TNI AU - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara

Kawah Candradimuka (halaman 3)

By 12 Feb 2010Berita Kotama
1280px-Photo_20031215_122634

SKADRON PENDIDIKAN 104
 
Skadron Pendidikan (Skadik) 104 merupakan salah satu Skadron Pendidikan di bawah Pangkalan TNI AU Adisutjipto sebagai pelaksana pendidikan bina kelas (Gound School).
Untuk menjadi penerbang tidaklah muda dan tidak bisa ujug-ujug (seketika) langsung praktek terbang, tentu harus melalui proses yang berlangsung secara bertahap. Profesi penerbang merupakan pekerjaan yang membutuhkan skill tinggi, sehingga oleh karena itu terlebih dahulu harus mempelajari berbagai teori yang harus dikuasai. Nah, secara umum tugas pokok Skadik 104 dalam melaksanakan pendidikan bina kelas dan praktek lapangan sebelum melaksanakan pendidikan bina terbang, maka proses transfer ilmu pengetahuan (knowledge) dari instruktur kepada siswa harus dimengerti, dipahami dan dikuasai dengan sungguh-sungguh.

Skadik 104: Pelajaran teori dimatangkan di sini

Untuk mengetahui dan mengenal lebih jauh tentang seluk-beluk dan apa saja yang dikerjakan oleh Skadik 104, termasuk alat-peralatan apa saja yang dimiliki serta dioperasikan guna menunjang proses belajar-mengajar dalam rangka mencetak calon-calon Gatutkaca pengawal dirgantara, akan dipaparkan secara lebih detil sebagai berikut:

Bina Kelas

Belajar di kelas sebelum praktek di lapangan

Tugas pokok Skadik 104 adalah merencanakan, menyiapkan dan menyelenggarakan pendidikan bina kelas serta menyelenggarakan pemeliharaan sarana dan prasarana yang ada. Selain menyelenggarakan pendidikan bina kelas juga menyelenggarakan latihan terbang dengan simulator yaitu Frasca dan Flightmatic serta menyelenggarakan pendidikan praktek lapangan.
 
Kegiatan bina kelas dalam mendukung kegiatan Sekbang, Seknav (Sekolah Navigator), SIP (Sekolah Instruktur Penerbang) dan SIN (Sekolah Instruktur Navigator) memerlukan banyak hal-hal yang harus dipersiapkan, baik materi pelajaran, sarana dan prasarana ataupun Alin (Alat Instruksi) serta Alongis (Alat Penolong Instruksi).
 
Bina kelas merupakan pendidikan dasar dalam menunjang kegiatan pendidikan bina terbang, karena semua materi yang diajarkan memiliki keterkaitan langsung maupun tidak langsung dalam pelaksanaan pendidikan bina terbang. Sedangkan kriteria penilaian yang digunakan harus memenuhi standard pendidikan yang sesuai dengan kurikulum.
 
Pendidikan bina kelas ditangani langsung oleh tenaga didik dari Lanud Adisutjipto dan AAU ataupun tenaga didik dari luar lingkungan TNI AU yang berhubungan dengan materi tertentu. Tenaga didik yang dari Lanud Adisutjipto yaitu seluruh Instruktur Penerbang, Perwira Teknik atau anggota yang ditunjuk yang memiliki keterkaitan dengan teknik pesawat, ataupun perwira lainnya yang ditunjuk yang dapat mendukung pendidikan bina kelas. Sedangkan tenaga didik dari luar lingkungan TNI AU diantaranya meliputi materi pelajaran tentang Communication Skill, Conduct of Flight, Air Law dan lain sebagainya.
 
Sesuai dengan kurikulum yang ada, maka berdasarkan Skep Kasau Nomor : Skep/36/IV/2002 tanggal 9 April 2002 tentang kurikulum pendidikan Sekolah Dasar Kecabangan Penerbang, maka pendidikan bina kelas untuk siswa sekbang dari perwira lulusan AAU diselenggarakan sebanyak 444 jam pelajaran selama kurang lebih 2,5 bulan secara murni dan yang paralel dengan pendidikan bina terbang sebanyak 724 jam pelajaran selama 11,5 bulan. Sedangkan pendidikan bina kelas dari PSDP (Prajurit Sukarela Dinas Pendek) berdasarkan Skep Panglima TNI Nomor : Skep/612/X/2001 tanggal 18 Oktober 2001 tentang kurikulum pendidikan Sekolah Penerbang TNI (PSDP) sebanyak 2496 jam pelajaran secara murni selama 13 bulan dan yang paralel dengan pendidikan bina terbang 532 jam pelajaran selama 11 bulan.
 
Selama pendidikan bina kelas ataupun pendidikan bina terbang, siswa Sekbang diharapkan siap secara phisik maupun mental dan dapat mengikuti pendidikan secara keseluruhan dengan hasil yang memuaskan. Atau, paling tidak, memenuhi standar pendidikan Sekbang karena mereka merupakan siswa pilihan yang sudah memenuhi syarat atau standar sebagai calon penerbang yang nantinya mengawaki alat utama sistem senjata (alutsista) yang harganya mahal.
 
Selain itu, siswa Sekbang boleh dikatakan termasuk aset negara, khususnya TNI AU yang nantinya menjadi pengawal dirgantara negaranya. Selain disiplin ilmu yang ditekuni selama dalam pendidikan, pembinaan terhadap siswa juga ditekankan pada aspek sikap mental (attitude), disiplin, motivasi dan dedikasi.
 
Menerbangkan pesawat di media udara membutuhkan kosentrasi yang tinggi, tentu saja, karena resiko yang dihadapi sangatlah berat bahkan nyawa jadi taruhannya. Untuk itu, pendidikan bina kelas merupakan bekal awal dalam menunjang kegiatan pendidikan bina terbang sehingga siswa Sekbang harus benar-benar dapat menyerap secara keseluruhan ilmu yang diberikan.
 
Dunia pendidikan, termasuk di sini pendidikan pe¬nerbangan, selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahu¬an dan teknologi (iptek), khususnya perkembangan iptek kedirgantaraan. Tak pelak, materi pendidikan Sekbang merupakan disiplin ilmu yang niscaya berhubungan dengan teknologi. Sementara teknologi sendiri setiap saat selalu berkembang dengan pesat, sehingga tak ada pilihan bagi siswa Sekbang selain harus mampu juga mengikuti perkembangan teknologi.
 
Disiplin ilmu merupakan syarat mutlak yang harus selalu dikuasai dan ditumbuh-kembangkan dengan mengikuti perkembangan tehnologi. Dengan disiplin ilmu inilah, Skadik 104 dalam mengimplementasikan pendidikan bina kelas dengan melaksanakan beberapa program pendidikan sebagai persyaratan baik itu, Sekbang, Seknav, SIP maupun SIN. Program pendidikan bina kelas tersebut disesuaikan dengan kebijaksanaan pimpinan TNI Angkatan Udara yang dituangkan dalam sylabus-sylabus pendidikan.
 
Adapun pendidikan-pendidikan yang diselenggarakan sebagai berikut:

Belajar membaca peta bagi siswa Seknav

Kejuruan Sekbang, Seknav, SIP dan SIN. Sesuai dengan kejuruan-kejuruan pendidikan yang dituangkan dalam sylabus pendidikan, maka Skadik 104 menyelenggarakan pendidikan bina kelas untuk menunjang kegiatan bina terbang, karena semua materi yang diajarkan memiliki keterkaitan langsung maupun tidak langsung dalam pelaksanaan pendidikan bina terbang. Kejuruan-kejuruan tersebut dititik-beratkan pada materi-materi ajaran tentang prosedur-prosedur penerbangan yang meliputi normal prosedur ataupun emergensi prosedur. Dalam pendidikan bina kelas menggunakan metode-metode ceramah, diskusi, demonstrasi dan praktek serta metode tanya jawab, sehingga diharapkan siswa dapat mengerti, memahami dan melaksanakan tugas belajar dengan baik dan benar. Sedangkan kriteria penilaian yang digunakan harus memenuhi standard pendidikan yang sesuai dengan kurikulum. Siswa dituntut mencapai standard nilai bina kelas minimal 85 %, kecuali materi pelajaran Emergency Procedure harus mampu memperoleh nilai 100 %.
Course Civilian Pilot Licence (CPL). Sesuai dengan kurikulum yang ada, di lembaga pendidikan Skadik 104 selaku penyelenggara CPL Course menyiapkan segala kebutuhan baik yang menyangkut materi yang diajarkan, sarana dan prasarana ataupun tenaga pendidiknya. Dalam pelaksanaan pendidikan CPL Course diselenggarakan selama kurang lebih 2 minggu, baik teori maupun praktek. Siswa Sekbang dengan mendapatkan bekal pendidikan ini nantinya dapat memahami dan mengerti serta mematuhi prosedur-prosedur yang berlaku di dunia penerbangan sipil. CPL Course merupakan dasar awal sebagai seorang penerbang yang sudah mengantongi jam terbang kurang lebih 250 jam. Teori ataupun praktek yang dilaksanakan siswa di dalam rangkaian kegiatan pendidikan merupakan bekal ilmu untuk menjadi seorang penerbang.

Kursus Pengembangan Kepribadian (Training Communication Skill).

Dosen tamu pakar pengembangan pribadi

Seiring dengan perkembangan dunia pendidikan, maka pembekalan Kursus Pengembangan Kepribadian dalam pendidikan Sekbang dan Seknav dipandang sangat penting. Kursus tersebut dilaksanakan selama satu minggu dengan alokasi waktu sebanyak 36 jam pelajaran. Pembekalan kursus pengembangan kepribadian merupakan modal dasar keterampilan berkomunikasi dalam pengembangan pribadi baik di lingkungan militer maupun masyarakat umum dengan kata lain ketrampilan ini akan memberikan nilai tambah bagi yang bersangkutan.
Metode yang digunakan oleh pengajar sangat variatif yaitu dengan ceramah, latihan, praktek dan game sehingga sangat menarik antusiasme peserta kursus. Siswa peserta banyak yang menyatakan bahwa kursus ini sangat bermanfaat bukan hanya untuk sesaat tetapi lebih dari itu, setelah mengikuti kursus tersebut rasa percaya diri mereka semakin kuat, bisa tampil lebih menarik dan masih banyak manfaat lain yang diperoleh.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa program Kursus Pengembangan Kepribadian ini sudah tepat sasaran dan sangat strategis serta berwawasan jauh ke depan. Karena mengandung harapan agar generasi penerus TNI Angkatan Udara mempunyai nilai-nilai pribadi yang positif, tanggap terhadap tuntutan masyarakat dan mampu menjadi jembatan dalam komunikasi antara TNI Angkatan Udara dengan masyarakat pada umumnya.

KIBI (Kursus Intensif Bahasa Inggris). Bahasa merupakan sarana komunikasi yang esensial diantara manusia. Sedangkan Bahasa Inggris bagi siswa Sekbang dan Seknav merupakan modal dasar dalam mengarungi dunia penerbangan. Oleh karena itu, pendidikan sejenis β€œKIBI” yang diselenggarakan oleh Skadik 104 mempunyai peranan yang sangat penting bagi siswa Sekbang maupun Seknav dalam mengikuti rangkaian pendidikan. Penguasaan bahasa Inggris maupun terminologi penerbangan merupakan salah satu modal utama dalam kesuksesan belajar

Praktek Lapangan

Kegiatan pendidikan yang diselenggarakan oleh Skadik 104 selain pendidikan bina kelas juga menyelenggarakan kegiatan pendidikan praktek lapangan. Kegiatan praktek lapangan ini merupakan rangkaian program pendidikan untuk Sekbang dan Seknav yang sesuai dengan kurikulum pendidikan. Adapun kegiatan tersebut meliputi :

Para Dasar bagi siswa Sekbang PSDP. Berdasarkan surat keputusan Panglima TNI Nomor: Skep/612/X/2001 tanggal 18 Oktober 2001 tentang kurikulum pendidikan Sekolah Penerbang (Sekbang) TNI PSDP yang telah di revisi dari kurikulum sebelumnya, maka siswa Sekbang TNI PSDP (Perwira Sukarela Dinas Pendek) mendapat tambahan pendidikan Separadas.
Pendidikan tersebut diberlakukan sejak dikeluarkan Skep dari Panglima TNI dan Sekbang TNI PSDP Angkatan XVII merupakan angkatan yang pertama kali melaksanakan pendidikan tersebut di Lanud Sulaiman Bandung selaku penyelenggara pendidikan selama kurang lebih satu bulan. Kalender pendidikan Separadas untuk selanjutnya akan disesuaikan dengan kurikulum pendidikan bina terbang dan dikoordinasikan dengan Karbol AAU agar dapat digabung dalam pelaksanaannya, sehingga diharapkan penyelenggaraan pendidikan tersebut dapat dilaksanakan dengan efektif dan efisien.

Sar dan Survival. Pangkalan TNI AU Adisutjipto selaku penyelenggara pendidikan Sekolah Penerbang dan Sekolah Navigator di dalam program pendidikannya, membekali para siswanya pengetahuan dasar survival dan praktek di lapangan sebelum melaksanakan kegiatan pendidikan bina terbang. Dengan pengetahuan dasar survival dan praktek di lapangan tersebut siswa Sekbang dituntut mampu menghadapi kondisi yang berbahaya dan beresiko tinggi agar dapat mempertahankan hidup. Karena, manusia dengan kondisi tersebut baik fisik ataupun mental akan selalu berusaha untuk memper¬tahankan hidup (survive).

Latihan Sea Survival

Dengan demikian pembekalan dasar survival diharapkan para siswa Sekbang mampu mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan Satuan ataupun dalam kondisi darurat yang tidak dapat ditanggulangi oleh siapapun. Dengan survive, keselamatan terbang dan kerja akan terpelihara menuju zero accident.

Simulator AS 202 Bravo dan T – 34 Charlie

Keberadaan simulator di Skadik 104 merupakan penunjang pendidikan Sekbang dalam mendukung pendidikan bina terbang baik itu simulator pesawat AS 202 Bravo Frasca) ataupun simulator pesawat T 34 Charlie (Flightmatic) . Skadik 104 selain melaksanakan pendidikan bina kelas, juga memberikan materi pendidikan bina terbang dengan menggunakan simulator.

Simulator AS-202 Bravo memudahkan latihan

Sedangkan pada fase ini biasanya digunakan untuk melaksanakan Aptitude Test bagi calon siswa Sekbang baik dari lulusan AAU ataupun dari SMA yang akan mengikuti pendidikan Sekbang PSDP, siswa Sekbang sebelum pendidikan bina terbang dengan pesawat AS 202 Bravo di Skadik 101 dan siswa Sekbang sebelum pendidikan bina terbang dengan menggunakan pesawat T 34 Charlie di Skadik 102.
Simulator ini sebagai Ground Equipment yang dapat digunakan latihan secara terbatas yaitu latihan Ground Operation dan Instrument Flying. Alat ini bekerja dengan sistem elektronik dan mekanis yang digerakkan dengan aliran listrik, digunakan sebagai pengganti pesawat terbang yang sesungguhnya. Semua gerakan pesawat dapat ditirukan oleh alat tersebut, sehingga siswa seolah-olah berada di balik kokpit pesawat dan menerbangkannya.

Komandan Skadik 104 kini dijabat oleh Letkol Pnb Mikhael Wisnu Herlambang, alumnus IDP 2, yang menggantikan pejabat sebelumnya Letkol Pnb Hery Irsal (AAU 1985).

SKADRON TEKNIK 043

Keberadaan Skadron Teknik 043 sebagai bagian dari TNI AU tidak dapat dipisahkan dengan berdirinya Sekolah Penerbangan yang pertama di Indonesia, tepatnya di Yogyakarta. Di tengah-tengah kemelut para pejuang yang ingin mempertahankan kemerdekaan sekaligus menata organisasi, para pemuda yang tergabung dalam TRI Jawatan Penerbangan tentu tidak kecil peranannya. Beberapa sosok tubuh manusia yang berjuang dengan sepenuh daya dan upayanya, dengan fasilitas dan peralatan yang sangat terbatas berusaha memperbaiki pesawat-pesawat bekas peninggalan tentara Belanda dan Jepang.

Skatek 043 berusaha mewujudkan motto β€œKeep Them Flying”

Atas jerih payah tersebut, pada tanggal 7 Oktober 1945 sebuah pesawat dengan tanda bendera merah putih berhasil diterbangkan oleh Bapak Adisutjipto yang pertama diatas bumi Maguwo. Keberhasilan ini kemudian disusul yang lainnya. Dengan tersedianya beberapa pesawat yang siap operasi dan atas usaha dalam mengejar ketertinggalan, pada tanggal 15 November 1945 telah dibuka Sekolah Penerbangan yang pertama di bumi Indonesia.
 
Skadron Teknik 043 adalah unit pelaksana dibawah Lanud Adisutjipto bertugas melaksanakan pembinaan pemeliharaan alutsista beserta komponen-komponennya dari tingkat ringan sampai tingkat sedang guna mendukung kelancaran Operasi Pendidikan Sekolah Penerbang. Bertitik tolak dari tugas yang diemban semenjak berdirinya sekolah penerbangan yang pertama kemudian bergeser ke Andir, lalu Kalijati dan kembali ke Lanud Adisutjipto hingga saat ini, maka kesatuan kecil yang berperan melaksanakan pemeliharaan pesawat terbang saat itu adalah sebagai cikal bakal adanya Skadron Teknik 043.

Cikal Bakal di Maguwo

Peranan dan pengabdian TNI AU dapat terlihat lebih jelas dalam perjuangannya mempertahankan dan mengisi kemerdekaan semenjak terbentuknya Tentara Keamanan Rakyat Jawatan Penerbangan pada tanggal 15 Oktober 1945. Dengan dukungan peralatan yang serba terbatas serta situasi yang belum menentu, para pemuda yang tadinya belajar pada tentara Belanda dibidang pemeliharaan pesawat terbang bergabung dalam TKR Jawatan Penerbangan dengan mencoba membangun dan memperbaiki pesawat-pesawat yang bisa dikatakan rongsokan.
 
Para teknisi di Pangkalan Udara Maguwo antara lain Basir, Surya, Tulus Marto Atmodjo, Tjarmo, M Jakob, Agus Rasidi, Patah, Wirasat, Sudarso dan D. Samsudin berhasil memperbaiki beberapa pesawat Cureng. Pesawat yang tadinya ditandai lingkaran putih ditambahi merah diparuhan atasnya sehingga terbentuklah lingkaran merah putih lambang Negara Republik Indonesia.
Di lain tempat Pangkalan Cibeureum, Tasikmalaya dan Panasan para teknisi antara lain Sumarto berhasil memperbaiki pesawat Nishikoren dan Cukyu yang oleh Adsutjipto kemudian diterbangkan menuju Maguwo. Dengan adanya beberapa pesawat yang telah siap terbang, pada tanggal 15 Nopember 1945 dibuka Sekolah Penerbang yang pertama di Maguwo oleh Adisutjipto.
Jerih payah dari para teknisi tersebut ternyata tidak hanya mampu mendukung pelaksanaan Sekolah Penerbang namun juga berhasil mengukir Sejarah Pesawat pengabdian TNI AU dalam operasi pemboman di tiga kota sekaligus yakni Salatiga, Ambarawa dan Semarang pada tanggal 29 Juli 1947 saat menjelang fajar. Dari sinilah sebenarnya cikal bakal personil yang dalam pengembangannya menjadi Skadron Teknik 043.
 
Setelah Adisutjipto gugur pada tanggal 29 Juli 1947 akibat pesawatnya ditembak Belanda, kegiatan pendidikan Sekolah Penerbang kurang terdengar ceritanya apalagi setelah datangnya serangan tentara Belanda pada tanggal 19 Desember 1948 yang berakibat pesawat-pesawat yang telah kita miliki sebagian besar juga ikut hancur.
Upaya untuk mendapatkan haknya sebagai negara yang merdeka semakin mendekati kenyataan, pada pertengahan tahun 1949 telah dilaksanakan KMB (Konferensi Meja Bundar). Hasil dari konferensi tersebut pemerintahan Republik Indonesia telah mendapatkan pengakuan secara sah dan dari rentetan peristiwa tersebut pemerintah RI telah menerima beberapa jenis pesawat terbang yang penyerahannya dilaksanakan di Lanud Kalijati. Jenis pesawatnya antara lain:

L-4J Piper Cup
BT-13 Valiant
AT-16 Harvard
Auster
P-51 Mustang
SA-16A Albatros
PBY-5 Catalina

Guna menangani pesawat-pesawat yang telah dimiliki dan mempersiapkan pengembangannya, pada tangal 30 September 1946 telah dibuka beberapa pendidikan diantaranya Sekolah Teknik Udara di Madiun kemudian disusul adanya STUPA, serta mengirim beberapa pemuda keluar negeri. Dengan pendidikan ini diharapkan para teknisi memiliki kemampuan yang handal dalam mengawaki organisasi TNI Angkatan Udara.

Sekbang di Andir

Akibat serangan tentara Belanda ke Maguwo tahun 1948 hasil jerih payah para teknisi sebagian besar ikut hancur karena hanya beberapa pesawat saja yang berhasil diselamatkan. Dengan susah payah para teknisi di Kalijati berusaha membangun kembali beberapa pesawat peninggalan Belanda walaupun sebagian kerangkanya tak ubahnya seperti besi tua.
 
Beberapa pesawat dipindahkan ke Andir untuk diperbaiki. Atas usaha ini pada tahun 1950 telah berhasil dibuka kembali Sekolah Penerbang di Andir oleh Perwira Pemeliharaan Achmad dibantu oleh Tosin. Jumlah dan jenis pesawat latihnya adalah sebagai berikut:

L-47 Piper Cup, sebanyak 62 buah sebagai pesawat latih mula.
BT-13 sebanyak 46 buah sebagi pesawat latih dasar.
AT-16 Harvard sebanyak 74 buah sebagai pesawat latih lanjut.

Pelaksanaan kegiatan Sekolah Penerbang di Andir ternyata tidak berjalan lama karena adanya pertimbangan tertentu Sekolah Penerbang dipindahkan ke Lanud Kalijati termasuk para teknisi yang menyiapkan dan memelihara pesawat. Achmad tidak ikut pindah ke Kalijati sehingga pejabat tertinggi dibidang pemeliharan pesawat digantikan Tosin dengan pangkat Letnan Udara II.

Sekbang di Kalijati

Pada saat kegiatan sekolah penerbang dilaksanakan di Andir, pemeliharan pesawat terbang sudah terbagi menjadi tiga tingkat yaitu tingkat berat, sedang dan ringan. DTU (Depot Teknik Udara) melaksanakan pemeliharan tingkat berat dan KPAU (Kesatuan Pendidikan Angkatan Udara) 001 terdiri dari dinas luar dan dinas dalam. Dinas luar melaksanakan penyiapan pesawat terbang untuk latihan dan pemeliharan tingkat sedang.
Pada tahun 1953 kegiatan Sekolah Penerbang dipindah ke Lanud Kalijati dan nama kesatuan KPAU 001 diganti menjadi KPAU 002 karena KPAU 001 untuk pendidikan Para. Jenis pesawat yang beroperasi di Lanud Kalijati adalah:

L-4J Piper
AT-6
AT-15
BT-13
T-6G
Helikopter jenis Bell sebanyak 2 buah

Perwira teknik Tosin digantikan oleh Sontang yang saat itu berpangkat Letnan Udara II. Para perwira, bintara dan tamtama yang menangani pemeliharaan pesawat terbang sudah mulai dari pendidikan, termasuk para perwira teknik lulusan STUPA. Tahun 1955 sudah meluluskan sebanyak 23 orang penerbang
Pendidikan berjalan terus hingga tahun 1958 berhasil menyelesaikan tiga angkatan dan angkatan keempat diselesaikan di Lanud Adisutjipto karena adanya Operasi Karya yakni pindahnya kesatuan pendidikan Sekolah Penerbang dari Kalijati ke Lanud Adisutjipto mulai bulan Januari 1959 hingga selesai pada tahun 1962.

Sekbang di Lanud Adisutjipto

Secara berangsur-angsur mulai awal tahun 1959 Kesatuan Pendidikan 002 dikembalikan ke Maguwo Adisutjipto dan berakhir tahun 1962 dengan Perwira Teknik Letnan Udara I Sumaryo. Dikenal sebagai Operasi Karya karena sarana dan prasarana fasilitas serta pesawat terbang yang diperlukan termasuk personil ikut dipindahkan.
Adanya peningkatan kemampuan dibidang keuangan mulai terpikirkan untuk mengganti pesawat-pesawat tua dengan pesawat-pesawat baru yang lebih mutakhir dan juga untuk menyesuaikan perkembangan teknologi. Sebagai realisasinya tahun 1961 telah didatangkan pesawat T-34A Mentor sebagai pesawat pengganti pesawat lama untuk latih dasar sebanyak 45 buah.
Kesatuan Pendidikan 002 dipecah menjadi 3 skadron. Skadron A, melayani latih mula dengan pesawat L-4J Piper Cup. Skadron B melayani latih dasar dan Skadron C melayani latih lanjut. Sedangkan kesatuan-kesatuan dinas dalam T-4 terpisah dari skadron tersebut, bernaung dibawah Depolog 40 berkedudukan di Bandung dengan komandan Mayor Liem Tiang Wie. Pada tahun 1966, TNI Angkatan Udara memulai era baru dengan menggunakan pesawat dengan mesin pancar gas (jet) yakni DH-III Vampire. Kemudian pada tahun-tahun berikutnya disusul kedatangan MIG 15, 17, 19 dan seterusnya untuk mempersiapkan kemampuan para teknisi serta para lulusan Sekolah Penerbang pada kondisi itu. Pada tahun 1965 telah datang pesawat L-29 Dolphin sebagai pengganti pesawat Harvard.
Pada tahun 1966, Perwira Pemeliharaan T-4 Mayor Liem Tiang Wie digantikan Mayor Sugeng. Masa jabata
n Mayor Sugeng tidak terlalu lama, pada tahun1968 digantikan Mayor Suhardjito. Pada tahun tersebut Skadron A,B dan C diganti menjadi :

Skadron Pendidikan 023 menangani Sekolah Wara, Navigator, dan Instruktur Navigator.

Skadron Pendidikan 016 menangani Latih Mula dan Latih Dasar.

Skadron Pendidikan 017 menangani Latih Lanjut

Bagian pemeliharaan sudah memakai nama Skadron Teknik 043 dan semua itu dibawah Komando Wing Pendidikan 001. Kemudian mengingat usianya, pesawat L-4J tahun 1966 diganti dengan T-41D Cessna dan kemudian tahun 1981 diganti lagi dengan pesawat AS-202 Bravo untuk latih mula. Untuk latih dasar dari pesawat lama peninggalan Belanda diganti dengan T-34A Mentor. Dan tahun 1978 diganti lagi dengan T-34C-1 Charlie bermesin Turboprop.
Untuk pesawat latih lanjut, dari AT-16 Harvard diganti dengan L-29 pada tahun 1965. Tahun 1980 diperbaharui dengan HS Hawk MK-53 buatan Inggris. Pemeliharaan dibawah Skadron Teknik 043 tidak terlalu lama, karena pertimbangan kemampuan pesawat disamping memiliki kemampuan latih juga memiliki kemampuan operasi maka tahun 1986 HS Hawk dipindah ke Lanud Iswahyudi dibawah Skadron 15 Madiun.

 

Halaman 4

POS TERKAIT
Filter by
Post Page
Kajian Staf Ahli Kasau PIA Ardhya Garini
Sort by

Leave a Reply

Verifikasi CAPTCHA *

Kawah Candradimuka (halaman 3)