Pustaka

Indonesia Membutuhkan Ribuan Tenaga Penerbangan

Dibaca: 67 Oleh 14 Jan 2013Tidak ada komentar
Sukhoi Su-27
#TNIAU 

Indonesia Membutuhkan Ribuan Tenaga Penerbangan

 

Dunia bisnis penerbangan di Indonesia meningkat di atas 15% tiap tahunnya. Indikasinya, penumpang dan pesawat udara terus bertambah serta pengelola bandara mendirikan terminal baru yang lebih besar. Semua itu membutuhkan sumber daya manusia untuk mengelolanya. Jumlah tenaga tambahan yang dibutuhkan mencapai ribuan di berbagai sektor. Tidak semua tenaga yang direkrut adalah tenaga terampil dan berijazah tinggi. Bagaimana kondisi terkini SDM penerbangan dan kebutuhannya di tahun 2013? Berikut laporan lengkapnya yang disajikan oleh Gatot Rahardjo.

 

            “Saya lagi ngegas kenceng untuk memperbaiki semua kondisi perusahaan ini,” ujar Direktur Human Resources and General Affairs PT Angkasa Pura (AP) II RP Hari Cahyono saat ditemui Angkasa di kantornya, awal Desember lalu. Hari bukan sedang mengeluh. Justru dia mengatakan itu dengan perasaan bangga. AP II bukanlah perusahaan yang sedang sakit dan harus disehatkan.  Secara bisnis, AP II justru adalah perusahaan yang sangat sehat. Pendapatan usahanya pada tahun 2011 adalah Rp3,495 triliun. Naik dari tahun 2010 yang sekitar Rp3,106 triliun. Laba komprehensifnya juga fantastis, mencapai Rp1,096 triliun. Tahun 2010, laba komprehensifnya Rp1,040 triliun.

            Dengan kondisi keuangan perusahaan yang seperti itu, dalam tiga tahun terakhir PT AP II mampu membiayai pengembangan sembilan bandara yang dikelolanya. Terminal Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru dikembangkan dari kapasitas 0,7 juta penumpang per tahun (JPT) menjadi 2,5 JPT. Bandara Supadio Pontianak, dikembangkan dari 0,875 JPT menjadi 2,5 JPT. Bandara Depati Amir Pangkal Pinang dikembangkan dari 0,35 JPT menjadi 1,3 JPT. Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang dari 1 JPT menjadi 2,5 JPT.

            Bandara Sultan Thaha Jambi dari 0,5 JPT menjadi 1,5 JPT. Bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang yang dikembangkan dari 0,1 JPT menjadi 1 JPT. Bandara Minangkabau Padang, dari kapasitas 1 JPT menjadi 2,5 JPT. Bandara Soekarno-Hatta Jakarta dari kapasitas 22 JPT menjadi 62 JPT. Serta membangun bandara baru Kualanamu di Deli Serdang, dengan kapasitas 8,1 JPT (Tahap I) untuk menggantikan Bandara Polonia yang hanya berkapasitas 0,9 JPT.

Baca juga:  BANDUNG AIR SHOW 2012: TNI AU Kehilangan Putra Terbaiknya

            Pengembangan bandara itu sebagian sudah selesai di tahun 2012 dan ada yang akan selesai tahun ini. Namun ada juga yang baru akan selesai beberapa tahun ke depan.

            Permasalahan yang dihadapi adalah bagaimana menyiapkan sumber daya manusia untuk mengelola bandara-bandara baru yang dikembangkan tersebut. Selain jumlahnya harus ditambah, kualitas SDM-nya juga harus ditingkatkan.  Saat ini kostumer bandara sudah lebih cerdas dan kritis. Sehingga diperlukan pengelola bandara yang lebih berkualitas untuk menghadapinya.  “Bagaimana mungkin terminal baru, dikelola oleh SDM lama dengan cara yang lama juga?” ujar Hari.

            Kepusingan Hari semakin bertambah karena data yang ada saat ini menunjukkan 30% karyawan di AP II sudah berusia di atas 50 tahun. Karyawan AP II yang pensiun tiap tahun rata-rata 300-an orang.

            Apa yang dikhawatirkan Hari, dirasakan juga oleh rekan sejawatnya di PT AP I, maskapai penerbangan seperti  Garuda Indonesia dan perusahaan MRO seperti Garuda Maintenance Facility (GMF). Bahkan Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono juga mengkhawatirkan hal serupa.

 

Indonesia Membutuhkan Ribuan Tenaga Penerbangan

 Butuh ribuan

            Saat membuka sebuah seminar nasional tentang Maintenance Repair and Overhaul (MRO) di Jakarta, 21 November lalu, Bambang mengatakan MRO Indonesia dalam lima tahun ke depan membutuhkan tambahan 5.000 teknisi atau 1.000 teknisi per tahun. Teknisi tersebut untuk meningkatkan jumlah produksi MRO dalam negeri saat ini sebesar 850 juta dolar AS menjadi dua kali lipat. Dengan pertumbuhan dua kali lipat pun sebenarnya masih belum bisa menutupi semua pasar MRO domestik yang diperkirakan menjadi 2 miliar dolar AS. Namun hal itulah yang saat ini baru bisa dilaksanakan. “Masak kita akan hentikan pertumbuhan bisnis ini hanya karena tidak ada SDM-nya?” ujar Bambang.

            Tidak hanya teknisi yang memerlukan tambahan ribuan sumber daya manusia. Maskapai penerbangan dan pengelola bandara juga sama. Garuda Indonesia tiap tahun membutuhkan tambahan 1.000 SDM. “Jumlah ini tergantung perkembangan kita tiap tahun. Misalnya berapa pesawat yang akan kita datangkan di tahun itu,” ujar Direktur Sumber Daya Manusia dan Umum Garuda, Heriyanto Agung Putra. Menurut Heri, paling banyak adalah untuk posisi kru kabin (pramugari-pramugara) yaitu sekitar 700-an orang per tahun. Selain itu juga dibutuhkan pilot, pegawai operasional di bandara dan back office.

            Untuk antisipasi kedatangan 24 pesawat berbagai jenis di tahun 2013 ini, Garuda harus menambah sekitar 250 tenaga pilot baru dan 700-an awak kabin.

Baca juga:  Korea Utara sukses bergabung di ICBM Club

            Di lingkungan AP II, menurut Hari Cahyono, tiap tahun memerlukan tambahan 500-an karyawan. Namun untuk kebutuhan tertentu, jumlahnya bisa membengkak. Misalnya tahun 2012 lalu, perusahaan ini melakukan perekrutan hingga 1.200 karyawan. Karyawan-karyawan baru tersebut dipersiapkan untuk mengantisipasi dioperasikannya bandara- bandara yang sudah dikembangkan. Jumlah karyawan tetap AP II saat ini ada 4.336 orang dengan calon pegawai mencapai 1.500-an orang.

            Sedangkan AP I, menurut Deputi Direktur HR Development and Organization PT AP I, Purwanto pada 2013 ini membutuhkan 43 teknisi listrik bandara, 17 teknisi navigasi udara dan 25 orang ATC. Total penambahan yang diperlukan pada tahun ini mencapai 431 pegawai baru. Perekrutan itu untuk antisipasi pengembangan tiga terminal baru di Bandara Ngurah Rai –Denpasar, Bandara Juanda –Surabaya dan Bandara Sepinggan -Balikpapan yang akan selesai tahun ini. AP I juga mengantisipasi penggantian 155 orang karyawannya yang akan pensiun.

(Tulisan selengkapnya dapat dibaca di Maj. Angkasa edisi bulan Januari 2013)

 


 

 Miliaran Rupiah untuk Pengembangan SDM

 

Indonesia Membutuhkan Ribuan Tenaga Penerbangan

              Sebuah perusahaan bisnis masa kini semakin menyadari bahwa sumber daya manusia merupakan investasi yang sangat penting. Untuk itulah pengembangan SDM dilakukan semaksimal mungkin untuk mendapatkan hasil yang berkualitas. Tak jarang, investasi miliaran rupiah digelontorkan untuk pengembangan SDM tersebut.

Baca juga:  Aeromodeling Bakal Pecahkan Muri

            Tak terkecuali di sektor penerbangan. Investasi miliaran rupiah digelontorkan perusahaan- perusahaan terkait untuk mengembangkan kualitas pegawainya. PT Angkasa Pura II siap mengeluarkan investasi hingga Rp100 miliar di tahun 2013 untuk perekrutan karyawan dan pengembangan kualitas karyawan yang sudah ada. Garuda bahkan siap menggelontorkan Rp300-400 miliar untuk tahun ini. Sedangkan PT AP I menyiapkan dana Rp5,5 miliar untuk merekrut karyawan baru dan Rp57 miliar untuk pengelolaan karyawannya.

            Sebagai bisnis yang berteknologi tinggi dan mempunyai banyak syarat dan peraturan, tenaga manusia untuk operasional penerbangan sebagian besar harus mempunyai surat izin atau  lisensi. Untuk itu, mau tidak mau perusahaan yang mempekerjakannya juga harus mengeluarkan biaya untuk pengelolaan karyawannya. Misalnya untuk mengadakan pendidikan dan pelatihan, tes untuk mendapatkan lisensi tertentu serta biaya perpanjangan lisensi.

            Memang banyak hal yang harus dilakukan perusahaan-perusahaan itu untuk mengelola karyawannya. Misalnya dari bidang MRO. Menurut Ketua Indonesia Aircraft Maintenance Shop Association (IAMSA) yang juga Direktur Utama GMF, Richard Budihadianto, untuk mendidik seseorang menjadi teknisi pesawat yang berkompeten diperlukan waktu sekitar enam tahun. Selama pendidikan itu, pegawai tersebut tidak bisa berproduksi secara penuh. Namun semua proses itu tetap harus dilakukan. “Jika sekarang tidak ada penambahan kuantitas teknisi, pada lima tahun ke depan jumlah teknisi kita tidak akan bertambah. Bahkan bisa jadi berkurang karena ada yang pensiun,” ujarnya.

            Hal sama dilakukan oleh Garuda yang mendirikan Garuda Training Center (GTC) untuk pelatihan karyawannya. Investasi besar digelontorkan Garuda untuk membeli simulator pesawat-pesawat yang dipakainya. Saat ini Garuda sudah mempunyai simulator pesawat B737-800NG. Tahun 2013 ini mereka akan membeli lagi tiga simulator terdiri dari simulator B737-800NG, Airbus A330 dan Bombardier CRJ-1000NG. Harga simulator rata-rata lebih mahal 1,5 kali dari harga satu pesawatnya.

Sumber: www.angkasa.co.id

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel