Berita

Di Desa Ngoto, Pendahulu TNI AU Gugur

Dibaca: 24 Oleh 26 Jul 2012Tidak ada komentar
Sukhoi Su-27
#TNIAU 

Nama Ngoto mungkin tak dikenal di kalangan warga TNI Angkatan Udara, jika seandainya nama desa di wilayah Kabupaten Bantul Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta itu tidak terekam dalam catatan sejarah TNI Angkatan Udara.

Dalam sejarah TNI Angkatan Udara, nama desa Ngoto memang erat kaitannya dengan peristiwa yang terjadi pada hari Selasa 29 Juli 1947 silam. Pada tanggal tersebut di Desa Ngoto, pendahulu TNI Angkatan Udara seperti Komodor Muda Udara A. Adisutjpto, Komodor Muda Udara Prof. Dr. Abdurrachman Saleh serta Opsir Muda Udara Adisoemarmo, gugur.

Gugurnya para pendahulu TNI Angkatan Udara, cerita Kepala Museum Pusat TNI Angkatan Udara Dirgantara Mandala Letkol Sus Drs. Sudarno, Rabu (25/7) bermula dari Operasi Udara yang dilancarkan para Kadet terhadap kekuatan pertahanan Belanda. Dalam peristiwa yang dilancarkan dini hari itu, tiga Kadet berhasil mengebom masing-masing kekuatan Belanda di Semarang, Salatiga dan Ambarawa.

Pengeboman di tiga sasaran tersebut membuat berang pihak Belanda, yang kemudian segera mengerahkan 3 buah pesawat Kitty Hawk untuk mengejarnya. Karena tidak berhasil menemukan jejak para kadet, pada sore harinya, Belanda dengan membabibuta menembak jatuh pesawat Dakota VT-CLA yang membawa bantuan obat-obatan dari Palang Merah Malaya untuk Palang Merah Indonesia. Pesawat yang terbang dari Singapura menuju Pangkalan Udara Maguwo itu jatuh terbakar di Desa Ngoto, karena keganasan pesawat Kitty Hawk Belanda.

Tak hanya para pendahulu TNI Angkatan Udara saja yang gugur dalam peristiwa ditembakjatuhnya pesawat VT-CLA itu, Pilot Alexander Noel Constantine, Co-Pilot Roy Hazelhurst, Bhida Rham dan Ny. Noel Constantine juga gugur. Termasuk Zainul Arifin, konsul dagang RI di Malaka. Semua penumpang pesawat VT-CLA gugur, kecuali seorang penumpang yang selamat bernama Abdul Gani Handonotjokro.

“Peristiwa ditembakjatuhnya pesawat VT-CLA menjadi pukulan berat bagi TNI AU pada waktu itu karena putra-putra terbaiknya gugur dalam tugas. Untuk mengenang dan mengabadikan peristiwa itu, setiap tanggal 29 Juli diperingati oleh warga TNI Angkatan Udara sebagai Hari Bhakti TNI Angkatan Udara,” terang Kepala Museum.

Kini di lokasi jatuhnya pesawat Dakota VT-CLA berdiri Monumen Perjuangan TNI Angkatan Udara. Di sanalah Komodor Muda Udara A. Adisutjpto dan Komodor Muda Udara Prof. Dr. Abdurrachman Saleh dimakamkan bersama istri masing-masing. Nama-nama mereka yang menjadi korban jatuhnya pesawat VT-CLA diabadikan pada salah satu sisi tugu di Monumen Perjuangan TNI AU itu. Dan di ujung selatan areal parkir Monumen Perjuangan TNI AU, replika bagian ekor pesawat Dakota VT-CLA dipasang.

Baca juga:  Setelah Kuker Dua Hari Di Lanud Rsn, Kasau Kembali Ke Jakarta

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel