BUKU TAMU

Zainal
Assalamu'alaikum wr.wb Selamat pagi, maaf sebelumnya . Saya ingin tanya kalo pendaftaran Sekbang PSDP TNI 2014 kapan ya dibukanya...
Anggraini
Assalamu'alaikum, Mohon informasi apakah lulusan sarjana Olahraga tahun ini bisa mengikuti pendaftaran Perwira Karier TNI, di...
Dinul Habib Ulul Azmi Daniel
Assalamu'alaikum Apa persyaratan menjadi pilot TNI AU ? apakah pendaftarannya membutuhkan biaya ? terima kasih, wassalamu'alaikum.
Parramatta Adri Satyawada
Assalamualaikum Wr. Wb. Mohon info pendaftaran Wamil tahun 2014, seandainya bisa persyaratan apakah yang harus dipenuhi untuk mend...
Irfan Nurhadiansyah
Assalamualaikum Wr. Wb. Cita-cita saya dari kecil ingin menjadi TNI dan ingin mengikuti seleksi, dengan tinggi badan 161 cm,...
Ora Putra
Selamat siang Bapak/Ibu admin, Apakah jurusan Pendidikan Seni Musik bisa mengikuti seleksi penerimaan Perwira Karier TNI? Moh...
Rachell Nurman Zulkarnain
Saya mahasiswa jurusan Teknik Mesin Universitas Jember, di Malang. Apakah ada lowongan kerja praktek sesuai bidang jurusan saya pa...
Brian Julio Zesar
Selamat sore bapak/ibu, Lulusan S1 jurusan Akuntansi, bisakah daftar TNI-AU ? mohon informasinya. terima kasih.
Ignatius Sitorus
Saya tahun depan tamat SMA Unggul Del, bagaimana cara pendaftaran prajurit TNI AU? terima kasih.
Agnes
Selamat pagi, mohon informasi penerimaan calon Tamtama PK TNI AU Gelombang II TA 2014 ? terima kasih.
Annisa
Selama mengikuti kegiatan seleksi tingkat daerah maupun seleksi tingkat pusat di Akmil Magelang, apakah diperbolehkan dan diberi k...
Rifal Fauzi
Assalamu'alaikum Wr. Wb. Cita-cita saya ingin menjadi TNI dengan kondisi mata minus satu, mohon pendapatnya.
Betty
Saya sebagai keluarga menanyakan alamat lengkap dan kode pos untuk mengirim paket, buat anggota Prada yang tinggal di ba...
Rifki
Assalamu'alaikum Wr. Wb. Bagaimana cara bisa menjadi pilot di TNI AU ? 
Oscar
Apakah lulusan D3 Perhotelan bisa mengikuti test Perwira PK TNI ? terima kasih.

Lanud Suryadarma, Kalijati, Subang


Pangkalan Udara Leluhur TNI AU

Inilah pangkalan udara militer pertama yang dibangun pemerintah Hindia Belanda di Bumi Pertiwi, sekaligus menjadi pangkalan udara leluhur bagi TNI AU. Di lanud yang akan berusia satu abad pada tahun 2014 ini, Belanda juga mendirikan sekolah penerbangnya.

            Sebelum membangun pangkalan-pangkalan udara seperti Pangkalan Udara Maguwo, Yogyakarta (1938), Pangkalan Udara Maospati, Magetan (1939), dan pangkalan udara besar lainnya, pemerintah Hindia Belanda telah melakukan survei ke beberapa tempat yang lokasinya tidak jauh dari ibukota, Batavia. Berbagai tempat dikaji dan akhirnya pilihan jatuh ke sebuah wilayah di Subang, Jawa Barat yang berkontur tanah bagus dan bercuaca cenderung stabil sepanjang tahun. Wilayah itu adalah Kalijati, yang kini merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Subang.

Pemerintah Hindia Belanda membangun lapangan terbang di Kalijati tanggal 30 Mei 1914 bersamaan dengan dibentuknya PVA (Proef Vlieg Afdeling), yaitu suatu Bagian Penerbangan Percobaan dari Pasukan Hindia Belanda (KNIL). Pada tahap permulaan KNIL membeli dua pesawat terbang air Glenn Martin dari Amerika Serikat dan menempatkannya di pangkalan udara air (Sea Base) di Tanjung Priok. Namun karena dirasa tidak efektif, pesawat pun kemudian dimodifikasi menjadi pesawat yang bisa terbang di landasan rumput dan operasionalisasinya dipindahkan ke Kalijati.

Dari situlah KNIL kemudian berkeinginan untuk memiliki pesawat terbang yang berpangkalan di darat. Lapangan Terbang Kalijati yang hanya berupa lapangan rumput sederhana digunakan untuk lepas landas dan pendaratan pesawat. Sementara pesawatnya ditempatkan di bangsal yang terbuat dari bambu. Kondisi inilah yang kemudian menyebabkan pesawat cepat mengalami kerusakan. Perlahan Belanda pun mulai membangun Lanud Kalijati berikut fasilitas pendukungnya seperti landasan yang lebih kokoh, tower, hanggar, perkantoran, dan pemukiman personelnya.

Berdasar sejarah lintasan Lanud Kalijati yang dibuat oleh Mabesau disebutkan, tahun 1917 PVA selanjutnya mendatangkan pesawat-pesawat baru. Terdiri dari delapan pesawat pengintai dan empat pesawat latih. Belanda pun mendirikan Sekolah Penerbangan Pertama di Indonesia dilanjutkan dengan perubahan PVA menjadi LA (Luchtvaat Afdeling), yaitu bagian penerbangan yang terdiri dari VD (Vlieg Dienst) atau Dinas Terbang dan TD (Technise Dienst) atau Dinas teknik. Pada kemudian hari, tanggal 1 Januari 1940 LA diubah lagi menjadi ML (Militaire Luchtvaart) yaitu Penerbangan Militer yang merupakan bagian kesenjataan KNIL.

Tanggal 1 Maret 1942 pada saat Jepang datang untuk menginvasi tanah Jawa melalui tiga tempat: Merak, Pantai Eretan Wetan (pesisir Indramayu), dan Kranggan (Jawa Tengah), Lanud Kalijati menjadi sasaran utama penaklukkan pemerintahan Hindia Belanda. Dari Pantai Eretan, Jepang menurunkan sekitar 3.000 pasukan bersepeda dipimpin Kolonel Shoji dilengkapi dengan pansernya. Mereka merayap masuk menguasai Kalijati dan akhirnya berhasil mengusir tentara Hindia Belanda menuju arah Bandung.

Setelah terdesak dengan perlawanan tak berarti, Belanda akhirnya menerima tawaran Jepang untuk menyerahkan kekuasaannya di Bumi Nusantara tanpa syarat. Akhirnya pendandatanganan pun dilakukan oleh kedua belah pihak di satu rumah dinas militer Belanda yang kini dikenal dengan nama Rumah Sejarah di Lanud Suryadarma.

Penggunaan sarana prasarana Lanud Kalijati oleh Pemerintah Republik Indonesia pertama kali dilaksanakan pada tanggal 27 Desember 1949 bersamaan dengan pengakuan Kedaulatan Republik Indonesia oleh Pemerintah Belanda. Lanud ini selanjutnya digunakan oleh TKR Jawatan Penerbangan sebagai Pusat Pendididkan untuk melatih tenaga-tenaga penerbang dan teknik.

 

Operasi Boyong

Di tempat lain, bersamaan dengan pembentukan Wing Operasi 004 tanggal 25 Mei 1965 di Lanud Atang Sendjaja, Bogor, Skandron Udara 7 dibentuk. Wing Operasi 004 merupakan satuan setingkat brigade yang dibentuk untuk mewadahi satuan-satuan helikopter TNI AU. Skadron helikoter di jajaran ini melaksanakan kegiatan beragam mulai dari angkutan VIP, logistik, evakuasi medis, SAR (Search and Rescue), mobilitas udara, dan lainnya. Khusus Skadron Udara 7 dibentuk guna menaungi helikopter jenis Mi-4, SM-1, Bell Trooper, Bell Ranger, Bell 47G Soloy, dan Bell 204 Iroquois.

            Pada awal pembentukannya Skadron Udara 7 melaksanakan tugas operasi sesuai situasi negara saat itu. Tugas Skadron Udara 7 dari tahun ke tahun meningkat baik dalam bidang operasi militer maupun operasi kemanusiaan. Beberapa operasi militer yang pernah dilaksanakan di antaranya Operasi Penegak (1965), Operasi Sambar Kilat (1967), Operasi Wisnu (1972-1980), Operasi Tonggak (1976), Operasi Tumpas dan Operasi Seroja (1977), Operasi Gerakan Kesejahteraan Masyarakat di Irian Jaya dan Daerah Istimewa Aceh (1990), serta Operasi Darurat Militer di Nanggroe Aceh Darussalam (2004-2005).

            Sedangkan operasi kemanusiaan misalnya pada 1965 melakukan pertolongan dan penyelamatan penumpang kapal Norwegia, Carval, di Ujung Kulon awal 1966 dan membantu petani di Kabupaten Rembang untuk membasmi hama yang menyerang ladang kelapa. Di tahun yang sama, Skadron Udara 7 juga melaksanakan tugas SAR penduduk Blitar dan Kediri akibat bencana meletusnya Gunung Kelud. (Roni Sontani)

===================

 

Kolonel Pnb Heraldy Dumex Dharma, S.AP, M. Si (Han)
Lanud Suryadarma Potensial untuk Dikembangkan

            Sebagai penerbang helikopter yang tumbuh dan dibesarkan di Skadron Udara 7, Komandan Lanud Suryadarma Kolonel Pnb Heraldy Dumex Dhama S.IP, M.Si (Han) mengaku amat bersyukur mendapatkan kepercayaan dari pimpinan untuk memimpin Lanud Suryadarma yang menaungi skadron udara yang pernah jadi tempat tugasnya tersebut. Pengabdiannya di Skadron Udara 7 saja terhitung selama 18 tahun, membuatnya paham permasalahan maupun pencapaian skadron udara kuda terbang milik TNI AU itu. Di tingkat lanud, ia pun pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Personel dan juga Kepala Dinas Operasi. “Yang belum, mungkin jabatan Kadislog saja,” ujar alumni AAU 1988 yang telah mengabdi di TNI AU selama 24 tahun dan dilantik menjadi Danlanud Suryadarma pada 13 April 2011 ini sambil tertawa.

            Bertugas di Lanud Suryadarma sebagai Danlanud ke-36, juga membuatnya merasa beruntung. Dirasakannya, permasalahan yang ada di lanud tersebut tidak sepelik peremasalahan di lanud-lanud lain. Situasi politik di Subang atau Purwakarta, serta kabupaten terdekat lainnya juga relatif kondusif. Sehingga para personel lanud bisa berkonsentrasi penuh menjalankan tugas-tugas hariannya.  Selain itu wilayah yang menjadi aset lanud ini juga sudah bersertifikat 100% milik TNI AU.

Berbicara soal potensi pengembangan lanud, Kolonel Pnb Dumes menjelaskan, posisi Lanud Suryadarma amatlah strategis. Landasan rumputnya pun bisa diperpanjang hingga lebih dari 3.000 meter dari 1.800 meter saat ini. Sementara lebarnya bisa mencapai 300 meter, memungkinkan untuk dibuat dua landasan. “Artinya kalau mau didarati pesawat haji yang paling besar pun memungkinkan,” tambahnya. “Mungkin tahun 2013 atau 2014 akan di-overlay, apalagi dengan rencana pengembangan penigkatan Lanud Suryadarma dari Tipe B ke Tipe A,” lanjutnya.

Info yang masuk sementara kepadanya, kemungkinan di Lanud Suryadarma juga akan dibangun skadron teknik dan satu skadron udara lagi (mungkin Skadron Udara 9) untuk menaungi helikopter EC-725 Cougar. Sementara untuk helikopter latih Soloy yang akan habis masa pakainya juga akan diganti oleh heli baru. “Entah Bell 412 atau EC-135/145, saya belum tahu. Bisa juga nanti skadronnya di-split,” ujarnya. Sementara itu, Kompi Paskhas yang ada di lanud ini juga akan ditingkatkan menjadi Detasemen.

  Sumber: www.angkasa.co.id

 

follow-us

VIDEO