halaman

BAB VII : PENGGUNAAN KEKUATAN TNI ANGKATAN UDARA

Dibaca: 1413 Oleh 10 Jan 2010Tidak ada komentar
2015 06 02 00002
#TNIAU 

33. Umum.  Penggunaan kekuatan TNI Angkatan Udara dalam OMP dan OMSP dilaksanakan atas perintah Panglima TNI dengan memperhatikan pertimbangan,  asas, prinsip, strategi dan pengerahan penggunaan kekuatan  sesuai dengan ketentuan TNI. Kewenangan dan tanggung jawab penggunaan kekuatan TNI Angkatan Udara berada pada Panglima TNI, selanjutnya tanggung jawab pengoperasian kekuatan  berada pada Panglima Komando Utama (Pangkoopsau dan Pangkohanudnas).   Penggunaan kekuatan TNI Angkatan Udara menganut pemahaman kesatuan komando yang memandang wilayah operasi dan/atau mandala perang merupakan satu kesatuan yang utuh. 

 

34. Pertimbangan.   Penggunaan kekuatan TNI Angkatan Udara dilaksanakan dengan memperhatikan faktor-faktor pertimbangan sebagai berikut :

 

a. Ancaman.   Penggunaan kekuatan harus disesuaikan dengan eskalasi ancaman, baik ancaman militer maupun nonmiliter yang dapat mengancam  kedaulatan, keutuhan wilayah NKRI serta keselamatan bangsa dan negara.   Sedangkan pelaksanan penggunaan kekuatan udara sesuai dengan mekanisme, prosedur dan undang-undang yang berlaku.

b. Politik Negara.   Penggunaan kekuatan harus didasari oleh keputusan politik negara, ketentuan-ketentuan hukum nasional dan internasional serta kebiasaan-kebiasaan internasional yang telah disepakati. 

c. Hak Asasi Manusia dan Hukum Humaniter.   Penggunaan kekuatan harus memperhatikan prinsip-prinsip hukum, hak asasi manusia, dan hukum humaniter.

d. Lingkungan Hidup.   Penggunaan kekuatan harus sedapat mungkin menghindari kerusakan lingkungan hidup.  

 

35. Asas.   Penggunaan kekuatan TNI Angkatan Udara dalam OMP maupun OMSP berpedoman pada asas-asas perang udara agar dapat dilaksanakan secara tepat, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun dalam pengendalian kegiatan operasi udara.    Asas-asas tersebut adalah sebagai berikut :

 

a. Asas Tujuan.   Penyelenggaraan perang mengutamakan  rumusan tentang  tujuan yang akan dicapai.    Berdasarkan  tujuan  yang  akan  dicapai, disusunlah prioritas tindakan dan sasaran antara.   Pencapaian sasaran antara secara keseluruhan harus menunjang pencapaian tujuan akhir yang telah ditetapkan.

b. Asas  Penyerangan.   Tindakan penyerangan memungkinkan  pemegang komando dan kendali memilih dan menentukan waktu, tempat, jenis sistem senjata yang digunakan serta menentukan prioritas sasaran.    Penggunaan kekuatan Angkatan Udara secara  besar-besaran  dilaksanakan  melalui  tindakan  penyerangan  untuk  mencapai tujuan.   Kemampuan mobilitas kekuatan Angkatan Udara dan penguasaan elektro-magnetik serta informasi memungkinkan untuk digunakan sebagai penindak awal di tempat kejadian ataupun untuk mendukung satuan kawan.

c. Asas Pendadakan.   Tindakan pendadakan dapat memberikan keuntungan baik militer maupun psikologis.    Melalui pendadakan, kekuatan Angkatan Udara sesuai dengan karakteristiknya mampu melakukan serangan pada waktu dan tempat yang tidak diduga sebelumnya oleh musuh, sehingga dapat menimbulkan kegoncangan atau kehancuran yang besar.

d. Asas Pengamanan.  Tindakan  pengamanan yang tepat dapat menjamin keamanan dan kerahasiaan operasi, meningkatkan keleluasaan bergerak, melindungi satuan sendiri serta menghindari jatuhnya informasi ke tangan lawan.

e. Asas Pemusatan Serangan.   Tindakan pemusatan serangan diarahkan pada “centre of gravity” lawan yang dapat membatalkan niat lawan untuk melanjutkan perang. 

f. Asas Ekonomis.   Penggunaan kekuatan secara tepat memungkinkan dilaksanakannya serangan terpusat pada saat kritis atas sasaran-sasaran terpilih tanpa menghambur-hamburkan sumber daya.

g. Asas Kesatuan Komando.  Kesatuan  komando akan lebih mengefektifkan penggunaan kekuatan dalam menghimpun berbagai misi operasi udara sebagai gempuran yang menentukan untuk menyerang musuh, dibawah satu tanggung jawab komando.

h. Asas Kesederhanaan.   Struktur komando, strategi, perencanaan, taktik, prosedur, dan perintah-perintah operasi udara harus jelas dan sederhana agar mempermudah pelaksanaannya.

i. Asas Kekenyalan.  Penggunaan kekuatan harus memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap situasi dan kondisi yang relatif cepat berubah. 

j. Asas Kohesi.   Penggunaan kekuatan harus didasarkan pada rasa kebersamaan yang tercipta melalui latihan-latihan yang sangat menentukan efektivitas satuan dalam pertempuran.

Baca juga:  LAPANGAN VOLLY

k. Asas Kesatuan Usaha.  Penggunaan kekuatan oleh satuan, baik yang terlibat langsung atau tidak langsung telah megetahui segenap tindakkan yang diperlukan dan diberlakukan, ikut berpartisipasi aktif dalam satu jaring operasi.

l. Asas Pemanfaatan Informasi.   Memonitor setiap perkembangan dan situasi serta kondisi yang aktual dan melaporkan informasi secara dini, mempercepat adaptasi terhadap setiap perubahan, serta senantiasa membina dan mengembangkan kesadaran masyarakat untuk melakukan respon dan lapor cepat.

m. Asas Manfaat.   Dalam penyelenggaraan perang udara dilaksanakan dengan mengerahkan segenap potensi nasional aspek udara dengan mengutamakan manfaat yang dapat diraih.

n. Asas Keunggulan Moril.  Keunggulan moril merupakan faktor penentu    keberhasilan tugas, dilandasi oleh motivasi yang kuat, semangat juang pantang menyerah, hubungan atasan dan bawahan yang kohesif, latihan yang keras, dukungan yang memadai dan prosedur operasional yang jelas.   Semangat pantang menyerah   dimaksudkan untuk tetap melakukan perlawanan terhadap kekuatan bersenjata musuh sampai memperoleh kemenangan.

 

36. Prinsip.   Dalam penggunaan kekuatan TNI Angkatan Udara diperlukan  suatu  strategi   yang  tepat  dan  terukur,  sehingga  mampu  menjamin   keberhasilan kampanye udara yang diselenggarakan. Untuk menjamin keberhasilan tersebut, penggunaan kekuatan harus senantiasa berpedoman kepada prinsip-prinsip sebagai berikut :

 

a. Sentralisasi Komando dan  Desentralisasi Pelaksanaan.   Penggunaan kekuatan merupakan gabungan dari berbagai kemampuan yang potensinya dapat diwujudkan secara penuh dan terpadu.   Pelaksanaan komando harus dilakukan secara sentral pada panglima/komandan dan pelaksanaannya harus didesentralisasikan pada satuan pelaksana operasi (komando dari panglima, sedangkan pelaksanaan/eksekusi oleh pelaksana operasi).

b. Keunggulan Udara.   Keunggulan udara merupakan persyaratan bagi keberhasilan pelaksanaan operasi darat, laut dan udara yang perlu direbut terlebih dahulu.

c. Tindakan Strategis dan Taktis.   Penggunaan kekuatan dalam tindakan strategis ditujukan untuk menimbulkan pengaruh yang bersifat vital bagi negara guna memenangkan perang.  Sedangkan penggunaan kekuatan dalam tindakan taktis ditujukan untuk menimbulkan pengaruh langsung di medan pertempuran.

d. Serang Potensi Perang Musuh.   Penyerangan terhadap potensi musuh meliputi semua tindakan  yang dapat menurunkan  kemampuan perang  musuh serta  merebut waktu dan ruang geraknya, sehingga musuh tidak dapat menggunakan kekuatannya secara efektif.   Tindakan ini dilakukan dengan serangan-serangan yang terkoordinasi terhadap potensi perang musuh, baik yang telah dilibatkan dalam pertempuran maupun yang masih dalam tahap  penyiapan.    Penerapan  tindakan ini harus  mempertimbangkan  keunggulan dan kekuatan musuh, mengetahui dengan jelas tujuan musuh, serta kebutuhan dan keterbatasan pasukan kawan yang beroperasi di darat atau laut.   Penyerangan potensi perang musuh dilakukan dalam bentuk :

1) Serang Musuh di Kedalaman.   Tindakan-tindakan strategis dan taktis yang terintegrasi dapat memberikan dampak ganda terhadap kemampuan musuh untuk meneruskan perang. Keberhasilan penyerangan strategis yang diarahkan di pusat ke dalaman kekuatan musuh, pada umumnya memberikan dampak psikologis langsung kepada musuh atau sekutunya.   Dampak ini mempengaruhi tindakan taktis, paling sedikit akan menunda aktivitas pasukan  musuh yang berada di garis depan dan menghambat kesiapan kekuatan cadangan untuk memasuki medan tempur.   Serangan di kedalaman harus mencakup semua sasaran jaringan gerak musuh beserta struktur komando dan pengendaliannya yang keseluruhannya digunakan untuk mengendalikan pasukan.

2) Penilaian Situasi Operasi Secara Terus Menerus.   Penggunaan kekuatan secara proporsional untuk penyerangan sumber-sumber kemampuan dan pasukan yang digelar musuh akan menentukan situasi operasi. Keberhasilan atau kegagalan operasi dapat memberikan pengaruh pada keseluruhan pelaksanaan perang.  Semua perencanaan harus dikoordinasikan, sehingga memiliki kekenyalan untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan perang.   Oleh karena itu penilaian situasi secara terus-menerus mutlak diperlukan.

Baca juga:  MESS JUPITER

e. Pertimbangkan Manfaat Penyerangan dan Pertahanan.  Kekuatan penyerangan mendapatkan beberapa keuntungan berupa inisiatif dalam menentukan waktu, tempat, kekuatan serta taktik penyerangan, sedangkan kekuatan yang bertahan harus menyiapkan diri terhadap segala kemungkinan.  Karakteristik kekuatan udara memberikan peluang yang lebih besar untuk menyerang, namun keuntungan dan kerugian menyerang dan bertahan harus dipertimbangkan. Dalam tindakan penyerangan dan pertahanan perlu mempertimbangkan :

1) Rebut Inisiatif.   Kekuatan udara dapat dengan cepat melakukan serangan hebat dan menghancurkan, serta dapat mengalihkan perhatian dan menahan tindakan ofensif musuh, bahkan dapat mengubah tindakan musuh dari menyerang menjadi bertahan.   Panglima/komandan dapat mengubah tindakan musuh dengan melakukan penyerangan yang akan memaksa lawan menjadi lebih bersifat reaktif dari pada berinisiatif. 

2) Pertahanan untuk Melindungi Inisiatif.  Kegiatan pertahanan harus dirancang terutama guna melindungi kemampuan panglima/komandan untuk mempertahankan inisiatif.   Panglima/komandan harus  mengambil semua tindakan yang memungkinkan untuk melakukan serangan balas dan  memegang kembali inisiatif menyerang apabila kawan telah berhasil memperoleh keuntungan awal. Pertimbangan kebutuhan untuk menyerang dan bertahan mempengaruhi cara panglima/komandan menyusun struktur kekuatan maupun tindakan-tindakan untuk mengatasi perlawanan musuh.

3) Susun Kekuatan yang Kenyal.  Untuk melaksanakan serangan balas, panglima/komandan harus memberikan perhatian yang sepadan terhadap kemampuan menyerang dan bertahan.   Kemampuan bertahan yang memadai akan melindungi kekuatan sendiri dan memberikan rasa aman terhadap tindakan penyerangan yang akan dilakukan.   Panglima/komandan harus dapat memadukan kemampuan menyerang dengan kemampuan bertahan dengan tepat.   Kemampuan menyeluruh kekuatan udara akan lebih mantap bila kekuatan-kekuatan yang terlibat dalam operasi udara mempunyai kekenyalan dalam melaksanakan tindakan penyerangan atau pertahanan.

4) Paksa Lawan untuk Bertindak Reaktif. Apabila pang-lima/komandan telah mengambil inisiatif, harus tetap dipertahankan dengan melakukan tindakan-tindakan penyerangan yang terencana, sehingga lawan tetap bertindak reaktif.

f. Manfaatkan Dampak Psikologi Kekuatan Udara.  Serangan udara dapat menimbulkan tanggapan dan reaksi yang emosional, baik dari angkatan bersenjata maupun seluruh rakyat  negara  yang  diserang  atau  para  sekutunya. Serangan  mendadak  dapat membatalkan rencana serta menciptakan kepanikan atau menghilangkan daya kohesi kekuatan musuh.   Dapat pula mengubah perimbangan kekuatan yang memaksa lawan untuk melepaskan tujuannya dan bahkan mungkin menawarkan perdamaian.

 

37. Strategi Penggunaan Kekuatan.   Strategi  penggunaan  kekuatan  TNI  Angkatan Udara  berupa rencana  umum penggunaan  kekuatan, baik pada masa perang, krisis maupun damai untuk melaksanakan tugas TNI matra udara, menegakkan hukum dan menjaga keamanan wilayah udara yurisdiksi nasional, serta pemberdayaan wilayah pertahanan udara.   Strategi penggunaan kekuatan terdiri atas strategi penggelaran dan strategi pelibatan kekuatan sebagai berikut :

 

a. Strategi Penggelaran Kekuatan.  Konsentrasi kedudukan kekuatan TNI Angkatan Udara selalu berada di pangkalan induk, selanjutnya akan digelar ke pangkalan-pangkalan operasi yang telah disiapkan dengan menganut bare base concept sesuai dengan sistem pertahanan udara.  Penentuan pangkalan operasi dan/atau aju dirancang sedemikian rupa dengan memperhatikan arah, sifat dan bentuk ancaman serta kondisi geografi Indonesia.  

b. Strategi Pelibatan Kekuatan.   Dengan berpedoman pada asas, prinsip penggunaan kekuatan dan perkiraan intelijen serta kemungkinan ancaman, maka pelibatan kekuatan Angkatan Udara menganut strategi sebagai berikut :

1) Strategi Penangkalan Udara.   Strategi ini dimaksudkan sebagai upaya menangkal atau  membatalkan  niat  musuh  untuk  melakukan  permusuhan  terhadap bangsa dan negara Republik Indonesia dengan cara memiliki dan menampilkan kemampuan yang tepat dan handal serta tekad yang kuat untuk menggunakannya.

2) Strategi Pengendalian Udara.   Strategi ini dimaksudkan sebagai upaya untuk merebut keunggulan udara, sehingga tetap mampu menjaga keamanan, melaksanakan penegakan hukum di wilayah udara yurisdiksi nasional, dan pencegahan serta penghancuran kekuatan penyerang udara musuh.

Baca juga:  PHATOLA SKADIK 504

3) Strategi Penyerangan Udara.    Strategi ini dimaksudkan sebagai upaya untuk melumpuhkan/menghancurkan sasaran terpilih dan untuk meruntuhkan kemauan berperang musuh.

4) Strategi Dukungan Udara.   Strategi ini dimaksudkan sebagai upaya untuk membantu kekuatan udara, darat, dan laut kawan dalam rangka meningkatkan daya gempur dan mobilitas pelaksanaan operasi. 

 

38. Palagan Pelibatan.   Penentuan jenis dan besarnya kekuatan TNI Angkatan Udara sesuai dengan pengembangan kemampuan dan kekuatan untuk memenangkan  perang  pada  palagan pelibatan yang  diatur  sebagai berikut :

a. Palagan Lapis III.    Palagan Lapis III terletak pada wilayah Internasional di luar  ZEE,  diproyeksikan  keluar  sampai  posisi  lawan  yang  ditujukan  untuk mengancam kedaulatan negara.   Kekuatan lawan yang ditujukan untuk mengancam kedaulatan negara dihancurkan di pangkalannya dan dalam perjalanan menuju wilayah nasional dengan pesawat tempur strategis.

b. Palagan Lapis II.    Palagan lapis II berada di luar laut teritorial, membentang di atas kawasan ZEE (dari batas garis ZEE ke dalam sampai dengan batas wilayah laut teritorial 12 NM), setiap ancaman yang akan memasuki wilayah nasional akan dihancurkan dengan pesawat tempur.  Sedangkan ancaman yang menggunakan wahana udara akan dihancurkan dengan pesawat tempur sergap dan rudal jarak sedang. 

c. Palagan Lapis I.   Palagan Lapis I berada  diatas daratan dan laut teritorial (dari garis batas wilayah laut teritorial 12 NM ke dalam).   Lawan yang berhasil melewati palagan lapis III dan II akan dihancurkan dengan pesawat-pesawat tempur, peluru kendali jarak pendek serta baterai-baterai penangkis serangan udara.

 

39. Pelaksanaan Penggunaan Kekuatan.  Pelaksanaan penggunaan  kekuatan TNI Angkatan Udara  ditujukan agar mampu melaksanakan  operasi militer baik secara mandiri maupun gabungan yang diselenggarakan oleh Tentara Nasional Indonesia. Penggunaan kekuatan TNI Angkatan Udara dalam operasi militer dilaksanakan untuk menghalau ancaman terhadap kepentingan nasional dengan mengerahkan kekuatan  udara  sesuai  dengan  sasaran,  waktu,  tempat,  dan  dukungan logistik yang telah ditetapkan sebelumnya melalui perencanaan terperinci.    Penggunaan kekuatan tempur TNI Angkatan Udara diwujudkan dalam kegiatan OMP dan OMSP meliputi :

a. Operasi Pertahanan Udara.  Operasi pertahanan udara bertujuan untuk menegakan hukum dan menjaga keamanan wilayah udara yuridiksi nasional sesuai dengan ketentuan hukum nasional dan hukum internasional yang telah diratifikasi.

b. Operasi Serangan Udara strategis.   Operasi serangan udara strategis dilaksanakan untuk mengamati, mengidentifikasi, menyerang dan menghancurkan sasaran-sasaran bernilai strategis yang merupakan centre of gravity guna menetralisasi kemampuan dan motivasi perang musuh dalam rangka perang.   

c. Operasi Lawan Udara Ofensif.   Operasi lawan udara dilaksanakan untuk  menghancurkan   ataupun   menetralisasi  kekuatan  udara  musuh   dalam rangka perang guna mendapatkan keunggulan udara di mandala operasi, sehingga operasi darat, laut, dan udara  kawan dapat terlaksana tanpa ada gangguan dan ancaman dari kekuatan udara musuh.

d. Operasi Dukungan Udara.   Operasi dukungan udara baik yang bersifat taktis maupun strategis, dilaksanakan untuk mendukung kekuatan darat, laut, udara, dan instansi lain yang sedang atau akan melaksanakan operasi  dalam  rangka  mencapai  keberhasilan  pelaksanaan  tugasnya.  Operasi dukungan udara juga ditujukan untuk menciptakan keberlangsungan (sustainability) perang yang sedang dilaksanakan.

e. Operasi Informasi.  Operasi informasi merupakan salah satu macam operasi yang penyelenggaraannya memadukan berbagai kemampuan intelijen, teknologi informasi, komunikasi dan elektronika, psikologi, infolahta dan penerangan.  Untuk mendapat hasil yang optimal, harus berpedoman pada pokok-pokok operasi informasi yang meliputi tujuan, sasaran, asas, batasan dan fungsi serta bentuk-bentuk operasi.  

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel