Berita

61 TAHUN POMAU

Dibaca: 96 Oleh 14 Mei 2010Tidak ada komentar
P-51 Mustang, Perintis Tim Aerobatik TNI Angkatan Udara
#TNIAU 

61 TAHUN POMAU:

WIRA WASKITA MENUMBUHKAN ETHOS KERJA


Setiap manusia pada saat dilahirkan sudah diberikan akal (pikiran) yang akan membantunya dalam menghadapi kehidupannya, dengan akal pikirannya tersebut manusia selalu berpikir bagaimana dia dapat mengatasi persoalannya, juga perlu kita percayai bahwa manusia mempunyai keinginan-keinginan yang dapat membawanya kepada hal yang lebih baik, bahkan saat kita bekerja keinginan-keinginan ini banyak terasah dengan baik. Keinginan tersebut dapat menumbuhkan kebiasaan, yang dalam bahasa Yunani adalah “ethos”. Adanya ethos ini kemudian didalam diri manusia tersebut dapat menumbuhkan ethos kerja, yang tentunya akan selalu memberikan inspirasi-inspirasi dan dorongan untuk memecahkan masalah dalam menghadapi persoalan yang menghadang.

 

Pada tanggal 1 November 2007, Polisi Militer TNI Angkatan Udara mengadakan Hut-nya yang ke 61 di pusatkan di Mapomau Jakarta, dengan motto Pomau yaitu Wira Waskita yang dapat diartikan Prajurit Sejati, tetapi dapat juga dimaknakan sebagai terampil, tanggap dan waspada, terampil dalam melaksanakan tugas, menguasai tugas pokoknya, mampu menyelesaikan permasalahan dalam tugas, tanggap terhadap situasi dan lingkungan tidak bersikap masa bodoh, waspada terhadap situasi yang tidak memungkinkan dan terhadap pelanggaran-pelanggaran hukum dan hal-hal yang mengarah kepada pelanggaran hukum, maka diharapkan motto ini dapat menumbuhkan semangat Anggota Pomau untuk dapat memberikan hasil yang lebih baik dalam pelaksanaan tugas-tugasnya dan tidak mengenal atau mencari untung ruginya dalam pelaksanaan tugas tersebut, karena sebagai prajurit mempunyai Sumpah Prajurit dan Sapta Marga, yang semuanya itu merupakan tugas demi negara.

 

Suatu motto merupakan hasil karangan atau rekayasa dari manusia yang mempunyai tujuan yang baik karena diharapkan dapat bersifat universal, seperti apa yang terkandung didalam motto Pomau tersebut, memang sulit untuk seorang manusia mencapai suatu kesejatian, tetapi paling tidak kita berusaha untuk lebih baik, ketika melaksanakan tugas kita akan selalu menemukan hal-hal baru yang bila kita tidak dapat menghadapinya dan mengantisipasinya maka dapat tersingkir oleh situasi karenanya agar tidak kalah oleh situasi tersebut maka salah satunya dengan terus belajar untuk menambah pengetahuan, agar tidak menimbulkan keraguan dalam mengambil keputusan dan jangan keraguan tersebut menjadikannya sebagai hambatan tetapi memperbaikinya serta seharusnya dapat memotivasi untuk terus berusaha mencari jawaban.

 

Seperti Augustinus dan Rene Descartes, mereka merupakan ahli-ahli filsafat, dikatakan bahwa keraguan atau kesangsian sebagai sumber utama berfilsafat. Manusia heran, tetapi kemudian ia ragu-ragu. Apakah ia tidak ditipu oleh pancaindranya yang sedang heran? Rasa heran dan meragukan ini mendorong menusia untuk berpikir lebih mendalam, menyeluruh dan kritis untuk memperoleh kepastian dan kebenaran yang hakiki.

Baca juga:  Wawancara Orang Tua/Wali Calon Siswa SMA Pradita Dirgantara di Lanud ZAM

 

Tetapi menurut penulis, pendapat mereka berlaku untuk mereka yang mau berpikir kritis dan mempunyai keinginan untuk terus meningkatkan kemampuan keilmuannya, maka dengan demikian kita dapat meningkatkan kemampuan dalam menghadapi tugas-tugas kita, karena permasalahan terus timbul tanpa dapat dihindari tetapi bagaimana kita dapat mencari jalan keluar terbaik untuk mengatasinya.

 

Sejarah Singkat Pomau; Sejak diresmikannya AURI sebagai salah satu bagian dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia pada tanggal 9 April 1946, pimpinan Markas Tertinggi AURI mengambil kebijakan dengan membentuk stafnya dalam beberapa kelompok, yang pada saat itu dikenal dengan Kantor I, Kantor II, Kantor III dan seterusnya.

 

Kantor II yang dikepalai oleh Bapak Sutojo Adiputro, dengan wakilnya Bapak Aburachmat dan sekretarisnya Bapak Sumitro bertugas dalam bidang Intelligence Security. Kantor II dibagi dalam tiga bagian yaitu Bagian Politik, diketuai oleh Bapak Iskandar, dibantu oleh Bapak Siswadi dan Bapak Hartono serta Bapak Sugijanto, bertugas dalam bidang intelijen. Bagian Kriminal, diketuai oleh Bapak Suwondo dibantu Bapak Martodihardjo, bertugas dibidang Kehakiman, Dactiloscopy dan Kepolisian. Bagian Pendidikan, diketuai oleh Bapak Sudijono.

 

Kantor II membentuk staf-staf kecil di pangkalan-pangkalan yang bertugas sebagai penyalur bahan-bahan keterangan, bahan hasil penyelidikan yang dianggap penting dari pangkalan udara dan dilaporkan ke staf pusat untuk mendapatkan penyelesaian lebih lanjut. Staf kecil ini dikenal dengan sebutan Pengawas Umum (PO).

 

Dalam rangka mengurangi beban kerja yang semakin berat serta dihadapkan pada jumlah personel yang sangat minim, maka pimpinan AURI memandang perlu untuk membuat keputusan/kebijakan dengan mengadakan “sekolah istimewa” dibidang pengetahuan kepolisian. Sekolah tersebut diberi nama “Sekolah Polisi Angkatan Udara Darurat” dilaksanakan di Yogyakarta pada tanggal 1 November 1946. Hasil didikan Sekolah Polisi Angkatan Udara tersebut yang merupakan cikal bakal anggota Polisi Angkatan Udara. Keseluruhan siswanya diambil dari anggota PO setelah melalui proses seleksi, dari sekian banyak calon yang lulus seleksi sekitar 37 orang.

 

Sekolah Polisi Angkatan Udara tersebut ditutup pada tanggal 1 Februari 1947, sesuai Surat Keputusan Kasau Nomor : 67/PEG tanggal 8 Februari 1947 kepada para mantan siswa tersebut diberikan pangkat Sersan Udara dan ditempatkan di seluruh pangkalan udara serta diberikan wewenang penuh untuk mengatur ketertiban serta menyelesaikan segala persoalan yang mempunyai sangkut paut dengan urusan kriminal/kepolisian yang terjadi di masing-masing pangkalan udara. Disamping tugas utamanya Polisi AURI juga bertindak sebagai Ajudan, Combat Intelijen, mengeluarkan Kartu-kartu Tanda Pengenal serta surat-surat ijin lainnya.

Baca juga:  KORVE BERSAMA DI MASJID DIRGANTARA

 

Dari ke 37 anggota tersebut dipilih kembali 11 orang untuk mengikuti pendidikan lanjutan yang dibuka pada tanggal 11 Februari 1947 dan ditutup tanggal 1 April 1947, kepada ke 11 anggota tersebut dinaikkan pangkatnya menjadi Sersan Mayor Udara dan dijadikan Kepala Bagian Polisi Angkatan Udara di pangkalan-pangkalan Udara.

 

Peran serta Polisi AURI sejak diresmikannya tahun 1946 sepanjang sejarah banyak dalam tugas-tugas pengamanan, pengawalan serta tugas-tugas operasi militer, beberapa tugas-tugas tersebut dapat kita lihat antara lain : Satu dibawah pimpinan Surjono, bertugas mempraktekkan teori preventif dengan mengadakan/ membuat kamuflase/penipuan terhadap pesawat udara yang sudah rusak, untuk dibuat sebagai umpan terhadap penyerangan musuh/pihak Belanda. Dua, melaksanakan pengawalan/pengamanan terhadap pesawat yang akan digunakan dalam penyerangan kedudukan Belanda di Ambarawa, Salatiga dan Semarang. Tiga, melaksanakan pengamanan dan pengawalan terhadap pesawat Dakota VT-CLA yang jatuh ditembak Belanda di Ngoto. Empat, melaksanakan negosiasi dengan Gembong PKI/Muso di Madiun, dalam rangka penyelamatan/pembebasan pimpinan AURI yang saat itu disekap oleh PKI/Muso. Lima, melaksanakan pengamanan/pengawalan terhadap pesawat udara yang akan dipakai dalam setiap operasi udara, baik yang dilakukan di dalam jawa maupun di luar jawa dan masih banyak lagi peran serta Polisi AURI (saat ini dikenal dengan Polisi Militer TNI AU/Pomau) seiring dengan perkembangan/perjuangan TNI AU, seperti ikut dalam Operasi Militer di NAD dan lain-lain.

 

Sejalan dengan perkembangan situasi serta kebutuhan personel Polisi AURI yang sangat diperlukan untuk melakukan penertiban di lingkungan Pangkalan AURI di seluruh jajaran, maka dibuka kembali sekolah Polisi AURI untuk Bintara yang ke II pada tanggal 1 April 1947 dengan peserta sebanyak 49 anggota yang berasal dari anggota militer dari lingkungan Kantor II yang berpangkat Kopral Udara maupun anggota sipil serta dari anggota masyarakat. Personel Polisi Angkatan Udara berkembang sesuai kebutuhan mengikuti perkembangan TNI Angkatan Udara, tercatat antara lain pimpinan TNI Angkatan Udara membentuk Brigade Anjing sesuai Keputusan Menteri/Panglima Angkatan Udara No. 16 tahun 1966 tanggal 14 Februari 1966, untuk tugas-tugas Pengamanan Fisik Alutsista Udara dan juga menerima personel Wara sebagai Polisi Angkatan Udara. Sesuai Surat Keputusan Menteri/Panglima Angkatan Udara No. 106 tahun 1966 tanggal 21 September 1966 pada Bab IV pasal 4 ayat (1) ditetapkan bahwa Polisi Angkatan Udara (POL AU) adalah merupakan suatu Korps. Untuk mendidik personel-personel Polisi Angkatan Udara, disamping dilaksanakan sendiri di Lemdik TNI Angkatan Udara juga dilaksanakan pendidikan titipan di Lemdik TNI AD dan Lemdik Polri.

Baca juga:  Pangkoopsau II Terima Kunjungan Panitia Natal Sulsel

 

Dibentuknya cikal bakal Polisi TNI Angkatan Udara oleh pimpinan TNI AU dengan membuka Sekolah Polisi AURI pertama kalinya pada tanggal 1 November 1946, disepakati sebagai tonggak sejarah Kepolisian TNI Angkatan Udara dan tanggal 1 November telah dikukuhkan sebagai “hari jadi” Polisi Angkatan Udara (Provost TNI AU) sesuai Surat Keputusan Kepala Staf TNI AU Nomor : Skep/12/IX/2001 tanggal 12 September 2001.

 

Barulah pada tahun 2004 dengan Keputusan Panglima TNI Nomor : Kep/1/III/2004 tentang Penyelenggaraan Tugas dan Fungsi Kepolisian Militer di Lingkungan TNI, maka kewenangan Pom Angkatan masing-masing dikembalikan lagi kewenangannya seperti sebelum tahun 1984.

 

Saat ini Polisi Militer Angkatan Udara dipimpin oleh Danpomau Kolonel Pnb Sru A. Andreas yang menggantikan Marsma TNI Irawan Supomo, yang kemudian menjadi Danlanud Abdulrahman Saleh di Malang. Adanya penggantian pimpinan/tugas ini merupakan hal yang biasa ditubuh suatu organisasi termasuk di TNI AU karena merupakan tour of duty sehingga diharapkan dapat memberikan inspirasi-inspirasi baru.

Dalam pelaksanaan tugas seseorang walau menjalankan tugas-tugas lain tetapi tetap tidak boleh melupakan tugas-tugas pokoknya, sebagaimana tugas pokok dari Pomau/Pom TNI adalah : Penyelidikan kriminal dan Pengamanan fisik, Penegakan Hukum, Penegakan disiplin dan tata tertib militer, Penyidikan, Pengurusan tahanan dan tuna tertib militer, Pengurusan tahanan keadaan bahaya/operasi militer, tawanan perang dan interniran perang, Pengawalan protokoler kenegaraan, Pengendalian lalu lintas militer dan penyelenggaraan SIM TNI.

 

Dunia kedirgantaraan mempunyai ciri khas tersendiri, dimana berkaitan dengan teknologi-teknologi tinggi yang rentan apabila kita memperlakukannya tanpa mengikuti prosedur yang ketat, oleh karenanya sebagai personel Pomau khususnya harus mengetahui prosedur-prosedur secara umumnya agar dalam pelaksanaan tugas pokoknya tidak salah. Agar anggota Pomau dapat lebih mumpuni dalam bidang tugasnya, saat inipun telah mengirimkan beberapa perwiranya untuk disekolahkan di dalam maupun luar negeri, baik jenjang pendidikan umum S1 maupun S2 dan kerjasama khususnya dengan sekolah-sekolah Military Police luar negeri dan diharapkan beberapa tahun mendatang baru akan tampak hasilnya terutama untuk anggota Pomau karena diharapkan dapat menerapkan disiplin ilmunya.

 

Penulis :

Fery Hendrawan, SH, MH.

Kapten Pom Nrp 525911.

Ps. Kasubdis Rendal Gaktib/Kaunit Riksa

Mapomau.


Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel