halaman

BAB III : POKOK-POKOK KEKUATAN UDARA

Dibaca: 1230 Oleh 10 Jan 2010Tidak ada komentar
Sukhoi Su-27
#TNIAU 

 

12.  Umum.   Tuntutan memenangkan perang pada penyusunan strategi perang telah berkembang sejak Perang Dunia I dan salah satu perkembangan yang terjadi adalah bergesernya strategi militer ketika kekuatan udara mulai dikenal dan digunakan dalam peperangan.    Kekuatan udara terealisasikan atau terwujud dari perkembangan Iptek kedirgantaraan, yang secara bertahap telah diakui sebagai perkembangan sistem persenjataan militer yang pada gilirannya telah  memungkinkan pemanfaatan media udara secara luas untuk berbagai kepentingan.  Kepentingan penggunaan kekuatan udara dari suatu negara akan berbeda dengan negara lainnya, tergantung kepada kepentingan nasional negara yang bersangkutan.   NKRI berpandangan bahwa kekuatan udara merupakan salah satu kekuatan negara dalam merekayasa dan menggunakan wahana dirgantara untuk kepentingan nasional.    Kekuatan udara  tersebut dikembangkan sesuai  dengan cita-cita bangsa Indonesia yang mengandung nilai-nilai perjuangan untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa agar setara dengan bangsa lain di dunia, sehingga kekuatan udara yang dikembangkan bertumpu kepada komponen, kemampuan, peran, karakteristik serta komando dan kendali kekuatan udara.

 

13. Komponen Kekuatan Udara.   Kekuatan udara dibangun dan dikembangkan sesuai kebutuhan penggunaannya bagi suatu negara.   Pengembangan kekuatan udara mengandung arti pengembangan komponen-komponen yang terpadu satu dengan lainnya.   Sinergitas hasil pengembangan beberapa komponen kekuatan udara akan menciptakan kemampuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan.   Secara universal, komponen kekuatan udara dapat dikelompokkan menjadi armada penerbangan militer, armada penerbangan sipil, lembaga pendidikan kedirgantaraan, industri dan jasa kedirgantaraan.  Dalam sistem  pertahanan  negara  Indonesia  dapat dikelompokkan  menjadi  tiga  komponen  yaitu  :

a. Komponen Utama.   Komponen utama kekuatan udara nasional diwujudkan dalam postur TNI Angkatan Udara yang sekaligus menjadi inti kekuatan dalam mempertahankan, menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah negara serta melindungi seluruh bangsa dari ancaman di dan melalui udara.

b. Komponen Cadangan.   Komponen cadangan kekuatan udara nasional merupakan integrasi seluruh armada udara beserta fasilitas pendukungnya yang tersebar di berbagai instansi selain TNI Angkatan Udara baik sipil maupun militer, serta seluruh  potensi kedirgantaraan nasional yang sewaktu-waktu dapat dimobilisasi untuk digunakan memperbesar  kekuatan dan kemampuan komponen utama.

c. Komponen Pendukung.  Komponen pendukung kekuatan udara nasional dibangun dari berbagai potensi nasional yang dapat digunakan baik langsung maupun tidak langsung untuk menggandakan kekuatan dan kemampuan baik komponen utama maupun komponen cadangan.

 

14. Kemampuan Kekuatan Udara.   Penggunaan kekuatan udara dalam upaya pertahanan negara, dilaksanakan melalui berbagai bentuk operasi udara, baik yang bersifat matra tunggal ataupun sebagai bagian dari suatu operasi gabungan.   Pada dasarnya kemampuan kekuatan udara dapat dikelompokkan menjadi  :

a. Kemampuan Pengendalian Udara (Control of the Air).   Inti dari kemampuan  kekuatan udara adalah pengendalian udara.  Pengendalian udara merupakan kemampuan untuk menggunakan dimensi ketiga (udara) guna mengendalikan  keamanan permukaan maupun  dibawahnya tanpa terancam atau diserang, sehingga musuh tidak dapat menggunakan kekuatan udaranya secara efektif.  Pengendalian udara menjadi syarat keberhasilan operasi-operasi militer baik ofensif maupun defensif, karena tanpa pengendalian udara, kedaulatan suatu negara akan terancam bahaya, sebab infrastruktur dan garis komunikasi  akan rawan terhadap serangan udara musuh  sehingga negara tidak dapat menyelenggarakan kampanye militer.  Pengendalian udara  diklasifikasikan dalam tiga tingkatan  yaitu : 

1) Keadaan Udara yang Menguntungkan (Favourable Air Situation).    Keadaan ini diindikasikan dengan tingkat kekuatan udara lawan yang diperkirakan tidak cukup mampu menghadapi kekuatan udara kita, baik dioperasikan secara mandiri maupun gabungan dengan kekuatan darat dan laut.

2) Keunggulan Udara (Air Superiority).   Keadaan ini digambarkan dari derajat dominasi kekuatan udara kita  pada suatu pertempuran udara terhadap  kekuatan udara musuh,  sehingga kekuatan udara musuh bukan sebagai ancaman serius di atas suatu wilayah dan dalam jangka waktu tertentu.

3) Supremasi Udara (Air Supremacy).   Keadaan ini ditandai dengan kondisi kekuatan udara lawan yang sama sekali bukan merupakan suatu ancaman bagi kekuatan udara kita maupun terhadap kedaulatan nasional atau terhadap operasi darat, laut, dan udara yang sedang dilaksanakan.

b. Kemampuan Serangan Udara (Air Strike).   Kemampuan penggunaan kekuatan udara secara signifikan merupakan kunci keberhasilan dalam setiap operasi militer.  Penyerangan udara dikembangkan berdasarkan kemampuan penindakan dan penghancuran untuk melancarkan serangan dari udara terhadap sasaran, baik statis maupun dinamis yang ada di udara, laut, dan darat. 

Baca juga:  PENGUMUMAN LOMBA KREATIVITAS PRAJURIT/PNS TNI TA 2012

c. Kemampuan Dukungan Udara (Air Support).    Kemampuan dukungan udara merupakan kemampuan untuk mendukung pelaksanaan  operasi kekuatan darat, laut dan udara yang sedang/akan melaksanakan operasi dalam rangka keberhasilan pelaksanaan tugas operasi kawan.   Kemampuan dukungan udara ditujukan untuk menciptakan keberlangsungan perang yang sedang dilaksanakan.  Kemampuan dukungan udara diwujudkan melalui penyelenggaraan satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan secara paralel maupun sebagai suatu rangkaian kegiatan yang bersifat serial.    

d.   Kemampuan Eksploitasi Informasi.   Pemanfaatan dan pendayagunaan informasi dimaksudkan untuk mendapatkan dan mendayagunakan informasi melalui ruang (wahana) dirgantara dalam rangka mendapatkan keunggulan informasi agar tercipta  penguasaan udara.

 

15. Peran Kekuatan Udara.   Peran kekuatan udara pada hakekatnya merupakan aplikasi kemampuan kekuatan udara sebagai suatu kekuatan militer yang menguraikan tentang penggunaan kekuatan udara sebagai alat yang dimanifestasikan pada kemampuan Angkatan Udara dalam menyelenggarakan perang, mengelola krisis internasional, dan memelihara perdamaian serta sebagai alat penyelenggara dukungan sosial.

a. Alat Penyelenggara Perang.

1) Pengelolaan.   Kekuatan  udara   berperan   sebagai   sumber  daya/Alutsista udara yang ada untuk menghadapi ancaman perang dengan mempertimbangkan taktik dan strategi serta teknologi yang dimiliki musuh untuk memperoleh cara bertindak yang efektif dan efisien sehingga dapat memenangkan perang.

2) Pengamatan.   Kekuatan udara berperan sebagai alat untuk melakukan pengamatan dan pemantauan terhadap kekuatan dan kegiatan musuh yang dapat digunakan untuk perencanaan intelijen serta pelaksanaan operasi/perang.

3) Penghancuran.   Kekuatan udara berperan sebagai alat untuk  memusatkan daya tembak guna menghasilkan daya hancur yang besar dalam rangka memenangkan perang.  

4) Pemaksaan.   Kekuatan udara berperan untuk menerobos jauh ke dalam wilayah musuh setiap saat dan menyerang berbagai sasaran, sehingga dapat memaksa musuh untuk menghentikan perang.

5) Dislokasi.    Kekuatan udara berperan untuk mendislokasi kekuatan musuh yang bertujuan dapat menimbulkan penundaan/kelambatan dan kekacauan serta memecahkan kohesi satuan musuh.

6) Pengalihan.   Kekuatan udara berperan untuk dapat mengalihkan sasaran serangan musuh yang bertujuan untuk memecah konsentrasi musuh. 

7) Penundaan.  Kekuatan udara berperan untuk melakukan penundaan penyerangan pihak musuh sehingga memungkinkan kekuatan kawan melakukan serangan lebih efektif.   Sedangkan dalam situasi ofensif, penundaan memungkinkan kekuatan kawan mencegah musuh meloloskan diri. 

8) Penurunan Moril.   Kekuatan udara dalam melakukan serangan udara berperan untuk melemahkan moril musuh dan sebaliknya meningkatkan moril pasukan kawan.

b. Alat Penyelenggara Penegakan Kedaulatan Negara dan Hukum di Udara.   Kekuatan udara berperan sebagai alat penindak utama pada setiap ancaman udara yang mengancam kedaulatan negara di udara, juga berperan sebagai alat penegak hukum di udara yang berakibat langsung kepada tingkat keamanan udara bagi setiap penerbangan dan pengguna sarana udara.

c. Alat Penyelenggara Pencegah Krisis Internasional.

1) Peringatan.  Kekuatan udara berperan untuk memberikan peringatan pada saat yang tepat tentang agresi yang mungkin akan dilakukan oleh lawan.

2) Isyarat.   Kekuatan udara berperan untuk  mengirimkan isyarat politik yang jelas melalui berbagai tindakan, termasuk peningkatan kesiapan secara terbuka, pelatihan, atau penerbangan.

3) Dukungan.    Kekuatan udara berperan untuk memberikan dukungan moril dan fisik kepada kawan, sehingga memperkuat semangat pada saat moril menurun.

4) Pertolongan.   Kekuatan udara berperan untuk melakukan operasi pertolongan dalam situasi krisis.

5) Peningkatan Stabilitas.  Kekuatan udara berperan untuk menambah kekuatan lain di wilayah yang terancam huru-hara atau konflik regional, sehingga stabilitas keamanan dapat ditingkatkan.

6) Penangkalan. Kekuatan udara berperan sebagai kekuatan  penangkalan  melalui penggelaran alutsista udara.

d. Alat Penyelenggara Pemelihara Perdamaian.

1) Meningkatkan Hubungan Internasional.   Kekuatan udara berperan untuk meningkatkan hubungan internasional melalui kerja sama pertahanan.

2) Memberikan Dampak Penangkalan.   Kekuatan udara berperan untuk memberikan dampak penangkalan terhadap lawan potensial.

3) Kehadiran.   Kekuatan udara berperan untuk dapat selalu hadir di daerah-daerah yang tidak dapat dicapai oleh kekuatan lain dalam waktu yang relatif singkat.

e. Alat Penyelenggara Dukungan Sosial.

1) Bencana Alam.    Kekuatan udara dapat digunakan untuk kegiatan sosial dalam menanggulangi kerusakan akibat dari bencana alam yang terjadi di dalam negeri maupun di luar negeri.

Baca juga:  GOR ANDALAN

2) Akibat Perang dan Konflik.  Kekuatan udara diperankan untuk dukungan sosial dengan berperan serta dalam menanggulangi dan merehabilitasi akibat dari perang dan konflik.

16. Karakteristik Kekuatan Udara.  Karakteristik kekuatan udara pada dasarnya dipengaruhi oleh perkembangan teknologi kedirgantaraan dan tidak dapat dipisah-pisahkan.  Kekuatan udara mempunyai karakteristik berupa keunggulan dan keterbatasan yang saling terkait.   

a. Keunggulan.   Karakteristik kekuatan  udara memiliki beberapa keunggulan   yaitu:  

1) Ketinggian.   Kekuatan udara dapat memanfaatkan media udara secara vertikal, sehingga dapat mengawasi sasaran secara luas baik di daratan maupun di lautan.

2) Kecepatan.   Kekuatan udara dapat bergerak dengan kecepatan jauh lebih tinggi dibandingkan kekuatan darat atau laut, sehingga memberikan keunggulan dari aspek jarak dan waktu.

3) Daya Jangkau.   Kekuatan udara dapat menjangkau ke segala penjuru  di semua titik dipermukaan bumi dan terhadap sasaran bergerak di darat, laut dan udara sesuai dengan kemampuan teknologi yang dimilikinya.

4) Fleksibilitas.   Kekuatan udara dapat digunakan untuk  tugas-tugas dengan fungsi yang berbeda dan dapat disiapkan dalam waktu relatif singkat.    

5) Daya Terobos.    Kekuatan udara dapat masuk lebih jauh ke dalam wilayah pertahanan musuh, sehingga memungkinkan mampu menghancurkan kekuatan lawan di wilayahnya. 

6) Daya Tanggap.   Kekuatan udara dapat disiapkan dalam waktu yang cepat dan tepat pada waktunya baik dari pangkalan induk maupun pangkalan operasi serta melaksanakan tugas yang ditentukan sebelum kekuatan lain dapat beroperasi.

7) Pemusatan Kekuatan.   Kekuatan udara dapat dipusatkan dengan cepat untuk menghancurkan suatu sasaran secara berlanjut dari lokasi penggelaran yang ditentukan dengan peran dan persenjataan yang berbeda.

8) Daya Penghancur.   Kekuatan udara dapat melakukan serangan udara terhadap sasaran terpilih dengan tingkat ketepatan yang tinggi dan dengan daya hancur tinggi.

9) Presisi.   Kekuatan udara dapat ditujukan pada sasaran-sasaran terpilih dengan tingkat ketepatan yang tinggi dan daya ledak yang terukur, sehingga menghindarkan timbulnya korban besar dan kerusakan yang tidak diharapkan.

10) Mobilitas.   Kekuatan udara dapat digelar dengan cepat untuk diproyeksikan pada sasaran tertentu dengan dukungan logistik dan personel secara berlanjut, sehingga menimbulkan dampak kehadiran dan kesiapsiagaan menghadapi berbagai kemungkinan ancaman.

11) Daya Kejut.   Kekuatan udara dapat menyerang sasaran secara mendadak, sehingga dapat menimbulkan kerugian, baik kerugian fisik maupun menurunkan moril musuh sangat besar.

b. Keterbatasan.    Karakteristik  kekuatan  udara  memiliki  keterbatasan  yaitu : 

1) Ketergantungan Pada Pangkalan Udara.   Kekuatan udara pada umumnya tidak dapat beroperasi secara terus menerus di udara, namun memerlukan pangkalan udara untuk dapat dipersiapkan kembali terhadap tugas berikutnya.    Kebutuhan akan  Pangkalan Udara merupakan hal mutlak yang tidak dapat dihindarkan.

2) Daya Angkut.   Kekuatan udara memiliki kemampuan daya angkut yang terbatas bila dibandingkan dengan wahana lain, baik untuk membawa persenjataan maupun personel atau barang, sehingga penggunaannya harus berdasarkan suatu perencanaan dengan sasaran yang telah diperhitungkan.

3) Pembiayaan Mahal.   Kekuatan udara merupakan kekuatan yang didukung dengan alutsista berteknologi tinggi sehingga membutuhkan dukungan biaya yang sangat mahal, baik untuk pengadaan, penyiapan, pengorganisasian maupun pemeliharaannya.

4) Sensitif Terhadap Cuaca.   Kekuatan udara memiliki sensitivitas tinggi terhadap kondisi cuaca dan akan berpengaruh langsung pada saat pesawat tinggal landas, mendarat, bernavigasi, pelaksanaan penerjunan, dan penembakan sasaran secara visual.

5) Kerawanan.  Kekuatan udara dikategorikan sebagai sasaran bernilai strategis sehingga sangat rawan terhadap serangan lawan dari darat, laut dan udara, sehingga memerlukan sistem pengamanan.

6) Ketergantungan Teknologi.  Kekuatan udara sangat tergantung pada kemajuan teknologi yang akan berpengaruh langsung pada kemampuannya.

7) Kerapuhan.   Material kekuatan udara dikategorikan material yang sangat rapuh terhadap kondisi cuaca dan serangan musuh.

 

17. Komando dan Kendali (Kodal).

a. Komando dan Kendali adalah proses dan sarana bagi pelaksanaan wewenang dan arahan komandan yang ditunjuk atas kekuatan yang diberikan kepadanya untuk melaksanakan misi.   Komando dan Kendali yang efektif merupakan persyaratan yang paling mendasar untuk penggunaan kekuatan udara secara efisien.   Semua kekuatan militer harus mempunyai struktur kodal untuk menjamin bahwa kekuatan yang tersedia digunakan menurut arahan dan wewenang yang tepat dengan cara yang paling efisien untuk mencapai hasil yang diinginkan.   

Baca juga:  PATAKA KOHARMATAU

b. Prinsip Dasar Komando dan Kendali.   Pengalaman menujukkan bahwa  kesatuan komando sangat penting untuk penggunaan kekuatan udara secara efektif.   Kekhasan kekuatan udara yaitu kecepatan, daya jangkau dan fleksibilitas memungkinkan kekuatan udara digunakan untuk mencapai beberapa sasaran baik dalam tugas (tasks) yang sama maupun berbeda.   Hal seperti ini apabila penggunaannya tidak direncanakan secara matang akan mengakibatkan terpecahnya kekuatan dan menimbulkan pemborosan.    Guna menghindari hal seperti tersebut di atas, maka perlu adanya kesatuan tindak dengan prinsip-prinsip dasar sebagai berikut :

1) Kesatuan Komando dan Kendali.

2) Sentralisasi pada tingkat kebijakan.

3) Desentralisasi pada pelaksanaan di lapangan.

c. Kesatuan Komando dan Kendali.   Kesatuan Kodal akan menjamin integritas usaha dan penggunaan kekuatan sesuai dengan prioritas yang telah ditetapkan.   Kesatuan Kodal juga memungkinkan dilaksanakannya perubahan-perubahan rencana maupun pelaksanaan serta pengaturan kembali kekuatan-kekuatan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi operasi.   Konsentrasi kekuatan udara harus benar-benar dapat diarahkan ke daerah kritis dalam  waktu  singkat dan tepat.   Kesatuan Kodal sangat esensial apabila kekuatan udara  dipergunakan pada operasi gabungan guna menghindari  :

1) Terpecahnya kekuatan menjadi kekuatan-kekuatan kecil yang akan mengurangi daya gempur, karena kekuatannya tidak terkonsentrasi.   

2) Penggunaan kekuatan gabungan yang tidak teratur dan tidak terkoordinasi.

d. Sentralisasi Pada Tingkat Kebijakan.   Kesatuan usaha akan mencapai hasil yang maksimal bila kewenangan kebijakan/pengambilan keputusan Kodal berada di pucuk pimpinan tertinggi, yaitu panglima atau komandan.   Sentralisasi kebijakan masih tetap harus mempertimbangkan faktor efisiensi guna menentukan strata yang paling tepat dalam mengambil keputusan.  Hal-hal yang perlu ditangani meliputi :

1) Tanggung jawab operasional.

2) Penentuan tujuan dan sasaran operasional yang ingin dicapai.

3) Sistem pengendalian yang tersedia guna mendukung penyelesaian tugas pokok serta pengendalian aset kekuatan udara yang ada.

4) Pendayagunaan fungsi sumber daya udara/kekuatan udara.

e. Desentralisasi Pelaksanaan.   Dalam rentang kendali yang sangat luas, tidak mungkin dapat ditangani sendiri oleh seorang panglima/komandan.   Untuk itulah pentingnya desentralisasi dengan cara melimpahkan wewenang tertentu dalam pelaksanaan tugas (tasks) maupun misi (missions).   Desentralisasi memungkinkan komandan bawahan dapat secara luwes mengembangkan pikiran atau inisiatifnya atas dasar kebijakan pemimpin yang telah ditetapkan.  Dalam organisasi pada eselon pimpinan perlu dilengkapi dengan perangkat kontrol agar pelaksanaan desentralisasi tidak menyimpang dari tujuan dan sasaran.   Penyimpangan bisa dihindari apabila tujuan dan sasaran operasi telah benar-benar dipahami oleh para pelaksana pada setiap tingkat di jajaran.

 

18. Strata Komando.    Implementasi dari suatu strategi militer melibatkan pertimbangan, proses, faktor, waktu dan sifat yang bervariasi pada setiap strata komando.   Struktur komando militer terdiri atas tiga strata yaitu komando strategi, operasional dan taktis.

a. Komando Strategis.  Komando strategis mempunyai hubungan langsung dengan pemerintah, menyangkut tingkat dan aplikasi kekuatan militer untuk mencapai tujuan nasional dalam melaksanakan kebijakan politik, ekonomi, sosial, pertahanan, dan hukum.   

b. Komando Operasional.   Komando operasional bertugas merencanakan, melaksanakan dan  mengendalikan  kampanye  militer. Dalam hal  pengerahan  kekuatan, komando operasional menangani penggelaran logistik dan keamanan pasukan dalam mengimplementasikan strategi militer.   Pertimbangan pada komando operasional juga melibatkan hubungan dengan pejabat sipil, media, dukungan dan infrastruktur serta keuangan.   Panglima Komando Operasi Militer menentukan misi, daerah operasi, kekuatan dan dukungan yang tersedia, aturan pelibatan serta batasan lainnya untuk komando operasional.   Komando operasional merencanakan dan mengendalikan operasi secara serentak atau bertahap yang dirancang untuk menghadapi musuh, dalam situasi dan kekuatan yang dikehendaki sehingga menghasilkan keberhasilan taktis.

c. Komando Taktis.  Komando taktis secara langsung menangani aplikasi pemusatan kekuatan dalam rangka mencapai tujuan operasi serta memaksimalkan aplikasi kekuatan persenjataan, dan memerlukan pengendalian kekuatan secara seksama pada waktu sebenarnya, sehingga setiap pergerakan dapat dikoordinasikan diantara unsur-unsur kekuatan yang terlibat. Keberhasilan operasi sangat tergantung pada, kepemimpinan, moral, kerja sama tim dan pendadakan.

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel