TNI AU - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara

Kaskohanudnas Salah Satu Narasumber FGD Potensi Kedirgantaraan 2018

DSC_2193

TNI AU. Kepala Staf Komando Pertahanan Udara Nasional (Kaskohanudnas) Marsma TNI Arif Mustofa, MM., mewakili Pangkohanudnas Marsda TNI Imran Baidirus, S.E. menjadi salah satu narasumber pada Focus Group Discussion (FGD) Potensi Dirgantara (Potdirga) tahun 2018 yang diselenggarakan Staf Teritorial (Ster) Mabes TNI di Gedung Gatot Subroto Denma Mabes TNI, Rabu (31/10).

FGD bertemakan “Optimalisasi Kemampuan Teritorial Apkowil dan Apnonkowil Potensi Dirgantara Dalam Rangka Pemberdayaan Wilayah Pertahanan Udara Guna Mewujudkan Sinergitas Binter di Wilayah”,  dibuka secara resmi oleh Asisten Teritorial (Aster) Panglima TNI Mayor Jenderal TNI George Elnadus Supit, S.Sos., dengan lima narasumber meliputi Aster Panglima TNI Mayor Jenderal TNI George Elnadus Supit, S.Sos, Kasubdit Angud Kemenhub Hari Budianto, Kaskohanudnas Marsma TNI Arif Mustofa, MM., Kadisfaskonau  Marsma TNI Ir Muchtar Mawardi dan Waaspotdirgaau Marsma TNI Nazirsyah.

Kaskohanudnas Marsma TNI Arif Mustofa, MM., membawakan makalah berjudul “Sishanudnas Dalam Penegakan Kedaulatan Wilayah Udara”. Dijelaskan sebagai salah satu negara besar yang memiliki daratan dan lautan yang luas di dunia, Indonesia juga mempunyai wilayah udara yang sangat luas yang ada di atas wilayah lautan dan daratan. Guna mempertahankan keutuhan dan kedaulatan wilayah udara itu, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) mempercayakan kepada TNI AU dan Kohanudnas untuk menjaganya.

Dalam upaya menjaga keutuhan dan kedaulatan wilayah udara, Kohanudnas memiliki satu sistem berupa Sistem Pertahanan Udara Nasional (Sishanudnas). Sishanudnas diselenggarakan secara terpadu antar berbagai unsur hanud di tanah air guna menangkal ancaman terhadap wilayah udara yuridiksi nasional dengan menganut sistem defence in depth. Selain mempunyai sistem penjagaan wilayah udara, Kohanudnas juga melaksanakan operasi pertahanan udara (hanud) guna menghadapi setiap ancaman yang menggunakan media udara.  Tahapan operasi hanud dilaksanakan secara terstruktur mulai dari deteksi oleh Radar, identifikasi dan penindakan oleh pesawat tempur sergap apabila ada pelanggaran wilayah udara nasional.

Terdapat tujuh jenis pelanggaran pesawat udara yang melintas di wilayah udara nasional yaitu pesawat asing terbang tanpa izin, pesawat sipil Indonesia terbang tanpa flight approval (FA) dan security clereance (SC) , pelanggaran terbang di wilayah terbatas dan dilarang, pelanggaran di wilayah ALKI, mengangkut bahan berbahaya, penerbangan tidak sesuai navigasi dan pelanggaran lintas transit.  “Apabila yang melanggar pesawat asing maka diajukan nota diplomatik, sedangan pesawat sipil Indonesia dikenakan sanksi administrasi dan pesawat sipil asing dikenakan denda administrasi.  Untuk itu, Kohanudnas senantiasa menjalin komunikasi dengan instansi terkait seperti Kemenlu, Kemenhub, Airnav Indonesia, Angkasa Pura, Atase Pertahanan Udara Negara sahabat dan lainnya untuk memonitor wilayah udara sekaligus mencarikan solusi apabila ada pelanggaran wilayah udara nasional,” jelas Marsma TNI Arif Mustofa, MM.

FGD yang dipandu Kolonel Pnb Sugiarto Prapto W.,S.Sos., tersebut diisi juga dengan tanya jawab dengan para peserta. Sedangkan peserta FGD merupakan para perwira dari Mabesau, Kotama TNI AU (Kohanudnas, Koopsau I,  Koharmatau, Kodiklatau, Korpaskhas) dan satuan TNI AU lainnya.  Menurut Ketua Panitia Kolonel Tek Imam Kuncoro yang merupakan Paban II Ster TNI terdapat sekitar 200 peserta FGD yang menghadiri FGD.

Leave a Reply

Verifikasi CAPTCHA *

Kaskohanudnas Salah Satu Narasumber FGD Potensi Kedirgantaraan 2018