Pustaka

India menggapai di luar Rusia untuk memenuhi tujuan pertahanan

Dibaca: 34 Oleh 30 Nov 2012Tidak ada komentar
Museum Pusat TNI Angkatan Udara Dirgantara Mandala
#TNIAU 
India menggapai di luar Rusia untuk memenuhi tujuan pertahanan
Anggota Angkatan Udara India berdiri di sebelah helikopter Mi-17 V5 buatan Rusia yang baru awal tahun ini di pangkalan AU dekat New Delhi. Rusia telah memasok banyak peralatan militer India, tapi India mencari kontrak pertahanan dengan bangsa-bangsa lain untuk helikopter dan peralatan lain. [AFP]

Rencana India untuk memodernisasi operasi dan peralatan pertahanannya mendorong kemitraan internasional dan persaingan berat untuk menyedot cadangan jutaan dolar dari adidaya militer Asia Selatan yang baru.

Anggaran belanja pertahanan New Delhi yang diperkirakan sebesar $40 miliar untuk 20 tahun ke depan termasuk perjanjian yang telah ditandatangani senilai sekitar $4 miliar, menurut pejabat senior AU India.

Kegiatan terbaru menunjukkan India merupakan salah satu negara yang memiliki kebutuhan untuk memutakhirkan armadanya – terutama helikopter-helikopter tua.

Pabrik-pabrik domestik India punya ambisi kuat tetapi kemampuan terbatas untuk memenuhi permintaan bangsanya di seluruh segmen produk. Akibatnya, situasi lokal ini menarik perhatian para pemain global ke pasar India.

“Walau perubahan adalah tanda pertumbuhan dan kemajuan, tantangan terbesar yang kami hadapi pada tahun-tahun mendatang adalah mengelola perubahan cepat ini secara efektif, tanpa mengorbankan standar operasional yang tinggi,” kata Marsekal Norman Anil Kumar Browne di surat kabar The Hindu.

Kontrak-kontrak baru yang diberikan menandai perubahan besar bagi India dalam mendiversifikasi pemasok militernya – melepaskan diri dari hubungan 10 tahun dengan Rusia sebagai pemasoknya, yang memasok sekitar 70 persen peralatan militer India. Keterlambatan pengiriman oleh Moskwa menimbulkan kegusaran di komunitas pertahanan India.

Kontraktor pertahanan dari Australia, Israel, Prancis, dan Amerika Serikat adalah sebagian dari daftar pemasok yang telah menandatangani perjanjian atau tengah bernegosiasi untuk bermitra dengan India dalam pembangunan militer strategisnya.

Awal tahun ini, India memilih Rafale dari Prancis – pesawat tempur sayap delta bermesin ganda yang dirancang dan dibuat oleh Dassault Aviation – untuk menyediakan 126 jet tempur bagi AU India. Perjanjian yang berkisar $11 miliar tengah dinegosiasikan.

“Kami sudah menunggu 30 tahun untuk ini,” kata mantan presiden Prancis Nicolas Sarkozy di konferensi pers awal tahun ini, mengacu pada peluncuran program pembangunan Rafale. Adanya “126 Rafale di tahap akhir [perundingan] dengan India menyangkut lebih dari sekadar penerbangan … ini sinyal kepercayaan terhadap perekonomian Prancis.”

Pemerintah menyerahkan kendali sebagian besar helikopter serang dari AU ke AD

Angkatan Darat India baru-baru ini menang atas Angkatan Udara ketika pemerintah sepakat untuk mentransfer sebagian besar helikopter serang dari AU ke AD. Hasil keputusan ini menyerahkan kendali lebih dari 270 helikopter bersenjata, termasuk 22 AH-64, 179 model tempur ringan, dan 76 transportasi bersenjata buatan India, dikabarkan oleh situs web militer strategypage.com.

Aspek lainnya dari kesepakatan ini adalah perjanjian baru oleh AU untuk menempatkan beberapa helikopter angkut di markas AD di Kashmir untuk menghindari keterlambatan saat transportasi dibutuhkan dalam keadaan darurat.

AU akan terus mengoperasikan sekitar selusin helikopter serang Mi-25 dan Mi-35, hingga dipensiunkan pada akhir dasawarsa ini.

India terus memberikan kontrak ke pemasok pertahanan

India memilih Prancis ketimbang Eurofighter Typhoon – dibuat oleh konsorsium pertahanan Eropa. Jet tempur Rusia MiG-35 tadinya bagian dari pengajuan tetapi kalah di tahap awal. Jerman, anggota pokok konsorsium yang kehilangan kontrak, terus melemparkan penawaran kuat ke India untuk pesawat tempur multifungsi ukuran sedang [medium multi-role combat aircraft atau MMRCA].

Bulan lalu New Delhi memilih Boeing, pabrikan aeronautika AS, untuk menyediakan 15 helikopter angkut berat Chinook CH-47F dan 22 helikopter Apache AH-64D Block III untuk perluasan AU-nya.

Pejabat militer India mengatakan negosiasi dengan Boeing untuk membeli helikopter senilai $2,4 miliar bisa memakan waktu enam bulan. Rotor ganda Chinook dari Boeing – dirancang untuk menggerakkan pasukan, penempatan artileri, dan memasok medan perang – dipilih mengalahkan Mi-26 buatan MiL Moscow Helicopter Plant, Rusia, helikopter angkut berat untuk militer dan sipil. Apache, helikopter serang bermesin ganda dari Boeing dengan empat bilah baling-baling dan kokpit tandem untuk dua awak, dipilih mengalahkan Mi-28, kata pejabat tersebut. Mi-28 adalah helikopter serang Rusia tanpa kemampuan sekunder untuk transportasi.

Pabrikan AS, Raytheon, melaporkan bahwa 245 rudal antarudara Stinger dan 56 peluncur produksinya termasuk dalam paket senjata untuk helikopter Apache. Stinger melengkapi kinerja canggih Apache dengan memberikan AU India kemampuan kritis pertahanan antarudara, kata pejabat Raytheon.

“Ya, Apache sekarang sudah final,” kata Browne di konferensi pers ketika ditanya apakah AU membeli helikopter Amerika tersebut. India dan Amerika Serikat sedang bernegosiasi.

Rudal Stinger versi darat ke udara secara luas dikreditkan atas jatuhnya armada helikopter Rusia di perang Afganistan pada tahun 1980-an dan digunakan oleh pasukan Pakistan untuk menjatuhkan helikopter Mi-17 AU India di perang Kargil tahun 1999.

Mengomentari hubungannya dengan angkatan bersenjata India, Raytheon mengatakan pihaknya “menyediakan solusi teknologi AutoTrac, pengelolaan lalu lintas udara canggih untuk AU India” sebagai bagian dari proyek Pemodernisasian Infrastruktur Lapangan Udara [Modernization of Air Field Infrastructure atau MAFI].

Di bawah program MAFI, India berencana memutakhirkan 30 lapangan udara militernya untuk memungkinkan angkatan bersenjatanya menjalankan operasi malam dan pesawat berbadan besar seperti pesawat angkut berat C-17.

Rencana modernisasi AU India jadi pasar yang tumbuh terpesat bagi pemasok

Laporan manufaktur Russian Helicopters baru-baru ini mengatakan sekitar setengah dari seluruh helikopter yang dibeli India untuk 10 tahun mendatang adalah untuk militer, setengahnya lagi untuk sipil dan pemerintah. Permintaan militer ini didukung oleh program persenjataan nasional untuk menggantikan armada helikopter India yang sudah tua.

“Permintaan di India diproyeksikan meningkat rata-rata 6 persen per tahun untuk helikopter sedang dan berat serta pembelian oleh militer India, yang perlu menggantikan armada helikopternya yang sudah tua,” kata Russian Helicopters.

Browne mengatakan kepada wartawan bahwa proses pembelian 126 MMRCA tepat pada jalurnya dan akan difinalisasi pada tanggal 31 Maret 2013. Dia mengatakan 270 pesawat Su-30 akan dibeli untuk 13-14 skuadron yang nantinya akan ditingkatkan. AU India berencana membeli tambahan pesawat angkut C-130J.

Browne mengatakan dengan pembelian helikopter Mi-17 V5, AU India akan memiliki kemampuan intai siang dan malam hari. Dia menambahkan bahwa empat unit helikopter tersebut sudah dioperasionalkan dan dua lagi akan bergabung dengan AU pada bulan Desember. Kontrak untuk 59 helikopter tambahan diharapkan akan ditandatangani dalam beberapa bulan ke depan.

Turbomeca, produsen mesin poros turbo turbin gas daya rendah dan sedang untuk helikopter dari Prancis, mengatakan India akan menjadi pasar helikopter yang tumbuh pesat, membutuhkan lebih dari 700 helikopter hingga tahun 2019.

Delapan puluh satu persen pengiriman helikopter dunia dari 2012 hingga 2015 akan menuju India, China, dan Rusia, ditindaklanjuti dengan 50 persen pada tahun 2025 hingga 2029, menurut laporan perkiraan produsen tersebut.

“Akan ada permintaan atas 700 helikopter baru di India untuk tujuh tahun ke depan, 30 persen di antaranya adalah untuk sipil dan 70 persen untuk militer,” kata Philippe Couteaux, wapresdir dan manajer utama, Airframes, Turbomeca, saat melakukan presentasi Perkiraan Pasar India 2019 di akhir Simposium Operator Turbomeca di New Delhi.

Enam puluh enam persen helikopter militer akan digunakan untuk transportasi dan 34 persen untuk serangan khusus, kata Couteaux. Begitu pula, 25 persen helikopter sipil akan digunakan untuk satuan polisi swasta-publik, 44 persen untuk keperluan umum, 14 persen untuk migas, sembilan persen untuk layanan medis darurat dan keperluan sewa dan pariwisata, dan enam persen untuk pemakaian perusahaan dan pribadi.

Sumber: http://apdforum.com

Baca juga:  Teknologi Pesawat F-35, Menyerang Tanpa Terdeteksi

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel