Berita

Heroisme Operasi Udara pertama

Dibaca: 12 Oleh 29 Jul 2013Tidak ada komentar
2015 06 02 00002
#TNIAU 

Tiga pesawat peninggalan Jepang, masing-masing satu pesawat Guntai dan dua pesawat Cureng, Selasa 29 Juli 1947 pagi hari, lepas landas dari Pangkalan Udara Maguwo menuju Semarang, Salatiga dan Ambarawa. Pesawat-pesawat yang diterbangkan para Kadet Penerbang itu mengemban tugas untuk melakukan serangan udara terhadap benteng pertahanan Belanda.

Pesawat Guntai dengan Kadet Penerbang Muljono dan juru tembak Abdulrachman menyerang Semarang. Sementara dua pesawat Cureng masing-masing diterbangkan Kadet Penerbang Sutardjo Sigit dan juru tembak Sutardjo untuk menyerang Salatiga, Suharnoko Harbani dan juru tembak Kaput menyerang benteng pertahanan Belanda di Ambarawa.

Peristiwa heroik yang terjadi 66 tahun lalu itu, kini Senin (29/7) pukul 04.30 dini hari diperingati oleh generasi penerus TNI Angkatan Udara dengan melaksanakan Napak Tilas Operasi serangan Udara pertama ke tiga kota itu. Menggunakan pesawat KT-01 Wong Bee, kegiatan yang dilaksanakan di Base Ops Pangkalan Udara Adisutjipto ini diawali dengan sambutan Komandan Pangkalan Udara Adisutjipto Yogyakarta Marsekal Pertama Agus Munandar, SE.

Baca juga:  Penandatanganan MoU Lanud Pattimura dengan Kejati Maluku tentang Penanganan Masalah Hukum Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara

Dalam sambutannya, Marsekal Pertama TNI Agus Munandar, SE mengatakan, Serangan Udara memperlihatkan kegigihan, keuletan, ketangguhan, dan heroisme para pendahulu TNI Angkatan Udara dalam mengemban tugas mempertahankan kemerdekaan Negara Republik Indonesia. Jiwa jiwa yang lapar dengan pengabdian yang dibalut oleh rasa tertindas dari harga diri bangsa oleh bangsa lain.

Melalui Napak Tilas Serangan Udara, Marsekal Pertama TNI Agus Munandar berharap agar “generasi penerus TNI Angkatan Udara dapat meneladani jiwa patriotisme dan rasa nasionalisme para pelaku Serangan Udara, yang kemudian dapat diimplementasikan dalam tugas sesuai dengan fungsi dan peran masing-masing. Peristiwa ini hendaknya dijadikan tauladan dalam pengabdian kita kepada bangsa dan negara.” cetusnya.

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel