Berita Kotama

Kawah Candradimuka (halaman 2)

Oleh 12 Feb 2010 Tidak ada komentar
BAe Hawk 209
#TNIAU 

SKADRON PENDIDIKAN 101

Kawah Candradimuka (halaman 2)

Kantor dan hanggar Skadik 101

SKADRON PENDIDIKAN 101

Kawah Candradimuka (halaman 2)

Kantor dan hanggar Skadik 101

Sesuai dengan keluarnya Surat Ketetapan KSAU No.57/45/Pen/KS/52 sejak tanggal 1 April 1954 terselenggaralah susunan dan penyatuan Sekolah/Pendidikan AURI, dimana Sekolah Penerbang berada dalam Kesatuan Pendidikan 001 di Pangkalan Angkatan Udara Kalijati. Di Pangkalan ini dilanjutkan pendidikan Sekolah Penerbang yang saat itu telah melahirkan penerbang-penerbang muda, walaupun dengan segala peralatan dan fasilitas yang serba terbatas.

Pada tahun 1958 Sekolah Penerbang Lanud Kalijati pindah ke Lanud Adisutjipto. Hal ini dilakukan dengan adanya penyempurnaan organisasi dalam tubuh AURI, sehingga Komando Pendidikanpun mengalami perubahan. Mulai tahun 1959 beberapa kesatuan pendidikan diantaranya Sekolah Penerbang digabung didalam Wing Pendidikan No. 1 di PAU Adisutjipto.
 
Adapun susunan pelaksanaan pendidikan penerbangan di Wing Pendidikan No. 1 ini terdiri dari :
 
Skadron A : Melaksanakan pendidikan penerbangan dalam phase Primary Training.
Skadron B : Melaksanakan pendidikan penerbangan dalam phase Basic Training.
Skadron C : Melaksanakan pendidikan penerbangan dalam phase Advance Training.
Skadron D : Melaksanakan pendidikan Ground School.

Dalam hal ini Skadron A mempunyai tugas untuk melaksanakan Sekolah Penerbang tingkat Mula dengan mengunakan pesawat latih jenis L-4J/Piper Cub serta pesawat Belalang NU-85 hasil dari LAPIP Bandung. Fase ini juga merupakan seleksi bagi siswa yang dapat melanjutkan ke pendidikan selanjutnya. Di samping itu Skadron A juga mendukung kegiatan Aero Club untuk umum.

Kawah Candradimuka (halaman 2)

Pesawat L-47/Piper Cub

Pesawat Piper Cub dan Belalang ini merupakan karya dari Opsir Udara II Wiweko Supono dan Opsir Muda Udara II Nurtanio Pringgo Adisuryo. Pesawat Piper Cup ini dibuat dari mesin yang diambil dari Motor Harley Davidson 2 Silinder, dengan kekuatan 15 PK. Dan sebagai kelanjutan dari eksperimen mereka, pada tahun 1958 diciptakan lagi pesawat NU-85 si-Belalang, yang menjadi pesawat andalan untuk mendidik para siswa sekolah penerbang pada saat itu.
Pada tahun 1965 pesawat Latih L-4J/Piper Cub berakhir masa pakainya, sehingga kegiatan Skadron A dari tahun 1966-1968 vakum. Sedangkan kegiatan Sekbang Tingkat Mula dilaksanakan oleh Skadron B dengan menggunakan Pesawat Latih T-41D/Cessna.

Kawah Candradimuka (halaman 2)

Pesawat NU-58/Si-Belalang

Perubahan menjadi Skadron 012

Pada tahun 1968 Skadron A berubah nama menjadi Skadron 012 yang berada dibawah Wing Pendidikan I dengan Komandannya Mayor Nav Sugiyanto. Adapun Kegiatan Skadron 012 ini adalah :
Pendidikan Sekolah WARA
Sekolah Navigator memakai pesawat C-47/Dakota

Kawah Candradimuka (halaman 2)

Pesawat C-47/Dakota yang digunakan untuk Pendidikan Seknav

Sebenarnya Pendidikan dan Pembentukan WARA telah dimulai sejak tahun 1963 yang dipusatkan di Kaliurang Yogyakarta, dimana Men/Pangau pada tanggal 2 Agustus 1963 telah melantik sebanyak 30 orang perwira WARA dengan pangkat Letnan Satu dan Letnan Dua dari berbagai jurusan, sebagai WARA angkatan pertama.
Pada tahun 1971 Komandan Skadron 012 diganti oleh Mayor Nav. Mardjuki, dimana kegiatanya adalah :

Melaksanakan Sekolah WARA
Sekolah Navigator memakai pesawat T-41 D/Cessna

Untuk melanjutkan estafet kepemimpinan, pada tahun 1975 Komandan Skadron 012 diganti oleh Mayor Nav. Eddy Subiantoro, dimana kegiatanya adalah masih sama dengan Komandan terdahulu yaitu pendidikan Sekolah WARA dan Sekolah Navigator memakai pesawat T-41D/Cessna.

Menjadi Skadron Pendidikan 101

Pada tahun 1978 Skadron 012 kembali terjadi perubahan nama dari Skadron 012 menjadi Skadron Pendidikan 101 (Skadik 101). Di mana Komandan Skadronnya juga mengalami pergantian yang dijabat oleh Mayor Pnb. Moersabdo. Adapun kagiatan yang dilasanakan pada saat itu adalah :
Melaksanakan sekolah WARA
Sekolah Navigator memakai Pesawat T-41D/Cessna.

Estafet Kepemimpinan Skadik 101

Pada tahun 1981, terjadi pergantian Komandan Skadik 101 dari Letkol Pnb. Moersabdo digantikan oleh Mayor Pnb. Purnomo Sidhi yang sebelumnya menjabat sebagai Kadis Ops Skadik 101.
Adapun tugas-tugas yang dilaksanakan Skadron Pendidikan 101 saat itu, antara lain:

Melaksanakan sekolah WARA
Sekolah Penerbang Tingkat Mula dengan menggunakan pesawat Latih AS-202 Bravo
Sekolah Navigator memakai pesawat latih AS-202 Bravo.
Sekolah Instruktur Navigator.
Mendukung kegiatan FASI.

Tahun 1985 Komandan Skadik 101 digantikan oleh Letkol Pnb.Suparno Muanam. Adapun tugas-tugasnya yang dilaksanakan saat itu meliputi:

Sekbang Tingkat Mula dengan menggunakan pesawat latih AS-202/Bravo.
Sekolah Instruktur Penerbang (Konversi)
Mendukung kegiatan FASI

Selanjutnya berturut-turut estafet Komandan Skadron Pendidikan dijabat oleh :

Letkol Pnb.Eddy Suwardjo
(12 Juli 1988 – 24 Maret 1990)
Letkol Pnb. Suminar Hadi
(24 Maret 1990 – 29 Mei 1992)
Letkol Pnb.Al Ibnu Muryanto
( 29 Mei 1992 – 8 Juni 1993)
Letkol Pnb.Eko Djatiprianto
( 8 Juni 1993 – 1 April 1996)
Letkol Pnb. Agus R. Barnas
( 1 April 1996 – 13 Agustus 1997)
Letkol Pnb. Ras Rendro Bowo S.
( 13 Agustus 1997 – 1 September 1999)
Letkol Pnb. Rakhman Hariyadi
( 1 September – 1 Februari 2001)
Letkol Pnb. Heri Ariyatno
(1 Februari 2001 – 12 September 2001)
Letkol Pnb. H. Chairil Anwar
(18 Oktober 2001 – 13 Desember 2002)
Mayor Pnb. Kusworo, SE.
(13 Desember 2002 – sekarang)

SKADRON PENDIDIKAN 102

Tak kenal maka tak sayang, demikian pepatah popular yang sering kita dengar. Lebih-lebih bagi generasi muda yang tertarik dengan profesi penerbang, khususnya militer, tentu perlu tahu lebih dekat dengan Sekbang TNI AU yang antara lain membawahi Skadron Pendidikan (Skadik) 102.
Untuk menjadi penerbang tidak bisa ujug-ujug (seketika) langsung jadi, tentu harus melalui proses yang berlangsung secara bertahap. Profesi penerbang merupakan pekerjaan yang membutuhkan skill tinggi, sehingga oleh karena itu terlebih dahulu harus melalui berbagai tahapan yang harus dikuasai. Nah, salah satu tahap yang harus dilalui adalah latihan terbang dengan pesawat Latih Dasar T 34 C Charlie dan tahap inilah yang menjadi tugas pokok Skadik 102.

Kawah Candradimuka (halaman 2)

Kantor dan hanggar Skadik 102

Itu baru gambaran umum saja. Untuk mengetahui lebih jauh tentang seluk-beluk dan apa saja yang dikerjakan oleh Skadik 102, termasuk alat-peralatan apa saja yang dimiliki serta dioperasikan guna menunjang proses belajar-mengajar dalam rangka mencetak calon-calon Gatutkaca pengawal dirgantara, akan dipaparkan secara lebih detil sebagai berikut.

Cikal Bakal Skadik 102

Ketika AURI mengirim pemuda-pemuda Indonesia ke California-Amerika untuk dididik sebangai penerbang, pimpinan AURI mengeluarkan kebijakan membuka Sekbang berikutnya di PAU Kalijati. Maksud dari pembukaan Sekbang ini untuk membina pendidikan lanjutan, dan menghidari kevakuman pendidikan penerbang di Indonesia. Langkah-langkah implementasi kebijakan pembukaan Sekbang di Kalijati adalah sebagai berikut.

Penerimaan Kadet Penerbang. Adapun yang diterima sebagai siswa Sekolah Penerbang tersebut adalah :
Siswa-siswa/Pelajar lulusan SMA bagian B atau yang sederajat.
Penerbang-penerbang dari Sekolah Penerbang di Indonesia yang terdahulu.

Untuk penerimaannya oleh pimpinan AURI telah dikeluarkan pengumuman yang bersifat panggilan kepada pelajar-pelajar yang berminat. Adapun syarat-syarat penerimaan sebagai berikut.

Tamat SMA bagian B
Tinggi sekurang-kurangnya 160 cm dan berat badan kurang lebih 58 kg.
Warga negara Indonesia berkelakuan baik.
Umur 18-25 tahun.
Lulus pemeriksaan kesehatan (medical test), Psychotest, Ujian Ilmu Pasti dan Bahasa.

Baca juga:  Wing I Paskhas Sambut Pesta Olahraga Asian Games 2018

Setelah mereka lulus dari bermacam-macam testing tersebut di atas, segera dididik menjadi Perwira Penerbang di PAU Kalijati untuk pendidikan dasar (Basic Training) yang diteruskan dengan pendidikan lanjutan (Advance) di PAU Andir Bandung hingga Sekbang V. Untuk penerbang Angkatan VI sampai dengan IX seluruhnya dilaksanakan di PAU Kalijati baik pendidikan dasar maupun pendidikan lanjutannya.

Pelaksanaan Program Pendidikan. Proses pelaksanaan program pendidikan/latihanterbang tersebut adalah sebagai berikut.

Latihan kemiliteran dan ground instruction selama 2 minggu.

Latihan terbang permulaan dengan pesawat Piper Cup kurang lebih 6 minggu. Sesudah 12 jam terbang harus sudah dapat terbang sendiri (solo flight).

Latihan terbang Elementer dengan pesawat Piper Cup selama 4 bulan dengan 60 jam terbang. Tahap latihan ini harus dapat menerbangkan pesawat tersebut dalam keadaan cuaca normal, dilanjutkan dengan belajar terbang malam, ground instruction seperti navigasi, meteo, pengetahuan motor pesawat, aerodinamika, peraturan penerbangan, dll.

Latihan terbang lanjutan dengan pesawat AT-6 Harvard atau BT-13 Valiant selama 9 bulan dengan 150 jam terbang yang terdiri dari terbang instrumen, terbang malam, mendarat dengan tanda-tanda, terbang dalam formasi, permulaan menembak dan melempar bom.
Setelah lulus mereka mendapat brevet penerbang kelas II.

Selama dalam pendidikan ini betul-betul ditanamkan sikap kemiliteran, mengingat disiplin udara merupakan syarat mutlak untuk penerbang. Mereka harus patuh terhadap pelaksanaan prosedur-prosedur penerbangan yang tepat, sebab hal ini untuk mempertinggi faktor keamanan dan mencegah atau mengurangi macam-macam kecelakaan. Kesalahan terhadap hal-hal ini serta dilakukan berulang-ulang hingga menimbulkan kesan ceroboh, dapat menyebabkan siswa dikeluarkan (wash out) dari pendidikan.
 
Mereka yang kondisi mental dan fisiknya lemah dipastikan gagal di tengah jalan dan dikeluarkan dari pendidikan. Itulah sebabnya mengapa sebagian besar banyak yang gagal dalam menyelesaikan pendidikan Sekbang – bahkan pada fase tahun 1950 hingga 1959 menunjukan hasil yang lulus lebih sedikit ketimbang yang gagal.
 
Untuk Pendidikan Penerbang Angkatan IX dipindahkan ke PAU Adisutjipto Yogyakarta, diwadahi dalam kendali Wingdik I pada tahun 1959 yang membawahi Skadron “ B “. Kemudian pada tahun 1968 Skadron “ B “ dirubah menjadi Skadron 016. Selanjutnya pada tahun 1978 Skadron 016 dirubah lagi menjadi Skadik 102 di bawah Wingdik Terbang Lanud Adisutjipto, berdasarkan Kep KSAU Nomor Kep /19/V/1978 tanggal 27 Mei 1978. Secara resmi Skadik 102 menyelenggarakan pendidikan sekolah penerbang pada tingkat Basic terbentuk, hingga sekarang.

Tugas Pokok Skadik 102

Skadik 102 bertugas membina dan menyiapkan unsur-unsur pendidikan yang berada dalam jajarannya meliputi :
Melaksanakan Pembinaan, Penyiapan pesawat, Awak pesawat, Prasarana serta melaksanakan pemeliharaan tingkat ringan terhadap sista udara untuk menjamin kelangsungan kesiapan pendidikan Satuan dan membina sarana pemeliharaan komponen dan prasarana yang ada di Skadron Pendidikan agar selalu siap pakai.

Pesawat Latih Yang Digunakan

Pada awalnya Sekbang di Indonesia menggunakan pesawat latih peninggalan Jepang yaitu pesawat Cureng (Pesawat Merah Putih Pertama ) kemudian diganti dengan pesawat untuk basic training yakni BT-13.

Kawah Candradimuka (halaman 2)

Cureng sang Legendaris

Dengan pertimbangan-pertimbangan kondisi, usia pesawat maupun faktor-faktor lain maka pesawat tersebut diganti dengan pesawat T-34A Mentor atau Mentor Alpha (tahun 1962). Karena jumlah siswa dan jumlah pesawatnya kurang seimbang sehingga tidak jarang bila sebuah pesawat digunakan latihan terbang sampai empat kali dalam satu hari. Keadaan itu membuat jam terbang pesawat tersebut cepat habis.

Kawah Candradimuka (halaman 2)

T-34 Charlie Latih Dasar

Pesawat Mentor Alpha menghasilkan lulusan 15 angkatan selama 16 tahun dan kondisinya sekarang sudah tidak laik lagi untuk latihan. Melihat keadaan ini serta untuk memelihara kelangsungan pendidikan selanjutnya maka didatangkan pesawat T-34C Charlie dari Amerika. Pesawat ini mempunyai kemampuan dan kecepatan yang lebih unggul dari pada pesawat T-34A. Pesawat T-34C Charlie ini digunakan sampai sekarang di lingkungan Skadik 102.

Kurikulum Pendidikan

Kurikulum pendidikan ini dibagi menurut macam pendidikannya, yaitu pertama Kurikulum Pendidikan Sekolah Dasar Kecabangan (Sesarcab) Penerbang. Untuk mengikuti pendidikan ini persyaratan yang harus dipenuhi adalah:

Syarat Umum
Lulusan AAU
Pangkat Letda
Usia maxsimum 26 tahun

Syarat khusus harus lulus tes-tes di bawah ini
Kesehatan
Psychotest
Kesamaptaan Jasmani A & B
Aptitude test

Lama Pendidikan. Waktu pendidikan sekolah dasar kecabangan penerbang 13 bulan atau 52 minggu atau 1415 jam pelajaran @ 45 menit dan 180.35 jam terbang @ 60 menit.
Materi Pelajaran. Pendidikan sekolah dasar kecabangan penerbang TNI AU dilaksanakan dalam tiga tahap sebagai berikut :

Tahap I. Pendidikan bina kelas murni selama 4 bulan atau 16 minggu atau 72 jam pelajaran @ 45 menit.
Tahap II. Pendidikan bina terbang latih dasar sebanyak 60.15 jam terbang persiswa @ 60 menit dengan pesawat AS-202 Bravo dan 189 jam pelajaran pararel dengan bina terbang.
Tahap III. Pendidikan bina terbang latih lanjut sebanyak 120.20 jam terbang per siswa @ 60 menit dengan pesawat T- 34C Charlie dan 504 jam pelajaran pararel dengan bina terbang termasuk CPL Course yang dilaksanakan pada akhir pendidikan.

Kedua, Kurikulum Pendidikan Sekolah Penerbang TNI Prajurit Sukarela Dinas Pendek (PSDP). Untuk mengikuti pendidikan ini persyaratan yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut.

Persyaratan Umum
Memiliki sikap mental dan Idiologi Pancasila
Memiliki kesehatan jasmani dan rohani sesuai persyaratan yang ditentukan
Berijazah Sekolah Lanjutan Atas ( SLTA )
Persyaratan Khusus
Memenuhi persyaratan tambahan yang diatur tersendiri
Lama Pendidikan
33 bulan / 132 minggu / 4900 jam pelajaran + 180 jam terbang
Materi Pelajaran. Pendidikan Sekolah Penerbang TNI Prajurit Sukarela Dinas Pendek dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu:

Tahap I. Pendidkan Dasar Keprajuritan (Dik Sarjurit)
Tahap II. Pendidikan Dasar Golongan Perwira (Dik Sargolpa)
Tahap III. Tahap ini melalui dua fase, masing-masing adalah pendidikan Penerbang (Dik Penerbang) dan Pendidikan Matra (Dik Matra).

Para Mantan Komandan Skadik 102

Dalam usianya yang ke-38 tahun, Skadik 102 secara silih berganti telah dipimpin oleh 20 komandan.

Tercatat sebagai komandan pertama adalah Mayor Pnb Sofyan Hamzah dengan call sign “Jupiter-34”, selama setahun dari 1965 s.d 1966. Sedangkan komandan ke-20 atau yang sekarang adalah Letkol Pnb Anang Nurhadi Susila (Jupiter-351).

Nama-nama para mantan komandan tersebut, termasuk komandan yang saat ini menjabat, secara lengkap tertera di bawah ini:

NO

NAMA

PANGKAT

JUPITER

KETERANGAN

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
 

Sofyan Hamzah
Gutomo S
Victor P
Tasrikin
Dibyo
Eko Suwaryo
Julikin
B. T. Nuringtyas
Mulyono Ds
Int. Aryasa
Ronngo Sunarso
Pld. Wattimena
I.B. Sanubari
I Wayan Suwitra
B.Jhon Dalas S
Agus Munandar
Sugihardjo
Agus Supriyatna
Agus Munandar
Anang N. Susila
 

Mayor Pnb
Mayor Pnb
Mayor Pnb
Mayor Pnb
Mayor Pnb
Mayor Pnb
Mayor Pnb
Mayor Pnb
Letkol Pnb
Letkol Pnb
Letkol Pnb
Letkol Pnb
Letkol Pnb
Letkol Pnb
Letkol Pnb
Letkol Pnb
Letkol Pnb
Letkol Pnb
Letkol Pnb
Letkol Pnb
 

J – 34
J – 46
J – 55
J – 62
J – 66
J – 79
J – 83
J – 96
J – 109
J – 114
J – 125
J – 133
J – 147
J – 214
J – 216
J – 210
J – 267
J – 221
J – 293
J – 351
 

1965 s/d 1966
1966 s/d 1967
1967 s/d 1972
1972 s/d 1974
1974 s/d 1976
1976 s/d 1978
1978 s/d 1980
1980 s/d 1983
1983 s/d 1985
1985 s/d 1987
1987 s/d 1988
1988 s/d 1990
1990 s/d 1993
1993 s/d 1994
1994 s/d 1996
1996 s/d 1998
1998 s/d 1998
1998 s/d 2000
2000 s/d 2002
2002 s/d sekarang
 

Para Alumnus (1978 – 2002)

Baca juga:  Karya Bakti Bersama di Taman Makam Pahlawan (TMP)

Sejak tahun 1978 Skadik 102 Wingdik I (Wingdik Terbang) tepatnya sejak Sekbang Angkatan Ke-33 mempunyai tugas, di samping mendidik para penerbang TNI AU, mendidik pula calon penerbang dari Angkatan lain – baik dari TNI AD, TNI AL maupun POLRI. Bahkan juga menggembleng siswa-siswa dari negara sahabat seperti Malaysia, Kamboja, Bangladesh.
 
Jumlah lulusan sekolah penerbang dari tahun 1978 sampai 2002 adalah 1029 penerbang yang terdiri dari TNI AU = 826 orang, TNI AL = 76 orang, TUDM (Tentera Udara Diraja Malaysia) = 6 orang, IPTN = 3 orang, Kamboja = 2 orang dan Madagaskar = 1 orang.
 
Seorang calon penerbang militer, dituntut kemampuan yang maksimal selama mengikuti pendidikan Sekbang. Misalnya, seorang siswa harus sudah mampu terbang solo dalam waktu 10 sampai 15 jam terbang di tingkat basic. Oleh sebab itu faktor kesehatan (termasuk di dalamnya kemampuan daya reaksi dan judgment) banyak menentukan berhasil tidaknya seorang siswa berhasil lulus pada tingkat basic ini. Hasil seleksi ini bukanlah merupakan hasil akhir untuk calon siswa penerbang, sebab setelah melampui tingkat basic ternyata seorang siswa dinilai kurang mampu sebagai calon penerbang , ia bisa saja harus”Washed Out” atau digugurkan.
 
Perlu pembaca ketahui bahwa pada setiap angkatan Sekbang selalu ada siswa yang tidak lulus, bahkan tercatat yang gugur dalam proses pendidikan ada 6 orang dari tahun 1978-2002. Kemampuan siswa akan diuji pada saat praktek terbang aerobatik dimana pada pelajaran ini siswa harus jungkir balik di udara. Jika tidak handal fisik, mental dan intelejensianya, ya silakan angkat koper kembali ke masyarakat (bagi siswa PSDP), atau cross ke korps lain (bagi lulusan AAU). Jadi penerbang memang tak mudah, tapi bukan berarti tak bisa – siapapun dia, asal diberi kesempatan dan lulus ujian seleksi.

Kisah-kisah Pilu Pesawat T-34C-1

Secara natural penerbang adalah makhluk yang habitatnya di daratan, namun dia bisa seperti burung terbang tinggi di udara dengan bantuan wahana udara bernama pesawat terbang (aircraft). Dengan belajar dan berlatih secara tekun, maka mampulah dia mengangkasa laksana burung elang atau rajawali terbang di langit yang tinggi.
 
Sementara itu, pesawat terbang sesungguhnya adalah “benda darat” yang – dengan rekayasa teknologi berdasarkan hukum fisika termodinamika – dan didesain sedemikian rupa sehingga bisa terbang. Namun lantaran sejatinya ia adalah “benda darat”, maka tidak mungkin pesawat terbang akan terus terbang – pada akhirnya akan mendarat juga di daratan. Persoalannya adalah, apakah mendaratnya pesawat tersebut karena kondisi “normal” (baca: dikendalikan pilot untuk didaratkan), atau mendarat karena “terpaksa mendarat” (baca: jatuh/ kecelakaan).
 
Jatuh (crash) adalah risiko yang selalu berpotensi bagi benda darat yang berada di ketinggian dan melayang di udara – apalagi hukum grafitasi Newton secara alamiah juga menghendaki demikian – seperti halnya pesawat terbang. Penyebabnya bisa karena human error (kesalahan manusia) atau technical error (kesalahan teknis). Sekbang sebagai lembaga pendidikan untuk mendidik dan mencetak calon penerbang, tak urung juga harus menerima kenyataan ini sebagai bagian dari risiko tugas – meski, tentu saja, tak dikehendaki sama sekali oleh siapapun.
 
Begitu pulalah dengan Skadik 102 yang mengoperasikan pesawat T-34 C, beberapa kali menerima kenyataan pahit dengan kisah-kisah pilu ketika sejumlah pesawat beserta instruktur dan siswanya mengalami kecelakaan terbang. Di bawah ini beberapa kejadian yang memilukan itu dan menjadi kenangan pahit sebagai pelajaran agar di kemudian hari tak terulang lagi.

Tragedi LD 3401

Terjadi di bulan November 1980, ketika itu Intruktur Penerbang dan Siswa Sekbang sedang melaksanakan kegiatan terbang malam dengan Exercise Pattern (Take Of Landing), pesawat terbang dalam keadaan normal dan tidak ada laporan ke Tower yang menyatakan bahwa pesawat LD 3401 tersebut mengalami trouble. Pesawat semula akan melaksanakan landing dengan mengunakan Run Way 09, namun ternyata tidak sampai ke landasan sehingga pesawat landing di sebelah kolam renang Tirto Adi Lanud Adisutpto.
Pada waktu malam itu ada beberapa anggota Ground Crew yang melihat jatuhnya pesawat dengan lokasi dekat kolam renang, sehingga langsung melaporkan kejadian tersebut ke Perwira Tehnik yang Duty Flight Line dan selanjutnya mengarahkan anggota menuju ke lokasi kejadian untuk mengevakuasi personel maupun materiil. Walhasil, setelah para anggota sampai di lokasi Mayor Pnb Mulyono beserta siswa Sekbangnya sudah meningalkan pesawat berjalan kaki menuju Rumah Sakit Lanud Adisutjpto. Instruktur beserta siswanya, syukurlah, selamat karena hanya mengalami luka-luka ringan, sedangkan pesawat T-34C-1 /Charlie dengan Nomer Register LD 3401 kondisi total lost.

Tragedi LD 3418

Di suatu pagi hari yang cerah, tepatnya tanggal 14 April tahun 1986 Mayor Pnb Kusmadi dengan siswa sedang melaksanakan terbang dengan Exercise Instrument. Pesawat mengalami Un Control (semua penel menunjukkan engine instrument maksimum ), engine performance tidak bisa dicontrol, sehingga instruktur memutuskan untuk segera landing.
Keputusan yang diambil oleh Mayor Pnb Kusmadi sudah tepat, namun pada saat akan melaksanakan pendaratan di Run Way 27 ternyata pesawat tidak sampai di landasan melainkan landing darurat di ujung Run Way 27 di atas sawah petani di Desa Kalitirto Berbah Sleman. Dalam accident ini tak ada korban, baik instruktur maupun siswa selamat dalam keadaan kondisi baik, hanya pesawat T-34C-1 /Charlie dengan Nomer Register LD 3418 mengalami total lost (tidak dapat digunakan lagi).

Tragedi LD-3413

Pada tanggal 22 Mei 1987 Instruktur Penerbang Mayor Pnb Budi Laksono beserta Siswa Sekbang Dody sedang melaksanakan kegiatan penerbangan dengan exercise Navigasi Ketinggian Rendah (NKR) di Area 04. Dikarenakan ketinggian pesawat terlalu rendah, mengakibatkan sayap pesawat menyambar pohon kelapa yang cukup tinggi di daerah tersebut, sehingga mengakibatkan posisi pesawat menukik ke tanah tepatnya di daerah Delanggu.
Siswa Dody yang masih berada dalam cockpit depan gugur di tempat kejadian, sedangkan Instruktur Penerbang yang berada di cockpit belakang kondisinya selamat. Namun accident tersebut mengakibatkan pesawat T-34C-1 /Charlie dengan Nomor Regrestasi LD 3413 ini mengalami kerusakan total lost.

Baca juga:  PANGLIMA KOSEKHANUDNAS III HADIRI PERINGATAN HUT KE-46 BASARNAS

Tragedi LD 3425

Accident yang sangat tragis pada tanggal 6 Maret 1990 menimpa sebuah pesawat T-34C-1/Charlie dengan nomor register LD 3425 terjadi di daerah perbukitan wilayah Kaliurang Yogyakarta, merenggut jiwa dua personel dan menghancurluluhkan Alut Sista TNI Angkatan Udara tersebut.
Instruktur Penerbang Kapten Pnb Sasongko berserta siswa Sekbang Heru sedang melaksanakan kegiatan exercise Terbang Malam di atas area sekitar Kaliurang. Saat itu cuaca sangat buruk tak bersahabat dan disertai dengan hujan yang lebat. Tepat pukul 12.30 pesawat LD 3425 kehilangan kontak (lost contact) dengan Tower Lanud Adisutjipto.
Upaya pencarian pun langsung dilakukan oleh Komandan Skadik 102 Letkol Pnb Wattimena dengan instruktur yang lain menggunakan pesawat T-34C-1/Charlie. Namun malam itu pencarian pesawat LD 3425 yang jatuh tidak membuahkan hasil. Kemudian dilanjutkan keesokan paginya dengan mendatangakan Tim SAR dari Jakarta menuju area perbukitan Kaliurang akhirnya, dan berhasil menemukan lokasi jatuhnya pesawat. Anggota Skadik 102 yang ditunjuk untuk melaksanakan evaluasi bersama Tim SAR, berikut Tim Medis langsung menuju ketempat lokasi kejadian.
Setelah sampai di tempat ternyata pesawat tersebut sudah hancur dan Instruktur Penerbang beserta siswa Heru ditemukan sudah meninggal dunia. Lokasi kejadian yang sangat berat di kawasan perbukitan membuat Tim Evakuasi kesulitan untuk mengambil jenazah korban, namun dengan usaha yang keras akhirnya jenazah dapat diambil dari lokasi kejadian. Akan tetapi pesawatnya tidak dapat diambil karena medannya yang cukup be
rat. Sampai sekarang pesawat LD 3425 masih berada di perbukitan Kaliurang Yogyakarta dan dinyatakan total lost.

Tragedi LD 3422

Di akhir tahun tepatnya tanggal 23 Desember 1992, pesawat LD 3422 mengalami accident yang diawaki oleh instruktur Mayor Pnb Suwarno dengan siswa Yogi. Saat itu instruktur dan siswa melaksanakan Exercise Practise Forced Landing (PFL).
Di dalam prosedur PFL siswa menyebutkan prosedur Emergency Fuel Shut Off pull out secara lisan saja. Namun kenyataan yang terjadi, siswa menarik handle di pesawat pada saat akan landing di Run way 09 sehingga pesawat tidak mampu masuk ke landasan melainkan jatuh di lapagan sepak bola Wonocatur Yogyakarta.
Accident ini mengakibatkan Mayor Pnb Suwarno meninggal dunia, sedangkan siswa Yogi selamat dengan luka bakar yang parah. Sementara pesawat LD3422 mengalami total lost.

Tragedi LD 3424

Hari yang naas buat Letda Tek Nugroho Hadi (Ipong). Ketika itu tepat tanggal 26 Juli 1994, siswa Sekbang sedang melaksanakan exercise manouver tahap demi tahap. Fase demi fase telah dilalui oleh siswa sehingga tibalah saatnya Letda Tek Nugroho Hadi diberi kepercayaan untuk terbang solo (Solo Flight) di area 32 di atas Candi Borobudur Magelang.
Namun kepercayaan tersebut rupanya tidak dilaksanakan dengan baik, melainkan – entah mengapa – dia sepertinya lupa semua yang telah diajarkan oleh istrukturnya. Bahkan prosedur pun diabaikan, betapa tidak, pada saat itu siswa Nugroho Hadi membuat manuver dengan altitude (ketinggian) pesawat di luar prosedur yang seharusnya dilakukan untuk manuver yang seharusnya – yaitu 6000 feet. Akan tetapi semuanya dilanggar oleh siswa Nugroho sehingga mengakibatkan accident yang tidak bisa dihindari sekaligus mengakhiri hidupnya sendiri.
Dengan kejadian tersebut mengakibatkan kerugian bangsa dan negara, karena pesawat LD 3424 hancur berkeping-keping dan hangus terbakar di belakang restoran Borobudur Magelang.

Tragedi LD 3406

Tanggal 24 Pebruari 1997 instuktur dan siswa SIP melaksanakan penerbangan dengan exercise manouver di area 08 (daerah Klaten). Di area tersebut engine instrument menunjukkan normal tidak ditemukan tanda-tanda adanya gangguan pada engine. Setelah selesai melaksanakan manuver pesawat call return to base, namun tiba-tiba engine mengalami uncontrol. Semua engine instrumet menunjukkan maksimum performa pada N1, N2 dan torque.
Kemudian instruktur Kapten Pnb Widiantoro melaporkan kejadian tersebut ke tower dan VCP bahwa pesawat LD 3406 mengalami gangguan engine dan tidak mampu lagi dikontrol oleh PCL di pesawat. Selanjutnya duty instructor meng-guide dengan memberi instuksi kepada Kapten Widiantoro agar landing dengan Emergency. Semua instruksi dari duty instructor melalui VCP dilaksanakan oleh Kapten Widiantoro, tetapi sayang pada saat akan landing dengan menggunakan R/W 09, Shut Off Valve tercabut sehingga pesawat tidak mampu lagi mendarat di Run way 09 melainkan di sawah dekat sungai sebelah barat R/W 09. Innalillahi wainna ilaihi roji’un. Kapten Pnb Widiantoro meninggal di tempat kejadian, sedangkan siswa SIP atas nama Mayor Pnb Suwandi selamat. Tetapi, lagi-lagi, pesawat LD 3406 mengalami Total Lost.

Tragedi LD 3414

Tragedi kali ini terjadi justru menjelang akhir pendidikan Sekbang, pada tanggal 20 Februari 1998. Instruktur dan siswa yaitu Mayor Pnb Imanulloh dengan siswa Leonardo Lawalatta mengalami nasib naas.
Saat itu Sekbang sedang melaksanakan navigasi jarak jauh (NJJ) dengan route Adisucipto-Halim-Palembang. Hari demi hari telah dilalui hingga hari terakhir latihan navigasi jarak jauh dinyatakan selesai. Pesawat LD 3414 yang diawaki oleh instruktur Mayor Pnb Imanulloh dengan siswa Leonardo menerbangi route Palembang-Halim.
Selesai melaksanakan pengisian bahan bakar di Lanud Halim, mereka melanjutkan penerbangan ke Lanud Adisucipto. Setelah overhead di landasan Adisucipto, pesawat seharusnya mendarat menggunakan R/W 09. Namun pesawat tersebut tidak langsung landing, tetapi melaksanakan dulu tactical roll di ujung R/W 27. Pada saat melaksanakan tactical roll itulah pesawat langsung menghujam ke tanah di ujung R/W 27. Instruktur beserta siswanya gugur di tempat kejadian dan mengakibatkan pesawat LD 3414 hancur total.

Tragedi LD3415

Faktor cuaca mempunyai andil sebagai penyebab kecelakaan, dan itulah yang terjadi pada tanggal 1 Desember 2000. Saat itu instruktur penerbang Mayor Pnb Yuni Purwo dan siswa Wira terbang dari Lanud Husein Sastranegara menuju Lanud Adisucipto dalam rangka latihan navigasi jarak jauh Sekbang Angkatan ke-63.
Di perjalanan tepatnya di daerah Purworejo hujan deras disertai angin yang kencang dan berawan yang sangat tebal mengganggu pandangan (visibility) awak pesawat. Sebelum masuk Purworejo komunikasi antar pesawat dengan tower Adisucipto masih contact dengan baik, namun beberapa menit kemudian komunikasi menghilang. Dan dicoba dari tower Adisucipto ke pesawat tidak ada jawaban. Dari pihak tower menginformasikan ke duty dispatch bahwa pesawat LD 3415 telah kehilangan contact (putus komunikasi). Dengan demikian dianalisa dan disimpulkan bahwa pesawat tersebut telah mengalami gangguan.
Ternyata beberapa jam kemudian mendapat laporan/informasi bahwa pesawat LD3415 telah jatuh di daerah Purworejo. Instruktur dan siswa meninggal di tempat kejadian. Accident ini menyebabkan pesawat LD 3415 mengalami total lost.

 

Halaman 3

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel