Pustaka

EMPAT MEDALI EMAS UNIFIL BAGI INDONESIA

Oleh 12 Agu 2014 Tidak ada komentar
c130 hercules indonesian air force approaching
#TNIAU 
EMPAT MEDALI EMAS UNIFIL BAGI INDONESIA

Gembira campur cemas setelah dengan susah-payah berhasil melalui serangkaian tes seleksi. Untuk menjadi bagian dari Satuan Tugas Indonesia Batalyon Mekanis.

Kontingen Garuda XXIII-D/ UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon). Atau yang lebih dikenal dengan nama INDOBATT. Indonesian Battalion pada Operasi Pemeliharaan Perdamaian PBB di Lebanon Selatan.

Rasa bangga menyeruak sebab dipercayakan Pimpinan Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk turut serta berperan aktif. Dalam sepak-terjang TNI di kancah Internasional. Seperti dalam misi perdamaian PBB di Selatan Lebanon, Timur Tengah.

Awalnya, ada kebimbangan yang berkecamuk didalam hati. Apalagi mengingat anak satu-satunya Miracle Marjoko (5 tahun) harus ditinggalkan. Selama menjalankan tugas Negara ini.

Namun, dengan pertimbangan, adanya dua kali kesempatan cuti ke Tanah Air, maka pilihan kujatuhkan pada tugas ini. Selain itu, bercermin dari pengalamanku selama ini.

Dengan adanya kesempatan ini, akan membentuk anak-ku menjadi mandiri dan dapat survive dalam segala keadaan.

Hal ini kusiasati dengan tetap bersamanya selama sebulan penuh. Sebelum keberangkatanku ke Lebanon, sambil memberikan pengertian kepadanya.

Bahwa ibunya akan melaksanakan tugas misi perdamaian di LN dalam waktu yang cukup lama. Pengertian ini jugalah yang menjadikan anakku sedemikian tenangnya.

Saat melepas keberangkatan ibunya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Tangerang, pada November 2009.

Walaupun akhirnya, saya mendengar kabar. Bahwa setelahnya di rumah, tumpah juga air-matanya mengingat ibundanya.

Perlu diketahui, Kontingen Garuda Indonesia pada tahun 2009-2010 berkekuatan 1326 personil militer. Dan berdasarkan Surat Perintah Panglima TNI Nomor Sprin/ 2438/ XI/ 2009 tanggal 17 Nopember 2009.

Tentang Perintah Untuk Melaksanakan Tugas Operasi Pemelihara Perdamaian UNIFIL di Lebanon, hanya ada lima (5) Wanita TNI yang bertugas diantara 1326 personil militer pria. 

Kapten (Sus) Sanra Michiko Moningkey; satu-satunya Perwira WARA (Wanita Angkatan Udara) yang tergabung dalam Indobatt.

Bermarkas di UN Position 7-1 di desa Adshit Al-Qusayr. Jauhnya dua jam seperjalanan dari Markas Besar UNIFIL di Naqoura. Daerah pesisir pantai dekat kota Tyre.

Akhirnya, tibalah waktu keberangkatan kami. Perjalanan bertugas ke LN merupakan pengalaman pertama bagiku. Dan kunantikan dengan penuh doa harap serta bertekad untuk menyelesaikannya sebaik mungkin.

Sebagai Perwira Penerangan (Public Information Officer), saya telah menikmati beberapa kali mutasi di TNI AU.

Di mulai sejak berdinas pertama kali di Lanud El-Tari Kupang sebagai Kapentak. Selanjutnya ke Kosekhanudnas I Jakarta. Pindah ke Dispenau, Lanud Sam Ratulangi Manado. Dan terakhir di Koopsau I di Jakarta.

Setibanya di Selatan Libanon, tepatnya didesa Adshit Al Qusayr, Al Janub, Lebanon; pada pertengahan November. Di akhir tahun 2009, udaranya sangat tidak bersahabat, dingin menusuk tulang.

Walaupun sudah menggunakan jaket dan selimut tebal, masih saja terasa dingin. Cuaca dan iklim yang berbeda merupakan satu-satunya tantangan yang paling menyiksa dan diluar kebiasaan.

Sebab, udara dingin dengan temperatur yang rendah merupakan musuh terbesar bagi orang Asia Tenggara yang berada di garis khatulistiwa. Dan yang terbiasa dengan dua musim.

Perjalanan konvoi dilakukan dengan menggunakan bus-bus MOVCON UNIFIL. Merayap perlahan menelusuri perbukitan pada tenga malam.

Perjalanan siang hari tidak direkomendasikan. Seperti yang telah tercantum pada SOP (Standart Operation Procedures).

Lingkungan baru, situasi dan kondisi yang semuanya serba asing, menuntut saya untuk segera menyesuaikan diri.

Awalnya, beradaptasi dengan keadaan merupakan satu-satunya jalan. Selanjutnya dengan sendirinya dapat menyesuaikan dengan irama penugasan dan survive.

Satu hal yang paling berkesan adalah saat diperintahkan oleh Komandan Indobatt  Letkol Inf Andi Perdana Kahar. Untuk mengikuti Competition Table-Tennis Intercontingent UNIFIL.

Walaupun udara dingin menusuk tulang, namun dengan berbekal tekad baja untuk menang dan untuk membawa nama baik bagi Negara Indonesia, tetap saja latihan menjadi makanan sehari-hari.

Teringat, berjalan melalui hamparan tanah lapang dengan melawan kencangnya angin. Ditambah temperatur yang rendah. Sebab pertandingannya digelar setelahnya lewat Tahun Baru 2010.

Pengalaman yang tak terlupakan. Namun akhirnya, usaha tidaklah sia-sia. Medali emas baik ganda maupun single, dapat saya raih dalam pertandingan seminggu itu.

Yang paling berat adalah saat berhadapan dengan personel dari China, dengan angka yang saling berkejaran sampai dengan poin 25-24. Prestasi ini tidak hanya sampai disini namun empat medali emas.

Serta satu medali perunggu, kupersembahkan bagi Indonesia dalam pertandingan. Betapa bangganya dapat membela Merah-Putih dalam olimpiade kecil antar bangsa-bangsa di Lebanon Selatan.

Mengenai tugas, saya harus mampu melakoni banyak hal. Deskripsi pekerjaan seorang Papen sudah pasti akan selalu berhubungan dengan banyak media massa.

Mulai dari pembuatan siaran pers satuan Indobatt yang faktual, aktual, informatif, objektif, akurat dan menarik. Hingga menghubungkan media yang berniat untuk melakukan wawancara dengan Komandan Indobatt.

Tugas sebagai Papen penuh dengan tantangan yang tidaklah sedikit. Disamping bagaimana berupaya menjadi prajurit wanita yang dapat menyesuaikan diri. Di tengah lingkungan kerja yang seluruhnya prajurit pria.

Di sisi lain adalah bagaimana menampilkan profesionalime kerja sebagai seorang perwira wanita yang membawa citra Satgas.

Harus pandai-pandai membawa diri, tidak minta diistimewakan namun tidak juga melawan kodrat sebagai wanita.

Dunia Penerangan Militer,  tidaklah jauh bedanya dengan seorang humas dalam dunia kerja pada umumnya.

Bidang ini mengajarkan tentang seluk-beluk hubungan masyarakat. Namun juga yang paling penting adalah tentang hubungan antar-manusia.

Dari sekian banyak pengalaman sebagai Kepala Penerangan. Ditemukan bahwa selain dituntut penampilan full senyum yang dapat membangkitkan mood positif bagi orang sekitar.

Tetapi juga harus dipadu dengan kapasitas dan skill yang mumpuni.

Harus mampu bertindak selaku duta keramahtamahan bangsa Indonesia yang terkenal dengan kesopansantunannya. Sebagai pencitraan yang mewakili prajurit Indonesia.

Pendekatan yang berempati dengan masyarakat Lebanon sangatlah diperlukan, sebab lingkungan yang pernah alami konflik sangatlah berbeda sikonnya.

Dan ilmu yang terpenting yang harus digenggam adalah kemampuan untuk mendengar dan mengamati lingkungan sekitar.

Kemudian menuangkannya dalam bentuk siaran pers sebagai satu-satunya informasi per-satu berita yang dibutuhkan oleh masyarakat lokal dan Internasional.

Tugas ini sedemikian pentingnya sehingga masyarakat dunia dapat mengetahui. Hal-hal apa saja yang telah dikerjakan di Selatan Lebanon wilayah Timur-Tengah.

Selanjutnya dapat menghargai kiprah Kontingen Garuda Indonesia yang mengarah pada kesatuan pengertian akan perdamaian dunia seutuhnya. 

Pada saat berhadapan dengan rekan-rekan pers, disini dibutuhkan kesadaran. Bahwa seorang PIO tidak hanya membawa dirinya sendiri namun membawa nama baik satuan.

Nama baik TNI dan nama baik negara kontingen. Dan tidak hanya berhadapan dengan sebuah nama media massa semata, namun berhadapan dengan publik yang berhak untuk mengetahui sesuatu.

Tantangan yang dihadapi sangatlah rumit. Didalam dunia booming-information saat ini, dibutuhkan kecepatan informasi serta faktualitas informasi. Urusan dead-line juga sering menjadi momok yang kadang menuntut kesiapan kerja selama 24 jam sehari.

Kadang-kadang harus mengorbankan jam tidur untuk menyelesaikan compress dua puluh foto per-satu berita untuk dikirimkan segera ke Pusat Penerangan TNI di Jakarta via surat elektronik.

Disaat melaksanakan tugas, harus menghadapi berbagai macam karakter serta kepribadian orang. Memiliki empati serta simpati yang tinggi terhadap orang lain yang sulit didekati merupakan tantangan tersendiri pula.

Selain tugas utama diatas, sudah bukan merupakan hal yang asing lagi jika Wanita TNI juga ditugaskan didalam berbagai tugas samping lainnya. Seperti sebagai MC acara-acara resmi seperti kunjungan pejabat Negara dan pejabat TNI. Sekali, menjadi MC pada acara Farewell Party Duta Besar RI untuk Libanon Bapak Bagas Hapsoro.

Mengutip apa yang dikatakan oleh rekan-rekan Wanita TNI: “Tidak ada yang tidak bisa bagi Wanita TNI, semuanya pasti bisa! Jika diberi kesempatan latihan dan mempersiapkan diri!”.

Dengan semangat inilah saya dapat meraih empat medali emas (Single maupunMix) dalam Competition Table-Tennis Intercontingent UNIFIL di China Battalion.

Dan Competition Badminton Intercontingent UNIFIL serta satu medali perunggu pada ganda campuran Open Tournament Badminton se-tingkat UNIFIL di markas besar Naqoura.

Penugasan sebagai Perwira Penerangan Satgas Indobatt di UNIFIL adalah penugasan yang sangat berkesan dan berharap akan ada semakin banyak kesempatan bagi Wanita TNI yang ditugaskan dalam misi perdamaian dunia PBB.

Memang diperlukan kemampuan untuk berkomunikasi secara mutualisme dengan pers lokal. Sebab, tanpa adanya titik temu maka tidak akan tercipta lingkungan kerja yang kondusif bagi kedua belah pihak.

Mengutip pernyataan Mantan Panglima TNI Djoko Santoso beberapa waktu lalu; reformasi TNI terus dilanjutkan, karena bagi TNI, “reformasi adalah proses yang tiada akhir”, tetapi membutuhkan proses dan upaya terus-menerus.

Demikian pula Wanita TNI, tentu saja sebagai bagian integral yang termaktub dalam tubuh organisasi TNI juga tetap melaksanakan proses-proses penyempurnaan yang akan tetap dilakukan senantiasa.

Menjadi prajurit wanita dengan peran-ganda (sebagai wanita karir maupun sebagai ibu rumah-tangga). Yang dapat dibanggakan dan memberdayakan.

Hal ini seharusnya senantiasa terpatri dalam diri setiap Wanita TNI. Maknanya, dengan menjadi prajurit wanita yang profesional.

Berarti Wanita TNI akan memiliki daya juang yang tak kenal lelah, tak kenal putus asa, tak pernah menyerah, berdedikasi, bahkan militansi tinggi sebagai seorang prajurit wanita. 

Siap atau tidak siap, harus senantiasa siap! Sungguh, perjuangan yang tak kenal menyerah. Selamat tinggal Lubnan, kupastikan akan datang kembali!****(Oleh: Kapten Sus Michiko Moningkey; sekarang menjabat sebagai Kasubsi Pustak Dispenau; Mobile: 081213801618., kantor 0218709261., twitter: @SanraMichiko; facebook: Michiko Sandra Moningkey https://www.facebook.com/michiko.moningkey ; blog http://michiko030176.blogspot.com; flikrs Michiko Moningkey https://www.flickr.com/photos/123776935@N03/ ) email: michikoinfo05@yahoo.com atau michiko.moningkey@yahoo.co.id No. Rek BNI 0094119530 atas nama Ibu Sanra Michiko Moningkey atau No Rek BNI 0228850846 atas nama Ibu Sanra M. Moningkey, S.Sos).  *Seluruh isi materi ini merupakan milik intelektual pribadi. Meniru dan menggandakan hal-hal yang dicantumkan dalam materi ini, diluar maupun tanpa seizin Penulis, merupakan pelanggaran hak intelektual dan dapat diproses sesuai hukum yang berlaku. 

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel