Berita

KOMSOS LANUD HUSEIN SASTRANEGARA DENGAN MASYARAKAT

Dibaca: 23 Oleh 24 Nov 2011Tidak ada komentar
emb 314
#TNIAU 

Komunikasi sosial antara Lanud Husein Sastranegara dengan masyarakat yang berada di wilayah lingkungan pangkalan digelar di Wisma Muladi, Kamis (24/11). Dihadiri sekitar 75 orang yang terdiri dari unsur Lanud Husein Sastranegara, para Tokoh Agama (Toga), Tokoh Masyarakat (Tomas), para Ketua RT dan RW di komplek Lanud Husein S., beserta perwakilan dari instansi PT. Dirgantara Indonesia, Bandara Husein Sastranegara dan PT. Pertamina.

Dalam sambutan pembukaannya, Komandan Lanud Husein Sastranegara, Kolonel Penerbang Umar Sugeng Hariyono, S.IP., SE., MM., menyampaikan bahwa Kegiatan Komunikasi Sosial yang dilaksanakan ini bertujuan untuk meningkatkan rasa nasionalisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, selain itu kegiatan ini sebagai peningkatan jalinan komunikasi yang lebih harmonis, juga merupakan wadah kita sekalian untuk beriteraksi, bagi peningkatan keamanan dan kelancaran dalam setiap pelaksanaan tugas kita bersama di wilayah Lanud Husein Sastranegara.

Danlanud menambahkan bahwa interaksi antara masyarakat dengan TNI AU khususnya Lanud Husein S., harus terus dijalin agar kehidupan bermasyarakat semakin kondusif. Lebih lanjut Danlanud menyampaikan pula bahwa menurut Gubernur Jawa Barat, H. Ahmad Heryawan dan juga Walikota Bandung, H. Dada Rosada, situasi dan kondisi di Kota Bandung sejauh ini kondusif dalam segi keamanan, “Dan sudah semestinya Lanud Husein pun turut menjaga kondusifitas ini di lingkungan sekitar pangkalan”, tegas Danlanud.

Baca juga:  Upacara Peringatan Hari Ibu di Lanud Sultan Hasanuddin

Dalam komsos ini tema yang dibahas adalah Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara yang disampaikan oleh Kepala Intelijen (Kaintel) Lanud Husein S., Mayor Sus Tri Priyo Widodo. Tujuan diadakannya komsos ini adalah untuk membangkitkan rasa nasionalisme yang tinggi, meningkatkan ketertiban sosial dan kondisi kemanan lingkungan, serta pembinaan potensi dirgantara dan pembinaan mental masyarakat.

Dengan lugas Kaintel memaparkan empat pilar ini secara runtut disertai dengan penjelasan masing-masing pilar yang menopang kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Keempatnya adalah Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Selama sekitar dua jam, acara yang terlebih dahulu dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dipaparkan dengan bersemangat oleh Kaintel yang mengulas satu persatu pilar disertai penjelasan rinci berupa gambar dan video.

Menurut Kaintel, pada kesempatan ini beliau tidak bermaksud untuk menggurui tetapi pencerahan kembali karena materinya sudah pernah didapat sejak di Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas. Bagi militer sendiri, materi ini kembali diulas dalam pendidikan kemiliterannya.

Dalam penjelasannya mengenai Pancasila, Kaintel mengambil contoh fenomena anak-anak sekolah yang sudah lulus SMA tetapi banyak yang tidak hapal isi dari Pancasila. “Bagaimana bisa menghayati dan mengamalkannya, kalau isi dari Pancasila saja tidak hapal !’” sergah beliau. Padahal peran dan kedudukan Pancasila adalah sebagai ideologi, dasar negara, jiwa dan kepribadian bangsa, pandangan dan tujuan hidup bangsa. Ketika reformasi mencapai puncaknya pada tahun 1998 bergulir berbagai macam peraturan yang antara lain penataran P4 dihapuskan, BP 7 dibubarkan, yang ironis adalah kurikulum Pancasila dari SD-PT dihilangkan. Dampak yang timbul masyarakat menjadi alergi terhadap Pancasila, lunturnya jiwa nasionalisme, maraknya terorisme dan radikalisme. Semua ini karena pemahaman tentang nilai-nilai yang dikandung Pancasila mendapat porsi yang kurang sehingga masyarakat bersikap apatis terhadapnya.

Baca juga:  JMU Yang handal Jamin Keberlangsungan Alutsista TNI AU

Pilar yang kedua yaitu Undang-Undang Dasar 1945, yang telah mengalami empat kali amandemen. UUD 1945 sebagai landasan konstitusional dan dijadikan hukum positif seharusnya menjadi acuan dalam penyusunan undang-undang selanjutnya. Tetapi kondisi yang terjadi sekarang banyak terjadi benturan dalam penyusunan undang-undang, jual beli pasal yang marak diberitakan sekarang menjadi gambaran negatif bila pilar kedua ini diabaikan.

Pilar ketiga adalah Bhineka Tunggal Ika. Diilhami dari Sumpah Pemuda yang pertama kali didengungkan tanggal 28 Oktober 1928, mengangkat kesatuan nusa, bangsa dan bahasa. Hal ini hendaknya mampu menyatukan kembali semangat untuk berjuang. Namun yang terjadi saat ini tampak penonjolan individu, kelompok, atau daerah serta kurangnya toleransi diantara masyarakat.

Pilar yang terakhir adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bagi TNI, NKRI harga mati sudah tak bisa ditawar lagi. Negara yang sekarang berdiri ini merupakan hasil perjuangan para pahlawan yang rela mengorbankan jiwa dan raganya demi terbentuknya Negara Indonesia. Ketika awal kemerdekaan, penjajah masih saja ingin kembali berkuasa di bumi pertiwi dengan berbagai dalih dan usaha. Belum lagi rongrongan yang dihadapi dari dalam negeri, pemberontakan demi pemberontakan dari anak negeri sendiri terus bergejolak.

Baca juga:  Peresmian Kapal SAR Wisanggeni oleh Kabasarnas

Keutuhan NKRI selalu digugat dengan berbagai macam tindakan yang mengatasnamakan kepentingan bangsa yang justru mengamcam keselamatan memecah belah negara. Bahkan opini negara lain tentang Indonesia kebanyakan bernada negatif akibat maraknya tindakan korupsi, kolusi dan nepotisme, terorisme, kerusuhan dan dekadensi moral.

Untuk itu agar keempat pilar ini tidak semakin rapuh perlu ditegakkan dengan segera. Pancasila diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, UUD 1945 dilaksanakan dengan baik sehingga tercipta keadilan dalam masyarakat dan kesamaan kedudukan di depan hukum, Bhineka Tunggal Ika menjiwai kehidupan bermasyarakat sehingga tercipta kerukunan dan toleransi, sementara untuk NKRI harus diperjuangkan agar tetap berdaulat, utuh dan selamat.

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel