Bagi bangsa Indonesia, bulan Juli 1947 memiliki makna mendasar dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Gagalnya perundingan Linggarjati antara Sekutu (Inggris), Belanda (NICA) dan Republik Indonesia, memicu terjadinya Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947, yang bertujuan menguasai kembali wilayah Indonesia dengan melaksanakan serangan serentak ke beberapa wilayah Republik Indonesia, baik di Jawa maupun Sumatera.

Dalam agresinya, Belanda berusaha mengintimidasi dan memaksa kedudukan Indonesia mundur ke pdalaman, serta menghancurkan potensi-potensi kekuatan udara di berbagai daerah. Seluruh pangkalan udara Republik Indonesia diserang secara srempak. Belanda mengandalkan pesawat tempur P-51 Mustang dan P-40 Kitty Hawk serta pembom B-25/B-26. Penyerangan terhadap pangkalan-pangkalan udara yang masih dalam proses perintisan tersebut, bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi kemampuan AURI, sehingga tidak mempunyai kesempatan untuk mengadakan serangan udara balasan terhadap Belanda. Namun perkiraaan Belanda ini salah, ternyata AURI mampu melakukan serangan balasan.

Serangan udara Belanda atas kekuatan udara Republik Indonesia dapat dikatakan berhasil. Sebagian besar kekuatan AURI yang baru dibangun selama kurang lebih dua tahun, hampir dapat dilumpuhkan. Bahkan ada beberapa pangkalan udara di Pulau Jawa yang dapat diduduki, seperti Pangkalan Udara Bugis (Malang) dan Kalijati. Selain itu pesawat yang ada di Pangkalan Udara Maospati, Panasan, dan Cibeureum banyak yang dihancurkan Belanda, sedangkan di Pangkalan Udara Maguwo hanya tersisa dua Cureng, satu Guntei, dan satu Hayabusha.

Meskipun demikian, kenyataan ini tidak mematahkan semangat para pejuang AURI. Kondisi ini justru memotivasi mereka untuk terus berjuangan dalam mempertahakan kemerdekaan. Dengan berbekal empat pesawat yang tersisa di Pangkalan Udara Maguwo, para penerbang AURI melakukan perlawanan dan melancarkan serangan balik terhadap daerah-daerah yang berhasil diduduki Belanda.

Dari Pangkalan Udara Maguwo –sekarang dikenal dengan nama Pangkalan Udara Adisutjitpto-, para pejuang AURI menyusun strategi untuk melakukan serangan balasan kepada Belanda. Gagasannya adalah melakukan operasi udara menggunakan pesawat terbang peninggalan Jepang yang tersisa di Maguwo. Penyusun skenario penyerangan ini dipimpin oleh Kasau Komodor S. Suryadarma bersama Perwira Operasi Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma. Sedang eksekutor penyerangan dipercayakan kepada para kadet penerbang, yaitu Mulyono, Sutardjo Sigit, Suharnoko Harbani, dan Bambang Saptoadji.

Rencana operasi ini berapa pengeboman atas kota-kota yang menjadi kubu musuh di Jawa Tengah. Pelaksanaanaannya tidak bersifat perintah tetapi sukarela, namun demikian tidak seorang pun dari para penerbang itu yang menolak tawaran tersebut. Pada kesempatan itu, ditunjuk pula para penembak udaranya (air gunner). Mereka adalah Kaput, Dulrachman, dan Sutardjo. Ketia air gunner tersebut merupakan terknisi berpangkat Bintara, yang belum pernah mendapat pendidikan β€œgunnery” dari AURI. Modal utama mereka adalah keberanian dan bersedia untuk berkorban dalam mempertahankan kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Pada pertemuan tanggal 28 Juli 1947, Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma menjelaskan secara rinci rencana penyerangan kedudukan Belanda di Semarang dan Salatiga, yaitu : (1). Kadet Udara I Mulyono ditugaskan menyerang Semarang yang disertai penembak Udara Sersan Udara Dulrachman menggunakan pembom tukik Guntei. (2). Kadet Udara I Bambang Saptoadji ditugaskan mengawal pesawat pembom Guntei menggunakan pesawat Hayabusha. Dan (3). Kadet Udara I Sutardjo Sigit didampingi penembak udara Sersan Udara Sutardjo dan Kadet Penerbang Suharnoko Harbani didampingi penembak udara Kaput menyerang Salatiga menggunakan pesawat Cureng.

Bersamaan dengan pembagian tugas, para tehnisi TNI Angkatan Udara terus berupaya memperbaiki dan mempersenjatai pesawat yang akan digunakan. Untuk pesawat Guntei, para teknisi tidak mengalami kesulitan, karena pesawat jenis ini termasuk pesawat tempur. Namun pada pesawat Cureng, para teknisi harus bekerja keras, karena pesawat ini digunakan sebagai pesawat latih. Berkat ketekunan para tehnisi, pesawat Cureng berhasil dimodifikasi menjadi pesawat pembom, dengan menempatkan sebuah bom seberat 50 kg di bawah kedua sayapnya.

Selain dilengkapi bom, pesawat Cureng dilengkapi pula dengan senapan mesin. Dari kedua pesawat Cureng yng disiapkan, hanya satu pesawat yang bisa dipasang senapan mesin, karena satu pesawat cureng yang akan diawaki Sutardjo Sigit tidak ada tempat kedudukan (mounting)-nya untuk memasang senapan mesin, sehingga pesawat ini sama sekali tidak dapat membela diri apabila disergap musuh. Sebagai gantinya, pesawat Cureng tersebut diberi bom-bom bakar yang dibungkus dengan kain blacu.

Sedangkan pesawat Hayabusha tidak jadi digunakan, karena adanya kerusakan pada sistem persenjataannya. Meskipun pada juru teknik telah berusaha dengan bekerja keras sampai pukul 01.00 dini hari tanggal 29 Juli 1947, kerusakan pada sistem persenjataan pesawat Hayabusha belum juga dapat diatasi. Sehingga Kadet Penerbang Bambang Saptoadji merasa sangat kecewa, karena tidak bisa melaksanakan misi perjuangan bersama rekan-rekannya.

Sebelum melaksanakan misi operasi penyerangan, ketiga kadet penerbang hanya diberi kesempatan untuk beristirahat sekitar 2 jam. Pada pukul 03.00 dini hari, mereka dibangunkan dan pukul 04.00 sudah harus siap di lapagan terbang Maguwo untuk menerima briefing dari kepala teknnisi Bapak Sudjono dan meteo dari Bapak Fatah.

Pada pukul 05.00, ketiga pesawat mulai taxi-out keΒ  posisi take-off, yang sebelumnya dilepas oleh KSAU Komodor Udara S. Suryadarma dan Komodor Muda Udara Β Halim Perdanakusuma. Ketiga pesawat take-off secara bergantian. Untuk membantu tinggal landas, dipasang sebuh lampu sorot pada ujung landasan di belakang pesawat, maksudnya agar cukup mendapat penerangan. Dengan demikian landasan bisa nampak terang oleh sorot lampu tersebut dan memberi sedikit keuntungan bagi pilot untukΒ  menentukan batas pesawat baru mulai mengudara. Mereka tidak diperkenankan menggunakan lampu dan peralatan lain dalam pesawat untuk menjaga kerahasiaan operasi yang sedang dilaksanakan. Ketiga pesawat tidak dilengkapi alat navigasi dan komunikasi, masing-masing kru pesawat hanya dibekali senter yang berfungsi sebagai alat komunikasi apabila diperlukan. Walaupun para penerbang ini belum berpengalaman terbang malam, dengan penuh ketekunan dan kewaspadaan mereka bergiliran meninggalkan landasan terbang Maguwo secara lancar.

