Latar Belakang Pembentukan Wara
KEHADIRAN WANITA TNI ANGKATAN UDARA
PENERUS CITA-CITA KARTINI DAN TUNTUTAN JAMAN
Pengakuan Kedaulatan
Tanggal 27 Desember 1949 merupakan saat yang bersejarah bagi bangsa Indonesia, karena setelah melalui perjuangan bersenjata yang berat Belanda mengakui kedaulatan Negara Republik Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Setelah pengakuan kedaulatan tersebut dilakukan penyerahan wewenang, baik sipil maupun militer ke tangan Bangsa Indonesia sendiri. Dengan demikian tibalah saatnya bagi rakyat Indonesia untuk memasuki suatu tahap baru yaitu tahap konsolidasi dan pembinaan.
Sesuai dengan tahap-tahap yang berlaku, maka TNI Angkatan Udara memulai menyusun kekuatan sayapnya setelah mengalami perang gerilya melawan Belanda dalam masa Perang Kemerdekaan II. Gerak usaha yang disemangati oleh pengabdian dan kesetiaan terhadap Negara Republik Indonesia telah mempercepat proses konsolidasi dan pembinaan TNI Angkatan Udara, sehingga ini berarti pula mempercepat pembangunan yang lebih luas dan sempurna. Hal ini dapat dibuktikan kemampuan bangsa Indonesia untuk melikuidasi Militaire Luchtvaart dalam waktu enam bulan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan.
Dengan kepindahan Markas AURI Sumatera ke Pangkalan udara Tabing (Padang), maka beberapa wanita yang ikut bergerilya selama Perang Kemerdekaan II tersebut ikut pindah pula ke Tabing. Mereka bertugas kembali sebagai staf tata usaha dan personalia, sedang Rifiana Arif bertugas di “tower”. Ia merupakan satu-satunya wanita Indonesia pada masa itu yang bekerja di bidang pengatur lalu lintas udara tanpa melalui pendidikan. Para penerbang asing menyebutnya sebagai “Miss Tower” yang senantiasa basah kuyup bila musim hujan tiba. Maklum tower tempo dulu. Dalam kesibukan mengatur lalu lintas penerbangan, Ia pun masih menyumbangkan tenaga sebagai guru SMP bagi anggota-anggota militer di Pangkalan Udaia Tabing.
Sebagai penghargaan atas jasa-jasa para wanita yang telah berjuang semasa Perang Kemerdekaan II, maka mereka diberi kepangkatan militer yakni:
Seorang Sersan Mayor Udara, tiga orang Kopral Udara dan seorang Prajurit Udara Satu. Sedangkan Alida Alamsyah setelah bertugas mengatur kedatangan/keberangkatan para penumpang pesawat ke Medan dan Jakarta, maka sejak tahun 1950 ditugaskan di bidang staf admmistrasi Markas Besar Angkatan Udara di Jakarta.
Setelah situasi keamanan Negara Republik Indonesia berangsur-angsur pulih kembali, maka dalam rangka konsolidasi dan pembinaan personil lebih lanjut kepangkatan dan seragam yang telah mereka sandang selama ini terpaksa harus ditanggalkan demi penyesuaian dengan organsasi Markas Besar Angkatan Udara di Jakarta. Kemudian dalam melanjutkan karirnya di lingkungan Angkatan Udara, maka masih dipikirkan cara yang sebaik-baiknya suatu wadah penerusan para perintis wanita militer semasa Perang Kemerdekaan II di lingkungan Angkatan Udara. Sementara itu wanita-wanita pejuang tersebut berstatus sebagai karyawati sipil.
Latar Belakang Pembentukan Wara
Peran serta kaum wanita dalam perjuangan Bangsa Indonesia baik dibidang pertahanan maupun pendidikan, sejak dulu kala tidak dapat diabaikan begitu saja, terlebih-lebih pengorbanan jiwa dan raga yang tidak sedikit. Dengan didasari kesadaran sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 30 ayat I Undang-undang Dasar 1945 yang menyatakan, bahwa tiap-tiap-Warga Negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara, maka peran serta kaum wanita Indonesia dapat terbuktikan dalam sejarah perjuangan bersenjata Bangsa Indonesia sejak Perang Kemerdekaan sampai kembalinya Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi.
Dengan bertitik tolak dan fakta historis serta berlandaskan konstitusional Undang-undang Dasar 1945 dan idiil Pancasila, maka pada tahun 1962 Deputy Menteri/Panglima Angkatan Udara Urusan Administrasi Laksamana Muda Udara Suharnoko Harbani mendapat tugas dan wewenang untuk membentuk Wanita Angkatan Udara (Wara). Dalam penugasan tersebut telah digariskan, bahwa Wara tersebut bukan merupakan suatu korps tersendiri sebagaimana Korps Wanita TNI-AD (Kowad) dan Korps Wanita TNI-AL (Kowal) yang sudah terbentuk lebih dulu. Keanggotaan Wara diintegrasikan kedalam korps/kecabangan yang berlaku di lingkungan Angkatan Udara sama dengan anggota militer pria lainnya.
Dalam rangka merealisasikan pembentukan Wara tersebut maka langkah kebijaksanaan Pimpinan Angkatan Udara mengadakan telaahan staf yang meliputi empat bidang, yakni
1. Bidang Organisasi : Letkol Udara PNB S. Sudjatmiko.
2. Bidang Pendidikan : Letkol Udara PNB Tjok Saroso Hurip.
3. Bidang Anggaran : Letkol Udara PNB Bob Surasa putra.
4. Bidang Personalia: Letkol Udara PNB Sumitro
Sebagai tempat pendidikan Wara tersebut telah pula disepakati, yakni di lereng Gunung Pelawangan berdampingan dengan Gunung Merapi, Kaliurang, Yogyakarta. Pemilihan lokasi yang berhawa dingin ini merupakan tempat yang bersejarah. karena disinilah tempat berkumpulnya para Pemimpin Republik Indonesia mengadakan perundingan dengan perutusan Belanda di bawah pengawasan Komisi Tiga Negara (KTN) sebelum pecahnya Perang Kemerdekaan II.



