Prospek Dan sinergi Kedepan (halaman 1)
VISI DAN OPINI

Ketika menjadi Danlanud Pekanbaru, dengan overall dan G-Suit di depan pesawat tempur Hawk MK-209 Skadron Udara 1. “Saya bangga menjadi penerbang Hawk meski banyak yang mengenal saya sebagai penerbang F-16,” ujar Eris Herryanto.
ErisHerryanto, mendapat kepercayaan pimpinan danorganisasi sebagai Komandan Lanud Adisutjipto ke-32. Ia menerima tongkat komando dari seniornya, Marsekal Pertama TNI Doktor Rio Mendung Thalieb dalam suatu upacara serah terima jabatan persis di akhir tahun 2002, tepatnya tanggal 31 Desember 2002.
Sebenarnya ia bukan orang baru di Lanud Adisutjipto, karena antara tahun 1998 – 1999, meski hanya sembilan bulan, ia pernah dipercaya menduduki jabatan sebagai Wakil Komandan. Artinya, hal ikhwal dan seluk beluk tentang pangkalan pendidikan pencetak perwira penerbang TNI AU maupun TNI lain – bahkan juga dari mancanegara – itu cukup ia kuasai. Meski secara jujur dan merendah ia mengaku,”Tugas pendidikan banyak saya tempuh di luar negeri. Jadi sebenarnya saya tidak terlalu tahu tentang Sekbang. Kalau kemudian pimpinan mempercayakan pengelolaan Sekbang kepada saya, tentu itu saya anggap sebagai challenge,” ujarnya kepada penulis.
Pria kelahiran awal Januari 1955 dan masih tetap langsing ini memang dikenal rendah hati dan tak mau menonjolkan diri. “Tapi bukan berarti saya mau direndahkan,” tegasnya mengingatkan. Alumnus AAU 1976 dan dikenal sebagai penerbang fighter, termasuk salah satu anggota tim pembawa pesawat F-16 Fighting Falcon dengan menerbangkannya ke tanah air langsung dari pabriknya di Amerika Serikat. Tak heran jika sebagian besar orang, termasuk penulis, lalu mengidentikannya sebagai penerbang F-16 si Elang Penempur. Maklum, ia telah mengantungi 500 jam terbang dalam karirnya sebagai penerbang dengan pesawat F-16.
Di luar dugaan, ia bertutur bahwa sebenarnya ia merasa lebih senang diakui sebagai penerbang pesawat buatan Inggris, Hawk MK-209 tipe 100/200. Rahasianya terletak ketika ia memegang tampuk pimpinan sebagai Komandan Lanud Pekanbaru yang membawahi Skadron Udara 1 dengan alusista pesawat tempur paling gres milik TNI AU, Hawk MK-209 tipe 100 dan 200 (single & dual seat).
“Di Hawk saya merasa puas karena telah memberikan warna dan inovasi dalam pemanfaatan kemampuan terbang untuk flight weapon instructor, misalnya tadinya hanya untuk air to ground attack bisa untuk air to air attack ,” ujarnya. Dengan Hawk, Eris mengantungi 200 jam terbang. Sebenarnya jam terbang terbanyak justru dengan pesawat F-5E Tiger yakni 2250 jam.
Di mata anak buah dan stafnya, ia dikenal sebagai pimpinan yang ramah, menghargai pendapat orang lain apapun pangkatnya, dan hampir-hampir tak pernah marah. Itulah sebabnya, di mana ia bertugas selalu membawa “angin sejuk dan segar” bagi lingkungannya. Bahkan serombongan pejabat pemprov DIY yang bertandang ke kantornya suatu ketika mengaku, tadinya mereka merasa segan untuk ketemu pimpinan Lanud Adisutjipto karena – konon – khawatir orangnya “galak”. Setelah ketemu sosok Eris, “nightmare” yang mereka bayangkan hanya sekadar, kata wong Djogdja, gek gek (jangan-jangan iya, ternyata tidak) saja.
Untuk mengetahui lebih jauh tentang visi dan opini ErisHerryanto selaku Komandan Lanud Adisutjipto periode sekarang, berikut ini wawancara penulis dengan ayah Andhu Pakerti, Bagas Adhadirga, dan Candra Perkasa, hasil cinta kasih dengan Widjati Harsasi yang selama ini setia mendampinginya.
Ketika mendapatkan Perintah / kepercayaan Pimpinan untuk menduduki jabatan Dan Lanud Adi, apa yang ada di benak Komandan?
Setelah mendapatkan Skep menjadi Dan Lanud Adi yang terpikir adalah:
- Ingin mengetahui lebih jauh tentang tugas pokok Lanud Adisutjipto yaitu menyelenggarakan pendidikan Sekbang, Seknav dan Sekolah Instruktur Penerbang. Tentunya dalam benak saya ingin meningkatkan kualitas hasil didik khususnya Sekolah Penerbang karena mereka-mereka nantinya akan menjadi Pemimpin TNI AU di masa mendatang.
- Ingin memperoleh arahan dari Pimpinan (KASAU) tentang kebijakan Pimpinan yang ada kaitannya dengan tugas yang akan saya emban, dan ini saya peroleh setelah memperoleh Surat Perintah Pelaksanaan dari KASAU.
Sejauhmana hal ikhwal / seluk beluk tentang Lanud Adi sebelum Komandan menjadi Dan Lanud Adi?
Saya pernah menjabat sebagai Wadan Lanud Adisutjipto pada tahun 1998 – 1999 walaupun hanya sembilan bulan sehingga sudah ada sedikit pengetahuan tentang pendidikan yang ada di Lanud Adisutjipto. Saat itu Dan Lanud mempercayakan untuk mengawasi pelaksanaan operasi pendidikan.
Hal-hal apa saja yang menjadi kelebihan dan kekurangan Lanud Adi sebagai Lanud Pendidikan khususnya Sekbang?
Kelebihan Lanud Adisutjipto dalam menjalankan pendidikan Sekbang adalah didukung dengan fasilitas yang cukup lengkap sehingga pendidikan Sekbang tidak banyak mengalami hambatan.
Dibanding fasilitas pendidikan Sekbang di negara-negara tetangga – ASEAN – bagaimana menurut Komandan kondisi fasilitas di Lanud Adi? Cukup memadaikah?
Dibanding dengan Negara-negara ASEAN? Saya tidak banyak mengetahui kondisi Sekolah Penerbang di negara-negara tetangga.
Jika Komandan punya angan-angan, bagaimanakah seharusnya wujud Lanud Adi yang ideal sebagai Pangkalan Pendidikan Sekbang dan fungsi lainnya?
Kondisi saat ini Lanud Adisutjipto dapat dikatakan cukup ideal, namun bila ingin ditingkatkan perlu didukung oleh “landasan pendukung” yang dapat digunakan untuk tempat berlatih siswa Sekbang pada exercise take off dan landing. Saat ini dengan makin berkembangnya penerbangan sipil ke Bandara Adisutjipto membuat traffic di Lanud Adisutjipto semakin padat, sehingga latihan pattern dan landing akan terganggu dan demikian pula penerbangan sipil terganggu dengan kepadatan traffic Sekbang. Solusi yang selalu dilaksanakan adalah memindah penerbangan AS 202 B ke Lanud SMO (Adisumarmo – Solo) pada fase-fase pattern. Untuk mengatasi masalah ini diperlukan pengembangan Landasan Gading agar dapat digunakan untuk berlatih “Touch and Go” bagi siswa Sekolah Penerbang.
Sejauh pengalaman Komandan yang banyak menempuh pendidikan di luar negeri, khususnya di negara-negara yang sudah maju / modern, hal-hal apa sajakah yang dapat dipetik dari negara-negara maju tersebut, terutama dalam hal pengelolaan pendidikan Sekbang?
Sangat sulit untuk membandingkan pendidikan kita dengan di luar negeri karena budaya kita berbeda. Namun kalau boleh menyimpulkan pendidikan di luar negeri menganut “Adult Learning System” di mana siswa diberi keleluasaan untuk belajar mengejar kekurangan-kekurangannya sendiri. Hal ini sangat memungkinkan karena didukung dengan fasilitas, sarana dan prasarana yang memadai.
Sebagai mantan Instruktur Sekbang, adakah perbedaan yang Komandan lihat antara Instrukturt di era Komandan dengan Instruktur sekarang?
Sebetulnya saya belum pernah mendapat kesempatan mengajar di Sekbang sehingga tidak mempunyai pengetahuan tentang perkembangan para Instruktur.
Menurut Komandan, profil Instruktur Sekbang yang ideal itu seperti apa?
Instruktur yang ideal menurut saya adalah Instruktur yang mempunyai pengetahuan dasar tentang penerbangan didukung dengan skill yang memadai dan itu semua mampu ditransfer kepada anak didik.
Selain itu menurut saya seorang instruktur juga harus mampu mengoptimalkan potensi otak kanannya, yakni untuk berpikir alternatif, inovatif, dan improvisatif. Selama ini kan terbiasa memakai otak kirinya yang cenderung berpikir sekuensial dan prosedural. Ini tidak salah tapi jelas tidak memadai.
Dari data yang ada, apakah kualitas input siswa Sekbang baik yang lulusan AAU maupun PSDP, apakah sudah cukup memadai / memenuhi syarat ideal?
Apa yang saya ketahui bahwa kualitas input cukup memadai karena mereka harus lulus pada Attitude Test selain test lainnya seperti kesehatan, psychology dan kesemaptaan.
Dibandingkan dengan kondisi riel yang ada, apakah kualitas output Sekbang hingga kini telah memenuhi harapan? Apa dan bagaimana upaya yang harus ditempuh agar kualitas output tersebut makin meningkat dimasa-masa yang akan datang?
Saya masih belum mampu menilai kualitas output Sekbang. Namun kalau dapat memberikan kontribusi untuk meningkatkan hasil didik hal-hal yang perlu dikembangkan adalah kreatifitas dan inovasinya. Kreatifitas dan inovasi hasil didik Sekbang sangat diperlukan dalam menjalankan tugas agar nantinya dalam menghadapi permasalahan dalam penerbangan keputusan-keputusan yang diambil akan “Common Sense” (dapat diterima akal sehat). Upaya-upaya yang ditempuh adalah dengan memberikan “situasional dalam penerbangan” setiap sebelum terbang agar Instruktur dapat mengerti kemampuan siswanya dalam hal pengetahuan.
Tentang rencana pengembangan Bandara sebagai Internasional Airport, apa pandangan dan pendapat Komandan?
TNI AU merupakan bagian kecil dari Bangsa Indonesia sehingga segala upaya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat harus dapat didukung. Salah satu alasan pengembangan Bandara Adisutjipto menjadi Bandara Internasional adalah agar export produk-produk dari Yogya dapat langsung dikirim ke Luar Negeri, sehingga memacu perekonomian masyarakat Yogyakarta. Pengembangan Bandara Adisutjipto menjadi Bandara Internasional akan berdampak terhadap peningkatan traffic dari dan ke Yogyakarta sehingga akan berpengaruh terhadap latihan penerbangan di Lanud Adisujtipto. Untuk memecahkan masalah ini telah diambil solusi untuk membangun (lapangan terbang) Gading agar dapat dipakai berlatih siswa Sekbang yang selama ini menggunakan landasan di Adisutjipto untuk Touch and Go. Hal ini telah disetujui oleh Pemda DIY.
Dengan menjadi Bandara Internasional, apakah kepentingan kita sebagai Pangkalan Pendidikan Sekbang dapat terakomodasi? Apa nilai positif dan negatif bagi kita?
Yang menjadikan permasalahan apabila menjadi Bandara Internasional pada kondisi seperti saat ini hanyalah traffic yang cukup padat di landasan Adisutjipto. Seperti disebut di atas hal ini akan teratasi bila Gading dapat dikembangkan untuk tempat berlatih Touch and Go siswa Sekbang.
![]() Menyambut hangat kedatangan Ibu Presiden saat berkunjung di Lanud Adisutjipto |
Menurut rencana, dengan dikembangkannya Bandara Internasional Adi’s, maka kegiatan Sekbang akan dialihkan ke Lapangan Terbang Gading, Gunung Kidul. Apakah kelak ada semacam “bedol desa” seluruh perangkat Sekbang termasuk fasilitas dan instruktur ke Gading?
Jadi pengembangan Gading hanya diperuntukkan untuk tempat berlatih Touch and Go, tidak untuk home base. Sehingga istilah yang tepat bagi Gading adalah “Auxiliary Field”. (Lalu dengan tegas Eris menegaskan, tidak akan pernah ada wacana semacam “bedol lanud”, karena apapun yang terjadi fakta histories tak mungkin diingkari bahwa di pangkalan yang dulu disebut PAU Maguwo ini telah terjadi kisah-kisah heroik yang sangat monumental bagi perjuangan bangsa dan negara. Kita semua tentu berkeinginan agar konteks sejarah ini tidak sampai hilang ditelah zaman dan kepentingan. Apalagi infrastruktur yang ada sudah cukup lengkap dan untuk membangun serta mengembangkannya telah menelan biaya yang tidak sedikit).
Persiapan-persiapan apa saja dalam rangka optimalisasi Lapangan Terbang Gading tersebut? Sejauh mana peran Mabes TNI AU, Pemprov DIY dan Pemda Gunung Kidul dalam rencana pengembangan Lapangan Terbang Gading tersebut?
Pengembangan Gading akan ditangani oleh Pemda DIY sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan TNI AU.
Apakah kondisi geografis kawasan Lapangan Terbang Gading cukup ideal untuk aktifitas Sekbang? Apa kelebihan dan kekurangan Lapangan Terbang Gading dibanding Adi’s?
Kondisi geografis cukup memadai dengan kelebihan traffic yang ada hanyalah dari Lanud Adisutjipto, tidak ada traffic dari luar sehingga sangat leluasa untuk kegiatan pendidikan.
Sejauhmana persiapan dalam menyambut kedatangan Pesawat Latih KT-1?
Persiapan untuk menerima kedatangan KT-1B:
- Personel Penerbang sebanyak 2 orang telah dikirim ke Korea untuk menguasai menerbangkan pesawat ini.
- Personel teknik selain mengirim ke Korea sebanyak 13 orang telah mendidik personel di dalam negeri sebanyak kurang lebih 20 orang agar dapat mengoperasikan dalam jumlah 7 pesawat yang dibeli.
- Fasilitas hanggar telah disiapkan di hanggar 3.
- Gudang juga telah disiapkan.
- Shelter sudah dibangun walaupun belum dapat digunakan karena belum dihubungkan dengan taxiway mengingat KT-1B tidak dapat beroperasi di atas rumput.
Dibanding AS Bravo atau T-34 Charlie, apa kelebihan dari KT-1?
Kelebihannya adalah, pertama performance lebih baik dan kedua avionic lebih lengkap dibanding T-34 C / AS 202 B.
Karena selama ini terbiasa menggunakan pesawat latih buatan Barat, lalu akan memakai pesawat buatan Asia (Korsel). Apakah hal ini tidak akan menimbulkan persoalan (jika ada), dan apa saja yang harus diantisipasi?
Tidak ada persoalan untuk dapat menerbangkan pesawat Korea. Sepertinya Korea menggunakan tehnologi pesawat Barat dalam membuat pesawat sehingga peralatan dan systemnya telah standar dengan pesawat buatan Barat.
KESAN DAN WACANA MANTAN KOMANDAN
Seperti diketahui, secara silih berganti Lanud Adisutjipto telah mengalami pergantian sebanyak 32 orang komandan. Komandan pertama adalah Laksamana Muda Anumerta Agustinus Adisutjipto (1945 – 1947), sedangkan komandan yang sekarang adalah Marsekal Pertama TNI Eris Herryanto (menerima tongkat komando dari komandan sebelumnya, Marsekal Pertama TNI DR Rio Mendung Thalieb, tanggal 31 Desember 2002).
Berbagai dinamika dan suka duka tentu dialami oleh mereka dalam memimpin pangkalan “Top Gun” kebanggaan ini. Rasanya menarik untuk mencermati apa kesan-kesan mereka selama memegang tongkat komando sebagai Komandan, apa dan bagaimana opini mereka dalam memandang masa depan Lanud Adisutjipto serta hal-hal lain di seputar perkembangan TNI Angkatan Udara.
Dua mantan Komandan pada kesempatan ini akan memberikan kesan dan opini mereka. Masing-masing adalah Marsekal Muda TNI Pur Purnomosidhi (1992 – 1993), dan Marsekal Muda TNI Pur Lambert F Silooy (1995 – 1997).
Marsekal Muda TNI Purn Purnomo Sidhi
“Mendatangkan rasa tenteram di hati saya”
Selaku instruktur, juga mantan Komandan Skadik 101 dan mantan Komandan Lanud Adisutjipto, saya banyak mendapat kesempatan belajar dari kehidupan sosok guru, pendidik, leader, hakim, eksekutor sekaligus anak buah. Oleh karena itu saya ingin berbuat sesuatu untuk AURI apabila pada saatnya nanti ada kesempatan. Kesempatan itu datang pada waktu saya menjabat Komandan Lanud Adisutjipto.
![]() Marsekal Muda TNI Purn Purnomo Sidhi: ”Dibutuhkan pemimpin TNI AU yang bervisi mondial” |
Demikian Purnomo Sidhi mengawali penjelasannya di tengah kesibukan dinas selaku Kepala Badan Diklat Departemen Perhubungan RI. Dari Grand Hyatt Singapore, jawaban purnawirawan berbintang dua ini meluncur dan langsung penulis tuangkan di sini. Ia melanjutkan penjelasannya.
“Saya sertifikatkan tanah Lanud, pekuburan AU di Sambilegi, Tanah Radar Congot dan Komplek WARA Kaliurang. Memulai membangun club house lapangan golf, membangun masjid Wonocatur dan Markas Paskhas Kompi BS di Wotgaleh yang semuanya itu dengan dana non budgeter.
“Pelaksana pengurusan sertifikat untuk Lanud oleh Mayor Psk Darmono (wasit Terjun Payung), Kaliurang dan Pekuburan oleh Mayor Sus Kasi Fasint dan Congot oleh Lettu Sugito Dansat Congot. Meskipun itu semua masih sangat kecil artinya dibanding dengan apa yang telah saya dapat, tetapi telah mendatangkan rasa tenteram di hati saya,” ujar Purnomo yang juga mantan Panglima Koops TNI AU I itu.
Bayang-bayang Kebanggaan
Berbicara tentang sejarah Maguwo, esensi dan substansi apa yang dapat kita petik dari kiprah para pendahulu di masa lalu?
“Saya sangat menghormati langkah atau tindakan yang diperankan para pendahulu kita, tetapi saya tidak begitu sependapat kalau kita terlalu terpaku pada masa lalu. Sehingga kita tenggelam dalam bayang-bayang kebanggaan. Saya lebih antusias untuk menampilkan sesuatu yang lebih signifikan dan sesuai dengan jamannya,” kata alumnus AAU 1968 yang juga menantu almarhum Marsekal TNI Pur Rusmin Nuryadin.
Kalau begitu apakah ada perbedaan bentuk pengabdian antara para pendahulu dengan kita di zaman sekarang?
“Banyak perbedaan bentuk pengabdian, tergantung dari kebutuhan dan kondisi lingkungan. Mungkin hal itu yang menyebabkan perbedaan tuntutan akan kualitas pengabdian seseorang. Tetapi yang lebih penting adalah konsistensinya – sekurang-kurangnya selama masa pengabdian di AURI.”
Positioning
Lalu tentang sosok TNI AU sekarang?
“Untuk sementara kita harus menerima keadaan, tetapi untuk negara yang seluas dan sebesar Indonesia di mana wilayah negaranya sama dengan Eropa dengan konstalasi kepulauan dan perairan, saya kira masih jauh dari cukup. Pendapat pribadi saya, AURI harus positioning. Ada dua hal yang mendesak untuk dilaksanakan, pertama, adalah perubahan paradigma dan kedua kultur organisasi yang harus menyesuaikan,” tegas Purnomo yang bangga menyebut AURI dalam wawancara ini.
Kualitas personelnya sendiri bagaimana, dikaitkan dengan keterbatasan anggaran, Marsekal?
“Dana atau anggaran itu penting tetapi manajemen jauh lebih penting. Berbicara tentang kualitas SDM itu dimulai dari seleksi masuk sampai dengan pendidikan berkelanjutan sampai purna tugas. Kalau dapat dipilih kandidat yang berbakat baik maka untuk kelanjutannya akan lebih ringan, mudah, dan murah, tetapi kita sangat prihatin kalau masih mendengar kasus seleksi, kasus masuk pendidikan bahkan kasus naik pangkat / jabatan dlsb. Pembinaan harus benar, adil, tegas dan konsisten. Kalau untuk pembinaan personel, dana yayasan / kesejahteraan cukup memadai saya kira.”
Visi Mondial
Menurut Marsekal, bagaimana sih cara mengelola Sekbang yang baik itu?
“Sekbang sebagaimana sekolahan pada umumnya, sama seperti layaknya pabrik pencetak SDM. Mesinnya adalah guru, kursi, alins / alongins dan fasilitas sarana prasarana, sedangkan bahan bakunya siswa / taruna yang pada penyelenggaraannya harus menggunakan standar yang diakui, apakah ISO ataukah TQS.
“Kita harus sadar bahwa teknologi datang dari Barat, secara teknis kita tidak mungkin mengungguli. Tetapi kualitas SDM dapat diusahakan mendekati dan ini bersumber dari Sekbang. Cara yang paling mungkin kita harus berguru (belajar/ sekolah) di mana teknologi itu diciptakan, tetapi hal ini sangat tergantung dari kemauan politik pemerintah.”
Jika punya angan-angan bebas tentang Lanud Adisutjipto yang handal dan ideal, apa yang ada di benak Marsekal?
“Sebagai anggota dari Pangkalan Pendidikan, kita pantas bertanya pada diri sendiri ‘Apakah Adisutjipto tidak ada niat untuk menjadi Centre of Excellent di bidang Aero Space?’ Sekarang sudah ada Sekolah Tinggi Dirgantara, tetapi dapatkah kita mencapai tingkatan yang diakui dan ‘Under Taking’ dengan universitas kedirgantaraan yang ada di luar negeri?
“Mungkinkah kita menjadi ‘Sister University’ dari lembaga pendidikan dari negara lain? Mungkinkah negara tetangga mengakui dan menyekolahkan kadernya di Adisutjipto? Semacam kita mengirim ke Breda, West Point, Naval Post Graduate Monterey.
“Aset di Adisutjipto sangat besar dan luas, dengan utility sekarang ini rasanya terlalu mahal, hanya memproduksi 150 taruna dan puluhan calon penerbang saja. Bandingkan dengan negara lain yang lebih kecil tetapi lebih efisien. Semoga AURI dikaruniai calon pemimpin yang visinya mondial.”
Tentara Langit
Ketika menjadi Pangkoopsau I, Purnomo Sidhi sering menyebut istilah “tentara langit” untuk prajurit atau awak TNI AU. Sebenarnya apa makna istilah tersebut dan bagaimana relevansinya di masa kini dan mendatang?
“Tidak banyak negara yang diwarisi mitologi pahlawan udara semacam Gatotkaca, Icarus, Buroq dan yang lain. Maknanya, saya ingin menyadarkan bahwa ada suatu kekuatan yang dimensinya lain, yang lebih khusus bahkan lebih dahsyat dari kekuatan permukaan. Saya ingin menyadarkan bahwa sebagai makhluk darat yang menjadi sub sistem daya tempur udara wajib dan harus membuktikan kompetensi dirinya layak untuk disebut tentara langit.
“Knowledge, skill, attitude, fisik, mental sebagai penggempur dari atas. Selama kita bekerja di AURI maka sampai kapanpun sifat itu harus melekat. Kalau sifat itu tidak dimiliki maka sebenarnya kita sudah bukan bagian dari kekuatan udara,” tandasnya penuh semangat.
Membagikan Kebenaran
Terus, instruktur yang baik dan ideal itu seperti apa Marsekal?
“Kode etik seorang pendidik itu adalah ‘membagikan kebenaran’, sebelum membagikan kepada orang lain dirinya harus berjalan di jalan yang relatif benar, moralnya, attitudenya, ilmunya, konsistensi tingkah lakunya. Saya akui ini tidak mudah terutama menghadapi perkembangan lingkungan kehidupan.
“Oleh karena itu semua pihak harus memikirkan dan membantu agar posisi seorang yang bertugas sebagai instruktur dapat terhindar dari godaan untuk keluar dari norma kehidupan sebagai pendidik. Semua stakeholder yang mendapatkan benefit dari hasil didik seorang guru/instruktur ataupun dosen harus dan wajib berkontribusi mulai dari support moril sampai dengan materiil.
“Semua pihak harus sadar bahwa hanya dengan hasil didik yang kualitasnya tinggi maka bangsa ini dapat bersaing dan terangkat harkat dan martabatnya. Oleh karena itu terhadap keberadaan seorang yang benar-benar mampu membuktikan dirinya sebagai pendidik, layak diberikan penghormatan dan penghargaan dan pengakuan nyata, bukan sekadar dwija sistha.
“Sebaliknya, bila ternyata sudah tidak layak dalam arti menodai martabat sebagai pendidik juga harus dipenalty, bukan saja secara formal tetapi juga oleh lingkungan masyarakat,” tandas Purnomo Sidhi yang gaya bicaranya terkesan bloko sutho atau blak-blakan ini.
Akhirnya, apa harapan Marsekal terhadap penerbang-penerbang kita di masa yang akan datang?
“Menyangkut kompetensi sebagai penerbang, sudah sewajarnya harus terus mengikuti teknologi. Tetapi sebagai leader itu belum cukup, pemimpin di masa mendatang tidak cukup hanya dibekali sebagaimana pola sekarang ini.
“Saya bersyukur bahwa sudah ada kesempatan belajar di ITB bagi lulusan AAU, tetapi jumlahnya masih sangat kecil. Kalau mungkin penerbang dapat dipolakan juga untuk mendalami bidang-bidang di luar aviation dan aerospace,” ujar Purnomo Sidhi mengakhiri wawancara.
Marsekal Muda TNI Pur Lambert F Silooy
“Home of The Indonesian Air Force”
Bagi Lambert yang kini menduduki jabatan sebagai Direktur Jenderal Kekuatan Pertahanan Dephan, kesan yang mendalam selama menjadi Komandan Lanud Adisutjipto adalah bahwa baginya Lanud Adisutjipto adalah “home of The Indonesian Airforce” – sebagai “rumah bersama TNI AU”.
Karena semua perwira merasakan suatu ikatan batin dengan almamater. Lanud ini merupakan tempat pengabdian pertama sebagai insan AU, dilahirkan dan selanjutnya siap bertugas di seluruh tanah air. “Saya merasa diberi kehormatan oleh pimpinan AU untuk menjabat sebagai Danlanud Adisutjipto,” ujar Lambert yang juga mantan Komandan Kodikau itu.
Ketika ditanya tentang sejarah Maguwo, pria yang berpostur tinggi besar layaknya “orang Barat” dan handsome ini menjelaskan, Maguwo merupakan “Operational Base” yang pertama di mana dilancarkan serangan terhadap sasaran kedudukan Belanda pada pagi hari tanggal 29 Juli 1947. Operasi pemboman pertama itu menggambarkan semangat juang AU untuk meyakinkan seluruh rakyat bahwa kemerdekaan yang telah kita proklamasikan harus tetap dipertahankan.

Marsekal Muda TNI Purn Lambert F Silooy:
“Kita tidak bisa bertindak semena-mena sesuka hati kita”
Lalu, adakah perbedaan bentuk pengabdian antara para pendahulu dengan kita di zaman sekarang?
Menurut Lambert, perbedaan bentuk pengabdian para pendahulu dengan kita sekarang, sebenarnya tidak banyak. “Kondisi kini tentu lebih kompleks permasalahannya, sekarang pengaruh global begitu besar terhadap kehidupan suatu bangsa. Kita tidak bisa bertindak semena-mena sesuka hati kita dalam memecahkan persoalan-persoalan dalam negeri karena sorotan dari luar negeri maupun LSM yang sangat tajam terutama mengenai HAM,” ujar mantan penerbang fighter itu lebih lanjut.
Dinamis
Sementara itu, mengomentari sosok TNI AU sekarang Lambert berpendapat bahwa secara institusional TNI AU kini sudah lebih baik tentunya, karena didukung oleh kemajuan teknologi. Ia juga berpandangan bahwa struktur organisasi TNI AU hendaknya juga dinamis, karena alut sista tidak akan statis. Perlu penyesuaian antara sistem dan metoda yang ada dengan pengembangan alut sista yang selalu berkembang mengikuti kemajuan teknologi.
Di sisi lain, pembinaan personil TNI AU saat ini tentunya harus mendapatkan perhatian lebih serius. Pada dasarnya setiap prajurit memerlukan pembinaan dalam empat bidang, yaitu fisik, intelektual, mental dan spiritual (agama). “Keempat bidang ini harus seimbang dan ini memang tidak mudah untuk dipenuhi secara utuh,” tambahnya.
Persoalannya, kemampuan negara untuk membina secara sempurna tidak akan tercapai karena banyaknya faktor yang mempengaruhi pembinaan terhadap empat bidang tersebut. Strateginya adalah meletakkan prioritas sesuai dengan kemampuan bangsa ini.
Empat Sektor
Menyinggung tentang kiat mengelola Sekolah Penerbang (Sekbang) yang mampu menghasilkan penerbang yang handal, dengan tangkas Lambert menjelaskan begini.
Mengelola suatu Sekbang membutuhkan empat sektor, yaitu: “Equipment” (pesawat, simulator, R/W, hanggar dll), “Personil” (instruktur, siswa, ground crew dll), “Sistem dan Metoda” (segala prosedur, software, doktrin, SOP dll), dan “Dana” (tidak mungkin kita bisa berbuat sesuatu tanpa dukungan dana).
Lalu, Sekbang yang ideal itu seperti apa Marsekal?
Sekbang yang ideal tentu dilengkapi dengan pesawat latih yang mampu membekali siswa-siswanya agar siap mengikuti transisi pada Skadron Operasional. Kemampuan dasar penerbang yang mutlak harus dimiliki oleh lulusan Sekbang, yaitu:
General Flying
Instrument Flying
Night Flying
Terbang Formasi
Pengetahuan Aerodinamika
Sistem pada Pesawat
Computer
Dll
Butuh Taxy Way
Ditanya tentang performance Lanud Adisutjipto yang ideal, mantan komandan yang selalu berpenampilan confident dan charming ini mengatakan, Lanud Adisutjipto sangat membutuhkan taxy way sejajar R/W dan berada di sebelah selatan landasan.
Dengan adanya taxy way ini akan sangat mengurangi “ground time”, karena saat ini pesawat-pesawat yang akan take off harus menunggu pesawat yang berada di atas R/W untuk “back track” atau “line up for T/O”.
Oleh karena itu Lambert juga setuju jika “Auxiliary Base” di Gading bisa dimanfaatkan bagi para siswa, namun taxy way mutlak diperlukan mengingat frekuensi penerbangan pesawat komersial makin padat.
Instruktur Ideal
Sebagai mantan instruktur, Lambert F Silooy (alumnus AAU 1970) punya gambaran bahwa instruktur yang ideal adalah instruktur yang dapat mentransfer kemampuan “skill & logic”nya kepada siswanya. Siswa perlu dibimbing agar “Flying Awareness”nya lengkap. Siswa harus bisa merasakan bahwa badannya menyatu dengan pesawatnya.
“Dia harus mengetahui batas kemampuan pesawatnya, tetapi juga harus memahami batas kemampuannya sendiri,” tegas Lambert mengingatkan.
Kepada para siswa ditanamkan bahwa airmanship adalah di atas segalanya apabila ia ingin selamat. Itulah yang diharapkan dari seorang instruktur agar dapat mentransfer kemampuan “skill & logic”nya kepada siswa Sekbang.
Mengakhiri wawancara dengan penulis, Lambert menyampaikan harapan khususnya kepada penerbang-penerbang di masa mendatang. Ia berpesan agar mereka selalu meng-up date pengetahuannya. Perkembangan teknologi sangat pesat dan jangan sampai tertinggal.
“Karena hingga saat ini teknologi kebanyakan berasal dari Barat, maka hemat saya kemampuan berbahasa Inggris perlu mendapatkan perhatian bagi penerbang-penerbang AU. Ini bukan berarti bahwa bahasa lainnya tidak diperlukan,” ujarnya menutup pembicaraan. Thanks, Marsekal.
INTERNASIONALISASI BANDARA ADISUTJIPTO

Bisnis transportasi udara yang mulai menggeliat dibarengi
daya tarik potensi daerah DIY bagi investor dalam negeri
maupun manca negara menjadi alasan pengembangan
Bandara Adisutjipto sebagai international airport
Tak bisa dipungkiri bahwa pertumbuhan dan perkembangan hampir semua pangkalan udara militer (lanud) di negeri ini, yang merupakan peninggalan pemerintah kolonial Belanda, akan selalu disertai oleh pemanfaatan untuk kepentingan sipil yang berorientasi profit. Maka tak heran, di mana ada lanud hampir pasti di situ pula akan muncul Bandar Udara (bandara). Kecuali bandara yang dibangun setelah kemerdekaan, boleh jadi sejak awal peruntukannya memang bagi kepentingan sipil.
Oleh karena itu keberadaan bandara di lingkungan lanud merupakan enclave sipil, dan oleh karena itu dalam operasionalisasiannya tentu tetap mengacu pada rambu-rambu kepentingan militer. Namun, barangkali itu dulu, ketika kepentingan militer memang lebih menonjol ketimbang kepentingan sipil (baca: komersial). Kini jaman berubah, kepentingan juga berubah.
Akan tetapi bagaimanapun sesuai dengan undang-undang tentang pertahanan negara, apabila negara dalam keadaan terancam maka seluruh potensi nasional – termasuk yang tadinya lebih dominan untuk kepentingan sipil / komersial – harus siap didayaupayakan bagi kepentingan militer demi keselamatan kedaulatan negara. Dalam hal ini termasuk bandara-bandara komersial, tak terkecuali Bandara Adisutjipto.
Seperti telah disinggung di atas bahwa kini kepentingan yang terasa menonjol adalah memacu pertumbuhan ekonomi di semua sektor, apalagi sudah lima tahun krisis ekonomi berjalan tak juga ada tanda-tanda untuk segera pulih seperti sedia kala. Maka, apapun dan bagaimanapun caranya, semua pihak berkepentingan untuk bahu-membahu melaksanakan recovery ekonomi.
Kebijakan otonomi daerah yang sudah diundangkan kemudian menjadi pemercepat upaya “balapan” masing-masing daerah untuk memajukan ekonomi daerahnya. Semua potensi daerah diinventarisasi, yang dinilai bisa segera “jadi uang” dengan sigap dan serta-merta akan dijadikan sebagai profit center.
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X dalam acara Forum Komunikasi Kerjasama dengan Investor Asing akhir Oktober 2002 silam mengatakan, wilayah DIY relatif sempit. Sumber daya alam yang ada juga terbatas. Karena itu, pilihan investasi dalam bidang-bidang yang berbasis pada teknologi tinggi dan sumber daya manusia merupakan pilihan yang ditawarkan kepada para investor.
Untuk meningkatkan ivestasi, kata Gubernur, pemerintah Provinsi DIY juga berusaha meningkatkan aksesbilitas dan dukungan infrastruktur. Pemprov terus berusaha agar fasilitas Bandara Adisutjipto dapat bertaraf internasional dan mendorong agar ada penerbangan langsung dari luar negeri ke Yogyakarta. Akhir-akhir ini frekuensi penerbangan juga semakin meningkat, hal ini menunjukkan peningkatan konsumen sekaligus kepercayaan pada situasi dan kondisi DIY.
Untuk mengetahui secara langsung sejauh mana wacana internasionalisasi Bandara Adisutjipto, dan kira-kira apa serta bagaimana dampaknya bagi keberadaan Lanud Adisutjipto yang mengelola Sekolah Penerbang (Sekbang) TNI berikut wawancara - kendati jawabannya serba singkat - dengan Kepala Cabang PT Angkasa Pura I Bandara Adisutjipto, Kolonel Pnb Bambang Sugito, MBA.
Hingga saat ini berapa volume penerbangan airline yang singgah di Bandara Adi’s setiap harinya?
Kedatangan 20 pesawat dan keberangkatan 20 pesawat.
Maskapai dari mana saja yang singgah tersebut?
Maskapai yang singgah yaitu Garuda Indonesia, Merpati Nusantara, Pelita Air Service, Citilink Garuda, Lion Air, dan Bouraq Airlines
Berapa jumlah penumpang rata-rata per hari; per bulan; per tahun (kedatangan dan keberangkatan)? Lebih banyak kedatangan atau keberangkatan?
Rata-rata per hari datang: 1.785 Pax, per bulan : 53.550 Pax, per tahun : 642.600 Pax
Rata-rata per hari berangkat: 1.700 Pax, per bulan : 51.000 Pax, per tahun : 612.000 Pax
Fasilitas kebandaraan yang dimiliki apakah sudah memenuhi standar internasional?
Sudah memenuhi standar internasional.
Berapa jumlah karyawan yang dimiliki dan bagaimana kinerja mereka? Apakah kualitas dan kapasitas mereka sudah memadai untuk menyongsong era sebagai international airport?
Jumlah karyawan 217 orang. Sudah memadai untuk menyongsong era Internasional Airport.
Kapan persisnya realisasi peningkatan status menjadi Bandara Internasional?
Masih dalam proses.
Indikator/parameter apa saja yang mendorong perubahan status tersebut?
Memenuhi kebutuhan daerah dan masyarakat.
Persiapan-persiapan apa saja akan / sedang / telah dilakukan dalam rangka menuju Bandara Internasional tersebut ?
Rencana pembuatan terminal Internasional di ruang CIP Bandara.
Faktor-faktor apa saja yang menjadi hambatan (constraint)?Sebaliknya, faktor-faktor apa saja yang mendukung/mempermudah (dalam proses menuju Internasional Airport tersebut)?
Faktor penghambat: Airspace terlalu padat oleh pesawat latih. Faktor pendukung: Fasilitas sudah memenuhi standar internasional.
Bagaimana hubungan kerja sama dengan Lanud Adisutjipto yang telah berjalan selama ini? Bentuk-bentuk kegiatan apa sajakah kerja sama tersebut?
Hubungan dengan Pangkalan Udara Adisutjipto baik. Contoh bentuk kerja sama dalam pengamanan bersama, pemakaian lahan / lapangan, pengaturan lalu lintas udara.
Jika nanti Bandara Adi’s menjadi bandara internasional, apakah pola dan bentuk hubungan kerjasama dengan Lanud akan berubah?
Tidak.
Apa yang dilakukan oleh Bandara Adisutjipto dalam mengantisipasi ancaman terorisme termasuk pembajakan udara?
Tindakan yang dilakukan Bandara Adisutjipto dalam mengantisipasi ancaman terorisme termasuk pembajakan pesawat udara antara lain:
Melatih akses masuk ke daerah RPA / NPA oleh Security Bandara.
Melakukan pelatihan gawat darurat / ancaman bom.
Berkoordinasi dengan POM AU, Polri dan Instansi terkait baik dalam bentuk pengamanan terbuka maupun tertutup.





