Berita

64 Tahun TNI AU: Berjuang dan Mengawal NKRI

Dibaca: 46 Oleh 22 Mei 2010Tidak ada komentar
emb 314
#TNIAU 

Setiap tanggal 9 April, seluruh anggota TNI Angkatan Udara dan seluruh jajarannya memperingati momentum bersejarah yaitu hari jadi Angkatan Udara yang tahun ini memasuki usianya yang ke-64.

 

Nilai kesejarahan diawali dengan berubahnya status Angkatan Udara dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Jawatan Penerbangan kemudian menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) Angkatan Udara yang berdiri sejajar dengan Angkatan lainya, dan secara de jure tertuang dalam Penetapan Pemerintah Nomor 6/SD tanggal 9 April 1946.

 

Perjalanan TNI Angkatan Udara sebagai institusi angkatan perang, proses kelahirannya sekitar tujuh bulan sejak Indonesia merdeka, serta alutsista yang dimiliki juga sangat sederhana. Waktu itu TNI Angkatan Udara hanya bermodalkan pesawat-pesawat bekas yang diperoleh dari rampasan tentara Jepang, seperti pesawat jenis Cureng, Nishikoreng, Guntei dan Hayabusha.

 

Selain itu penerbang dan teknisinya juga sangat terbatas, serta masih diwarnai dengan kondisi kesederhanaan dan keterbatasan. Namun Demikian TNI Angkatan Udara mampu menorehkan tinta emas dalam lembaran sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

 

Pesawat yang terbang pertama kali dengan identitas merah putih diterbangkan oleh Komodor Udara Agustinus Adisutjipto tanggal 27 Oktober 1945, sedangkan Operasi Udara yang pertama adalah tanggal 29 Juli 1947 yang merupakan serangan balas terhadap Agresi Militer Belanda I tanggal 21 Juli 1947, dan Operasi Lintas Udara di Kalimantan tanggal 17 Oktober 1947 merupakan bagian darma bakti para perintis TNI Angkatan Udara kepada Ibu Pertiwi.

 

Beberapa para pahlawan seperti Marsekal Muda TNI (Anm) Agustinus Adisutjipto, Marsekal Muda TNI (Anm) Abdulrachman Saleh, Marsekal Muda TNI (Anm) Halim Perdanakusuma, Marsma TNI (Anm) Iswahjudi dan Kapten Udara (Anm) Adisoemarmo Wiryokusumo merupakan sebagian nama-nama besar yang ikut andil membesarkan TNI Angkatan Udara.

 

Berbagai Operasi

 

Hadirnya pesawat-pesawat baru yang lebih modern seperti pesawat P-51 Mustang, B-25 Mitchel, C-47 Dakota, AT-16 Harvard, serta pesawat Amphibi Catalina pada dekade 50-an, telah mengantar TNI Angkatan Udara selangkah lebih maju. Dengan berbagai pesawat tersebut TNI Angkatan Udara ikut berperan dalam berbagai operasi keamanan dalam negeri, seperti penumpasan PRRI, Permesta, RMS, DI/TII serta berbagai gangguan keamanan dalam negeri lainnya.

Baca juga:  Danlanud Ranai Menerima Senior Supervisor Advisory PT Sky Aviation

 

Pada dekade 60-an, TNI Angkatan Udara memasuki masa jayanya dan bahkan menjadi Angkatan Udara yang paling disegani di kawasan Asia Tenggara karena memiliki alut sista udara yang cukup besar dan handal sehingga menjadi “Detterent Power” bagi negara-negara yang berniat memusuhi NKRI. Pada era itu TNI AU juga ikut secara aktif dalam tugas negara, yaitu melaksanakan Operasi Trikora untuk mengembalikan Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi. Pesawat-pesawat Mig-15, Mig-17, Mig-19, Mig-21, AN-12 Antonov, C-130 B, serta TU-16/TU-16KS, adalah sebagian alutsista TNI Angkatan Udara yang ikut menentukan keberhasilan operasi tersebut. Demikian juga dalam Operasi Dwikora dan penumpasan pemberontakan G30S PKI, TNI Angkatan Udara senantiasa ikut di dalamnya.

 

Awal dekade 70-an, kekuatan dan kemampuan TNI AU menurun drastis, namun pada pertengahan tahun 70-an Angkatan Udara mulai bangkit kembali secara bertahap. Masuknya beberapa alutsista seperti pesawat OV-10 Bronco, F-86 Sabre, T-33 Bird, Fokker F-27, serta Helikopter Puma SA-330, merupakan angin segar setelah beberapa alutsista produk negara Timur mengalami kesulitan dalam spare partnya. Dengan alutsista tersebut, semakin menambah kekuatan TNI Angkatan Udara.

 

Dekade 80-an, TNI Angkatan Udara memasuki era supersonik, dengan hadirnya pesawat tempur F-5 Tiger II. Kemampuan TNI Angkatan Udara makin meningkat dengan tambahan kemampuan pengamatan udara dan pengawasan dini dari radar Thomson dan Plessey, serta pesawat Boeing 737 yang mampu mengamati wilayah permukaan. Datangnya pesawat A-4 Sky Hawk, C-130 H/HS Hercules, dan didukung oleh pesawat latih jenis Hawk MK-53 dan helikopter Puma yang serba guna, menjadikan TNI Angkatan Udara sebagai sebuah angkatan perang yang mengagumkan. Apalagi dengan datangnya pesawat Multirole F-16 Fighting Falcon dari Amerika pada akhir tahun 1989 menambah keperkasaan TNI Angkatan Udara dan dapat disejajarkan dengan angkatan udara negara lain.

Baca juga:  GERAK JALAN SANTAI DI LANUD SUPADIO

 

Memasuki dekade 90-an, kekuatan TNI Angkatan Udara diperhitungkan oleh angkatan udara negara-negara lain di kawasan Asia tenggara karena selain telah memiliki berbagai pesawat tersebut, TNI Angkatan Udara juga memiliki tim aerobatik yang cukup melegenda, yaitu Tim Elang Biru dan Jupiter Aerobatik Tim, yang dapat disejajarkan dengan tim aerobatik kelas dunia. Pada tahun 1996, armada udara TNI Angkatan Udara juga diperkuat oleh pesawat tempur jenis Hawk 100/200 yang ditempatkan di Skadron Udara 1 dan Skadron Udara 12.

 

Pada tahun 2003 TNI Angkatan Udara melengkapi teknologi Barat yang sudah ada dengan teknologi dari Timur, yaitu dengan hadirnya pesawat Sukhoi SU-27 dan SU-30 dari Rusia yang ditempatkan di Skadron Udara 11, Pangkalan Udara Sultan Hasanudin, Makassar. Kehadirannya semakin mewarnai angkasa Indonesia dan tentunya akan menambah kekuatan udara nasional dalam rangka menjaga kedaulatan Negara Republik Indonesia.

 

Harus Lebih Baik

 

Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Imam Sufaat mengajak seluruh warga TNI Angkatan Udara untuk bekerja semaksimal ”Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin”. Pembinaan jangka pendek adalah tidak terjadinya accident dalam satu tahun kedepan, sedangkan sasaran jangka panjang adalah menjadikan TNI Angkatan Udara sebagai The First Class of Air Force.

 

Gagasan sekaligus cita-cita untuk mewujudkan secara bertahap TNI Angkatan Udara menjadi ‘the first class airforce’, sesungguhnya merupakan pesan moral yang ingin disampaikan kepada seluruh elemen organisasi, sebagai upaya meningkatkan niat dan mendorong semangat, untuk senantiasa bekerja yang terbaik bagi kepentingan organisasi.

 

Dari gambaran yang diinginkan maka kualitas sumber daya manusia menempati urutan pertama sebagai faktor penentu keberhasilan, dalam mewujudkan gagasan dan cita-cita tersebut.

 

Masa depan TNI Angkatan Udara merupakan tanggung jawab semua, mengingat kalau tidak melakukan suatu perubahan, maka tidak akan ada perbaikan masa depan, sehingga TNI Angkatan Udara akan semakin tertinggal. Oleh karenanya perubahan menuju kondisi yang lebih baik di semua bidang harus menjadi tekad bersama.

Baca juga:  MENINGKATKAN MATERI LAPANGAN PARA SISWA PPKBN

 

Demikian pula halnya dengan upaya meningkatkan kesiapan operasional TNI Angkatan Udara, prioritas yang difokuskan pada tercapainya kemampuan operasional secara terpadu dari Satuan-satuan TNI Angkatan Udara. Dengan demikian, kesiapan operasional dan tuntutan akan kualitas SDM TNI Angkatan Udara dapat dicapai dan dapat diandalkan.

 

Guna meningkatkan postur yang tangguh dan kemampuan serta profesionalisme dalam mengemban tugas pokok, TNI Angkatan Udara berupaya membangun kekuatan dan memodernisasi serta meregenerasi alutsista yang dimiliki saat ini, hal tersebut tidak terlepas dari apa yang di amanatkan Presiden Republik Indonesia tentang revitalisasi industri-industri pertahanan negara.

 

Rencana kesiapan alutsista yang ada, untuk melanjutkan program peningkatan kemampuan alutsista TNI Angkatan Udara, sudah dicanangkan dalam Renstra pembangunan TNI AU tahun 2010-2014.

 

Diusianya yang ke 64 tahun Angkatan Udara dalam memperingati hari jadinya telah menyelenggarakan beberapa kegiatan diantaranya lomba-lomba dalam olahraga disetiap jajaran, Bakti Sosial (donor darah, pelayanan kesehatan), lomba Pidato Berbahasa Inggris, dan sebagainya.

 

Untuk kegiatan pelaksanaan upacara peringatan HUT ke-64 TNI Angkatan Udara diisi dengan beberapa kegiatan demo udara dan demo darat diantaranya Fly Pass pesawat Hawk 100/200, F-5 Tiger II, F-16 Fihgting Falcon, dan Sukhoi 27/30, Drum Band Karbol AAU Paksa Lokananta, tarian daerah Aceh Tari Saman, Bela Diri militer, Halang Rintang, Tembak Reaksi, dan Terjun Payung.

 

Sejak berdirinya TNI AU dengan alat utama sistim senjata yang dimiliki disamping melaksanakan operasi militer untuk perang, TNI Angkatan Udara juga melaksanakan operasi militer selain perang yaitu operasi bhakti dan tugas-tugas kemanusiaan seperti penanganan bencana alam diberbagai daerah di Indonesia.

 

Semua yang diupayakan dan diusahakan TNI Angkatan Udara, tidak lain adalah guna mewujudkan Angkatan Udara yang handal dan mampu menghadapi setiap ancaman yang membahayakan keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sesuai tugas yang diamanatkan dalam UU TNI Nomor 34 tahun 2004.

 

Dirgahayu Angkatan Udara

Swa Bhuwana Paksa

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel