Berita Kotama

Kawah Candradimuka (halaman 1)

Dibaca: 490 Oleh 12 Feb 2010Tidak ada komentar
emb 314
#TNIAU 

WING PENDIDIKAN TERBANG

Dari doeloe, Wing Pendidikan I TNI Angkatan Udara yang berlokasi di Pangkalan Udara Utama Adisutjipto Yogyakarta, merupakan kawah candradimuka bagi calon-calon Penerbang ABRI (kini TNI) / TNI AU.

Dengan adanya penyempurnaan organisasi dalam tubuh AURI maka komando pendidikan pun mengalami perubahan. Mulai tahun 1959 beberapa kesatuan pendidikan diantaranya Sekolah Penerbangan digabung di dalam Wing Pendidikan No. I di Lanud Adisutjipto.

Sebagai Komandan Wing Pendidikan No.I dirangkap oleh Komandan Pangkalan Udara Adisutjipto yang berturut-turut dijabat oleh :

Kolonel Udara Sudjatmiko.
Kolonel Udara Dewanto.
Kolonel Udara Alamsyah.
Kolonel Udara Saleh Basarah.

Sedangkan susunan pelaksanaan pendidikan penerbangan di Wing Pendidikan No.I ini terdiri dari :

Skadron “D” melaksanakan pendidikan ground school.
Skadron “A” melaksanakan pendidikan penerbangan dalam phase “Primary Training”
Skadron “B” melaksanakan pendidikan penerbangan dalam phase “Basic Training”

Skadron “C” melaksanakan pendidikan penerbangan dalam phase “Advance Training”.

Pelaksanaan Program Pendidikan

Setelah melaksanakan basic military training, para siswa kemudian berturut-turut mengikuti fase-fase latihan terbang. Kurikulum pendidikan sesuai dengan SPL Kalijati yang meliputi pelajaran-pelajar teori di kelas (Ground School) dan Flight Training. Sejak tahun 1962 berangsur-angsur pengelolaan pendidikan tampak lebih baik.

Kawah Candradimuka (halaman 1)

Siswa Sekbang Tempo Doeloe

Komandan Komando Pendidikan memerintahkan agar segera diadakan penilaian pada kurikulum semi akademis yaitu dengan menambah beberapa mata pelajaran sosial-science pada kurikulum SPL yang lama. Hal ini memang kondisi yang tidak bisa lagi dielakan, sebab pada tahun 1962 TRIKORA yang dicanangkan Presiden Soekarno telah memangil para penerbang dan ground instructure untuk bertugas di mandala (medan perang). Mulai dari Komandan Wing sampai dengan hampir semua instruktur turut aktif bertugas di Mandala.

Kawah Candradimuka (halaman 1)

Kolonel Pnb Jhon Dallas Sembiring
Komandan Wingdikter sekarang di depan AS-202 Bravo

Hal ini berarti pendidikan dan latihan mengalami stagnasi. Jangka waktu pendidikan penerbangan menjadi 3 tahun bukan karena kurikulumnya, tetapi keadaanlah yang membuatnya demikian yaitu :
 
Tenaga instruktur praktis tidak bertambah tetapi justru sering dikurangi.
Menjadi instruktur tidak menarik, kurangnya incentive materiil maupan spiritual.
Spare-spare pesawat mulai terasa kekurangan-kekurangannya, hal ini menyebabkan “aircraft in the flight line” untuk training jumlahnya menurun, sedangkan jam terbang tidak bertambah.
Jumlah kadet penerbang yang harus dilatih meningkat, mengingat kebutuhan operasional dari AURI harus dipenuhi.

Faktor-faktor ini semua menyebabkan lama pendidikan terbang menjadi 3 tahun. Sedangkan ground school kurikulumnya akan selesai dalam 10 bulan saja bila instrukturnya benar-benar dalam keadaan sadah teratur dan lengkap. Untuk mengisi kekosongan waktu, Komandan Skadron “D” yang waktu itu dijabat oleh Kapten Udara Saleh Basarah atas perintah Komando Pendidikan, ground training segera dilancarkan “Phase Training” dari kurikulum dengan menambah mata pelajaran social science dan melengkapi mata pelajaran lainnya.
 
Mata pelajaran Ground Training pada prinsipnya sama dengan yang diajarkan sekarang ini. Sedangkan mata pelajaran tambahan sesuai kondisi saat itu adalah:

Bahasa Inggris.
Leadership
Prinsip-prinsip Management.
Sosial Politik.
International Relationship.
History of Far East.
Falsafah Negara Pancasila
Hukum Militer dan Pidana.
Administrasi dan Organisasi AURI.
Etic Officier Etiquette.
Doktrin AURI.
Air Intelegence and Security.

Baca juga:  Lomba Menggambar Se-DIY di SMP Angkasa Adisutjipto Tingkat SD

Sylabus terbangnya sendiri dapat dibagi sebagai berikut. Fase Pre-primary. Dilaksanakan oleh Skadron “D”. Di dalam fase ini sylabus ditujukan khusus tentang “doktrin terbang”, mengenal bagian-bagian pesawat dan fungsinya, mengajarkan terminologi terbang dan analisis dan berkenalan dengan “the art of flying”.
 
Fase “Primary Training”. Mempergunakan pesawat L-40 Piper Cup dan pesawat Belalang hasil dari LAPIP Bandung. Jumlah jam terbang dalam fase ini adalah 35 jam. Fase ini merupakan fase pemilihan terutama mereka yang tak mempunyai bakat, atau tidak mempunyai dasar akan dikeluarkan dari pendidikan.
 
Fase “Basic Training”. Mempergunakan pesawat BT-13 Valiant. Kemudian setelah pesawat T-34 Mentor datang pada tahun 1960, “Basic Training” menggunakan pesawat Mentor tersebut, dan yang menggunakan pertama kali adalah kadet penerbang Angkatan XII. Jumlah jam terbang dalam fase ini 100 jam. Fase ini merupakan persiapan apakah seorang kadet dapat atau gagal melanjutkan kefase “Advance”.
 
Fase “Advance Training”. Merupakan fase untuk memperdalam dan menambah kemampuan terbang.. Untuk fase ini yang digunakan adalah pesawat “Harvard”. Dengan adanya pesawat T-34 Mentor, fase ini telah menggunakan pesawat T-34 Mentor yang scope sylabus latihan terbangnya disamakan dengan pesawat “Harvard”. Dalam fase advance yang ditekankan adalah teknik terbang, sehingga kelak di dalam fase transisi penyesuaiannya akan lebih mudah.

Kekuatan Instruktur dan Dosen

Flight Instructor rata-rata 5 sampai dengan 7 instruktur sudah termasuk Komandan-Komandan Skadron. Instruktur dan Komandan Skadronnya sendiri sering merangkap sebagai instruktur pada tiap-tiap tingkat fase flight training.
 
Pernah terjadi kekuatan atau jumlah instruktur hanya 3 orang saja, namun pernah pula mencapai maksimal 12 orang. Hal ini disebabkan oleh tugas-tugas operasi yang tidak dapat dihindari. Sehingga sering seorang Flight Commander melampaui batas jumlah jam terbang instruksi yang ditentukan oleh flight surgeon, tak kurang mencapai sampai 60-70 dan kadang-kadang 80 jam terbang sebulan.
 
Begitu pula Ground Instructor pernah hanya berkekuatan 4 orang perwira. Hal ini dialami angkatan IX, sehingga setiap perwira harus memberikan instruksi dalam kelas mencapai 7 macam pelajaran, mengingat pelajaran yang harus diselesaikan sebanyak 20 macam. Kekuatan rata-rata Ground Instructor ini sebanyak 10 orang perwira. Instruktur di Wing Pendidikan 1 ini antara lain:

Mayor Udara Saleh Basarah
Mayor Udara Sukotjo
Mayor Udara Sudarmadi
Mayor Udara Satio
Mayor Udara Utomo
Mayor Udara Anwar
Mayor Udara Sugiantoro
Mayor Udara Sofyan Hamsah
Mayor Udara Sujatio Adi
Mayor Udara Srijono.

Untuk mengajar mata pelajaran tambahan bekerja sama dengan dosen-dosen Universitas Gadjah Mada antara lain dari Fakultas Sastra, Fakultas Sospol, Fakultas Hukum dll.

Perimbangan dan Penilaian

Untuk memberikan pertimbangan dan penilaian bagi Kadet yang akan menyelesaikan pendidikannya, diadakan suatu “Board of Instructors” dan “Flight Recommendation” yang merupakan suatu dewan rekomendasi yang anggotanya terdiri dari Perwira Wing Pendidikan No. I, Komandan Skuadron A, Komandan Skuadron B, Komandan Skuadron C, Komandan Skuadron D, Seksi Psikologi, Seksi Kesehatan Penerbangan.
 
Rapat dewan meninjau tiap-tiap kadet dari masing-masing keahlian anggota dewan yaitu : Dari Flight Training ditinjau objektif dari hasil psikotes, temperamen emosi dan perkembangan masing-masing kadet. Dari segi kesehatan penerbang ditinjau objektif dari “Historical medical information” dan hasil uji kesehatan terakhir. Skuadron “D” memberikan pertimbangan hasil academic instruction, kerajinan dan kecerdasan para kadet.
Hasil dari pertimbangan-pertimbangan dan peninjauan dari rapat Dewan tersebut menjadi bahan pertimbangan Komando Pendidikan dan Komando Operasi dalam fase transisi serta kebijakan penempatan mereka dalam “unit operasional”.

Baca juga:  Danlanud Hanandjoeddin Divaksin Covid-19

Kawah Candradimuka (halaman 1)

Sekbang TNI AU: Candradimuka yang melahirkan ratusan gatotkaca

Sekolah Penerbang (Sekbang) sejak mulai didirikan oleh almarhum Bapak Adisutjipto sampai saat ini, telah mendidik hampir 70 Angkatan hingga kini. Kegiatan setiap pagi sebelum Latiham Terbang dimulai dengan pelajaran di kelas Skadron Groundschool.
Skadron Groundschool dengan beberapa unit di dalamnya, termasuk Link Trainer merupakan tempat memperoleh pelajaran Akademik untuk setiap fase yang meliputi pengetahuan Keudaraan, Prosedur Terbang, Aerodinamika, Radio Telephone, Navigasi, Kepemimpinan dan masih banyak lagi.
 
Sementara para siswa Sekbang sedang mendapatkan pelajaran teori, di tempat lain para Instruktur Terbang melakukan briefing untuk membicarakan dan menentukan pelajaran apa yang akan diberikan pada hari itu.
 
Sebelum mulai dengan latihan terbang, para siswa mengganti pakaian mereka dengan pakaian terbang yang kemudian dilakukan check up kesehatannya oleh seorang Dokter Penerbangan. Kesehatan merupakan faktor utama bagi seorang Penerbang, di samping faktor lainnya. Briefing antara instruktur dan siswanya dilakukan sebelum menuju Flite Line. Briefing ini berupa penjelasan tentang hal ihwal instrument yang ada di dalam pesawat serta tentang pelajaran terbang apa yang akan mereka dilakukan. Dengan sebuah Flying Helmet dan Parachute di tangan calon Penerbang menuju pesawat latih masing-masing di Flite Line.
 
Di sana telah menunggu beberapa buah pesawat Latih Dasar T-34 A (kini digunakan seri C) Mentor dan seorang Instruktur pada setiap pesawat. Pre Flight Check dilakukan sebelum mereka memasuki Cockpit untuk mulai Latihan Terbang.
 
Setelah berlatih dengan Mentor Alpha selama 135 jam dan berhasil terbang sendiri (solo), acara pendidikan dilanjutkan dengan Latihan Terbang Lanjutan menggunakan pesawat Latih Jet L-29 Dolphin selama 65 jam. L-29 Dolphin memiliki kemampuan terbang yang lebih cepat bila dibandingkan dengan Mentor Alpha dan dengan pesawat Latih Lanjut ini mereka melakukan Latihan Aerobatic. Karena kecepatan yang cukup tinggi itu maka siswa Sekolah Penerbang harus menggunakan G-Suit untuk menjaga pengaruh gaya grafitasi bumi terhadap tubuh mereka.

Kawah Candradimuka (halaman 1)

Latih Jet L-29 Dolphin

Setelah para siswa SEKBANG berhasil terbang solo dengan pesawat Latih Jet L-29 maka berarti pula bahwa mereka telah menyelesaikan latihan terbangnya yang juga berarti pula bahwa mereka berhak memakai Brevet Penerbang TNI di dada kirinya pada waktu penutupan pendidikan.

Pusat Kegiatan SEKBANG

Wing Pendidikan I merupakan salah satu lembaga pendidikan TNI AU yang berada di bawah Komando Pendidikan TNI AU dan mempunyai tugas untuk menyelenggarakan seluruh kegiatan Sekolah Penerbang ABRI (TNI). Karena tugas utamanya adalah menyelenggarakan atau mendidik para Penerbang, maka Komandan Wing Pendidikan I selalu bertindak atau menjabat pula sebagai Kepala Sekolah SEKBANG.
 

Baca juga:  Markas Kohanudnas Gelar Peringatan Nuzulul Quran 1439 Hijriah

Wingdik I mempunyai Skadron-Skadron Pendidikan (Skadik) yaitu:

Skadik 101 adalah Skadron pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan di luar SEKBANG seperti sekolah Navigasi, Seklah instruktur (SIP) dan Sekolah WARA.

Skadik 102 adalah Skadron pendidikan yang bertugas menyelenggarakan pendidikan SEKBANG tingkat Basic/dasar, yaitu yang memiliki sarana pesawat terbang T-34 A “Mentor” dan T-34C “Turbomentor”

Skadik 103 adalah Skadron pendidikan yang bertugas menyelenggarakan pendidikan SEKBANG tingkat Advance (lanjutan) yaitu yang memiliki sarana pesawat terbang L-29 Dolphin dan kemudian dilengkapi pula dengan pesawat latih jet HS Hawk. (Catatan: menjelang tahun 2000, HS Hawk mulai tidak aktif karena keterbatasan suku cadang dan jam terbang, sehingga fase latih lanjut berakhir dengan menggunakan pesawat T-34 C. Hanya mereka yang dijuruskan sebagai penerbang tempur yang akan melanjutkan fase transisi di skadron tempur yang ditunjuk).

Skadron 104 adalah Skadron pendidikan yang bertugas menyelenggarakan/mengelola seluruh pendidikan “Ground School” yaitu pendidikan Akademis dalam tiap-tiap fase pendidikan.

SATHAR 043 (kini berganti menjadi Skadron Teknik / Skatek 043) adalah Skadron Pemeliharaan yang bertugas mendukung seluruh penyiapan pesawat terbang yang digunakan sebagai sarana utama pendidikan SEKBANG tersebut.

Sejak tahun 1973 tepatnya sejak SEKBANG angkatan ke-19 Wingdik I mempunyai tugas pula untuk mendidik para penerbang dari Angkatan lain, yaitu TNI AD, TNI AL dan POLRI di samping juga mendidik siswa penerbang tamu dari Malaysia, Malagasi dan Bangladesh. Karena tugasnya inilah maka Wingdik I dengan SEKBANG-nya memperoleh sebutan sebagai SEKBANG ABRI walau secara teknis operasional maupun pembinaannya masih tetap berada di bawah Komando pendidikan TNI AU.
 

Wingdik I mulai menerima siswa penerbang tamu dari negara sahabat Malaysia adalah sejak tahun 1974 walaupun sebelumnya sewaktu masih dalam wadah AKABRI Bagian Udara yaitu tahun 1971 SEKBANG TNI AU juga telah pernah mendidik 7 orang Kadet Penerbang TUDM.
Adapun para Instruktur Penerbang yang bertugas di Wingdik I adalah selain tenaga personel Wingdik I sendiri, juga banyak diambilkan daripara Instruktur Penerbang Wing Buru Sergap, Wing Operasional 2, Wing Operasional 1 dan sebagainya, yang sebelumnya telah lulus SIP (Sekolah Instruktur Penerbang).
 

Bagi seorang calon penerbang militer, dituntut kemampuan yang maksimal di dalam mengikuti pendidikan SEKBANG ABRI di Wingdik I, misalnya seorang siswa penerbang harus sudah mampu terbang solo dalam waktu 10 jam sampai 15 jam terbang, di tingkat basic (dasar). Oleh sebab itu, faktor kesehatan (termasuk di dalamnya kemampuan daya reaksi dan “judgment”) banyak menentukan berhasil tidaknya seseorang siswa dapat lulus pada tingkat basic ini.
 

Wing Pendidikan I kini berganti nama menjadi Wing Pendidikan Terbang. Dan sebagai komandannya sekarang adalah Kolonel Pnb Jhon Dallas Sembiring.

 

Halaman 2

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel