Pustaka

DUA BELAS LANGKAH CEGAH ACCIDENT

Dibaca: 336 Oleh 27 Jan 2014Tidak ada komentar
M 458 NA B 25 Mitchell Indonesian Airforce 7168661149
#TNIAU 

DUA BELAS LANGKAH CEGAH ACCIDENT

Dua pesawat tim aerobatik Inggris Red Arrows, bertabrakan saat melakukan manuver di atas pulau Crete, Yunani. Tabrakan dua pesawat jenis Hawk yang mengakibatkan seorang pilot terluka dan sebuah pesawat jet hancur itu terjadi pada Mei 2010 lalu.  Kejadian serupa kembali terulang atas dua pesawat tempur Amerika Serikat, jenis F-16C.  Dua pesawat dari Wing K-113 D.C bertabrakan di udara saat melakukan latihan rutin pada Kamis malam  Juli 2013 lalu.

Peristiwa yang mirip juga pernah terjadi di Indonesia pada tahun 2002.  Dua pesawat Hawk MK-53 TNI AU Skadron Udara 15 Lanud Iswahjudi, Madiun, yang sedang melaksanakan aerobatik  bersenggolan di udara.  Akhirnya kecelakaan dua pesawat tersebut pun tak dapat dicegah

Yang menarik hasil penyelidikan dalam contoh accident tersebut, selalu ditemukan unsur pelanggaran (violation), kegagalan (error) dan kondisi yang tidak standar (Substandard Condition), baik yang sengaja dilakukan maupun tidak sengaja dilakukan, mulai dari pengambil keputusan, perencana operasi, pelaku (crew) maupun pendukung operasi penerbangan.  

Pada tahun 1990, Profesor James Reason dalam buku The Dynamic of Incident Causation menganalisa bahwa dalam suatu kasus kecelakaan, selalu  didahului berbagai kegagalan (failures). Ia mengelompokkan kegagalan-kegagalan tersebut menjadi dua kelompok, yaitu kegagalan yang bersifat laten dan kegagalan yang bersifat aktif.

Hasil analisanya menunjukkan bahwa kegagalan laten terjadi mulai dari tingkat organisasi, lingkungan kerja serta budaya kerja. Sementara kegagalan yang bersifat aktif terjadi pada saat awak pesawat mengoperasikan alutsistanya hingga terjadinya kecelakaan.

Faktor manusia –awak pesawat dan personel pendukungnya– tidak saja berperan pada kegagalan aktif saja, melainkan juga pada kegagalan laten yaitu para pengambil keputusan dan penentu kebijakan organisasi, perencana serta kontrol terhadap operasi penerbangan. Dengan demikian, kegagalan laten juga menjadi faktor yang memicu terjadinya pelanggaran dan kegagalan yang dilakukan oleh operator (awak pesawat) serta kondisi yang tidak standar bagi terselenggaranya penerbangan secara aman.

Beberapa contoh kecelakaan menyebutkan bahwa saat kritis yang berpotensi accident utamanya pada masa pendaratan, saat masuk awan dan tidak dikuasainya  prosedur dengan baik. Tetapi jika penyebab tersebut hanya ‘dibatasi’ pada kesalahan awak pesawat saja, maka penyebab kecelakaan tidak akan dapat secara tuntas diungkap sehingga pencegahan ke depan juga tidak akan dapat dilaksanakan secara efektif. 

Baca juga:  128 Calon Perwira Prajurit Karier TNI Dinyatakan Lulus

Faktor manusia sangat erat kaitannya dengan culture (budaya). Budaya untuk selalu menerima perintah atasan secara bulat-bulat tidak dapat sepenuhnya bisa  diterapkan dalam dunia penerbangan. Jika seorang komandan skadron udara menerima perintah atasan untuk melaksanakan suatu misi, sementara kondisi alutsistanya kurang memadai kesiapannya akan berpotensi menimbulkan pelanggaran yang pada akhirnya menyebabkan accident/incident.

Atau jika seorang Perwira Lambangja di skadron udara tidak berani memberi saran kepada atasan tentang suatu potensi accident/incident berkaitan dengan suatu rencana penerbangan, karena yang bersangkutan seorang penerbang yunior baik dari pangkat ataupun kualifikasi, maka akan berakibat fatal yang menimbulkan kecelakaan akhirnya.

Ciptakan Barrier/Safety Net

Manusia adalah faktor yang unik dalam suatu sistem apapun. Di samping memiliki fleksibelitas yang tinggi, manusia juga merupakan sistem yang paling lemah, paling sensitif terhadap berbagai perubahan, termasuk tekanan. Manusia dalam menampilkan performa terbaiknya sangat dibatasi oleh human behaviour dan human limitation. Dalam kondisi fatigue, workload yang tinggi dan stress seorang awak pesawat akan kehilangan performa terbaiknya dan rentan untuk melakukan unsafe action.

Dari semua terjadinya accident/incident yang sangat diperlukan adalah barrier atau safety net. Manusia selain sebagai faktor yang dapat menimbulkan terjadinya accident/incident, juga memiliki kemampuan untuk menciptakan barrier/safety net berupa pengambilan keputusan yang tepat, pemberian tugas yang proporsional, perencanaan operasi penerbangan yang cermat, kontrol yang efektif serta pemberian dukungan bagi terciptanya budaya Lambangja yang baik.

Pada satu kasus kecelakaan pesawat TNI AU dalam suatu latihan terungkap bahwa sistem pembinaan latihan tidak dilaksanakan dengan baik, sehingga hasil akhirnya adalah accident yang disebabkan kegagalan penerbang  mengantisipasi keadaan tertentu. Sebenarnya hal ini dapat dicegah jika faktor manusia yaitu perencana latihan dan mengambil keputusan di lingkungan tersebut mampu menggunakan wewenangnya sebagai barrier/safety net. Berdasarkan studi, dalam satu accident  sering kali telah diawali dengan kejadian beberapa incident sebelumnya.

Baca juga:  MIG-21 FISHBED AURI; BENTENG INDONESIA YANG AMPUH

Namun demkian, tanggung jawab seorang manusia (Komandan) bukan berarti mengambil alih tanggung jawab secara total dengan segala konsekuensinya dan menutupi kejadian, terutama incident untuk menjaga kredibilitasnya. Karena tertutupnya suatu incident hanya akan menyembunyikan fakta tentang symptom terjadinya accident, sehingga upaya pencegahan akan terhambat.

Hal yang perlu dilakukan

Setiap personel TNI AU dalam rangka mengurangi terjadinya accident yang disebabkan oleh faktor Manusia,  dapat melakukan dua belas langkah berikut ini : 

1. Detect mistakes, errors, failures and or anomaly yaitu mendeteksi terjadinya kesalahan dan atau kelainan lainnya segera setelah terjadi, baik dari dirinya sendiri, crew lain atau pendukung lainnya.

2. Correct and compensate for errors yaitu melakukan koreksi dengan segera terhadap kesalahan. Tetap bersikap tenang, walaupun menghadapi situasi darurat (emergencies) atau kritis.

3. Communicate their assesment yaitu mengkomunikasikan kesalahan yang dideteksinya, tanpa menunda lebih lama kepada anggotanya. Menyampaikan pesan secara lugas, tanpa perlu emosional.

4. Stay mentally ahead yaitu siap secara mental untuk melaksanakan tugas, baik dalam mengawaki pesawat ataupun manakala melaksanakan misinya. Menunjukkan sikap produktif secara mental, mudah untuk berkonsentrasi dalam melaksanakan tugasnya.

5. Prevent the threats yaitu mencegah munculnya kesalahan, yang bersifat potensial, baik dari dirinya sendiri maupun anggotanya. Mampu mengendalikan diri dan mengatur anggotanya. 

6. Attitude of wariness yaitu bersikap waspada terhadap kesalahan, system anomalies, kerusakan dan conflicting goal. Dengan kata lain, menunjukkan kepekaan terhadap situasi yang dihadapinya (situational awareness). 

7. Confidence yaitu memiliki kepercayaan diri, yang bersangkutan merasa bahwa kesalahan dan kegagalan yang terjadi dapat dikendalikan.

8. Say no yaitu berani berkata “tidak” untuk beroperasi dalam kondisi marginal, bertahan terhadap tekanan cultural, operasional dan paksaan organisasi. Ini juga merupakan sikap lugas, bukan agresif atau pun submisif (mengalah pada orang lain).

9. Apply superior wisdom yaitu bersikap bijaksana menggunakan pengetahuan dan judgement untuk menghindari situasi yang menuntut keterampilan yang luar biasa (superlative skills).

10. Exert a stabilizing influence yaitu kemampuan untuk menenangkan orang lain  manakala terjadi anomali dalam sistem atau manakala terjadi konflik. Kepemimpinan dan kemampuannya dalam mengendalikan orang lain sangat menentukan dalam hal ini.

Baca juga:  Geliat Inkopau Menuju Pasar Bebas

11. Maintain an attitude of opennes yaitu bersikap terbuka  terhadap saran dan pertanyaan dari anggota; serta mendukung anggota tim. Sikap open mind seperti ini membuat anggota atau mitra kerjanya tidak sungkan atau ragu-ragu dalam mengekspresikan sikap atau pemikirannya.

12. Adapt readily yaitu kemampuan beradaptasi, terhadap tuntutan kinerja atau pun kondisi-kondisi lingkungan profesinya. Dalam kondisi-kondisi yang luar biasa atau emergency sekalipun, yang bersangkutan mudah untuk menghadapinya.

Harapan

Penulis berharap, semoga tulisan ini dapat memberi manfaat bagi kita semua dalam mewujudkan Keselamatan Terbang dan Kerja dalam setiap pelaksanaan operasi penerbangan di lingkungan TNI AU khususnya, setiap penerbangan pada umumnya. Setiap insan yang berhubungan dengan dunia penerbangan, termasuk setiap prajurit udara, pastilah semuanya berharap bahwa setiap misi penerbangan yang sudah menjadi tugas dan kewajiban akan terlaksana dengan baik, berhasil dan selamat, atau kita kenal dengan bahasa keudaraan tidak terjadi accident maupun incident, sebaliknya tercapailah zero accident.

Tentu kita semua sangat mengharapkan dan selalu berupaya agar Zero Accidents tidak hanya sekedar menjadi slogan, tapi benar-benar terwujud tanpa pernah lagi kita mendengar adanya korban yang disebabkan kecelakaan dalam pelaksanaan setiap operasi penerbangan. Sekali lagi, hal tersebut merupakan harapan dari semua orang yang terlibat, mulai dari awak pesawat, penumpang, institusi TNI Angkatan Udara, bahkan juga pemerintah.

KITA CINTA TNI AU, KITA CINTA TNI, KITA CINTA INDONESIA!
JAYALAH ANGKATAN UDARA KITA, JAYALAH INDONESIA RAYA!
SALAM INDONESIA JAYA!

Kapten PNB Oktoberiandi. 

Referensi :

  1. Road To Zero Accident TNI AU 2006-2010, For A Better Air Force, Dislambangjaau, 2007.
  2. Orientasi Psikologi Penerbangan, Dinas Psikologi TNI AU, 2005.
  3. http://ilmuterbang.com/artikel-mainmenu-29/keselamatan-penerbangan-mainmenu-48/661-mengenal-human-errors
  4. http://noviantoherupratomo.blogspot.com/2012/02/human-error-dalam-penerbangan.html
  5. http://www.merdeka.com/dunia/dua-jet-tempur-f-16-amerika-tabrakan-di-udara-saat-latihan.html
  6. http://news.liputan6.com/read/269267/lakukan-manuver-dua-pesawat-akrobat-inggris-tabrakan
  7. Dan lain-lain.

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel