Berita

Jalak Sakti 2019, Puncak Latihan Koopsau I

Oleh 02 Mei 2019 Mei 6th, 2019 No Comments
9bc4f5d1 584f 4d92 8530 055a477e56b0
#TNIAU 

TNI AU. Dentuman bom udara yang dilepaskan pesawat F16 dan pesawat Hawk milik TNI Angkatan Udara membombardir daratan Desa Buding, Kecamatan Kelapa Kampit, Belitung Timur (Beltim) Kamis (2/5) pagi.

Tak lama berselang, ratusan penerjun payung memenuhi langit Desa Buding yang keluar dari pesawat angkut jenis hercules dan langsung menusuk jantung pertahanan lawan.

Di sisi lain, dua helikopter menurunkan pasukan Paskhas yang disiapkan mengepung lokasi persembunyian pimpinan musuh. Suara tembakan saling bergantian terdengar dari berbagai titik kontak senjata antara pasukan TNI AU dengan musuh.

Skenario di atas merupakan rangkaian latihan antar Satuan Koopsau I Jalak Sakti 2019, terdiri dari Satuan Wing I Paskhas Hardha Marutha 2019 dan latihan Satbravo 90 Paskhas 2019 Gwa Wijaya 2019 di AWR Buding, Kecamatan Kelapa Kampit.

Latihan bersama Koopsau I disaksikan langsung Kasau Marsekal TNI Yuyu Sutisna, bersama sejumlah pati TNI AU, para Danlanud lingkup Koopsau I, Wakil Gubernur Bangka Belitung Abdul Fatah, Bupati Belitung Sahani Saleh, Wakil Bupati Beltim Burhanudin dan forkominda Kabupaten Belitung dan Belitung Timur.

Usai menyaksikan latihan, Kasau Marsekal TNI Yuyu Sutisna dalam keterangan pers merinci alutsista TNI AU yang dihadirkan. Di antaranya pesawat yang dimiliki Koopsau I adalah F16 satu Skuadron yakni Skuadron 16, pesawat Hawk 109 dan 209 Skuadron udara 12 dan Skuadron 21 dari Pontianak dan Pekanbaru. Dan juga pesawat-pesawat angkut jenis Hercules, CN Helikopter.

“Senjata yang baru yang akan ditampilkan di sini sebetulnya kemampuan daripada melepaskan roket atau penghancuran roket dari helikopter yang baru kita miliki dan juga persenjataan dari helikopter. Yang lainnya kita masih menggunakan yang lama,” ujar Marsekal Yuyu Sutisna.

Kasau menjelaskan, dalam pembangunan Angkatan Udara sesuai renstra bahwa kekuatan AU pengadaan yang terbaru mulai berdatangan mulai tahun depan di 2020 dan 2021 paling puncak akan banyak. Diharapkan di akhir renstra keempat tahun 2024 kekuatan Angkatan Udara sudah menjadi kekuatan yang tangguh yang cukup kuat sesuai ancaman yang ada.

“Kita bisa lihat dari pengeboman F16, sasaran hancur kemudian (pesawat) Hawk kita perlu meningkatkan. Prinsipnya latihan itu kita tidak pernah puas artinya 100 persen. Puas 100 persen kondisi iya, tapi belum puas karena harus terus meningkatkan dilanjut dengan latihan-latihan,” kata Marsekal Yuyu.

Marsekal Yuyu menegaskan pembangunan pertahanan TNI termasuk AU sudah memiliki roadmap. Sebagai acuannya adalah postur, renstra dan MEF (minimal essential force) yang berada di renstra ketiga dan akan berakhir di tahun 2019 ini.

“Masuk di renstra keempat pembangunan sudah ada disitu, kita akan membeli pesawat apa, amunisi apa sudah ada semua. Sebagai contoh, tahun depan kita sudah mulai memiliki peluru kendali dari udara ke udara jarak medium yang dulu kita tidak punya dan diawal 2020 akan terus datang,” sebut Marsekal Yuyu.

Menurut Kasau, roadmap diperlukan sebagai sebuah proses jangka panjang sebuah renstra. Apalagi pembelian alutsista tidak mudah karena selain perlu waktu karena teknologi tinggi, juga terkait regulasi di dalam negeri maupun di negara penjual.

“Untuk wilayah barat, pelanggaran masih tetap ada karena pelanggaran kan macam-macam. Ada pelanggaran administrasi perizinan sampai pelanggaran wilayah. Namun demikian, TNI AU khususnya pelanggaran wilayah udara kita selalu siap mengantisipasi pelanggaran. Banyak pelanggaran yang sudah kita tindak lanjut sampai kita laporkan komplit kepada negara yang melanggar,” tandasnya.

Hujan, Atraksi Paskhas Ditunda

Hujan lebat yang mengguyur Pulau Belitung kemarin, menyebabkan tertundanya atraksi penyelamatan sandera yang dilakukan Paskhas.

Marsekal TNI Yuyu Sutrisna mengatakan, faktor cuaca membuat latihan ini dihentikan. Dia menjelaskan, ada beberapa adegan yang belum dilaksanakan dalam Jalak Sakti 2019.

Di antaranya ada menembakan rudal kiwi ke pesawat drone yang melintas di AWR Budding. Namun, kondisi hujan yang lebat di lokasi, sehingga penembakan tersebut ditunda selama 30 menit.

“Saat kita sudah menunggu, namun kondisi cuaca masih tidak memungkinkan, akhirnya kami putuskan untuk tidak menyelesaikan acara,” kata Marsekal TNI Yuyu Sutrisna.

Dijelaskan Yuyu Sutrisna, dalam acara ini melibatkan belasan pesawat dan 1177 anggota TNI AU, dari Koopsau I. Tujuan utama dalam latihan ini, untuk mengetahui kesiapan AURI, dalam mengantisipasi adanya ancaman.

“Hari hasil latihan ini akan dilakukan evaluasi. Khususnya mengenai perkembangan teknologi pada latihan yang akan datang. Untuk latihan Jalak Sakti ini, dilaksanakan siang dan malam. Namun, yang bisa dilihat pada siang hari,” ungkapnya.

Dia menambahkan, dalam waktu dekat akan adalah latihan puncak. Yakni perpaduan antara Koopsau I dan II dengan sandi Angkasa Yudha, yang rencananya dilaksanakan pada Juli 2019. Namun, lokasinya masih belum ditentukan.

“Dari latihan di Koopsau I ini bisa dilihat kekuatan TNI AU, untuk menjaga dan melindungi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Intinya kami siap jika ditugaskan untuk operasi,” pungkasnya.

Baca juga:  Panglima TNI Kunjungan Kerja Ke Malang

Berita Terkait