Berita Utama

Hari Bhakti TNI AU: Epos di Tengah Pandemi

Dibaca: 107 Oleh 29 Jul 2021Tidak ada komentar
29 Juli 3
#TNIAU 

HARI BHAKTI TNI-AU: EPOS DI TENGAH PANDEMI

Oleh: Kolonel Lek Eko Purwanto, S.T.,M.T

“A hero is an ordinary individual who finds the strength to persevere and endure in spite of overwhelming obstacles.”

          Thesis yang disuarakan Christoper Reeve ini menggambarkan sosok pahlawan sejati dalam perspektifnya. Pemeran Superman ini menganggap pahlawan bukanlah sosok perkasa ala super hero yang selama ini dilakoninya. Baginya, pahlawan adalah orang biasa yang memiliki kekuatan untuk bertahan dan teguh menghadapi berbagai deraan.

          Suatu kebetulan jika ungkapan pemeran utama Superman yang jago terbang ini, justru menggambarkan sosok pahlawan dari para penerbang TNI-AU. Mereka adalah orang-orang biasa dengan keberanian serta pengorbanan yang luar biasa.

          Kala itu, 74 tahun yang lalu, Belanda mengingkari perjanjian Linggarjati dan melakukan Agresi Belanda I. Serangan kolonial ini menyebabkan gelegak amarah para prajurit TNI AU bergolak.

          Dengan segala keterbatasan yang ada, hanya berbekal keberanian dan semangat pantang menyerah, di dini hari 29 Juli 1947, deru pesawat menggetarkan kegelapan Pangkalan Udara Maguwo, Yogyakarta. Tiga pesawat peninggalan Jepang berjenis Cureng dan Guntei, mengudara dengan mengemban misi penyerangan ke tangsi-tangsi militer Belanda di Salatiga, Ambarawa dan Semarang.

          Mission impossible ini dilakukan oleh orang-orang biasa yang luar biasa, para kadet sekolah penerbang yang belum memiliki pangkat di pundaknya. Serangan ini menjadi monumental karena merupakan operasi serangan udara pertama dalam sejarah TNI AU.

Baca juga:  KASAU BUKA TEMPAT PENITIPAN ANAK

Sutardjo Sigit dibekali bom bakar dengan penembak udaranya Sutardjo. Suharnoko Harbani berbekal senapan mesin dengan penembak udara Kaput. Mulyono menggunakan Guntei yang membawa 400 kg bom dan dua senapan mesin dengan penembak Dulrachman. Sementara Bambang Saptoadji dengan buru sergap Hayabusha gagal terbang karena pesawatnya tidak berhasil diperbaiki.

Jam 6 pagi ketiga pesawat yang melaksanakan misi serangan tersebut telah kembali ke Pangkalan Maguwo. Aksi heroik para kadet zonder pangkat ini membangkitkan semangat juang dan rasa percaya diri Bangsa Indonesia di tengah berbagai kekurangan yang ada dan ini sangat penting.

          Di sisi lain, serangan pagi buta itu membangkitkan alarm Belanda dan segera menggencarkan patroli udara. Akibatnya, sebuah penerbangan C-47 Dakota VT-CLA bisa diketahui dan ditembak jatuh di hari yang sama.

Dakota yang jatuh di Ngoto, selatan Yogyakarta ini bukanlah pesawat militer, melainkan pesawat sipil yang disewa pemerintah Indonesia untuk membawa bantuan obat-obatan dari Palang Merah Malaya. Pesawat transport tersebut terbang dari Singapura menuju Maguwo dengan membawa bantuan kemanusiaan.

Korban yang gugur dalam musibah ini antara lain Komodor Muda Udara Adisutjipto, Komodor Muda Udara Abdulrachman Saleh dan Opsir Muda Udara Adi Soemarmo. Gugurnya para pionir ini mengakibatkan rasa duka mendalam karena tenaga dan pikirannya sangat diperlukan untuk membangun dan membesarkan Angkatan Udara yang tengah merangkak pada saat itu.

Baca juga:  Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1441 H/2019 M di Lanud Haluoleo

Dua peristiwa monumental dan heroik di hari yang sama inilah yang mendasari peringatan Hari Bakti TNI AU yang diperingati setiap tahun. Harapannya, nilai-nilai luhur, semangat juang dan pengorbanan yang telah dikibarkan 74 tahun yang lalu tetap bergema dan terimplementasi dalam pengabdian seluruh prajurit TNI AU.

          Jika dahulu palagan pertempuran yang harus dihadapi TNI AU demi negara ini adalah melawan penjajah, kini mandala peperangan yang dihadapi demi bangsa ini adalah melawan pandemi Covid-19.  Sebagai salah satu alat ketahanan negara dari unsur udara, TNI AU harus turut berjibaku menghadapi ancaman ini.

          Sejak awal penanganan Covid-19 TNI AU telah terlibat dalam operasi kemanusiaan ini dengan membantu pemerintah dalam penjemputan dan pendistribusian alat kesehatan serta kebutuhan logistik ke seluruh penjuru tanah air. TNI AU juga telah menyiapkan rumah sakit dan menugasi tenaga medis untuk menangani pandemi COVID-19 serta melakukan vaksinasi massal.

Di tengah pandemi ini, dunia memang berhutang kepada para tenaga kesehatan. Namun juga tak mudah bagi para prajurit untuk berdiam diri saja di tengah kenestapaan ini.

Panggilan tugas dan semangat pengabdian bukanlah sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja. Jika dahulu para kadet tanpa pangkat hanya bermodal keberanian dan semangat juang, sekarang pun hal yang sama harus ditunjukkan oleh segenap prajurit TNI AU.

Baca juga:  Irkohanudnas Akhiri Wasrik di Kosekhanudnas III

Pandemi memang menuntut kita untuk bersatu, saling bahu-membahu, berjuang dan bangkit bersama, tanpa melihat profesi dan keahlian. Kita harus melakukan apapun yang dapat dilakukan untuk saling mendukung, meringankan beban negara dan saudara sebangsa setanah air.

Para komodor dan opsir muda  seperti Adisutjipto, Abdulrachman Saleh dan Adi Soemarmo telah mengajarkan bagaimana seharusnya seorang prajurit TNI AU bersikap di tengah persoalan bangsa dan juga kemanusiaan. Di tengah berbagai keterbatasan yang ada, dengan gagah berani mereka berdiri di garis paling depan, mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan bangsa dari ancaman kemanusiaan.

Nilai-nilai luhur yang mereka ajarkan adalah, setiap prajurit TNI AU harus sanggup menjulang tinggi di atas batas-batas sempit kepentingan dirinya sendiri. Oleh sebab itulah mereka memang layak disebut sebagai pahlawan bagi negeri ini.

Bencana memang selalu menghadirkan duka dan nestapa. Namun disisi lain juga menghadirkan para pahlawan kemanusiaan yang melakukan pengorbanan melampaui panggilan tugasnya. Ini yang harus menjadi suluh bagi seluruh prajurit TNI AU dalam Peringatan Hari Bhakti TNI AU ke-74 ini.

          Swa Bhuwana Paksa. Jadilah sayap yang melindungi nusa dan bangsa.

puing vt cla

puing vt cla

cureng1

cureng1

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel