Berita Kotama

KEBERADAAN AU

Dibaca: 259 Oleh 26 Jan 2010Tidak ada komentar
2015 06 02 00002
#TNIAU 

Keberadaan TNI AU

Pada masa pemerintah Swapraja Lapangan Terbang Sabah Uyah tidak difungsikan seperti lapangan terbang lainnya, oleh karena itu pada tahun 1958 Markas Besar Angkatan Udara (Mabesau) Jakarta memerintahkan seorang anggota pasukan AURI yaitu Kopral Udara Usmansyah untuk melaksanakan peninjauan Lapangan Terbang Sabah Uyah disertai oleh C. Mihing yang kala itu sebagai Kepala Daerah Swapraja Pangkalan Bun. Pada tahun 1959 ditugaskan kembali 2 orang anggota pasukan payung AURI yaitu Kopral Udara Kusman yang disusul oleh Kopral Udara Tabrani membantu anggota terdahulu melaksanakan peninjauan.   Setelah memperoleh hasil data peninjauan tersebut, maka pada tahun yang sama dilakukan pendaratan pesawat pertama oleh Kepala Staf TNI AU (Kasau) Rd. Surjadi Suryadarma dan Kapten Udara Penerbang M. Yusran di Lapangan Terbang “Sabah Uyah” dengan menggunakan pesawat jenis Otter. Pada tahun 1959 itu pula berdasarkan UU No. 27 tahun 1959 pemerintahan Swapraja ditiadakan/dihapus dirubah menjadi bagian daerah Republik Indonesia.

Pada tanggal 26 Juli 1959 didirikanlah Detasemen AURI dengan Komandan Detasemen Lapangan Terbang “Sabah Uyah” yang pertama adalah LMUS/CAPA M Mangkin yang bersama-sama dengan pemerintah daerah yang pada saat itu bernama “Kotawaringin” membangun dan memperbaiki serta melengkapinya dengan perumahan anggota AURI di dalam wilayah Lapangan Terbang “Sabah Uyah” Pangkalan Bun.

Masa kepemimpinannya tidak sampai 1 tahun menjabat M. Mangkin selanjutnya digantikan oleh LMUS/CAPA Dhomber dari tahun 1959-1964. Antara tahun 1964-1969 nama Detasemen berubah dari Detasemen Udara Pangkalan Bun diganti menjadi Pangkalan Udara Pangkalan Bun dengan Komandan Letnan Satu Sundaru.

Baca juga:  Yasarini Pengurus Cabang Lanud Soewondo Nyonya Rumah Visitasi Dan Workshop

Pada masa perkembangannya yang bertepatan pada era pembangunan ahirnya tahun 1969 Pangkalan Udara Bun diganti namanya menjadi Pangkalan Udara “Iskandar”, yaitu nama salah seorang Sersan Udara pahlawan pelaku penerjunan pertama Pasukan Payung AURI tanggal 17 Oktober 1947 di desa Sambi Kotawaringin.

Penggantian nama Pangkalan Udara bun menjadi Pangkalan Udara Iskandar merupakan upaya TNI AU untuk mengenang para pahlawan yang telah berbakti kepada bangsa dan negara serta TNI AU khususnya.

Pahlawan Iskandar adalah seorang putera daerah Kotawaringin, termasuk tiga belas (13) anggota tim Pasukan Para Komando yang untuk mengenang jasa kepahlawanannya selanjutnya namanya diabadikan pada Pangkalan TNI AU di daerah Pangkalan Bun Kotawaringin Barat.
Disamping itu pula selanjutnya penerjunan pertama Pasukan Payung AURI di Desa Sambi Arut Utara Kotawaringin Barat ini dijadikan tonggak sejarah oleh TNI AU sebagai hari lahirnya Pasukan Khas TNI Angkatan Udara (Korpaskhasau).Untuk mengenang sejarah Operasi Linud AURI Pertama oleh Pasukan Payung Pertamanya itu, maka pada tanggal 9 April 1978 telah diresmikan oleh Pangkodau III Marsma TNI Sutiharsono didepan gapura Lanud Iskandar “Patung Iskandar” lengkap dengan pakaian dan perlengkapan sebagai pasukan payung AURI kala itu.

Kemudian untuk mengenang sejarah yang sama, di Desa Sambi Kecamatan Arut Utara Kabupaten Kotawaringin Barat yang merupakan tempat pertama kali pasukan payung mendarat diabadikan juga sebuah monumen “Patung Iskandar”, pada tahun 1995 dilaksanakan peresmian oleh Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Rilo Pambudi.

Baca juga:  Komandan Pusdiklathanudnas Hadiri HUT Puspenerbal

Pembangunan lanjutan yang masih berhubungan untuk mengenang Operasi Linud AURI Pertama itu, pada tahun 1997–1998 telah dilaksanakan pembangunan monumen di Bundaran Pancasila Pangkalan Bun dekat pintu masuk wilayah Lanud Iskandar yaitu sebuah monumen sejarah yang dinamakan “Monumen Penerjunan Pertama Palagan Sambi” berupa satu buah Pesawat Dakota RI-002 dan dibelakang pesawat dibuat suatu relief diorama operasi Linud AURI pertama yang telah diresmikan oleh Kepala Staf TNI Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI Hanafie Asnan pada tahun 1998.

Untuk menghadapi tantangan tugas ke depan serta dengan diikuti perkembangan disegala bidang terutama era pembangunan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) saat ini, maka Pangkalan TNI AU (Lanud) Iskandar sangat memerlukan perhatian yang serius sebagai Pangkalan TNI AU operasional sama dengan Pangkalan-Pangkalan TNI AU operasi lainnya.

Sampai saat ini, kondisi bangunan baik perkantoran maupun bangunan pendukung termasuk didalamnya perumahan anggota, Mess (Perwira, Bintara, Tamtama, dan Crew ) masih semi permanen dari kayu yang pembuatannya tahun 1958 sehingga sudah termakan umur. Kondisi tersebut masih dianggap terbaik karena bangunan tersebut merupakan peninggalan jaman dahulu ketika masih bernama Detasemen AURI yang masih terus diperbaiki dengan dana Swakelola dan dana mandiri, sehingga saat ini dapat dikatakan sudah tidak layak huni dan layak guna lagi.
Pembangunan gedung yang digunakan sebagai ruang tunggu / VIP Room, Base Ops dan DAAU serta bangunan gedung BMP yang merupakan gedung permanen adalah kontribusi dan kompensasi yang diberikan oleh Departemen Perhubungan RI dan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat dalam rangka pembangunan Bandara “Iskandar” pada dekade tahun 1995-an.
Pada tahun 1996 dalam era perkembangannya TNI AU telah juga membangun satu buah Gudang Senjata permanen.

Baca juga:  Danlanud El Tari Menghadiri Pembukaan Suskajemenhanneg

Pembangunan di Lanud Iskandar terus dilaksanakan sesuai DIP/DUP yang diterima dari TNI AU pada tahun 2002 dibangun juga dua buah gedung permanen, satu buah Gudang Bama dan satu buah Pos Jaga Lanud Iskandar.  Selanjutnya dalam pembangunannya saat ini diharapkan Lanud Iskandar terus memperoleh perhatian dari semua pihak untuk berperan aktif dan berpartisipasi baik internal TNI AU ataupun eksternal Pemerintah Propinsi dan Kabupaten dalam melaksanakan pembangunan berkesinambungan di Lanud “Iskandar” yang telah banyak menyimpan sejarah TNI AU dan dalam kancah perjuangan bangsa pada masa mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dimasa lalu, sehingga tempat bersejarah yang ada saat ini dapat dijaga kelestariannya sebagai rasa hormat dan bangga kepada para pejuang pendahulu “Pahlawan Dirgantara”.

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel