BUKU TAMU

Hendrikus Liguori Kuyap
Pak, saya lulusan Papua Merauke tahun 2014 dan sedang melanjutkan kuliah di Bandung, apakah bisa mengikuti tes di Bandung ?, terim...
Dini Fajryani
Selamat malam, Apakah lulusan D3 dengan jurusan Manajemen Transportasi Udara bisa mendaftar Perwira Prajurit Karier ?
Rizki Nur Hamid
Assalamu'alaikum, Tahun depan umur saya 22 tahun, lahir tanggal 19 Januari 1993, bisa ikut mendaftar bintara TNI AU tidak ? t...
Candra Nugroho
Adakah pembukan Wajib Militer untuk lulusan akuntansi D4. Terima kasih.
Zainal
Assalamu'alaikum Wr. Wb. Kapan dibuka pendaftaran Sekbang PSDP TNI TA 2014 ?, terima kasih.
Anggraini
Assalamu'alaikum, Mohon informasi apakah lulusan sarjana Olahraga tahun ini bisa mengikuti pendaftaran Perwira Karier TNI, di...
Dinul Habib Ulul Azmi Daniel
Assalamu'alaikum Apa persyaratan menjadi pilot TNI AU ? apakah pendaftarannya membutuhkan biaya ? terima kasih, wassalamu'alaikum.
Parramatta Adri Satyawada
Assalamualaikum Wr. Wb. Mohon info pendaftaran Wamil tahun 2014, seandainya bisa persyaratan apakah yang harus dipenuhi untuk mend...
Irfan Nurhadiansyah
Assalamualaikum Wr. Wb. Cita-cita saya dari kecil ingin menjadi TNI dan ingin mengikuti seleksi, dengan tinggi badan 161 cm,...
Ora Putra
Selamat siang Bapak/Ibu admin, Apakah jurusan Pendidikan Seni Musik bisa mengikuti seleksi penerimaan Perwira Karier TNI? Moh...
Rachell Nurman Zulkarnain
Saya mahasiswa jurusan Teknik Mesin Universitas Jember, di Malang. Apakah ada lowongan kerja praktek sesuai bidang jurusan saya pa...
Brian Julio Zesar
Selamat sore bapak/ibu, Lulusan S1 jurusan Akuntansi, bisakah daftar TNI-AU ? mohon informasinya. terima kasih.
Ignatius Sitorus
Saya tahun depan tamat SMA Unggul Del, bagaimana cara pendaftaran prajurit TNI AU? terima kasih.
Agnes
Selamat pagi, mohon informasi penerimaan calon Tamtama PK TNI AU Gelombang II TA 2014 ? terima kasih.
Annisa
Selama mengikuti kegiatan seleksi tingkat daerah maupun seleksi tingkat pusat di Akmil Magelang, apakah diperbolehkan dan diberi k...

WING I PASKHAS PARA KOMANDO

Tugas Pokok

TUGAS POKOK

 

Tugas pokok yang diemban Wing I Paskhas juga disesuaikan dengan status Paskhas sebagai Kotamabin TNI AU. Sejalan dengan tugas pokok tersebut, Wing I Paskhas juga berkewajiban untuk menyelenggarakan fungsi sebagai satuan pelaksana Korpaskhas yang berkedudukan di Jakarta untuk mendukung tugas-tugas Korpaskhas, TNI AU dan TNI.

Berdasarkan Peraturan Kepala Staf TNI Angkatan Udara Nomor Perkasau/53/VIII/2008 tanggal 13 Agustus 2008 tentang penyempurnaan Pokok-Pokok Organisasi Korpaskhas TNI AU dan Peraturan Komandan Korpaskhas Nomor Perdankorpaskhas/56/IX/2009 tanggal 7 September 2009 tentang Prosedur dan Mekanisme Kerja Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara, dari peraturan tersebut bahwa :

“Wing I Paskhas bertugas membina kesiapan dan melaksanakan tugas operasi beserta jajarannya dalam pertahanan pangkalan/alutsista/instalasi TNI Angkatan Udara, pengendalian pangkalan udara depan, pengendalian tempur dan SAR tempur serta operasi lain sesuai kebijakan Panglima TNI”.

Sesuai dengan tugas pokok tersebut, maka Wing I Paskhas juga harus melaksanakan fungsi-fungsinya. Berdasarkan Peraturan Kepala Staf TNI Angkatan Udara Nomor Perkasau/53/VIII/2008 tanggal 13 Agustus 2008 tentang penyempurnaan Pokok-Pokok Organisasi Korpaskhas TNI AU dan Peraturan Komandan Korpaskhas Nomor Perdankorpaskhas/56/IX/2009 tanggal 7 September 2009 tentang Prosedur dan Mekanisme Kerja Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara, disebutkan bahwa Wing I Paskhas mempunyai fungsi utama sebagi berikut:

1. Melaksanakan pembinaan satuan-satuan di bawahnya untuk siap dioperasikan oleh penyelenggara operasi militer TNI.

2. Melaksanakan penyelidikan, pengamanan dan penggalangan secara terbatas dalam rangka menyiapkan bahan intelijen bagi kepentingan perencanaan dan pengambilan keputusan untuk pelaksanaan tugas.

3. Melaksanakan perencanaan penggunaan taktik teknik dan prosedur (membuat rencana pelibatan) serta meningkatkan dan memelihara kualitas tempur perorangan/satuan.

4. Memelihara moril, disiplin dan hukum satuan-satuannya.

5. Melaksanakan pemeliharaan, pembekalan dan perawatan alat-peralatan, perlengkapan perorangan dan satuan.

6. Mengalokasikan dukungan anggaran bagi satuan-satuannya sesuai dengan program kerja Korpaskhas.

7. Melaksanakan pembinaan potensi sumber daya manusia dan kekuatan wilayah tertentu secara terbatas untuk mendukung pelaksanaan tugas.

8. Mengadakan koordinasi dengan instansi-instansi terkait di dalam dan di luar Wing I Paskhas.

Visi & Misi

-

Profil

PROFIL

Sejalan dengan penyempurnaan organisasi di jajaran Pasukan TNI AU sejak lahirnya Pasukan Khas TNI AU sampai sekarang, maka organisasi Wing I Paskhaspun mengalami berbagai perombakan. Perubahan ini mengikuti dinamika yang terjadi pada tubuh organisasi Korpaskhas secara keseluruhan.

Perkembangan jaman dan situasi makro dari waktu ke waktu, memang menuntut adanya reorganisasi yang disesuaikan dengan situasi, kondisi dan tuntutan tugas yang harus diemban oleh TNI, khususnya TNI AU serta Paskhas. Perubahan tersebut juga seiring dengan perubahan-perubahan sebutan nama Satuan mulai dari nama PPP, PGT, KOPPAU, Kopasgat, Puspaskhasau sampai dengan sebutan yang dikenal dengan nama Korpaskhas.

Dengan turunnya Keputusan Kasau Nomor : Kep/22/III/1985 tanggal 11 Maret 1985, nama Kopasgat berubah menjadi Pusat Pasukan Khas TNI AU (Puspaskhasau). Selanjutnya, berdasarkan keputusan Pangab Nomor : Skep/9/VII/1997 tanggal 7 Juli 1997, nama Puspaskhasau berubah menjadi Korpaskhas. Perubahan dari istilah “Pusat” menjadi “Korps” berarti juga perubahan dari tingkat Badan Pelaksana Pusat (Balakpus) menjadi Komando Utama Pembinaan (Kotamabin) TNI AU. Hal ini menunjukan adanya perubahan organisasi sesuai dengan perubahan istilah dan status yang diembannya. Istilah Komandan Puspaskhasau (Danpuspaskhasau) otomatis juga berubah menjadi Komandan Korpaskhas (Dankorpaskhas). Perubahan organisasi secara langsung juga terjadi dijajaran bawahnnya yang ditandai dengan munculnya nama “Wing”. Dengan demikian lahirlah Wing I Paskhas, termasuk Wing I Paskhas “Hardha Marutha”.

Dalam rangka pembenahan dan peningkatan satuan Paskhas, berdasarkan Peraturan Kepala Staf TNI Angkatan Udara Nomor Perkasau/53/VIII/2008 tanggal 13 Agustus 2008 tentang penyempurnaan Pokok-Pokok Organisasi Korpaskhas TNI AU dan Peraturan Komandan Korpaskhas Nomor Perdankorpaskhas/56/IX/2009 tanggal 7 September 2009 tentang Prosedur dan Mekanisme Kerja Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara, maka dibentuklah satu Batalyon baru yakni Batalyon 467 Paskhas yang berkedudukan di Jakarta, sehingga Wing I Paskhas membawahi Batalyon 461 Paskhas di Jakarta, Batalyon 462 Paskhas di Pekanbaru, Batalyon 465 Paskhas di Pontianak, Batalyon 467 Paskhas di Jakarta, Kompi A BS Paskhas di Medan, Kompi B BS Paskhas di Subang, Kompi G BS Paskhas di Lhokseumawe dan Kompi G BS Paskhas di Banda Aceh.

 

1. Aktivitas

Aktivitas yang dilaksanakan di Wing I Paskhas beserta jajarannya diselenggarakan dengan mengacu pada tugas pokok dan tungsinya. Untuk itu, Wing I Paskhas terus berupaya untuk melaksanakan pembinaan terutama untuk terus berusaha meningkatkan sumber daya manusia (SDM)-nya dengan berbagai kegiatan latihan, mengirim para prajuritnya untuk mengikuti pendidikan-pendidikan, santiaji-santiaji, pembinaan rohani/mental para prajurit, dan evaluasi kegiatan sehabis latihan maupun penugasan. Tujuan akhir dan semua kegiatan tersebut adalah demi suksesnya pelaksanaan tugas-tugas yang diemban oleh Wing I Paskhas beserta jajarannya.

Latihan yang dilaksanakan dapat berupa latihan rutin sesuai dengan program latihan yang telah dibuat dan sifatnya mandiri (intern) di Satuan jajaran Wing I Paskhas seperti latihan menembak, baik jenis senjata perorangan (Senapan dan Pistol) maupun jenis senjata kelompok (Minimi, GPMG, SMB, Triple Gun, QW3), latihan Rappeling dan Fast Rope, latihan Hanud Titik (Posko Hanud dan gelar satbak), latihan Jumping Master, Satpur, Sarpur, Dallan, Dalpur, Force Down dan latihan gelar alat komunikasi/radio.

Latihan juga dilakukan dalam bentuk Antar Satuan baik dengan Satuan-satuan yang ada di jajaran Korpaskhas (latihan terpadu Korpaskhas) seperti latihan pemantapan Dalpur, Dallan dan Sarpur yang dilaksanakan secara terpusat di Wing III Diklat Paskhas, maupun intern TNI AU seperti latihan Rajawali Perkasa, Jalak Sakti, Tutuka dan Angkasa Yudha. Latihan Gabungan TNI yaitu PPRC sedangkan latihan bersama dengan negara lain seperti latihan terjun dengan Pasukan Udara Amerika Serikat “Teak Iron”, Elang Malindo, Indopura dan lain-lain.

Selain latihan yang bernuansa militer, jajaran Wing I Paskhas juga melaksanakan latihan seperti PHH yang tujuannya untuk menyiapkan prajurit jika ditugaskan untuk membantu Kepolisian bersama-sama Satuan TNI Iainnya seperti tugas dalam Pengamanan Tidak Langsung (Pamtaksung) Pemilu, Pamtaksung Sidang Umum MPR dan Pengamanan lbu Kota untuk menghalau massa demontrasi dan kerusuhan-kerusuhan yang terjadi seperti pada awal era Reformasi pada bulan Mei 1997.

Di samping itu, jajaran Wing I Paskhas juga terus membina fisik para prajuritnya rnelalui olah raga, baik olah raga militer (ormil) maupun olah raga urnum (orum). Wing I Paskhas pernah rnengadakan perlombaan-perlornbaan yang bersifat intern bahkan gabungan dengan Satuan lain maupun dengan masyarakat umum seperti pada perlombaan menembak yang diikuti oleh para pejabat TNI AU, mantan pejabat TNI AU dan dan masyarakat (Perbakin) serta dan Satuan-satuan TNI Iainnya.

OIah raga umum seperti bela diri, sepak bola, bola volly, tenis meja dan lain-Iainnya secara rutin dilaksanakan baik di Mawing I Paskhas maupun di Satuan-satuan jajarannya. Bahkan pembinaan olah raga untuk ibu-ibu Pia Ardhya Garini dijajaran Wing I Paskhas juga terus dilakukan untuk mendukung kesehatan keluarga prajunit dan dalam rangka memperenat hubungan sosial sesama istri prajurit Paskhas.

 

2. Penugasan-penugasan

Wing I Paskhas merupakan Satuan yang relatif baru, yang berdiri pada 16 September 1999. Walaupun begitu, Satuan-satuan yang berada di jajarannya sudah banyak melakukan tugas-tugas operasi, baik berupa tugas-tugas pertahanan maupun pengamanan serta tugas-tugas bakti TNI dan bakti sosial, jauh sebelum Wing I Paskhas ada. Adapun tugas-tugas yang pernah diemban oleh Satuan-satuan di jajaran Wing I Paskhas dapat dilihat dalam tabel berikut :

 

a.    Penugasan Dalam Negeri

1)  Operasi Trisula I, 1975

2)   Operasi Parikesit I, Timor-Timur, 1978-1979

3)   Operasi Parikesit II, Timor-Timur, 1979

4)   Operasi Segar I, 1980-1981

5)   Operasi Geser Timor-Timur, 1981-1999

6)   Operasi Bhakti Cilia Jaya I, 1982

7)   Operasi Pandawa, 1982

8)   Operasi Siaga Natuna, 1982-2002

9)   Operasi Geser Pekanbaru, 1982-1990

10) Operasi Penangkal Jaya, 1984

11) Operasi Rajawali IV, Timor-Timur, 1998-1999

12) Operasi Pemulihan Keamanan, NAD, 1999-2004

13) Satgab Intelijen TNI (SGI), Maluku, 2000-2001

14) Yon Gab TNI, Maluku 2000-2002

 

b.    Penugasan Luar Negeri

1)  Kontingen Garuda VIII Mesir, 1977-1978

2)  Kontingen Garuda XVII-3 Phillippines, 1980-1981

3)  Kontingen Garuda IX (UNIMOG) Irak, 1989-1990

4)  Observer Perdamaian Bosnia, 1993

5)  Operasi Perdamaian Bosnia, 1996-1997

6)  Kontingen Garuda Unifil Lebanon 2007-sekarang

7)  Kontingen MONUC Congo, 2009-sekarang

 

Selain tugas-tugas operasi seperti yang telah disebutkan di atas, Satuan-satuan jajaran Wing I Paskhas juga melaksanakan tugas –tugas pengamanan Satuan Radar TNI AU seperti Pam Satrad 211 Tj. Kait, Satrad 212 Ranai, Satrad 213 Tj. Pinang, Satrad 214 Pemalang, Satrad 216 Cibalimbing, Satrad 231 Lhokseumawe, Satrad 232 Dumai, Satrad 233 Sabang, Satrad 234 Sibolga, Posek I Jakarta, Posek III Medan serta pengamanan obyek-obyek  vital nasional seperti Pam PT Freeport di Timika Papua, PT Arun di Aceh, Pangkalan-pangkalan Udara beserta fasilitasnya dan pengamanan dalam rangka membantu kepolisian seperti pengamanan ibukota dan lain-lain.

Menyadari sepenuhnya bahwa TNI adalah bagian dari rakyat yang juga lahir dari rakyat, jajaran Wing I Paskhas juga melaksanakan tugas-tugas bhakti TNI yang dikenal dengan sebutan TNI Manunggal (dulu disebut ABRI Masuk Desa/AMD) di berbagadi daerah. Intinya, bersama-sama dengan rakyat membangun desa atau wilayah seperti pembuatan jalan, pembuatan mesjid, jembatan dan lain-lain agar roda perekonomian, keamanan dan aspek kehidupan lainnya di daerah tersebut dapat berjalan lebih baik lagi.

Jajaran Wing I Paskhas juga melaksanakan tugas-tugas bhakti sosial dan kemanusiaan seperti bantuan dalam menolong korban banjir, korban gempa bumi, korban tsunami, kecelakaan pesawat dan bencana alam lainnya.

 

Paskhas sebagai Pasukan Para Komando dan Merupakan Bagian Integral TNI Angkatan Udara

 

Dimensi masa yang akan datang atau sering disebut dengan istilah ‘Dimensi Masa Depan” merupakan suatu masa dimana setiap bangsa di dunia ini bercita-cita untuk mencapai sesuatu keinginan dan tujuan tertentu, yang jauh lebih baik, maju, dan lebih modern dan kondisi sekarang. Di dalam dunia kedirgantaraan, khususnya di dalam kekuatan Angkatan Udara, setiap negara termasuk Indonesia, juga terdapat suatu cita-cita yang menginginkan kondisi yang lebih baik lagi dan kondisi sekarang. Apalagi jika dikaitkan dengan semakin beratnya tugas, tanggung jawab dan situasi global yang harus dihadapi.

Kekuatan Dirgantara (Air Power) merupakan bagian integral dan potensi nasional suatu negara yang pada dasarnya digunakan untuk kepentingan peningkatan kesejahteraan rakyatnya serta untuk pertahanan dan keamanan. Penggunaan kekuatan dirgantara untuk kepentingan kesejahteraan rakyat suatu bangsa merupakan sarana untuk menunjang perekonomian nasional dan ikut berperan bagi kehidupan rakyatnya.

Dalam upaya tersebut harus didukung dengan stabilitas keamanan suatu bangsa yang mantap dan terkendali agar dapat saling menunjang dalam penggunaan untuk kedua jenis kepentingan tersebut.

Sejalan dengan berbagai aspek kepentingan di suatu negara, aspek pertahanan dan keamanan rnerupakan faktor yang juga ikut menentukan dalam menjamin kelangsungan hidup negara tersebut. Sebab suatu negara tanpa mampu mempertahankan negara serta memelihara keamanan negaranya terhadap ancaman dan gangguan yang timbul, maka bangsa itu tidak akan dapat membangun serta tidak dapat mempertahankan kelangsungan hidup bangsanya.

Dengan demikian suatu upaya yang diusahakan dan setiap negara adalah membangun kekuatan tentara/militer yang disesuaikan dengan kondisi geografis negaranya.

Kekuatan Dirgantara khususnya kekuatan militernya yaitu TNI Angkatan Udara sebagai bagian integral dan TNI mau tidak mau juga harus tangguh dan kuat jika ingin dapat melaksanakan tugas dalam rangka mempertahankan keutuhan wilayah dirgantara nasional Indonesia. Berat rasanya jika dengan keadaan kekuatan yang terbatas untuk dapat mempertahankan wilayah dirgantara nasional yang begitu luas. OIeh karena itu, sudah seharusnya negara Indonesia memperkuat jajaran TNI AU nya dengan melengkapi pesawat-pesawat terbang yang modern beserta fasilitas Iainnya.

Paskhas merupakan pasukan yang berciri khas matra udara dan merupakan bagian integral dan TNI AU yang bersama-sama Satuan lain di jajaran TNI AU maupun jajaran TNI pada umumnya, terus mengemban tugas-tugas sejak kelahirannya sampai sekarang. Prajurit-prajurit Paskhas yang dibekali dengan kualifikasi Para Komando, disamping dituntut harus mampu dalam hal kedirgantaraan (seperti pengoperasian pangkalan udara), juga dituntut mampu berolah yudha dalam tiga media (Trimedia: di darat, laut dan udara). Hal ini telah dibuktikan selama melaksanakan latihan dan tugas-tugas operasi bersama-sama Satuan lain. Sebagai pasukan yang berciri khas matra udara dan berkemampuan Para Komando, berarti prajurit-prajurit Paskhas bukan saja dituntut mampu dalam olah fisik, tetapi juga harus mampu berolah pikir untuk dapat memahami hal-hal yang berkaitan dengan teknologi kedirgantaraan. Paskhas adalah Pasukan Para Komando Udara. Sebutan ini didasari atas tugas dan kualifikasi yang dimiliki oleh Paskhas yaitu disamping sebagai prajurit yang dituntut menguasai tentang kematra-udaraan juga dituntut untuk dapat bergerak sebagai pasukan Komando sesuai dengan kualifikasinya. Prajurit Para Komando Udara dituntut mampu memasuki daerah belakang lawan untuk mencapai posisi-posisi elemen Air Power lawan dengan berbagai cara dan media.

Tingkat latihan yang dimiliki memungkinkan mampu untuk menyusup melalui udara, laut dan darat serta mampu bertempur di darat. Tingkat penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi kedirgantaraan memungkinkan untuk melumpuhkan elemen-elemen Airpower penentu lawan dengan cara-cara yang tidak memancing opini dunia yang menyebabkan perang terbuka. Akhirnya kita bisa mengatakan : “lnilah citra Pasukan Khas TNI Angkatan Udara Masa Depan dalam memasuki awal
dan peradaban Millenium Ill”. Sebagai bagian integral TNI AU, berarti Paskhas harus mendukung tugas-tugas yang diemban TNI AU yang telah dipercayakan oleh negara. Sebagai bagian integral TNI AU, berarti pula bahwa Paskhas selalu melekat pada pangkalan-pangkalan udara sesuai dengan tugas pokoknya dan bertugas bersama-sama jajaran TNI jika ada kebijakan dan pimpinan. Paskhas sebagai pasukan Para Komando Udara harus mampu mempertahankan seluruh Pangkalan/Alutsist dan lnstalasi TNI AU dan segala bentuk ancaman baik yang datang secara vertikal maupun horizontal sehingga operasi udara secara keseluruhan dapat diselenggarakan dengan berhasil guna dan berdaya guna. Pangkalan TNI Angkatan Udara sebagai titik/tempat awal dari seluruh pergerakan operasi udara atau bisa juga disebut sebagai sarang burung, mempunyai nilai strategis yang sangat tinggi dan selalu menjadi sasaran utama musuh dalam setiap melaksanakan serangan. Begitu pentingnya Pangkalan TNI Angkatan Udara sehingga Prajurit Paskhas harus mampu mempertahankannya.

Dengan adanya penetapan Paskhas menjadi Kotamabin sesuai dengan Keputusan Pangab Nomor : Skep/9/VII/1997 tanggal 7 Juli 1997, Paskhas terus berupaya membenahi dan menata diri, salah satunya yaitu membentuk kembali Wing-Wing Paskhas termasuk Wing I Paskhas “Hardha Marutha”. Di lain sisi, pembenahan dalam pengadaan dan pembinaan personel terus dilakukan dengan maksud untuk membangun sumber daya manusia (SDM) Paskhas yang lebih modern. Paskhas masih mempunyal obsesi tentang personel tersebut yaitu “SDM”-nya harus terpilih secara prosedur pemilihan prajurit TNI, khususnya TNI AU dan Paskhas, dan segi mentalitas, akademis dan juga fisik.

Hal ini tidak terlepas dan pembinaan personel kita “Dwi Purwa Cendikia Wusana’. Jadi “Merah Putihnya” dahulu baru yang lain-lain. Artinya, kejiwaan atau mentalitasnya dahulu yang harus terpilih, teruji dan tersaring. Mentalitas yang dimaksud adalah mentalitas yang Pancasila, yang UUD 1945, yang Sumpah Prajunit dan yang Sapta Margais.

Sementara itu, dalam kaitannya dengan persenjataan dan peralatan, Paskhas juga masih mempunyai obsesi, yakni pensenjataan dan perlengkapan yang modern, sesuai dengan dinamika perkembangan jaman. Terutama senjata untuk menghadapi serangan dan udara, oleh karena itu, dalam dinamika pembangunan jajaran TNI dan TNI AU Paskhas masih sangat mengharapkan persenjataan yang lebih baik.

Dalam pada itu, dengan adanya perubahan status Paskhas tersebut, terbersit pemikiran dan keinginan prajurit-prajurit Paskhas termasuk dan jajaran Wing I Paskhas tentang kepangkatan Komandan Korpsnya (Dankor), “apakah tetap berbintang satu atau akan berbintang dua?”. Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus berbintang dua, Dankor Marinir berbintang dua dan Dankor Brimob dan Kepolisian pun berbintang dua. Sangat wajar sekali jika para prajurit Paskhas di Satuan manapun menginginkan Dankornya juga berbintang dua sejajar dengan pasukan-pasukan “elit” Indonesia Iainnya. Hal ini tentu harus melalui suatu pengkajian, balk masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Dan semuanya itu pasti tidak terlepas dan Pimpinan TNI AU dan Pimpinan tertinggi TNI.

Untuk membangun suatu kekuatan yang baik itu memang tidak mudah, perlu saling kerja sama unsur-unsur terkait, untuk itu tidak berlebihan kiranya jika para prajurit Paskhas dan jajaran Wing I Paskhas yang juga merupakan prajunit Paskhas dan prajurit TNI AU mempunyai keinginan-keinginan seperti yang telah diuraikan di atas. Dan wajar kiranya jika prajurit yang paling bawah/muda pun berharap bahwa Satuannya akan Ièbih maju di masa yang akan datang itulah “dimensi masa depan nya” .

Sejarah

 

SEJARAH

 

1. Cikal Bakal

Wing I Paskhas merupakan salah satu jajaran Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara (Korpaskhas). Karena itu perjalanan Wing I Paskhas, tentu saja tidak terlepas dari sejarah Korpaskhas secara keseluruhan. Diketahui bahwa embrio Korpaskhas adalah Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP) saat penjajahan Jepang di Indonesia dan terbentuknya TNI Angkatan Udara (TNI AU). Cikal bakal TNI AU sendiri adalah Badan Keamanan Rakyat Oedara (BKRO) yang merupakan bagian dan Badan Keamanan Rakyat (BKR).

 

2. BKRO-TKRO-TRIO

Perubahan dan penyempurnaan terus menerus dilakukan. Tak terkecuali dengan BKR yang kemudian berubah menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Seiring dengan itu, BKRO pun mengalami perubahan menjadi TKR Oedara (TKRO) yang saat itu dikenal dengan nama TKR Jawatan Penerbangan. Selanjutnya, bersamaan dengan peningkatan TKR menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) pada tanggal 25 Januari 1946, maka TKRO ditingkatkan menjadi TRI Oedara (TRIO). Pada tanggal 9 April 1946 TRIO atau TRI Jawatan Penerbangan, disahkan menjadi Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) berdasarkan Penetapan Pemerintah Nomor: 6/SD/1946 tanggal 9 April 1946 tentang Pengesahan Tentara Republik Indonesia Jawatan Penerbangan menjadi Angkatan Udara Republik Indonesia yang kemudian dikenal sampai sekarang dengan nama Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU). Keberadaan TNI AU sejajar dengan dua angkatan Iainnya TNI Angkatan Darat (TNI AD) dan TNI Angkatan Laut (TNI AL).

 

3. Pasukan Pertahanan Pangkalan

Dalam rangka konsolidasi organisasi, BKRO membentuk organisasi darat yaitu Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP).  PPP dibutuhkan untuk melindungi pangkalan-pangkalan udara yang telah direbut dari tentara Jepang terhadap serangan tentara Belanda yang pada waktu itu berusaha ingin kembali menduduki wilayah RI. Saat itu, PPP masih bersifat lokal. Pasukan ini dibentuk di pangkalan-pangkalan udara seperti di Pangkalan Udara Bugis (Malang), Maospati (Madiun), Mojoagung (Surabaya), Panasan (Solo), Maguwo (Yogyakarta), Cibeureum (Tasikmalaya), Kalijati (Subang), Pameungpeuk (Garut), dan pangkalan-pangkalan udara di luar Pulau Jawa seperti Talang Betutu (Palembang), Tabing (Padang) dan lain-lain.

Peran PPP sangat menonjol ketika terjadi Agresi Militer I dan Agresi Militer II. Saat itu hampir seluruh pangkalan udara mendapat serangan dan tentara Belanda, baik dan darat maupun dan udara. Tanggal 19 Desember 1948, dengan pasukan terjun payungnya, Belanda melancarkan serangan besar-besaran terhadap Pangkalan Udara Maguwo Yogyakarta. Saat itu PPP bersama kekuatan udara pangkalan setempat, berusaha mempertahankan Maguwo sampai titik darah penghabisan. Begitu pula di pangkalan-pangkalan udara Iainnya yang mendapat serangan dan Belanda. PPP inilah cikal bakal dan Pasukan Payung yang pada tanggal 11 Pebruari 1946  jauh sebelum penyerangan Belanda ke Maguwo telah melakukan percobaan latihan penerjunan yang pertama kali di Pangkalan Udara Maguwo Yogyakarta dengan menggunakan payung (parachute) dan pesawat terbang peninggalan Jepang. Pasukan Payung ini pulalah yang kemudian diterjunkan di Sambi Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah pada tanggal 17 Oktober 1947. Selanjutnya berdasarkan Keputusan Men/Pangau Nomor: 54 tahun 1967, tanggal 17 Oktober 1967 ditetapkan sebagai Hari Jadi Pasukan TNI AU yang sekarang dikenal dengan nama Korpaskhas. Dalam periode selanjutnya, sejak tahun 1950 Pasukan Payung yang saat itu masih bernama PPP, berpusat di Jakarta. Mereka dikenal dengan nama Air Base Defence Troop (ABDT). Membawahi 8 Kompi, pasukan  ini dipimpin oleh Kapten Udara A. Wiriadinata dengan wakilnya Letnan Udara I R. Soeprantijo. Pada pertengahan tahun 1950 dibentuk Inspektorat Pasukan Pertahanan Pangkalan yang disebut IPP. Mereka bermarkas di Jalan Sabang Jakarta sebelum kemudian dipindahkan ke Pangkalan Udara Cililitan, Jakarta Timur, pada April 1952.

 

4. Pasukan Gerak Tjepat dan Penangkis Serangan Udara

Pada saat yang hampir bersamaan, tahun 1950, juga diadakan sekolah terjun payung (Sekolah Para) yang diikuti oleh para prajurit dalam rangka pembentukan Pasukan Para TNI AU. Sekolah ini dibuka di Pangkalan Udara Andir Bandung sebagai kelanjutan dan embrio Sekolah Para di Maguwo. Hasil didik dari Sekolah Para inilah yang kemudian disusun dalam Kompi-Kompi Pasukan Gerak Tjepat (PGT) yang dibentuk pada bulan Pebruari 1952. Kapten Udara A. Wiriadinata ditunjuk sebagai komandannya, merangkap sebagai Komandan Pangkalan Udara Andir di Bandung.

Pada tahun 1950-an pasukan TNI AU yang terdiri dan PPP, PGT dan PSU (Penangkis Serangan Udara) berkekuatan 11 Kompi Berdiri Sendiri (BS), 8 Peleton BS dan 1 Battery PSU.

Pada perkembangan selanjutnya, pada tahun 1958, situasi politik dan keamanan dalam negeri semakin memburuk karena munculnya pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di Sumatera dan Sulawesi Utara. Mereka mengatasnamakan Dewan Gajah, Dewan Banteng, Dewan Garuda, PRRI dan Permesta.

PGT bersama Satuan Tempur TNI Iainnya ditugaskan melaksanakan penumpasan pemberontakan-pemberontakan tersebut dalam berbagai operasi seperti Operasi Tegas, Operasi Sapta Marga, Operasi 11 Agustus dan Operasi Merdeka.

Dalam periode selanjutnya, pada tahun 1960-an, PGT ditugaskan melaksanakan operasi pembebasan Irian Barat (Papua). Berdasarkan perintah Men/Pangau, dibentuklah Resimen Tim Pertempuran PGT (RTP PGT) yang bermarkas di Bandung, dan Kapten Udara S. Soekani ditunjuk sebagai komandannya. RTP PGT membawahi 2 Batalyon PGT yaitu Batalyon A PGT yang dipimpin oleh Kapten Udara Z. Rachiman, dan Batalyon B PGT yang dipimpin oleh Kapten Udara J.O. Palendeng.

Pada tanggal 15 Oktober 1962, berdasarkan Keputusan Men/Pangau Nomor: 195 dibentuk Komando Pertahanan Pangkalan Angkatan Udara (KOPPAU). Panglima KOPPAU dirangkap oleh Men/Pangau, dan sebagai wakilnya ditetapkan Komodor Udara A. Wiriadinata. KOPPAU terdiri dari Markas Komando (Mako) berkedudukan di Bandung, Resimen PPP di Jakarta, dan Resimen PGT di Bandung. Resimen PPP membawahi 5 Batalyon yang berkedudukan di Jakarta, Banjarmasin, Makasar, Biak dan Palembang (kemudian pindah ke Medan). Resimen PGT terdiri dan 3 Batalyon yaitu Batalyon I PGT (merupakan Batalyon III Kawal Kehormatan Resimen Cakrabirawa) berkedudukan di Bogor, Batalyon II PGT di Jakarta dan Batalyon III PGT di Bandung.

 

5. Komando Pasukan Gerak Tjepat

Pada tanggal 11 sampai dengan 16 April 1966 diadakan Seminar Pasukan di Bandung. Berdasarkan hasil seminar tersebut, dan sesuai dengan Keputusan Men/ Pangau Nomor : 45 tahun 1966 tanggal 17 Mei 1966, KOPPAU disahkan menjadi Komando Pasukan Gerak Tjepat (Kopasgat) yang terdiri dan 3 Resimen. lnilah awal mula adanya Resimen :

 

a.    Resimen I Pasgat bermarkas di Bandung, membawahi:

• Yon A Pasgat di Bogor

• Yon B Pasgat di Bandung

 
b.    Resimen II Pasgat bermarkas di Jakarta, membawahi:

• Yon A Pasgat di Jakarta

• Yon B Pasgat di Jakarta

• Yon C Pasgat di Medan

• Yon D Pasgat di Banjarmasin


c.    Resimen Ill Pasgat bermarkas di Surabaya, membawahi:

• Yon A Pasgat di Makassar

• Yon B Pasgat di Madiun

• Yon C Pasgat di Surabaya

• Yon D Pasgat di Biak

• Yon E Pasgat di Yogyakarta.

Dalam perkembangan selanjutnya, berdasarkan Keputusan Kepala Staf TNI AU (Kasau) Nomor : 57 tahun 1970 tanggal 1 Juli 1970, sebutan Resimen diganti menjadi Wing. Dengan demikian Resimen I Pasgat rnenjadi Wing I Pasgat, Resimen II Pasgat menjadi Wing II Pasgat dan Resimen III Pasgat menjadi Wing III Pasgat. Perubahan nama tersebut dengan pertimbangan adanya penyeragaman istilah Wing di jajaran TNI AU, mulai dan Wing untuk satuan-satuan Pesawat Terbang dan Helikopter, Wing Pendidikan sampai dengan Wing di jajaran Pasukan (saat itu bernama Kopasgat).

Istilah Resimen memang sudah lazim digunakan di jajaran TNI AD. Kendati begitu, diakui bahwa Resimen merupakan awal atau cikal bakal terbentuknya Wing di jajaran Pasukan TNI AU (Kopasgat) seiring dengan adanya Wing-Wing lain di jajaran TNI AU. Sementara itu, berdasarkan Surat Keputusan Kasau tersebut, sebutan Panglima untuk pucuk pimpinan Kopasgat dirubah menjadi Komandan Jenderal (Danjen). Saat itu Komandan Kopasgat adalah Kolonel Udana Soetoro, sehingga sebutannya menjadi Danjen Kopasgat Kolonel Udara Soetoro.

 

6. Pusat Pasukan Khas TNI Angkatan Udara

Keputusan Kasau Nomor : Kep/22/III/1985 tanggal 11 Maret 1985, merubah nama Kopasgat menjadi Pusat Pasukan Khas TNI AU (Puspaskhasau). Dengan adanya perubahan nama ini, maka susunan organisasi dan fungsinya juga mengalami perubahan. Kopasgat yang berfungsi menyelenggarakan pembinaan, sekaligus menggunakan dan menggerakkan Satuan-satuan jajarannya sudah tidak ada lagi, karena fungsi pembinaan dan operasional selanjutnya dilaksanakan oleh Komando Operasi TNI AU I (Koopsau I), Koopsau II dan Pangkalan-pangkalan TNI AU (Lanud-Lanud) tempat Satuan-satuan Paskhas berada.Dengan demikian, Puspaskhas selanjutnya hanya berkewajiban melaksanakan fungsi pembinaan latihan kemampuan Paskhas.

Satuan Paskhas yang digerakkan oleh Pangkoopsau I maupun Pangkoopsau II merupakan Satuan Paskhas dengan status Balahanpus, yaitu Skadron 461 Paskhas di Jakarta dan Skadron 464 Paskhas di Malang. Sedangkan Satuan Paskhas yang berada di Lanud-Lanud, digunakan dan digerakkan oleh Danlanud, berstatus Balahanwil yaitu Skadron 462 Paskhas di Bandung, Skadron 463 Paskhas di Madiun, Skadron 465 Paskhas di Jakarta dan Skadron 466 Paskhas di Ujung Pandang.

 

7. Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara dan Lahirnya Wing I Paskhas “Hardha Marutha”

Sejalan dengan upaya pembenahan-pembenahan dan penyempurnaan organisasi di tubuh TNI, khususnya TNI AU, istilah Puspaskhasau dirubah lagi menjadi Korps Pasukan Khas TNI AU (Korpaskhas) pada tahun 1997 sampai sekarang berdasarkan Keputusan Pangab Nomor: Skep/9/VII/1997 tanggal 7 Juli 1997. Seiring dengan perubahan istilah atau nama tersebut, maka susunan organisasi dan status kembali mengalami perubahan.

Setelah menjadi Korpaskhas, Wing Paskhas dibentuk kembali berdasarkan Surat Keputusan Kasau Nomor: Skep/73/III/1999 tanggal 24 Marel 1999 tentang Pembentukan Wing Pasukan Khas TNI AU (Wing Paskhas), Detasemen Bravo Pasukan Khas TNI AU (Denbravopaskhas), dan Detasemen Kawal Protokol Pasukan Khas TNI AU (Denwalkolpaskhas).

Wing I Paskhas berlokasi di wilayah Barat membawahi Skadron 461, Skadron 462, dan Skadron 465 Paskhas serta Flight “A” Paskhas BS Medan, Flight “B” Paskhas BS Pekanbaru, Flight “C” Paskhas BS Bogor, dan Flight “D” Paskhas BS Pontianak.

Pada tanggal 16 September 1999, diadakan upacara pengangkatan Komandan Wing I Paskhas (Kolonel Psk Pulu Sulatra) berdasarkan Surat Perintah Komandan Korps Pasukan Khas TNI AU Nomor: Sprin/19/IX/1999 tanggal 6 September 1999. ltulah hari Iahir Wing I Paskhas. Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, tanggal 16 September selalu diperingati sebagai hari jadi Wing I Paskhas.

Wing Paskhas berjumlah 3 Wing. Setiap markasnya di tempatkan di masing-masing daerah sesuai dengan fungsi, tugas, dan wilayah tanggung jawabnya. Ketiga Wing tersebut membawahi Satuan-satuan operasional di bawahnya (Skadron-Skadron Paskhas) yaitu :

• Wing I Paskhas berkedudukan di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.
• Wing II Paskhas berkedudukan di Lanud Abd. Saleh Malang Jawa Timur.
• Wing Ill Paskhas berkedudukan di Lanud Sulaiman Bandung merupakan Wing Pendidikan dan Latihan.

Dengan adanya perubahan istilah Puspaskhasau menjadi Korpaskhas, maka status pasukan ini juga mengalami perubahan yaitu dan Badan Pelaksana Pusat (Balakpus) menjadi Komando Utama Pembinaan (Kotamabin). Dengan status ini, organisasi Korpaskhas di tata kembali secara modern sesuai dengan perubahan fungsi pembinaannya. Sehubungan dengan penataan organisasi tersebut, ditetapkanlah organisasi Korpaskhas yang baru pada tahun 1999, sesuai dengan Keputusan Kasau Nomor: Kep/5/III/1999 tanggal 16 Maret 1999 tentang Pokok-pokok Organisasi dan Prosedur Kotama Pembinaan TNI AU Korpaskhas yang secara efektif berlaku mulai tanggal 1 April1999.

Sewaktu masih Puspaskhasau secara normatif

 fungsinya adalah pembinaan teknis kemampuan dan pembinaan tungsi-fungsi teknis ke-Paskhas-an. Namun, seteIah diangkat menjadi status Korps, tugas dan fungsinya juga meningkat, bukan hanya sebagai pembina teknis tetapi juga pembina kekuatan dan kemampuan. Dengan kata lain, membina secara Iangsung kekuatan dan kemampuan Satuan-satuan yang berada di jajaran Korpaskhas.

Demikian perjalanan sejarah Wing I Paskhas sejak dan cikal bakalnya, adanya Resimen Kopasgat, lalu menjadi Wing Kopasgat, terhapusnya Wing Kopasgat dalam susunan organisasi, hingga Iahirnya Wing Paskhas. Termasuk Wing I Paskhas “Hardha Marutha” pada tahun 1999 (saat Puspaskhasau berubah menjadi Korpaskhas).

Komandan

-

_________________________________________________________________________

 

follow-us

VIDEO