BUKU TAMU

Eka Oktavia
Selamat siang, Saya dari Lanud Padang Propinsi Bengkulu mendaftar online calon Taruni AAU pada form isian jenis kelamin tidak...
M Wijdan
Pendaftaran Taruna AAU wilayah Tasikmalaya di mana ? karena pada pengumuman tidak tercantum untuk daerah Tasikmalaya.
Anditia Danang Kusuma Aburisma
Assalamu'alaikum Pak, alamat serta nomor telepon untuk RS TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma ? terimakasih.
David Ryan
Persyaratan pendaftaran calon Taruna AAU melampirkan foto kopi daftar nilai kolektif yang telah dilegalisasi dan buku raport asli...
David Ryan
Bagaimana dengan surat persetujuan/Ijin orang tua/wali yang diketahui oleh kepala desa/lurah setempat, surat pernyataan belum per...
Taufan Gumilang Amirudin
Assalamu'alaikum Wr. Wb. Untuk test administrasi apa saja persyaratannya ? apakah harus datang dengan orang tua karena terdapat su...
Nabilatan Rosyid
Assalamu'alaikum Wr. Wb. Saya siswa SMA lulusan tahun ini, mengisi pendaftaran online Taruna AAU, pada langkah 2 "form profil...
Dian Bagus
Pak boleh minta alamat Lanud Surabaya dan RS Angkatan Udara Surabaya ? Terimakasih.
Retno Ayu Priyani
Ass. admin yang terhormat, Saya anak SMK jurusan Akuntansi lulusan tahun ini, apakah bisa mengikuti pendaftaran calon Taruni AAU ?...
Diandra Anggara P.
Assalamu'alaikum, Pak saya dari SMA jurusan IPS apakah bisa mengikuti pendaftaran calon Taruna AAU (Karbol) ?
Rizka NR
Assalamu'alaikum, Apakah pendaftaran gelombang ke 2 sudah dibuka? dan kapan waktu pelaksanaannya ?
Wahyudin
Selamat malam, Pak, kapan buka pendaftaran Bintara PK TNI AU ?
Aprian Adiframbudhi
Setelah saya membaca persyaratan pendaftaran Taruna/Taruni AAU, mengapa harus lulusan SMA jurusan IPA? apakah jurusan IPS tidak me...
Sylvia Adetari Rahmah
Asslamu'alikum Wr. Wb. Untuk pendaftaran calon Taruni melalui online bagaimana ya pak ? sedangkan di website online hanya ada Taru...
Ismail Nurhakim
Apakah ada pendaftaran untuk daerah Bali ? dan bagaimana pendaftaran onlinenya ? terima kasih.

WING III DIKLAT PASKHAS

Tugas Pokok

-

Visi & Misi

-

Profil

-

Sejarah

EMBRIO
Embrio Wing III Diklat Paskhas tidak terlepas dari proses Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara (Korpaskhas) secara umum cikal bakalnya dari Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP) saat penjajahan Jepang di Indonesia dan terbentuknya TNI Angkatan Udara (TNI AU). TNI AU sendiri cikal bakalnya dari Badan Keamanan Rakyat Oedara (BKRO) yang merupakan bagian dari Badan Keamanan Rakyat (BKR).

BKRO-TKRO-TRIO
Dengan adanya perubahan dan penyempurnaan organisasi BKR menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR), maka BKRO juga menjadi TKR Oedara (TKRO) yang saat itu dikenal dengan nama TKR Jawatan Penerbangan. Selanjutnya seiring dengan peningkatan TKR menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) pada tanggal 25 Januari 1946, maka TKRO juga menjadi TRI Oedara (TRIO). Pada tanggal 9 April 1946 TRIO atau TRI Jawatan Penerbangan kemudian disyahkan menjadi Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI), berdasarkan Penetapan Pemerintah Nomor : 6/SD/1946 tanggal 9 April 1946 tentang pengesahan Tentara Republik Indonesia Jawatan Penerbangan menjadi Angkatan Udara Republik Indonesia yang kemudian dikenal sampai sekarang dengan nama Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (AURI). Yang disejajarkan dengan TNI AD dan TNI AL.

PASUKAN PERTAHANAN PANGKALAN
Dalam konsolidasi organisasai, BKRO membentuk Organisasai Darat yaitu Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP). PPP dibutuhkan untuk melindungi Pangkalan-Pangkalan Udara yang telah direbut dari Tentara Jepang terhadap serangan Belanda yang pada waktu itu berusaha ingin kembali menduduki wilayah Republik Indonesia termasuk Pangkalan-Pangkalan Udara nya. PPP saat itu masih bersifat lokal yang dibentuk di Pangkalan-Pangkalan udara seperti di Pangkalan Udara Bugis (Malang), Maospati (madiun) Mojoagung (Surabaya) Panasan (Solo, Maguwo (Yogyakarta), Cibeureum (Tasikmalaya), Kalijati (Subang Pamengpeuk (Garut) dan pangakalan- pangkalan udara diluar pulau Jawa seperti Talang Batutu (Palembang), Tabing (Padang) dan lain-lain.

PPP sangat berperan saat terjadi Agresi Militer I dan Agresi Militer II, yang saat itu hampir seluruh Pangkalan Udara mendapat serangan dari Tentara Belanda, baik dari darat maupun dari udara.
Serangan besar-besaran yang dilancarkan oleh Belanda yaitu serangan terhadap Pangkalan Udara Maguwo Yogyakarta yang disertai dengan Pasukan Payungnya pada tanggal 19 Desember 1948 saat itu PPP bersama kekuatan udara dipangkalan tersebut berusaha mempertahankan Pangkalan sampai titik darah yang penghabisan. Begitu pula di Pangkalan-Pangkalan Udara lainnya yang mendapat serangan dari Belanda.

PPP inilah yang merupakan cikal bakal dari Pasukan Payung sebelumnya pada tanggal 11 Pebruai 1946 telah melakukan percobaan latihan penerjunan yang pertama kali di Pangkalan Udara Maguwo Yogyakarta dengan menggunakan payung (Parachute) dan pesawat terbang peninggalan Jepang,

Pasukan Payung ini pulalah yang kemudian diterjunkan di Sambi Kota Waringin Barat Kalimatan Tengah pada tanggal 17 Oktober 1947, yang selanjutnya berdasarkan Keputusan Men/Pangau Nomor 54 Tahun 1967 tanggal 17 Oktober 1947 ditetapkan sebagai Hari Jadi Pasukan TNI Angkatan Udara yang sekarang dikenal dengan nama Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara.

Dalam periode selanjutnya, yaitu sejak tahun 1950 Pasukan Payung yang saat itu masih bernama PPP berpusat di Jakarta dengan sebutan Air Base Defence Troop (ABDT) yang membawahi 8 Kompi dan dipimpin oleh Kapten Udara RA Wiriadinata dengan Wakilnya Letnan Udara I R. Soeprantijo. Kemudian pada pertengahan Tahun 1950 dibentuk Inspektorat Pasukan Pertahanan Pangkalan yang disebut dengan IPP yang bermarkas dijalan Sabang Jakarta, kemudian pada bulan April 1952 dipindahkan ke Pangkalan Udara Cililitan Jakarta Timur.

PASUKAN GERAK TJEPAT (PGT) DAN PENANGKIS SERANGAN UDARA (PSU)
Sementara itu, pada tahun 1950 juga diadakan Sekolah Terjun Payung (Sekolah Para) yang diikuti oleh para prajurit dalam rangka pembentukan Pasukan Para TNI AU. Sekolah Para ini dibuka di Pangkalan Udara Andir Bandung sebagai kelanjutan dari embrio Sekolah Para di Maguwo. Hasil didik dari Sekolah Para inilah yang kemudian disusun dalam Kompi-Kompi Pasukan Gerak Tjepat (PGT) yang dibentuk pada bulan Pebruari 1952 dan Kapten Udara RA. Wiriadinata sebagai Komandannya yang saat itu merangkap sebagai Komandan Pangkalan Udara Andir di Bandung.

Pada tahun 1950 an Pasukan TNI AU terdiri dari PPP, PGT dan PSU (Penangkis Serangan Udara) yang kekuatannya terdiri dari 11 Kompi Berdiri Sendiri (BS), 8 Pleton BS dan 1 Battery PSU. Pada perkembangan selanjutnya, pada tahun 1958 situasi politik dan keamanan dalam Negeri semakin memburuk karena munculnya pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di Sumatera dan Sulawesi Utara yang mengatas namakan Dewan Gajah, Dewan Banteng, Dewan Garuda, PRRI dan Permesta. PGT bersama satuan tempur TNI lainnya juga ditugaskan dalam rangka penumpasan pemberontakan-pemberontakan tersebut dalam berbagai operasi seperti Operasi Tegas, Operasi Sapta Marga, Operasi 17 Agustus dan Operasi Merdeka.

Selanjutnya pada Tahun 1960-an PGT juga ditugaskan dalam rangka operasi pembebasan Irian Barat (Papua) yang berdasarkan perintah Men/Pangau, maka dibentuklah Resimen Tim Pertempuran PGT (RTP PGT) yang bermarkas di Bandung dan Kapten Udara Soegiri Soekani sebagai Komandannya. RTP PGT membawahi 2 Batalyon PGT yaitu Batalyon A PGT yang dipimpin oleh Kapten Udara Z. Rachiman dan Batalyon B PGT yang dipimpin oleh Kapten Udara J.O. Palendeng.

