Pustaka

DISIPLIN SEBAGAI FONDASI KESELAMATAN TERBANG DAN KERJA

Oleh 10 Sep 2014 Tidak ada komentar
c130 hercules indonesian air force approaching
#TNIAU 

DISIPLIN SEBAGAI FONDASI KESELAMATAN TERBANG DAN KERJA

“Ketidakdisiplinan akan merusak tatanan, aturan dan sistem. TNI AU butuh kedisiplinan untuk mewujudkan zero accident. TNI AU juga butuh prajurit yang disiplin dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya agar seluruh mekanisme yang ada bisa berjalan dengan normal. TNI AU butuh kedisiplinan untuk mewujudkan cita-citanya menjadi Angkatan Udara kelas satu (The First Class Air Force) di dunia”.

Di dalam dunia penerbangan pada umumnya dan penerbangan militer seperti yang dilaksanakan oleh TNI Angkatan Udara sehari-hari merupakan kegiatan yang sangat dinamis dan penuh dengan resiko serta dapat berakibat terjadinya accident maupun incident. Dari hasil penyelidikan terhadap berbagai kecelakaan pesawat yang terjadi, faktor manusia menempati peringkat pertama sebagai penyebab utama kecelakaan. Hal lain yang patut dicermati dari setiap accident, selalu ditemukan adanya pelanggaran (violation), kegagalan (error), dan kondisi yang tidak standar (substandard condition) baik yang sengaja maupun tidak sengaja dilakukan mulai dari pengambil keputusan, perencana operasi, pelaku (crew) maupun pendukung operasi penerbangan yang turut memberi konstribusi terjadinya kecelakaan. Terjadinya pelanggaran, kegagalan, dan kondisi yang tidak standar tersebut, menandakan terjadinya ketidakdisiplinan yang dilakukan oleh faktor manusia yang terdiri dari pengambil keputusan, perencana operasi, pelaku (crew) maupun pendukung operasi penerbangan tersebut. Jika kita sudah tidak disiplin, maka kegagalan dan kecelakaanlah yang akan kita dapatkan, karena disiplin sebagai landasan pokok atau fondasi Lambangja telah diabaikan.

Disiplin Sebagai Fondasi

Membangun Keselamatan Terbang dan Kerja sama halnya kita membangun sebuah rumah. Tidak ada rumah yang tidak mempunyai fondasi kecuali rumah pasir. Sekecil apapun rumah tersebut. Begitu juga dengan Keselamatan Terbang dan Kerja (Lambangja). Apa fondasi Lambangja? Menurut saya adalah disiplin. Jika kita ingin membangun keselamatan terbang dan kerja dengan cita-cita zero accident diibaratkan membangun sebuah rumah, harus kokoh terhadap goncangan, gempa bumi, badai, banjir dan lain sebagainya. Semakin tinggi bangunan, semakin dalam dan kokoh fondasi yang harus ditanam. Sama halnya dengan Lambangja, semakin tinggi tuntutannya agar zero accident terwujud selalu, maka disiplin harus semakin dalam dan kokoh tertanam di dalam pribadi setiap prajurit.

Berbicara tentang Lambangja tidak akan pernah ada habisnya selama setiap prajurit TNI AU bernafas, melakukan kegiatan dinas, baik itu terbang ataupun kerja yang menjadi tugas pokok dan kewajiban kita sehari-hari. Sebelum terjadinya accident/incident, maka fondasinya ini harus sangat diperhatikan dan sudah ditanam sedini mungkin dan sedalam mungkin. Karena disiplin inilah yang akan mengawal dirinya. Disiplin tidak hanya sekedar menepati waktu, menempatkan sesuatu pada tempatnya juga merupakan disiplin. Menaati peraturan dan prosedur juga disiplin. Disiplin adalah kata yang sangat mudah diucapkan tapi sulit untuk dilakukan.

Dalam pelaksanaan disiplin, tentu ada nilai kehidupan yang akan kita dapatkan. Jika kita berbicara tentang nilai, berarti bicara sesuatu yang tidak tampak. Lebih-lebih berbicara fondasi yang ada di dalam tanah. Karena tidak terlihat, seringkali nilainya dianggap sepele, soal biasa, atau dianggap tidak penting, yang akhirnya akan membuat kita mudah goyah dan melakukan pelanggaran-pelanggaran yang akan berujung kepada accident/incident.

Pendidikan Disiplin.

Setiap tahun, TNI AU melaksanakan rekruitmen prajurit untuk memenuhi kebutuhan organisasi. Ini merupakan masalah baru bagi TNI AU, karena setiap satu prajurit, akan bertambah pula beban TNI AU dengan satu prajurit yang mungkin tidak disiplin. Mengapa saya bilang begitu? Karena apabila prajurit tidak disiplin biasanya akan melahirkan keluarga tidak disiplin juga. Keluarga yang tidak disiplin akan mencetak anak yang juga tidak disiplin. Keluarga prajurit yang tidak disiplin, akan memperkuat ketidakdisiplinan organisasi TNI AU. Begitulah seterusnya, kultur tidak disiplin akan melahirkan generasi-generasi tidak disiplin. Dan akhirnya, ini akan membahayakan keselamatan terbang dan kerja. Jika keselamatan terbang dan kerja TNI AU sudah terancam, maka juga akan mengancam personilnya, alutsistanya dan akan memperlemah TNI AU di masa mendatang.

Untuk menanamkan disiplin di setiap prajurit TNI AU, seharusnya sudah dididik dari Pendidikan Dasar Prajurit (Diksarjurit) dan dilanjutkan Pendidikan Pertama (Dikma) prajurit. Setelah berdinas, disiplin harus terus dipupuk dan dikembangkan di kehidupan prajurit TNI AU dalam bentuk pelaksanaan. Prajurit sudah punya kesadaran untuk selalu disiplin dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya. Prajurit harus sudah mengerti tentang visi dan misi TNI AU yang harus dicapai, juga harus mengutamakan Keselamatan terbang dan kerja dalam melaksanakan setiap tugas yang diembannya. Mengerti akan tugas dan kewajiban itu merupakan salah satu bentuk disiplin. Karena jika seorang prajurit tidak mengerti akan tugas dan kewajibannya atau job description-nya, maka dia akan bingung dan apa yang dilakukannya akan kontra produktif sehingga akan menghambat kemajuan TNI AU untuk menjadi The First Class Air Force. Untuk itu, disiplin sudah harus ditanamkan sedini mungkin, agar adanya percepatan perkembangan dan kemajuan TNI AU dari waktu ke waktu.

Akibat Tidak Disiplin

Budaya tidak disiplin akan mengakibatkan dampak yang parah. Secara umum, bagi pemimpin mulai dari unit terkecil yang tidak memiliki fondasi disiplin yang kuat, yang berperan sebagai pembuat kebijakan dan pengambil keputusan, jika terlambat memberi respon maka keputusan yang diambil akan sia-sia. Atau jika pemimpin salah menempatkan orang, atau tidak sesuai dengan kecakapan dan profesinya, maka jelas akan menganggu kinerja dan akan menghambat percepatan untuk mewujudkan organisasi/kesatuan menjadi jauh lebih baik. Atau juga jika pemimpin salah dalam membuat kebijakan atau salah dalam mengambil keputusan, tentu anak buahnya secara hierarkis juga melakukan kesalahan dalam pelaksanaannya.

Sebagai prajurit, kita harusnya malu pada ayam yang disiplin berkokok di pagi buta. Tidak pernah terlambat karena kecapaian mencari makan seharian. Jika seorang prajurit terlambat masuk kantor, kinerja TNI AU tentu akan terganggu. Jika seorang prajurit terlambat menyerahkan laporan, masalah nya pun akan menjadi rumit. Terlambat pada satu hal, akan membuat rangkaian kegiatan dibelakangnya juga terlambat. Jika detik ini terlambat, maka detik-detik berikutnya akan mempelambat semua kegiatan berikutnya.

Dalam melaksanakan penerbangan, tidak disiplin akan mengakibatkan kecelakaan, menghilangkan nyawa manusia, menghancurkan alutsista dan yang pasti TNI AU, negara dan rakyat Indonesia akan mengalami kerugian besar. Maka dari itu, sangat diharapkan bagi pengambil keputusan, perencana operasi, pelaku (crew) maupun pendukung operasi penerbangan harus selalu disiplin dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya. Coba saja kita bayangkan, jika pengambil keputusan tidak disiplin, sangat dimungkinkan akan terjadi kesalahan dalam mengambil keputusan, seperti menyalahgunakan jabatan, anggaran, dan sumber daya manusia dan lain-lain yang ada di bawah kendalinya. Begitu juga bagi perencana operasi penerbangan, jika tidak disiplin, maka sangat dimungkinkan menyalahgunakan wewenang dan tanggung jawab yang diembannya, membuat perencanaan yang bisa merugikan TNI AU baik secara materil maupun immateril.

Sedangkan, bagi pelaku (crew pesawat), jika tidak memiliki fondasi disiplin yang kuat dalam jiwanya, maka sangat dimungkinkan akan terjadinya penyelewengan-penyelewengan dalam pelaksanaan operasi penerbangan, seperti menggunakan atau berada di bawah pengaruh narkoba dalam melaksanakan penerbangan, dan melakukan penyimpangan-penyimpangan lain yang bertentangan dengan aturan, doktrin dan norma baik yang berlaku. Bagi pendukung operasi penerbangan seperti petugas Air Traffic Control (ATC), meteorologi, teknisi pesawat, ground handling, dan sebagainya, juga wajib disiplin dalam membantu pelaksanaan kegiatan penerbangan agar teratur, lancar dan terhindar dari accident maupun incident.

Akhirnya, penulis berpendapat bahwa jika ada orang yang tidak disiplin, biarlah untuk dirinya sendiri. Tapi jika ia masuk ke suatu organisasi, apalagi TNI AU, yang ritme pekerjaannya dihitung dengan satuan detik, ketidakdisiplinannya akan merusak sistem. Karena ketidakdisiplinan akan merusak tatanan, aturan dan sistem baik yang sedang berjalan . TNI AU butuh kedisiplinan untuk mewujudkan zero accident. TNI AU juga butuh prajurit yang disiplin melaksanakan tugas dan kewajibannya agar seluruh mekanisme yang ada bisa berjalan dengan normal. TNI AU juga butuh kedisiplinan untuk menjadi handal dan juga menjadi.Angkatan Udara kelas satu (The First Class Air Force) di dunia.

Referensi bacaan :

  1. Road To Zero Accident TNI AU 2006-2010, For a Better Air Force, Dislambangjaau, 2007.
  2. Best Practice Character Building, Menuju Indonesia Lebih Baik, Erie Sudewo, 2011.
  3. Safety First, Oktoberiandi, Majalah Suara Angkasa, edisi 29 Juli 2011.
  4. Upaya Meningkatkan Pencapaian Zero Accident Dalam Rangka Mempertahankan Kesiapan Operasional Pesawat TNI AU Pada Masa Mendatang, Oktoberiandi, Karmil UKP 1 April 2012.
  5. Bahaya Narkoba Terhadap Lambangja, Oktoberiandi, Majalah Suara Angkasa, edisi Januari 2012.
  6. file:///F:/TNI/Disiplin Masih Tetap Berlaku bagi Prajurit.htm
  7. file:///F:/TNI/DISIPLIN ADALAH NAFAS PRAJURIT TNI.htm

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel