Berita

Dislambangjaau : Keselamatan Adalah Nomor Satu

Dibaca: 178 Oleh 24 Agu 2018Tidak ada komentar
Dislambangjaau : Keselamatan Adalah Nomor Satu
#TNIAU 

TNI AU. Anggota Lanud Sulaiman dan perwakilan dari jajaran insub Makorpaskhas dan Pusdiklat Paskhas mengikuti ceramah Lambangja dari Tim Survei Dislambangjaau, Jum’at (24/8), di gedung balai prajurit Cendrawasih, Lanud Sulaiman, Bandung.

Komandan Lanud Sulaiman Kolonel Pnb Tyas Nur Adi dalam sambutannya yang dibacakan Kadisops Letkol Lek Supriyadi menyampaikan bahwa sasaran yang hendak dicapai dalam pelaksanaan survei lambangja adalah untuk melihat sampai sejauhmana kemampuan personel dapat melaksanakan tugas pokok dan fungsinya, melihat kemampuan dukungan fasilitas, kelengkapannya terhadap tugas pokok satuan, dan melihat kondisi satuan baik untuk bidang operasi, pengamanan, dan lambangja.

”Dari survei tersebut diharapkan ada evaluasi yang dapat disampaikan sehingga kegiatan survei lambangja kali  ini dapat dijadikan bahan acuan untuk menekan semaksimal mungkin terjadinya accident sehingga tercapai zero accident,” kata Kadisops saat membacakan amanat Danlanud.

 Letkol Tek Andry Firmansyah selaku Kalablambangja  Subdisbinlambangja Dislambangjaau menyampaikan bahwa survei yang dilaksanakan selama dua  hari tersebut pihaknya telah melakukan pengumpulkan data yang diperoleh dari Lanud Sulaiman beserta jajaran skadik, Makorpaskhas, dan Pusdiklat paskhas.  Tujuannya adalah untuk mengungkap sejauhmana kecenderungan dan perilaku personel terhadap manajemen safety.

Dalam paparannya disampaikan pula bahwa kasus yang menonjol di TNI AU untuk saat ini adalah tentang kecelakaan lalu lintas. Penyebabnya, disebabkan oleh empat faktor, yaitu manusia, kondisi kendaraan, alam, dan minimnya ilmu tentang etika berlalu lintas. Faktor manusia bisa diakibatkan dari kelalaian,manajemen waktu, tidak menggunakan helm SNI, tidak konsentrasi, ngantuk, lelah, kondisi badan tidak fit dan tetap memaksakan mengemudi/ mengendarai motor sehingga dapat menyebabkan kecelakaan. Faktor kendaraan, yaitu menggunakan kendaraan yang tidak layak seperti karena ban gundul, lampu tidak menyala, rem tidak pakem, jumlah barang atau orang yang tidak seimbang dengan volume jalan, dan lain-lain.

Baca juga:  200 Kantong Darah Disumbangkan TNI AU Bakorda Bandung

Faktor alam, diantaranya karena kondisi jalan atau lingkungan, seperti jalan yang rusak, adanya tikungan yang tajam, jalan menanjak atau menurun, longsor, pohon tumbang, dan volume jalan tidak seimbang dengan jumlah kendaraan. Sedangkan faktor ilmu tentang undang-undang lalu lintas yang minim seperti penguasaan jalan dan kendaraan, rambu dan tanda lalu intas, serta etika dan kesopanan di jalan raya turut menyebabkan terjadinya kecelakaan lalu lintas. ”Pesan moral yang  disampaikan pada paparan ini adalah, jadilah personel yang selalu siap mendukung terciptanya budaya tertib hukum dan tertib berlalu lintas di Lanud Sulaiman demi terciptanya Indonesia yang tertib, bersatu dan keselamatan adalah nomor satu,” Jelas pemapar.

Sedangkan Mayor Tek A. Tahir dalam paparannya menyampaikan tentang effective safety reporting yang meliputi Information, Flexibility, Learning, Accountability, dan Willingness. Information, yaitu orang-orang yang dapat mengetahui tentang faktor 5M serta yang menentukan safety secara keseluruhan. Flexibility, yaitu pelaporan dapat menyesuaikan dari model yang sudah ada ke model  langsung (online), sehingga memungkinkan untuk segera mencapai tingkat pengambilan keputusan yang tepat. Learning, yaitu pembelajaran bagi seluruh personel sehingga diharapkan memiliki kemampuan untuk dapat menarik kesimpulan dari informasi yang didapat dan adanya keinginan untuk melaksanakan perubahan besar. Accountability, yaitu seluruh personel didorong untuk memberikan informasi penting terkait safety (dan diberi penghargaan). Namun perlu adanya garis tegas yang membedakan antara informasi yg dapat dipercaya dan yang tidak dapat dipercaya. Sedangkan Willingness, yaitu orang-orang secara sukarela bersedia melaporkan kesalahan dan pengalaman mereka.

Baca juga:  Kodiklatau Adakan Sosialisasi Validasi Organisasi di Lanud Adi Soemarmo

 Selain itu dipaparkan pula tentang hubungan reporting system terhadap peningkatan safety culture, data accident pesawat TNI AU 2000 – 2017, Heinrich  Pyramid Accident menurut Herbet William Heinrich (1886 – June 22, 1962) sebagai salah satu pelopor keselamatan industri Amerika dari tahun 1930an. Dia adalah Superintendent of the Engineering and Inspection Division of Travelers Insurance Company yang kemudian mengembangkan studi empiris didalam bukunya Industrial Accident Prevention,  A Scientific Approach pada tahun 1931 yang kemudian dikenal dengan Heinrich’s Law atau istilah lain yang dikenal dikalangan praktisi dan akademisi dengan Safety Triangle/Classic Safety Pyramid/Accident Ratio.  Heinrich’s Law menjelaskan bahwa  untuk setiap 300 non-injury accident dapat mendorong terjadinya 29 Minor Injuries (Cidera ringan) dan dari setiap 29 minor injuries (luka ringan) akan mendorong terjadinya 1 Major injury (Cidera Berat/ Kematian).

Kesimpulan dari paparan tersebut, yaitu pelaporan setiap kejadian incident/accident dibutuhkan untuk pencegahan kecelakaan. Pelapor banyak mengalami hambatan dalam melaporkan kejadian incident/accident yang di alami. Para atasan perlu mendorong dan memberikan penghargaan terhadap setiap pelapor dan menindaklanjuti setiap laporan. Penerapan reporting system diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas budaya safety dan risk management di satuan. Penerapan manajemen resiko perlu dilaksanakan daalm setiap jenis pekerjaan.

Baca juga:  Berhasil Susun Rentinkon Koopsau I, Tandai Akhir Kuliah Kerja di Koopsau I

Selain Letkol Tek Andry Firmansyah dan Mayor Tek A.Tahir, tim survei dan sosialisasi dari Dislambangjaau yang melaksanakan tugas survei ke Lanud Sulaiman beserta jajaran skadik, Makorpaskhas dan Pusdiklat Paskhas diikuti pula oleh Letkol Pnb Hajar Mahendratara dan Mayor Tek Bambang Suwito.

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel