Berita Kotama

AURI MEMBANGUN

Oleh 27 Jan 2010 Tidak ada komentar
BAe Hawk 209
#TNIAU 

AURI MEMBANGUN
PANGKALAN UDARA MARGAHAYU

Menyusun Tanah Terbengkalai

Selama beberapa tahun, setelah ditinggalkan oleh penguasa Jepang, keadaan Pangkalan Udara Margahayu terbengkalai. Wilayah pangkalan termasuk landasan dan fasilitasnya tidak dihuni serta tidak terurus. Akibatnya pohon pohon liar tumbuh subur bagai hutan. Penduduk setempat khususnya bekas pemilik tanah, mau kembali menempati atau memanfaatkan untuk keperluan lain tidak berani.
Setelah berhasil mengoperasikan Pangkalan Angkatan Udara Andir di kota Bandung, kemudian AURI berupaya membangun dan merapikan kembali Pangkalan Udara Margahayu. Sebagai pelaksana pimpinan proyek di Margahayu, ditunjuk Letnan Dradjat, Kepala Teknik Umum. Pangkalan Udara Andir dibantu R. Didi Permana, mantan petugas pembangunan pangkalan udara di Margahayu di zaman Jepang.

Langkah pertama yang dikerjakan adalah membuat jalan dari satu tempat yang kemudian disebut Pos I ke kampung Cimariuk. Kemudian memanfaatkan dan menata kembali fasilitas yang masih bisa digunakan, membangun staf pangkalan, gedung seng (Site 2), perumahan di blok B, C, D dan Cimariuk Karena penduduk sudah padat, maka terpaksa ada makam yang dipindah ke tempat lain. Makam-makam tersebut berada di kampung Cedok (blok C), Cikahiyangan dan beberapa kampung yang kemudian disebut blok D, Depo Teknik 41, Depo Teknik 42, Bengkel Radio Udara. Seiring dengan itu, diadakan pula penghijauan dengan menanam pohon kersen.

Pangkalan Udara Margahayu

Tahun 1954 pembangunan kembali Pangkalan Udara selesai dan tahun itu pula diresmikan menjadi Pangkalan Udara (PU) Margahayu. Sebagai perwira pertama yang menjadi komandan adalah Letnan Udara I Basir Surya. Mantan pejuang yang bergerak di bidang teknik pesawat terbang, begitu dilantik langsung berbenah diri. Di antara kegiatan bersejarah waktu itu adanya pemindahan Sekolah Para Dasar yang ada di Pangkalan Udara Andir ke Margahayu. Sekolah terjun statik ini semula pindahan dari Pangkalan Udara Maguwo. Setelah dua tahun memimpin PU Margahayu, Basir Surya pindah ke tempat lain. Mulai dari tahun 1954 dan selanjutnya khususnya tahun 1968, ada beberapa sekolah yang tugas-tugas pendidikan dan pangkalan ditangani dalam satu komando, yaitu komandan pangkalan.
Menyesuaikan perkembangan organisasi di jajaran Angkatan Udara khususnya di bidang pendidikan, diadakan pemisahan antara penanganan atau pengoperasian pangkalan dengan pengelolaan lembaga pendidikan. Pangkalan Udara Margahayu yang ada dua satuan. Pangkalan udara yang secara operasional di bawah Komando Wilayah Udara (Kowilu) kemudian berganti menjadi Komando Daerah Udara (Kodau), dan Wing Pendidikan 2 (Wingdik 2) di bawah Komando Pendidikan.

Wing Pendidikan 2 yang berdiri tahun 1965 memiliki tiga Skadron Pendidikan (Skadik) yaitu, Skadik 201 dan Skadik 202, Skadik 203. Skadron Pendidikan 201 mengelola : Sekolah Para Dasar, Sekolah Dasar Kemiliteran dan Sekolah Calon Bintara. Kursus Kecabangan Perwira Elektronika, Kursus Dasar Manajemen Kejuruan Elektronika, Pemeliharaan Radio, Kursus Dasar Kejuruan Avionik, Sekolah Dasar Kejuruan Radar, Sekolah Kejuruan Telepon Teleks, Sekolah Teknik Umum dan Sekolah Sopir Montir (keduanya lalu dialihkan ke Lanud Kalijati), Sekolah-Sekolah Kejuruan Elektronika lain bagi bintara TNI AU, masuk di bawah Skadik 202. Sedangkan yang di bawah Skadik 203 adalah Sekolah Perawat Kesehatan, Sekolah Pembantu Perawat Kesehatan dan Sekolah Kesehatan Penerbangan.

AURI MEMBANGUN

AURI MEMBANGUN

AURI MEMBANGUN

Menjadi PU Sulaiman

Pada tahun 1966 yang menduduki pucuk pimpinan Pangkalan Udara Margahayu adalah Kolonel Udara Sulaiman. Saat itu kegiatan pendidikan cukup padat di samping tugas pokok pangkalan udara. Namun sayang, di saat tenaga dan pikirannya sedang dibutuhkan oleh dinas khususnya membangun dan mengembangkan Pangkalan Udara Margahayu, pada tanggal 8 Juni 1966 pukul 07.00 terjadi kecelakaan pesawat Helikopter MI-4 buatan Rusia jatuh dikompleks pabrik gas Jalan Banten Kiaracondong Bandung yang merenggut nyawa 12 perwira dan bintara AURI. Kolonel Udara Sulaiman beserta 4 rekannya di makamkan di Taman Makam Cikutra Bandung.

Komandan P.U Margahayu Kolonel Sulaiman, merangkap Komandan Jenderal Komando Logistik (Danjen Kolog sekarang Komandan Koharmatau), gugur bersama perwira TNI AU, akibat jatuhnya pesawat yang ia naiki di Bandung. Menurut rencana pesawat tersebut akan menuju ke Tasikmalaya membawa rombongan untuk melaksanakan peresmian uji coba roket di pabrik Dahana. Untuk mengenang jasa-jasa dan pengabdiannya, namanya diabadikan mengganti nama Pangkalan Udara Sulaiman. Penggantian nama pangkalan ini berdasarkan Surat Keputusan Menteri / Panglima Angkatan Udara Nomor : 93/ 1966 tertanggal 30 Agustus 1966. Pangkatnya pun dinaikan satu tingkat lebih tinggi menjadi Komodor Udara Anumerta. Bertepatan dengan peringatan Hari Bakti TNI AU ke-33, diadakan peresmian Monumen Komodor Udara Anumerta Sulaiman oleh Panglima Komando Daerah Udara V Marsekal Muda TNI Suti Harsono.

Lanu, Lanuma, Lanud

Dari waktu ke waktu kegiatan Pangkalan Udara Sulaiman terutama di bidang pendidikan makin ramai dan berkembang. Sebagai Pangkalan Udara (Lanu) kelas II yang kegiatannya cukup padat, maka berdasarkan Surat Keputusan Kasau Nomor: 42 VII/ 1982 tanggal 14 Juli 1982 statusnya ditingkatkan menjadi kelas utama yaitu Pangkalan Udara Utama (Lanuma).
Seiring dengan reorganisasi di lingkungan ABRI pada umumnya dan TNI AU khususnya, maka pada tahun 1985, Lanuma Sulaiman mengalami perubahan pula. Selama beberapa tahun Wingdik 2 berdiri sendiri, dilikuidasi dan diintegrasikan ke dalam Lanuma. Lalu singkatan Lanuma diubah menjadi Lanud (Pangkalan TNI Angkatan Udara) dan di seluruh Indonesia, singkatan Pangkalan TNI AU adalah Lanud. Mengingat banyak lembaga pendidikan, hingga mengangkat status, Lanu Margahayu menjadi Lanud Pendidikan, maka statusnya di bawah Kodikau seperti halnya Lanud Adisucipto dan Lanud Adisumarmo.

Komandan Lanud Sulaiman dari Masa ke Masa

Kurun waktu 1954-2003, yang pernah menduduki jabatan sebagai Komandan Pangkalan Udara di Margahayu adalah Letnan Udara Basir Surya (1954-1956), Kapten Udara S. Sukotjo (1956-1957), Kapten Udara R.M. Suprantijo (1957-1958), Mayor Udara Bob Soerasapoetra (1958-1960), Mayor Udara Sri Bima Ariotedjo (1960-1960), Mayor Udara R.A Wiriadinata (1960-1960), Letkol Udara Ramli Sumardi (1960-1963), Mayor Udara Ir. Sugito (1963-1966), Letnan Kolonel Udara Sulaiman (1966-1966), Letkol Udara Ardjakusuma (1966-1968), Letkol Udara Suwardi (1968-1969), Letkol Udara Tjondronegoro (1969-1970), Mayor Udara Sudjiantono (1970-1973), Letkol Mat Legino (1973-1977), Letkol Pnb Firman Siahaan (1977-1979), Letkol Pnb Muprapto P (1979-1982), Kolonel Pnb Aris (1982-1986), Kolonel Pnb Sudijarso (1986-1988), Kolonel Pnb Murdhowo (1988-1991), Kolonel Pnb Soetoro Jatiman (1991-1992), Kolonel Nav Moeljono(1992-1995), Kolonel Pnb Chappy Hakim (1995-1996), Kolonel Pnb Koesmadi (1996-1997), Kolonel Pnb Tarsila (1997-1999), Kolonel Pnb Yushan Sayuti (1999- 2001), Kolonel Pnb L. Tony Susanto (2001-2003) dan Kolonel Pnb Daryatmo (April 2003-sekarang).

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel