Pustaka

“Empat Brimob Tewas di Poso, Perlu pelibatan Satuan Anti Teror TNI”

Dibaca: 327 Oleh 02 Jan 2013Tidak ada komentar
21722ef118dabb8b34f8ca385dddf40d
#TNIAU 

Situasi Poso kembali memanas dan mengkhawatirkan. Pada Kamis (20/12/2012) sekitar pukul 10 Wita, telah terjadi baku tembak antara anggota Brimob-Polda Sulawesi Tengah dengan sekelompok orang bersenjata di Desa Kalora, Tambarana, Poso Pesisir, daerah Gunung Klora. Dalam baku tembak tersebut empat anggota Brimob tewas.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Boy Rafli Amar, di Mabes Polri, Jakarta menyatakan, “Jumlah petugas yang tewas jadi empat orang. Atas nama Briptu Ruslan, Briptu Wayan Putu, Briptu Winarto, dan yang baru Briptu Siswandi,” katanya Kamis (20/12). Boy menjelaskan, rincian yang tertembak, atas nama Briptu Ruslan tertembak di kepala, Briptu Winarto dan Briptu Wayan Putu tertembak di dada. Sementara, Briptu Siswandi tertembak di leher tembus kebelakang.

Kronologis kejadian, bermula saat satu team Brimob sedang berpatroli, kemudian berpapasan dengan kelompok yang mencurigakan. Mereka berupaya menyergap, dan terjadi baku tembak. “Mereka melihat sekelompok orang, kemudian didekati, tetapi tiba-tiba kelompok orang tersebut menembak anggota brimob yang sedang patroli tersebut. Diduga mereka menggunakan senjata laras panjang soalnya mereka menembak dari jarak jauh,” kata Kabagpenum Mabes Polri, Kombes Pol Agus Rianto di Jakarta (20/12).

Usai kontak senjata yang menewaskan empat anggota Brimob tersebut, petugas gabungan TNI dan Polri langsung menyisir wilayah Kalora. Perburuan dilakukan di seputaran Gunung Taswinuni, Desa Kalora, yang diduga menjadi lokasi pelarian kelompok sipil bersenjata. Hasilnya, satu orang warga asal Bima, NTB, diamankan sementara karena diduga sebagai pelaku. Polisi hingga kini masih mengejar delapan pelaku lainnya yang berhasil melarikan diri. Setelah berhasil menembak anggota Brimob, para penyerang membawa lari satu pucuk senjata SS milik Briptu Ruslan yang jatuh dari sepeda motor setelah ditembak.

Perkembangan negatif situasi keamanan di Poso kini menjadi lebih serius, dimana beberapa anggota Polri telah menjadi korban pembunuhan. Tanggal 16 Oktober 2012, dua anggota polisi Poso ditemukan tewas mengenaskan dalam satu lubang di daerah Tamanjeka, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Poso, Sulawesi Tengah. Pada hari Kamis pagi (15/11), rumah dinas Kapolsek Poso Pesisir Utara, Iptu Taruklabi, ditembaki orang tidak dikenal. Kapolsek berhasil selamat.

Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri terus melakukan penyisiran, dan pada Rabu (31/10) berhasil menangkap tiga terduga teroris, satu orang di antaranya tewas dalam baku tembak di Desa Halora, Kecamatan Poso Pesisir Utara. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai menjelaskan, terduga teroris yang tewas itu bernama Jipo asal dari Pesantren Umar bin Khatab, Bima, Nusa Tenggara Barat, dan sudah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) kasus teroris.

Pada hari Sabtu (2/11/2012), Densus 88 Antiteror berhasil melakukan penyergapan dua terduga anggota kelompok teroris. Menurut Karo Penmas Polri Brigjen Boy Rafli Amar, yang ditangkap hidup bernama Sutomo bin Sudarto alias Mohamad Yasin dan yang ditembak mati atas nama Abdul Halif Tumbingo alias Kholid.

Boy menjelaskan, mereka diketahui berhubungan dengan buronan terduga tokoh teroris Santoso dan membuat tempat latihan teroris di Poso. Keduanya mengajak kelompok teroris Solo pimpinan Badri Hartono untuk melatih pembuatan bom terhadap kelompok Poso. Bahkan, Abdul Halif juga berperan menampung peserta pelatihan teror dari Bima, Nusa Tenggara Barat. Kepala BNPT Ansyaad mengatakan penangkapan terduga teroris itu adalah terkait dengan pengejaran terhadap buron terduga teroris Santoso dan Upik Lawanga. Jadi besar kemungkinan kelompok yang melakukan penembakan dan menewaskan empat anggota Brimob tersebut adalah kelompok binaan Santoso.

Menanggapi jatuhnya korban dikalangan Bimob, Presiden SBY menyatakan bahwa situasi di Poso harus ditangani lebih serius oleh Polri dan dibantu TNI sesuai UU. Tidak dibenarkan adanya kelompok bersenjata liar di Indonesia.

Memang Poso akan kembali bergolak, apabila tidak ditangani dengan lebih tegas, kelompok teroris sudah lebih menguasai kawasan, seperti yang dikatakan oleh Brigjen Boy Rafli, para teroris bahkan sudah memasang ranjau di beberapa kawasan hutan yang sangat berbahaya. Apabila situasi terus memanas, nampaknya TNI perlu menawarkan penugasan pasukan anti terornya yang mahir dalam perang hutan dan perang gerilya untuk dioperasikan di Poso.

Dilain sisi, Polisi sebaiknya meminta pasukan khusus anti teror TNI yang pada dasar hukumnya merupakan bagian dari Satgas Penindakan didalam organisasi BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme). Ini hanya masukan, untuk menghindari jatuhnya korban lebih banyak dikalangan Polri. Baku tembak yang menewaskan empat Brimob, tiga luka-luka, tanpa adanya korban jatuh dikalangan teroris, membuktikan bahwa kelompok teroris lebih menguasai daerah operasi dan perang hutan di hutan Poso.

Baca juga:  Honeywell Ingin Terlibat dalam Industri Penerbangan Indonesia

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel