TNI AU - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara

68 tahun TNI Angkatan Udara: Mengawal Dirgantara Nasional

By 09 Apr 2014Pustaka
2015-06-02_00002

“Bagi bangsa Indonesia, perang merupakan jalan terakhir yang harus ditempuh, namun menyiapkan diri untuk siap perang, adalah langkah yang cerdas untuk menjamin situasi damai.” (Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI I.B. Putu Dunia

Ungkapan Kepala Staf Angkatan Udara di atas memiliki makna yang sangat dalam.Dalam kurun waktu 10 tahun ke depan, tantangan yang dihadapi TNI Angkatan Udara akan semakin berat. Kemajuan Teknologi semakin pesat, dan peran kekuatan udara dalam perang modern semakin diperlukan. Untuk itu profesionalitas, soliditas dan sinergitas diperlukan untuk menghadapi tantangan tersebut dan TNI AU siap menjaga stabilitas nasional, kedaulatan serta keutuhan NKRI.  

Sebagai salah satu komponen pertahanan negara, TNI Angkatan Udara terus berupaya guna mewujudkan TNI Angkatan Udara yang besar dan kuat untuk menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI sebagaimana diamanatkan UU RI no 34 tahun 2004.

Apabila diukur dengan kekuatan dan kemampuannya dalam mempertahankan wilayah, TNI Angkatan Udara mempunyai sejarah panjang dalam menjaga wilayah dirgantara. Minimum Essensial Force merupakan kebijakan yang tepat yang diambil  TNI AU  Seiring dengan dinamika pembangunan nasional dan perkembangan lingkungan strategis. Diharapkan melalui pelaksanaan Renstra 5 tahunan, pertumbuhan dan perkembangan TNI Angkatan Udara ke depan mampu mewujudkan kekuatan tersebut.   

Pengembangan Kekuatan TNI AU 

Pembangunan kekuatan udara dalam rencana strategis 2010-2014,  dilakukan melalui memodernisasi Alutsista dengan menambah beberapa pesawat yaitu 6 Sukhoi, 24 pesawat F-16, 16 Super Tucano, 16 jet latih tempur Korea T-50i, 9pesawat angkut  CN – 295, dua CN-235, satu unit Cassa 212 angkut ringan dan tiga unit helikopter Super Puma dan enam unit Helly Full Combat SAR EC-725 Caugar.Dalam mendukung jembatan udara (airlift)  dan operasi militer selain perang (OMSP), TNI AU juga menambah 9 pesawat angkut berat Hercules C-130 H  yang sudah mulai tiba secara bertahap. 

Untuk menyiapkan penerbang, TNI AU juga telah mengganti jenis pesawat latih T-34 C dan AS-202 Bravo dengan pesawat generasi baru Grob G-120 TP dari Jerman. Sebelumnya juga telah menerima pengoperasian pesawat latih KT-1B Wong Be dari Korea yang telah digunakan untuk tim aerobatik “Jupiter” sebanyak satu Skadronyang telah mengukir prestasi di beberapa air show internasional.

Disamping itu, di tahun ini TNI AU juga akan menambah armada pesawat terbang tanpa awak (UAV)  untuk operasi pemantauan perbatasan yang dipusatkan di Lanud supadio, Pontianak.Dalam sebuah sistem pertahanan, dibutuhkan pertahanan berlapis yang menurut teori terdiri dari, radar, peluru kendali, pesawat tempur sergap dan meriam penangkis serangan udara (PSU) dan TNI AU telah menambah tiga baterai /enam firing unit buatan Reinmetall Air Defence Switserland untuk satuan- satuan Korpaskhas dan menempatkan beberapa radar di kawasan Timur Indonesia untuk menutup dan memonitor pergerakan pesawat asing yang terbang melintas tanpa ijin. Kebutuhan lain yang tidak kalah pentingnya adalah pengadaan peluru kendali tambahan sebagai detern terhadap kekuatan negara asing yang ingin memasuki wilayah udara nasional Indonesia.Dibawah kepemimpinan Marsekal TNI Ida Bagus Putu Dunia  pemegang Adhi makayasa (peringkat tertinggi taruna) dan juga seorang penerbang tempur andal, TNI AU dimasa mendatang  akan semakin kuat dan percaya diri, serta menjadi kekuatan pertahanan yang semakin diperhitungkan di kawasan Asia Tenggara.

Leave a Reply

Verifikasi CAPTCHA *

68 tahun TNI Angkatan Udara: Mengawal Dirgantara Nasional