Pada tanggal 15 Oktober 1962, berdasarkan Keputusan Men/Pangau Nomor : 195 dibentuklah Komando Pertahanan Pangkalan Angkatan Udara (KOPPAU). Panglima KOPPAU dirangkap oleh Men/Pangau dan sebagai wakilnya ditetapkan Komodor Udara RA. Wiriadinata. KOPPAU terdiri dari Markas Komando (Mako) berkedudukan di Bandung, Resimen PPP di Jakarta dan Resimen PGT di Bandung. Resimen PPP membawahi 5 Batalyon yang berkedudukan di Jakarta, Banjarmasin, Makassar, Biak dan Palembang (kemudian pindah ke Medan). Resimen PGT terdiri dari 3 Batalyon, yaitu Batalyon I PGT (merupakan Batalyon III Kawal Kehormatan Resimen Cakra Bhirawa) berkedudukan di Bogor. Batalyon II PGT di Jakarta dan Batalyon III PGT di Bandung.

Berdasarkan Surat keputusan Men/pangau Nomor : III/PERS/MKS/1963 tanggal 22 Mei 1963, maka pada tanggal 9 April 1963 Komodor Udara RA. Wiriadinata dikukuhkan menjadi Panglima KOPPAU dan menjabat selama 1 tahun. Kemudian pada tahun 1964 digantikan oleh Komodor Udara Ramli Sumardi sampai dengan tahun 1966.

KOMANDO PASUKAN GERAK TJEPAT (KOPASGAT)
Pada tanggal 11 s.d 16 April 1966 diadakan Seminar Pasukan di Bandung. Berdasarkan hasil dari seminar tersebut dan sesuai dengan Keputusan Men/Pangau Nomor : 45 tahun 1966 tanggal 17 Mei 1966 KOPPAU disyahkan menjadi Komando Pasukan Gerak Tjepat (Kopasgat) yang terdiri dari 3 Resimen, yaitu :

Resimen I Pasgat bermarkas di Bandung, membawahi :
• Yon A Pasgat di Bogor
• Yon B Pasgat di Bandung

Resimen II Pasgat bermarkas di Jakarta, membawahi :
• Yon A Pasgat di Jakarta
• Yon B Pasgat di Jakarta
• Yon C Pasgat di Medan
• Yon D Pasgat di Banjarmasin

Resimen III Pasgat bermarkas di Surabaya, membawahi :
• Yon A Pasgat di Makasar
• Yon B Pasgat di Madiun
• Yon C Pasgat di Surabaya
• Yon D Pasgat di Biak
• Yon E Pasgat di Yogyakarta

Selanjutnya berdasarkan Keputusan Kepala Staf TNI AU / Kasau Nomor : 57 tahun 1970 tanggal 1 Juli 1970, sebutan Resimen diganti menjadi Wing. Dengan demikian Resimen I Pasgat menjadi Wing I Pasgat, Resimen II Pasgat menjadi Wing II Pasgat dan Resimen III Pasgat menjadi Wing III Pasgat.

Sementara itu berdasarkan Surat Keputusan Kasau tersebut sebutan Panglima diubah menjadi Komandan Jendral (Danjen). Saat itu Komandan Kopasgat adalah Kolonel Udara Soetoro, sehingga sebutannya menjadi Danjen Kopasgat.

Pada tahun 1976, berdasarkan Keputusan Kasau Nomor : Kep/ 29/VI/1976 tanggal 21 Juni 1976, TNI AU membentuk Komando Paduan Tempur Udara (Kopatdara) sebagai realisasi Keputusan Menhankam/Pangab Nomor : Kep/14/IV/1976. Dalam organisasi Kopatdara ini secara tetap disusun 1 Batalyon Pasgat dengan status Bawah Komando Operasi (BKO) yaitu Yon I Pasgat dengan Komandan Mayor Psk Affendi berkedudukan di Jakarta yang terdiri dari 3 Kompi tempur (Kipur) dengan unsur-unsur antara lain :

• 1 Gugus Pengendali Tempur (Gus Dalpur)
• 1 Gugus Pengendali Pangkalan (Gus Dallan)
• 1 Gugus Para Rescue Tempur (Gus Para Rescue)

Disamping itu disusun juga Satuan Taktis (Sat Tis) Pasgat yang berkedudukan di Lanuma Husein Sastra Negara Bandung dengan Komandan Mayor Psk Surasmo dan Batalyon Kopasgat (Batalyon II Kopasgat) berkedudukan di Jakarta dengan Komandan Mayor Psk Budi Sutrisno.

Disamping itu untuk luar Jakarta Batalyon III Kopasgat berkedudukan di Pangkalan Udara Iswahyudi Madiun dan Batalyon IV Kopasgat berkedudukan di Surabaya lalu pindah ke Lanuma Abdurrachman Saleh di Malang.

Ketiga unsur Pasukan (Kopatdara, sattis Pasgat dan Kopasgat) inilah yang merupakan embrio dari satuan ini yang kemudian sekarang lebih dikenal dengan nama Wing III Pendidikan dan Latihan Paskhas (Wing III Diklat Paskhas).

Komandan

-

_________________________________________________________________________

 

VIDEO