Pustaka

Impor 24 Pesawat F-16 Rongsokan Dari AS Sama Saja Bunuh Diri

Dibaca: 90 Oleh 01 Feb 2012Tidak ada komentar
Impor 24 Pesawat F-16 Rongsokan Dari AS Sama Saja Bunuh Diri
#TNIAU 

Mau impor 24 pesawat F-16 rongsokan dari AS? Ini sama saja dengan bunuh diri, atau mau membuka peluang untuk korupsi. Sebab, biaya untuk perawatannya saja tak kurang daru Rp6 triliun.

Ini bakal membuka celah korupsi. Masalahnya, untuk merawat pesawat itu membutuhkan biaya besar dan biasanya akan rawan terjadi monopoli perawatan oleh salah satu rekanan milik politisi.

“Hibah pesawat itu akan membuka celah terjadinya korupsi. Sudah banyak contoh dari pembelian senjata yang selama ini dilakukan pemerintah. Saat pembelian kapal selam oleh TNI beberapa waktu lalu juga terjadi korupsi dalam hal biaya perjalanan dan biaya perawatan. Begitupun dengan rencana hibah pesawat F-16 saat ini,” kata Koordinator Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (Maki) Boyamin Saiman kepada Harian Terbit, Kamis (1/12).

Menurut Bonyamin, pemerintah sengaja membuka tangan untuk menerima hibah pesawat F-16 itu lantaran ada kepentingan untuk menaikkan anggaran biaya perawatan. Sebab jika ingin membeli pesawat yang batu tentu biaya perawatannya minim. “Pemerintah sengaja membuka tangan untuk menerima hibah pesawat itu lantaran ada kepentingan untuk menikmati biaya perawatan pesawat itu. Praktik-praktik kotor seperti su-dah seringkali dilakukan pemerintah untuk semua jenis pembelian barang-barang bekas ataupun hibah dari negara lain,” katanya.

Baca juga:  Rusia Membeli 92 Sukhoi Su-34

Biasanya, kata Saiman, dalam hal perawatan pesawat F-16 nantinya akan dikuasai oleh agen pemegang tunggal yang memiliki akses untuk membeli suku cadang dan lainnya kepada pemerintah Amerika Serikat. “Jika hibah pesawat itu jadi maka a-kan ada agen tunggal yang menguasai perawatan. Biasanya agen-agen ini di back-up oleh para politisi,” tandasnya.

Oleh karena itu kata Saiman, untuk mencegah agar tak terjadi celah korupsi Komisi pemberantasan Korupsi (KPK) untuk ikut mengawasi pelaksanaan hibah itu sejak awal. Apalagi dana yang dibutuhkan untuk mendapatkan hibah itu sebesar Rp36 Triliun. “Nilai itu cukup besar maka KPK harus mengawasinya sejak awal. Jangan tinggal diam. Bila perlu hentikan hibah pesawat itu,” katanya.

Sementara itu, pengamat militer Ery Sofyan menilai, hibah 24 pesawat itu adalah upaya pemerintah AS untuk tetap menancapkan kepentingannya di Indonesia. Sebab ke 24 pesawat itu termasuk jenis kuno dan rongsokan. “Pesawat itu masuk kategori rongsokan. Apalagi untuk mereparasi butuh Rp6 triliun.Sebab di atas jenis itu masih ada jenis pesawat lain yang kategorinya jauh lebih canggih,” kata Eri kepada Harian Terbit.

Ditambahkan Ery, ke 24 pesawat itu pun tak berarti apa-apa bagi kekuatan TNI dibandingkan dengan negara lainnya. “Bandingkan saja dengan Singapura dan Malaysia, peralatan udara kita masih kalah jauh dibanding dengan mereka,” kata Eri.

Baca juga:  K. 58

Pemerintah, kata Ery, lebih baik membeli pesawat baru daripada menerima hibah sebanyak 24 pesawat tempur F-16 dari AS. Sebab pesawat baru lebih menguntungkan baik dari sisi keamanan, jam terbang, dan kualitas teknologi lebih tinggi daripada pesawat bekas.Belum lagi pesawat bekas itu hanya bisa beroperasi paling lama empat ribu jam terbang atau rata-rata delapan tahun. “Jika membeli pesawat baru bisa dipakai hingga 30 tahun dengan biaya perawatan lebih rendah,” tegasnya.

“Saya khawatir dari 24 pesawat hibah itu usianya tidak akan lama. Peluang pesawat rusak, jatuh, kemudian menelan korban jiwa. Ini harus diantisipasi sejak dini oleh Pemerintah. Jangan mengorbankan nyawa prajurit dan penerbang terbaik kita yang sudah dididik dengan biaya mahal,” ujarnya.

Kendati demikian kata Ery, TNI Angkatan Udara memang sangat membutuhkan pesawat tempur yang canggih. Sebab saat ini saja dari 111 pesawat tempur yang dimiliki 50 unit pesawat lainnya tidak dapat dioperasikan lantaran berbagai hal antara lain, terbatasnya suku cadang dan dalam kondis rusak. Bahkan sejak tahun 2000-2009 ada sekitar 30 pesawat Angkatan Udara TNI jatuh dan menelan korban jiwa baik dari pihak tentara maupun sipil dalam jumlah besar.

Baca juga:  Ini kecanggihan jet Rafale yang ditawarkan Prancis buat TNI AU

Sebelumnya Komisi I DPR mendesak pemerintah mengkaji ulang tentang hibah pesawat jet tempur F-16 block 32 grounded dari Negeri Paman Sam.

Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin menyatakan, secara prinsip pada awalnya Komisi I setuju dengan penerimaan bantuan 24 pesawat F-16 dari AS. Hal itu karena perhitungan awal jika Indonesia menerima tawaran hibah dari AS, maka Indonesia akan mendapatkan 24 unit pesawat F-16. Sementara bila membeli yang baru, Indonesia hanya akan memperoleh 6 unit pesawat. Tapi pesawat hibah adalah jenis Block 32 yang lebih rendah dari Block 52 yang sudah canggih.

Namun, pada kenyataannya untuk mengoperasikan satu pesawat F-16 block 32 menjadi block 52 sama dengan mengkanibalisasi empat pesawat. Belum lagi pesawat bekas itu hanya bisa beroperasi paling lama empat ribu jam terbang atau rata-rata delapan tahun. Jika membeli pesawat baru bisa dipakai hingga 30 tahun dengan biaya perawatan lebih rendah. “Karena itu, jika tak mau disebut beli pesawat rongsokan, saya nilai mubazir beli besi-besi tua yang bisa terbang ini,” kritik Hasanuddin. (Harian Terbit/*)

Sumber : http://bumnwatch.com/impor-24-pesawat-f-16-rongsokan-dari-as-sama-saja-bunuh-diri/

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel