Berita

Kasau : “Open Sky Policy Menjadi Tantangan Sekaligus Peluang”

Dibaca: 15 Oleh 17 Feb 2015Tidak ada komentar
M 458 NA B 25 Mitchell Indonesian Airforce 7168661149
#TNIAU 

Gagasan penerapan Open Sky Policy oleh negara-negara anggota ASEAN termasuk Indonesia dalam rangka mewujudkan ASEAN Road Map for Air Transport Integration pada tahun 2015, merupakan konsep global yang intinya persaingan bebas. Mencermati hal tersebut, Open Sky Policy disatu sisi mengandung tantangan tetapi disisi lain juga merupakan peluang karena unsur pertahanan dan eksistensi kedaulatan NKRI dapat tetap terjaga. 

Demikian dikatakan Kasau Marsekal TNI Agus Supriatna pada pembukaan Rakornis Pengamanan TNI AU di Mabesau Cilangkap, Senin (16/2). Rakor yang berlangsung sehari itu, diikuti oleh super visi pengamanan yaitu Dispamsan, Dispenau dan Dissurpotrudau jajaran TNI AU, serta Menteri Perhubungan Ignasius Jonan yang memberikan pencerahan tentang flight information region (FIR).

Dikatakan, Kebijakan Open Sky yang diterapkan di Indonesia diartikan sebagai terbukanya wilayah udara Indonesia atas berbagai penerbangan asing untuk melewati wilayah udara dan mendarat di bandara-bandara di wilayah Indonesia. Open Sky menetapkan bahwa semua bandara sipil di Indonesia terbuka bagi maskapai penerbangan asing manapun.

Baca juga:  Pelihara Kecakapan Prajurit, Lanud Hanandjoeddin Gelar Latihan Menembak

Terkait dengan kebijakan pemerintahan saat ini yaitu menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia, maka kesamaan cara pandang dalam konteks kedaulatan NKRI, khususnya tinjauan dari aspek ancaman faktual dan potensial perlu untuk diidentifikasi secara komprehensif, baik oleh TNI Angkatan Udara maupun Kementerian Perhubungan, sehingga interoperabiliti kedua institusi tersebut dapat sinergis, khususnya dalam penindakan suatu pelanggaran di wilayah udara nasional yang memberikan suatu tingkatan deterancejalas Kasau.

Sementara Aspam Kasau Marsma TNI Masnum Yan Manggesa mengatakan, saat ini dunia dibanjiri beraneka ragam produk tehnologi modern yang mempengaruhi pola hubungan dan komunikasi umat manusia termasuk hubungan antara negara. Dalam aspek militer perang dimasa mendatang yang syarat dengan tehnologi modern, maka TNI mengupayakan terwujudnya Network Cyber Warfare (NCW) untuk menghadapi sistem perang masa depan yang syarat dengan tehnologi cyber.

Terkait dengan ancaman terhadap pelanggaran wilayah udara yuridiksi nasional, TNI AU telah memiliki sistem pengawasan penerbangan salah satunya Transmission Data Air Situation (TDAS) yang merupakan sistem informasi pemantauan situasi udara yang mengintegrasikan hasil tangkapan radar udara terpasang, baik radar sipil maupun radar militer, berupa data obyek bergerak atau melintas.

Baca juga:  Raimuna Kota Bandung Kunjungi Lanud Husein S dan Satuan Pemeliharaan Pesawat

“Data tersebut diproses dan dikirim sebuah display sytem berbasis peta yang senantiasa online untuk ditampilkan pergerakan secara real time”, jelas Aspam Kasau.

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel