TNI AU - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara

HUMAN FACTOR DALAM KECELAKAAN PESAWAT TERBANG

By 06 Jun 2012Berita
IndonesianAF 1

Penelitian dari Boeing yang dikeluarkan pada tahun 1997 menyatakan factor manusia merupakan peringkat pertama dalam kecelakaan pesawat yang mencapai 71%, hingga saat ini hal tersebut tidak berubah. Kecelakaan dari transportasi udara adalah 1,5 per satu juta penerbangan, itulah sebabnya moda transportasi udara sampai saat ini merupakan sarana transportasi paling aman diantara moda transportasi lainnya.

Demikian dikatakan Mantan Kapuskes TNI Marsda TNI (Purn) Dr. dr Achmad Hidayat, SpB, SpKP, MARS., pada Round Table Discussion yang membahas “Human Factor Dalam Kecelakaan Pesawat dan Pentingnya Dokter Spesialis Penerbangan” (SpKP), di Lembaga Kesehatan Penerbangan dan Ruang Angkasa TNI AU (Lakespra) Dr. Saryanto. Selasa (5/6). 

Akan tetapi jika terjadi kecelakaan pesawat terbang, ungkapnya, seperti kecelakaan pesawat Sukhoi Super Jet (SSJ) 100 di Gunung Salak yang menimbulkan korban sebanya 45 orang, dampak psikologinya sangat besar dibandingkan kecelakaan jalan raya di Indonesia yang mencapai 500 orang tewas setiap harinya. 

Sementara mantan penerbang pesawat tempur F-16 TNI AU, Kolonel Pnb. Agung”Sharky” Sasongkojati mengatakan, human factor tidak saja terjadi di penerbangan sipil namun penerbangan militer pun terjadi human factor. Dengan meningkatnya pengadaan alutsista yang sangat besar hingga tahun 2020 mendatang, serta masalah human factor pada penerbang tempur, seperti spatial disorientation, G-Force dan interaction human machine as aweapon.

Menurutnya, penerbangan militer mempunyai kekhasan tersendiri yaitu manusia yang mengawaki senjata yaitu pesawat tempur, oleh karena itu perlu adanya peran dokter spesialis penerbangan demi tercapainya zero accident. 

Psikolog dan pakar human factor Dinas Psikoligi TNI AU Kolonel Kes. Drs. Widura Imam Mustopo, MPsi., mengatakan bahwa dari berbagai evaluasi, factor manusia 80%-90% merupakan penyebab kecelakaan transportasi udara. Dengan menggunakan modifikasi Swiss Cheese Model dari Reason, hasil penyidikan kecelakaan pesawat terbang dapat dijadikan dasar dalam memberikan rekomendasi tindakan perbaikan untuk mencegah terjadinya kecelakaan pesawat terbang, ujarnya. 

Lain halnya dengan PT. Garuda yang menanamkan safety culture langsung diaplikasikan dilapangan dengan program safety mangemen system (SMS) yang berhasil menekan incident secara signifikan dalam sepuluh yahun terakhir, ujar Captain Sudirman, Vice President Coporate Quality, Safety and Environment. 

Berbicara pesawat udara identik dengan sarana transportasi udara dan sarana rujukan medis udara (medical Aviation) yang memiliki kekhususan baik bagi awak pesawat (Air Crew) maupun penumpangnya yang mengunakan sarana transportasi tersebut. 

Mengunakan transportasi udara meskipun aman akan tetapi mempunyai konsekuensi dan beberapa resiko yang harus diantisipasi, karena terbang diatas ketinggian dapat mempengaruhi faal bagi tubuh manusia, ujar Ketua, ujar Ketua Perdospi Dr. Soemardoko, SpM, Soemarjono, SpM, SpKK.

Leave a Reply

Verifikasi CAPTCHA *

HUMAN FACTOR DALAM KECELAKAAN PESAWAT TERBANG