Ketiga kadet berhasil menjalankan misi dengan menghancurkan tangsi militer Belanda di tiga kota Ambarawa, Salatiga, dan Semarang. Operasi dilaksanakan selama satu jam dan mendarat kembali ke home base pukul 06.00.

Keberhasilan serangan udara tersebut harus dibayar mahal. Tanggal 29 Juli 1947, sebuah pesawat Dakota VT-CLA yang membawa sumbangan obat-obatan untuk Palang Merah Indonesia dari Singapura, ditembak Belanda ketika mendekati Pangkalan Udara Maguwo. Saat roda-roda pendarat mulai keluar, pesawat Dakota VT-CLA membuat satu kali putaran untuk persiapan mendarat, tiba-tiba muncul dua buah pesawat pemburu Kittyhawk yang melakukan penembakan dengan gencar terhadap Dakota VT-CLA. Dakota VT-CLA kemudian terbang kearah selatan dalam keadaan terbakar dan jatuh di desa Jatingarang, Kelurahan Tamanan dekat Desa Ngoto Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, sebelah tenggara kota Yogyakarta.

Dari semua awak pesawat dan penumpang, hanya seorang yang selamat yaitu A. Gani Handonotjokro. Sedang korban yang gugur adalah : Komodor Muda Udara Agustinus Adisutjipto, Komodor Muda Udara Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, Opsir Muda Udara Adisumarmo Wiryokusumo, Ex Wing Commander Alexander Noel Constantine (Australia) dan istrinya Ex Squadron Leader Roy Huzelhurst (Inggris), Bhidaram (India) dan Zainal Arifin (Indonesia).

Kebahagiaan dan kegembiraan tercermin di wajah anggota AURI dengan serta merta beruubah menjadi duka yang mendalam. Pesawat yang telah ditunggu oleh KSAU Komodor Udara S. Suryadarma ini, ternyata berakhir dengan tragis, ditembak oleh pesawat Belanda. Hal yang sangat menyedihkan adalah bersama pesawat itu terdapat beberapa tokoh pendiri AURI yang selama ini sebagai tangan kanannya.

Peristiwa 29 Juli 1947 adalah peristiwa yang membanggakan dan sangat menyedihkan. Membanggakan, karena dalam usianya yang relatif muda, TNI Angkatan Udara berhasil melaksanakan serangan balasan terhadap pertahanan Belanda di Ambarawa, Semarang, dan Salatiga, melalui operasi udara yang dikenal dengan Operasi Udara Pertama. Menyedihkan, karena TNI Angkatan Udara telah kehilangan tokoh dan perintis yang sangat dibutuhkan saat itu, akibat reaksi Belanda atas dibombardirnya tangsi-tangsi Belanda di tiga daerah tersebut oleh TNI Angkatan Udara.

Untuk menghargai dan mengenang peristiwa tersebut, TNI AU menetapkan kedua peristiwa pagi dan sore tanggal 29 Juli 1947 sebagai Hari Bakti TNI AU, yang diperingati secara terpusat di Pangkalan Udara Adisutjipto setiap tahunna, dan juga dilakukan pada satuan masing-masing.

Selain itu, duka mendalam yang dialamai TNI AU memang sulit untuk dilupakan, apalagi bagi gugurnya personel yang merupakan tokoh dan perintis TNI AU, yang sumbangsih masih sangat dibutuhkan Negara dan TNI AU khususnya. Oleh karena itu tempat jatuhnya pesawat VT-CLA yang menyebabkan gugurnya tiga tokoh dan perintis TNI AU Komodor Muda Udara A. Adisutjipto, Komodor Muda Udara Prof. Dr. Abdulrachman Saleh dan Opsir Muda Udara I Adisumarmo Wiryokusumo, yang terletak di Dusun Ngoto, Desa Tamanan, Kabupaten Bantul Yogyakarta ini, dibangun sebuah monumen dengan nama Monumen Perjuangan TNI AU.

Kirim Komentar/Pertanyaan

Verifikasi CAPTCHA *