah yang masih tersisa adalah mencarikan dana kompensasi bagi para petani penggarap di tiga blok tanah, hal ini bisa bersumber dari anggaran TNI AU maupun Pemda TK I dan Pemda TK II.

Pembinaan Potensi Nasional Aspek Kedirgantaraan. Pembinaan potensi nasional aspek kedirgantaraan atau yang sering dikenal dengan nama Binpotdirga, adalah sarana untuk mewujudkan Potensi Nasional menjadi kekuatan yang tangguh dan berdaya guna bagi kepentingan Hankamneg di dirgantara atau wewenangnyadalam mengelola ruang, alat dan kondisi yang tangguh dalam rangka sistim pertahanan keamanan negara.

TNI Angkatan Udara adalah institusi yang memiliki tugas untuk menyelenggarakan segala usaha, kegiatan dan pekerjaan dalam membina potensi nasional aspek dirgantara menjadi kekuatan Pertahanan Keamanan Negara. Dalam pelaksaannya, Lanud-lanud yang berada di jajaran Koopsau I dan Koopsau II merupakan ujung tombak pelaksana di lapangan. Lanud-lanud inilah yang memiliki fungsi, antara lain :

1. Melaksanakan kegiatan berdasarkan arahan dan petunjuk dari Komando Operasi Pembinaan.

2. Melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait yang berada di wilayahnya.

3. Melaporkan pelaksanaan kegiatan.

4. Memberikan saran dan masukan kepada Komando Operasi Pembinaan.

Pangkalan TNI Angkatan Udara Maimun Saleh merupakan salah satu pangkalan di jajaran Koopsau I yang melaksanakan fungsi tersebut di atas. Kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan Pangkalan TNI AU Maimun Saleh yang berkaitan dengan pembinaan potensi nasional aspek dirgantara, meliputi :

1. Pendataan dan inventarisasi sumber daya manusia yang berada di wilayah Pangkalan Udara Maimun Saleh, meliputi :

a. Sumber Daya Manusia Militer Aktif dan PNS TNI AU Aktif.

b. Sumber Daya Manusia Lingkungan Penerbangan.

c. Sumber Daya Manusia KBA TNI dan Polri.

d. Sumber Daya Manusia Peminat Dirgantara.

2. Pendataan dan Inventarisasi Sumber Daya Alam yang berada disekitar wilayah Pangkalan Udara Maimun Saleh, seperti; bidang pertanian, perikanan, energi dan sebagainya.

3. Pendataan dan Inventarisasi Potensi Sumber Daya Buatan di sekitar Pangkalan Udara Maimun Saleh diantaranya; bidang pembangkit tenaga listrik, PDAM dan sebagainya.

4. Pendataan dan Inventarisasi Sarana dan Prasarana yang ada di Pangkalan Udara Maimun Saleh diantaranya; fasilitas pendukung penerbangan, Albanav, hanggar dan sebagainya.

5. Pendataan dan Inventarisasi Minat Dirgantara yang meliputi; kegiatan olah raga dirgantara, saka dirgantara dan penggemar radio komunikasi.

Kegiatan pendataan, inventarisasi dan pembinaan potensi nasional aspek kedirgantaraan dilingkungan Pangkalan Udara Maimun Saleh telah dilaksanakan secara maksimal dan menyeluruh, akan tetapi masih ada bidang-bidang pembinaan potensi lainnya yang harus lebih dikembangkan dan dimasyarakatkan seperti pada pembinaan bidang olah raga dirgantara dan pembinaan Pramuka saka dirgantara.

Upaya untuk menumbuhkan minat masyarakat pada olah raga dirgantara mulai diperkenalkan dan didemonstrasikannya olah raga udara aeromodelling dan untuk menambah wawasan pengetahuan generasi muda dibidang dirgantara telah dilaksanakan pembinaan pramuka Saka Dirgantara dimulai dari tingkat SD sampai SMU di wilayah Pangkalan Udara Maimun Saleh. Kegiatan tersebut dilaksanakan dibawah pembinaan personel Pangkalan Udara Maimun Saleh bekerja sama dengan KONI dan Kwarcab Pramuka Kota Sabang.

Koperasi TNI AU Lanud Maimun Saleh. Primkopau Lanud Mimun Saleh merupakan organisasi non struktural Pangkalan TNI AU Maimun Saleh yang didirikan sebagi usaha bersama bagi peningkatan kesejahteraan seluruh anggota Lanud Maimun Saleh. Sebagai salah satu organisasi sosial dibawah Lanud, Primkopau beranggotakan seluruh anggota yang berdinas di Lanud Maimun Saleh, dipimpin seorang Kaprimkopau yang dipilih oleh seluruh anggota dalam Rapat Anggota Tahunan. Sebagai pembina Primkopau adalah Komandan Lanud Maimun Saleh.

Primkopau melaksanakan kegiatan yang pada intinya adalah untuk peningkatan kesejahteraan seluruh anggota. Usaha-usaha yang dilaksanakan oleh Primkopau Lanud Maimun Saleh antara lain adalah Usaha Jasa Niaga yang menyediakan kebutuhan sehari-hari bagi anggota dan keluarganya serta menyediakan berbagai perlengkapan yang sulit didapatkan anggota, karena Sabang merupakan daerah paling barat di Indonesia. Primkopau berusaha untuk memenuhi dan mengkordinir kebutuhan anggota dengan melaksanakan pengadaan barang melalui pesawat TNI AU ataupun sarana lain yang dapat dilaksanakan. Usaha lainnya yaitu usaha simpan pinjam bagi anggota Lanud MUS.

Sesuai dengan perkembangan Kota Sabang sebagai Free Trade and Free Port Zone, maka Kota Sabang memiliki kemudahan dalam melaksanakan export-import dengan negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Thailand. Dengan adanya peluang ini, Primkopau tidak tinggal diam dan Primkopau segera mengambil peluang dengan membuat APIU (Angka Pengenal Importir Umum). Sebagai badan usaha yang telah memilki APIU, maka Primkopau dapat memanfaatkan peluang ini dengan mengimport barang dari luar negeri maupun bekerjasama dengan pihak swasta untuk mengimport. Dengan adanya peluang ini SHU primkopau pada tahun 2003 meningkat sangat tajam apabila dibandingkan dengan SHU tahun-tahun sebelumnya.

Primkopau juga selalu berusaha mengembangkan usaha-usahanya dengan menangkap berbagai peluang yang dapat dilaksanakan sehingga usaha Primkopau Lanud Maimun Saleh semakin meningkat. Diharapkan dengan semakin berkembangnya Primkopau, maka kesejahteraan anggota Lanud Maimun Saleh dapat meningkat pula.

Komandan

-

_________________________________________________________________________

DHUAJA DAN MOTTO
PANGKALAN TNI AU MAIMUN SALEH

Dhuaja Pangkalan TNI AU di jajaran Koopsau I sesuai Keputusan Kasau Nomor : Kep/16/XII/1994 tanggal 12 Desember 1994, terdiri dari dua sisi. Sisi sebelah kiri tercantum gambar badge Koopsau I dan sisi sebelah kanan tercantum Lambang masing-masing Lanud. Bentuk Dhuaja empat persegi panjang, dengan ukuran panjang 90 cm, lebar 60 cm. inti Lambang berbentuk perisai dengan ukuran 60 cm x 50 cm dibagi menjadi 2 bagian sama besar. Sebelah kanan gambar awan dengan warna biru muda dan sebelah kiri atas gambar mata angin warna kuning emas, ditengah gambar kilat warna merah dan dibawah gambar terdapat 3 buah anak panah warna merah, jumbai 7 cm, tinggi tiang 200 cm, garis tengah 4 cm.

Mahkota tiang 25x15 cm. berwujud burung Garuda berwarna kuning emas dengan sayap berkembang dan dibawahnya terletak bola dunia dengan peta wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia melambangkan media bergerak/bertindak sebagai penegak kedaulatan Negara di udara/dirgantara Nasional. Tali (chord) Dhuaja 120 – 140 cm.

Warna dasar Dhuaja Biru langit dengan gambar dalam perisai sebagai berikut :

1. Sisi kanan dan sisi kiri berwarna hijau tua
2. Sudut kanan bagian atas warna biru muda menggambarkan awan dengan lima lekukan.
3. Sudut kiri bagian atas, gambar mata angin dengan warna kuning keemasan.
4. Bagian tengah perisai, gambar kilat dengan warna merah.
5. Bagian bawah perisai terdapat 3 buah anak panah berwarna merah dan pinggiran perisai berwarna hitam.
6. Atas perisai tertulis nama pangkalan yang bersangkutan.
7. Bawah perisai terdapat pita dengan warna kuning emas yang bertuliskan Motto dalam bahasa Sangsekerta yang berbunyi : ”PRAYATNA KERTA GEGANA”.

Isi dan arti gambar dalam perisai

Awan menggambarkan bahwa TNI Angkatan Udara mengguna- kan media udara untuk dirgantara sebagai ruang berkorban bagi prajurit TNI Angkatan Udara dalam melaksanakan tugas.

Dengan demikian Motto “PRAYATNA KERTA GEGANA“ adalah kewaspadaan mengamankan udara/dirgantara, yang berarti bahwa Pangkalan Udara sebagai ujung tombak TNI Angkatan Udara selalu waspada dalam mengamankan/mengawal dan menegakkan kedaulatan Negara di udara/dirgantara Nasional.

 

VIDEO