halaman

BAB II : SEJARAH PERJUANGAN TNI ANGKATAN UDARA DAN DASAR PEMIKIRAN

Dibaca: 855 Oleh 10 Jan 2010Tidak ada komentar
BAe Hawk 209
#TNIAU 

6. Umum.   Bangsa Indonesia adalah bangsa yang cinta damai tetapi lebih cinta kemerdekaan dan kedaulatannya.   Bagi bangsa Indonesia perang adalah jalan terakhir yang terpaksa harus ditempuh untuk mempertahankan ideologi dan dasar negara Pancasila, kemerdekaan dan kedaulatan Negara Republik Indonesia serta keutuhan bangsa.   Pada awal berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia,  TNI Angkatan Udara  lahir dari wujud dan tekad bangsa Indonesia untuk berjuang dan berdaulat.  Jati diri, nilai-nilai juang yang tercermin dalam lambang TNI Angkatan Udara Swa Bhuwana Paksa dan harus menjadi pedoman bagi kepentingan pelaksanaan tugas negara.

 

7. Sejarah Perjuangan TNI Angkatan Udara.

a. Semangat juang, keikhlasan, perjuangan pantang menyerah, yang hanya  ditunjang oleh alutsista terbatas berupa pesawat terbang peninggalan penjajah  saat itu, TNI Angkatan Udara telah mampu menjadi tulang punggung negara untuk berperan secara aktif dan berhasil dalam rangka  mempertahankan  kemerdekaan dan kedaulatan  negara yang berdampak politis dan psykologis secara internasional.    Keberhasilan  perjuangan tersebut menjadi tonggak sekaligus menjadi jati diri TNI Angkatan Udara sebagai tentara rakyat, tentara pejuang, tentara nasional dan profesional dalam pembangunan untuk mewujudkan kejayaan Indonesia.  Dengan mewarisi ketauladanan para pendahulu, menghayati nilai-nilai perjuangan bangsa dan peran kekuatan udara, generasi penerus memikul tugas suci untuk mewujudkan TNI Angkatan Udara yang senantiasa mampu berperan sebagai ”Sayap Tanah Air”.    

 

b. Sejak kelahirannya pada tanggal 9 April 1946, Tentara Republik Indonesia Angkatan Oedara (TRI AO) yang kemudian berganti nama menjadi Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI), yang selanjutnya menjadi TNI Angkatan Udara, tidak pernah mengingkari tugas utamanya selaku penegak  kedaulatan negara di udara.   Sejarah membuktikan perjuangan TNI Angkatan Udara sejak merebut dan mempertahankan kemerdekaan seperti pengeboman Ambarawa dan Salatiga serta peristiwa tertembak dan jatuhnya pesawat Dakota VT-CLA di desa Ngoto Yogyakarta, melaksanakan Operasi TRIKORA di Irian Barat untuk mengusir penjajah Belanda,  Operasi DWIKORA, penanggulangan bencana sosial dan alam serta operasi-operasi lainnya, merupakan warisan dari para pejuang kemerdekaan.  Disamping itu telah pula berkontribusi secara nyata dalam wujud keikhlasan niat dan keinginan luhur yang dibekali tekad serta semangat untuk melindungi dan mengawal negara dalam mencapai kepentingan dan tujuan nasionalnya, yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. 

 

8. Jati Diri.   Perwujudan sikap dan pola tindak berlandaskan semangat juang pantang menyerah disertai keikhlasan yang ditunjang oleh kualitas disiplin dan profesionalisme tinggi sebagai insan TNI Angkatan Udara, pada akhirnya menjadi jati diri TNI Angkatan Udara hingga kini.     Jati diri  TNI Angkatan Udara harus melekat pada setiap individu insan Swa Bhuwana Paksa untuk selalu berbuat dan mengembangkan  kemampuannya  baik  sekarang  maupun  masa  mendatang sebagai  :

a. Tentara Rakyat.    TNI Angkatan Udara lahir dan berasal dari rakyat ber-senjata yang berjuang melawan  penjajah untuk merebut kemerdekaan  pada perang  kemerdekaan tahun 1945-1949.   Dalam proses perjalanan sejarah sejak kelahirannya  pada  tanggal  9 April 1946,  TNI  Angkatan  Udara  sebagai  kekuatan  inti Tentara Nasional Indonesia selalu berjuang bersama rakyat guna menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah negara serta menjamin keselamatan bangsa.   Sebagai tentara yang lahir dari rakyat, TNI Angkatan Udara akan terus berperan secara aktif melaksanakan tugas negara hanya berdasarkan kehendak dan kepentingan rakyat.

b. Tentara Pejuang.  Dalam melaksanakan tugasnya, TNI Angkatan Udara ber-juang untuk menegakkan dan mempertahankan NKRI.  Secara moral, berjuang yang memiliki makna tidak mengenal menyerah terhadap setiap tantangan tugas yang dilaksanakan.   Sebagai tentara pejuang senantiasa rela berkorban, mengabdi  tanpa pamrih demi mencapai kepentingan dan tujuan nasional.  Kiprah TNI Angkatan Udara pada masa revolusi, seperti dalam misi penerobosan blokade Belanda, baik penerbangan klandestin ke luar negeri maupun keberadaan Indonesian Airways di Burma (Myanmar) dalam masa perjuangan, telah pula melaksanakan penerbangan ke India, Thailand, Malaysia, Philipina, Burma, dan Singapura guna menghimpun dana untuk berbagai tugas revolusi, telah menorehkan prestasi pejuang.   Disamping mengoperasikan pesawat terbang untuk kepentingan militer dan nonmiliter, TNI Angkatan Udara juga mempelopori terjalinnya hubungan antar daerah dan antar negara melalui jaringan komunikasi radio yang diselenggarakan oleh Perhubungan (PHB) AURI.   Sifat kepeloporan dalam perjuangan bangsa akan terus ditumbuh kembangkan oleh TNI Angkatan Udara sejalan dengan dinamika kontekstual strategis.

Baca juga:  Seskoau-10

c. Tentara Nasional.   TNI Angkatan Udara tumbuh dan berkembang sebagai tentara kebangsaan Indonesia yang dituntut harus mampu berperan sebagai alat pertahanan negara matra udara.    Status tentara kebangsaan yang melekat dipundaknya telah mewajibkan TNI Angkatan Udara  bertugas  dan  mengabdi  demi  kepentingan  negara di atas  kepentingan daerah, suku, ras dan golongan serta agama.   TNI Angkatan Udara harus memberikan kesetiaanya hanya kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 45, serta bersungguh-sungguh akan membangun dan mengembangkan kekuatan udara nasional sehingga setara dengan kekuatan udara negara lainnya di kawasan.

d. Tentara Profesional.  TNI Angkatan Udara merupakan tentara yang mahir menggunakan peralatan militer, mahir bergerak dan mampu melaksanakan tugas secara terukur serta   memenuhi   nilai-nilai  akuntabilitas.   Untuk  mencapai  tingkat  profesional,  maka prajurit TNI Angkatan Udara harus dididik dan dilatih dalam menggunakan senjata dan peralatan militer dengan baik, dilatih manuver taktik secara baik, dididik dalam ilmu pengetahuan dan teknologi secara baik, dipersenjatai dan dilengkapi dengan baik, serta kesejahteraan prajuritnya dijamin oleh negara, sehingga diharapkan mahir bertempur untuk mempertahankan negara dan bangsa.  Dalam kehidupan bernegara, TNI Angkatan Udara tidak terlibat dalam politik praktis dan  hanya  mengikuti  kebijakan  politik  negara  dengan  mengutamakan  prinsip demokrasi, supremasi sipil, hak asasi manusia, ketentuan hukum nasional dan internasional yang telah diratifikasi. 

 

9. Nilai-Nilai Juang TNI Angkatan Udara.   Perjuangan para pendahulu yang diteruskan secara berlanjut dari satu generasi ke generasi berikutnya, telah membentuk TNI Angkatan Udara yang senantiasa siaga dan mampu melaksanakan  peran dan fungsinya sebagai  penegak  kedaulatan  negara  di dan  melalui  udara.   Upaya pembinaan kemampuan dan pembangunan kekuatan TNI Angkatan Udara, diselenggarakan berdasarkan analisis menyeluruh terhadap kondisi lingkungan strategis.   Perpaduan landasan perjuangan dengan analisis kontekstual yang tajam akan selalu menjastifikasi kekuatan dan kemampuan TNI Angkatan Udara untuk tetap dapat menjawab setiap panggilan tugas secara cepat dan tepat.    Warisan tekad dan semangat para pendahulu menjadi ilham penghayatan nilai-nilai perjuangan bangsa, mendorong generasi penerus TNI Angkatan Udara untuk memainkan peran dan fungsinya dalam menjalankan tugas negara yang sekaligus menjadi bukti diri sebagai ’Sayap Tanah Air Indonesia’ seperti makna yang disiratkan pada semboyan Swa Bhuwana Paksa. 

 

10. Lambang TNI Angkatan Udara.   Nilai-nilai juang TNI Angkatan Udara yang dimanifestasikan dalam bentuk lambang TNI Angkatan Udara Swa Bhuwana Paksa memiliki kandungan makna sebagai sayap tanah air Indonesia.   Lambang tersebut sekaligus menyatakan, bahwa TNI Angkatan Udara merupakan payung yang melindungi seluruh wilayah kedaulatan Indonesia dan mengangkat harkat martabat bangsa serta bertekad membangunnya untuk menjadi Indonesia yang jaya di udara.   TNI Angkatan Udara sebagai bagian integral TNI,  ikut bertanggung jawab  terhadap kedaulatan  dan keutuhan wilayah negara dan selalu siap siaga untuk mempertahankan serta mengamankan tanah air Indonesia dari setiap ancaman yang datang dari dan melalui udara terhadap rakyat, bangsa, dan negara.  Dalam melaksanakan  tugasnya, TNI Angkatan Udara selalu memegang teguh Pancasila, UUD 1945, Sapta Marga, Sumpah Prajurit,  Delapan Wajib TNI dan dengan semangat tidak mengenal menyerah serta akan tetap setia dan konsisten untuk melindungi NKRI dan akan mendukung   kebijakan   politik   negara   untuk   mewujudkan   masyarakat   adil   dan  makmur.   Konsistensi sikap dan tekad demikian telah dipatrikan pada lambang TNI Angkatan Udara Swa Bhuwana Paksa.    Lambang yang terdiri atas enam bagian memiliki arti sangat dalam sebagai perwujudan dari jiwa dan semangat setiap insan TNI Angkatan Udara.   Tiap bagian lambang TNI Angkatan Udara Swa Bhuwana Paksa memiliki makna sebagai   berikut :

Baca juga:  GEDUNG WIRA CLUB

 

a. Burung Garuda mengembangkan sayap selebar-lebarnya dengan posisi kepala mengarah ke timur (sesuai peta pada perisai) dan tiap sayap terdiri atas delapan helai bulu, melambangkan kewaspadaan dan kesiagaan TNI Angkatan Udara dalam menjaga dan mengamankan NKRI yang kemerdekaannya diproklamasikan pada bulan ke delapan (Agustus).   Posisi kepala burung garuda mengarah ke timur mempunyai arti dan makna filosofis, mengingat dalam nilai-nilai kebudayaan nenek moyang bangsa Indonesia bahwa timur  menunjukkan  daerah  hidup  atau lahir, waktu  awal saat sang  surya  menampakkan  wajahnya.    Hal ini melambangkan bahwa TNI Angkatan Udara selalu dihadapkan kepada tantangan kemajuan teknologi kedirgantaraan yang berkembang pesat, sehingga harus selalu siap sedia menyongsong perkembangan teknologi tersebut.

 

b. Pita bertuliskan Swa Bhuwana Paksa sebagai semboyan TNI Angkatan Udara berasal dari bahasa Sansekerta dan melambangkan TNI Angkatan Udara sebagai ”Sayap Tanah Air”.   Pemaknaan lambang disimpulkan dari setiap kata yang mengandung arti sebagai berikut :

1) Swa berarti sendiri.

2) Bhuwana asal kata dari Bhawana yang berarti tempat tinggal atau tanah air. 

3) Paksa asal kata dari Pakca yang berarti sayap.

4) Swa Bhuwana Paksa berarti Sayap Tanah Air Indonesia.

 

c. Lima buah anak panah digenggam erat oleh cakar garuda melambangkan dasar negara Pancasila yang mendapat perlindungan sebaik-baiknya dari TNI Angkatan Udara sebagai indikasi memegang teguh Pancasila.

 

d. Perisai yang berisikan peta kepulauan Indonesia dengan garuda berdiri di atasnya melambangkan TNI Angkatan Udara yang kuat dan kokoh dalam melindungi NKRI.

 

e. Lidah nyala api berjumlah empat di kanan dan lima di kiri perisai melambangkan angka keramat tahun 45 yang bermakna TNI Angkatan Udara memiliki semangat yang berkobar dan tekad tidak mengenal menyerah dalam mempertahankan kemerdekaan negara sejak diproklamasikan pada tahun 1945.

 

f. Dua untaian manggar (bunga kelapa) masing-masing terdiri atas tujuh belas kuntum yang disusun  melingkari garuda  dan perisai  melambangkan peran  TNI Angkatan Udara bagi upaya peningkatan kesejahteraan dalam rangka mengisi kemerdekaan mencapai tujuan nasional.

 

11. Dasar Pemikiran.  Bagi bangsa Indonesia perang adalah tindakan yang tidak berperikemanusiaan karena tidak sesuai dengan martabat manusia dan merupakan langkah yang paling akhir untuk dilaksanakan. Penyelesaian pertikaian atau pertentangan yang mungkin timbul antara Indonesia dan bangsa lain akan selalu diusahakan melalui cara-cara damai. Perang hanya dilakukan dalam keadaan terpaksa guna mempertahankan kemerdekaan bangsa, kedaulatan negara serta kepentingan nasional.   Bentuk pertahanan negara melibatkan seluruh rakyat dan segenap sumber daya, sarana dan prasarana nasional serta seluruh wilayah negara menjadi satu kesatuan sistem pertahanan yang bersifat semesta.   Prinsip-prinsip inilah yang melandasi Doktrin TNI Angkatan Udara Swa Bhuwana Paksa baik secara filosofis, konseptual maupun operasional.

 

a. Landasan Filosofis.

1) Landasan Idiil.   Pancasila sebagai dasar negara, ideologi dan pandangan hidup bangsa merupakan landasan nilai-nilai moral dan etika dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.       Pengejawantahan nilai-nilai tersebut diwujudkan dalam bentuk nilai-nilai keselarasan, keseimbangan, keserasian, persatuan dan kesatuan,  kekeluargaan  serta  kebersamaan  baik  sebagai  pola pikir,  pola  sikap, maupun pola tindak bagi setiap warga negara dalam Sistem Pertahanan Negara.   Oleh karena itu nilai-nilai dasar dan pengejawantahan Pancasila menjadi landasan idiil bagi Doktrin TNI Angkatan Udara Swa Bhuwana Paksa.

2) Landasan Konstitusional.   Dalam Pembukaan dan Batang Tubuh UUD 1945 tertuang pokok-pokok pikiran tentang penyelenggaraan pertahanan dan keamanan negara yang dijiwai oleh falsafah Pancasila.   UUD 1945 memuat aturan-aturan pokok yang diperlukan bagi penyelenggara negara, khususnya untuk menjamin eksistensi bangsa dan negara Indonesia dengan segala kepentingannya serta upaya penyelenggaraan pertahanan negara melalui dan dari udara, di darat dan di laut.   Pasal 10 UUD 1945 menyatakan bahwa Presiden RI adalah pemegang kekuasaan tertinggi atas Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara.  Oleh karena itu UUD 1945 menjadi landasan bagi Doktrin TNI Angkatan Udara Swa Bhuwana Paksa.  

Baca juga:  MESS JUMANTORO 1

 

b. Landasan Konseptual.

1) Landasan Visional.   Wawasan  Nusantara  sebagai wawasan geopolitik  bangsa telah mendasari setiap upaya warga negara untuk mempertahankan keutuhan dan kedaulatan NKRI, yaitu wilayah negara baik permukaan beserta isinya maupun udara diatasnya yang merupakan satu kesatuan wadah dan sarana perjuangan hidup bangsa secara bulat dan utuh.   Maknanya bahwa ancaman terhadap sebagian wilayah Indonesia merupakan ancaman terhadap kedaulatan nasional secara keseluruhan yang harus dihadapi dengan mengerahkan segenap daya dan kemampuan.   Implementasi pengerahan daya dan kemampuan di udara diwujudkan melalui wawasan dirgantara nasional sebagai aeropolitik bangsa yang memiliki sifat konvergensi dalam geopolitik, sehingga menjadikan wilayah udara kedaulatan dan wilayah kepentingan sebagai wadah atau ruang untuk dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kepentingan nasional yang meliputi politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan dalam rangka mencapai tujuan.    Oleh karena itu maka Wawasan Nusantara menjadi landasan visional bagi Doktrin TNI Angkatan Udara Swa Bhuwana Paksa.

2) Landasan Konsepsional.  Ketahanan Nasional sebagai pandangan geostrategis termasuk di dalamnya aerostrategis, menggambarkan kondisi bangsa yang berisikan keuletan, ketangguhan, dan kemampuan untuk mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi dan mengatasi segala bentuk, ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan baik langsung maupun tidak langsung yang membahayakan integritas, identitas, dan kelangsungan hidup bangsa dan negara serta perjuangan nasional menuju kejayaan bangsa.   Bangsa Indonesia menyadari bahwa berbagai aspek kehidupan bangsa tidak mungkin diselenggarakan secara parsial ataupun terpisah-pisah, tetapi harus merupakan upaya terpadu agar menghasilkan sinergi kemampuan berupa peningkatan ketahanan  setiap  aspek kehidupan bangsa.    Oleh karena itu maka Ketahanan Nasional menjadi landasan konsepsional bagi Doktrin TNI Angkatan Udara Swa Bhuwana Paksa.

 

c. Landasan Operasional

 

1) Undang-Undang RI Nomor 3 Tahun 2002.   Dalam Undang-Undang RI nomor 3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara telah diatur masalah pertahanan negara yang diselenggarakan oleh pemerintah dengan membangun dan membina kemampuan, daya tangkal negara dan bangsa, serta menanggulangi setiap ancaman, dalam hal ini bertindak sebagai komponen utama adalah Tentara Nasional Indonesia dengan dibantu oleh komponen cadangan dan komponen pendukung.  

 

2) Undang-Undang RI Nomor 34 Tahun 2004.   Dalam Undang-Undang RI Nomor 34 tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia, disebutkan bahwa salah satu tugas Kepala Staf TNI Angkatan Udara adalah membantu Panglima Tentara Nasional Indonesia dalam menyusun kebijakan tentang pengembangan postur, doktrin, strategi dan operasi militer sesuai dengan tugas pokok TNI, yaitu menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara.    

 

3) Doktrin TNI ”Tri Dharma Eka Karma”.   Doktrin TNI merupakan doktrin induk yang berada pada tataran strategis dan menjadi acuan bagi doktrin angkatan maupun buku-buku petunjuk pada tataran di bawahnya.   Doktrin TNI bertujuan untuk mewujudkan kesamaan persepsi, keseragaman sikap dan keselarasan tindakan dalam pembinaan serta penggunaan kekuatan guna menjamin keberhasilan pelaksanaan tugas-tugas TNI, baik dalam rangka OMP maupun OMSP.

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel