Tahun 1960-an, armada helikopter TNI Angkatan Udara terus bertambah dengan hadirnya beberapa jenis Helikopter dari beberapa negara, termasuk diantaranya Helikopter jenis Bell-204 B Iroquis buatan Perusahaan Bell Helicopter, Amerika Serikat.

Bell-204 B Iroquis merupakan pengembangan dari Helikopter versi militer jenis UH-1 Iroquis  (Huey) yang cukup terkenal pada masa perang Vietnam.  Bell-204 B Iroquis pertama kali terbang pada 22 Oktober 1956, dan mulai diperkenalkan pada dunia internasional pada tahun 1961untuk memenuhi kebutuhan transportasi sipil atau militer.  Selain di Amerika Serikat, Bell-204 B Iroquis diproduksi pula di Italia oleh Agusta dengan nama Bell AB 204, dan di Jepang oleh Fuji Heavy Industries dengan nama Bell 204B-2.

Bell-204 B Iroquis di Indonesia

Menjelang Operasi Trikora, jumlah alutsista TNI Angkatan Udara terus mengalami peningkatan.  Berbagai jenis pesawat terbang semakin menambah kekuatan pertahanan udara Nasional saat itu, termasuk jenis Helikopter untuk mendukung tugas atau kegiatan-kegiatan pada daerah-daerah sulit atau sempit yang tidak mungkin dilakukan oleh pesawat bersayap tetap. Untuk memenuhi kebutuhan trasportasi udara tersebut, utamanya pesawat jenis rotary wing, Pemerintah RI saat itu mendatangkan berbagai jenis Helikopter dari berbagai negara pula,  salah satunya adalah pesawat dari negara Amerika Serikat buatan Perusahaan Bell Helicopter, yakni Bell-204 B Iroquis yang memiliki kemampuan evakuasi medis dan bisa melakukan berbagai macam peran.

Helikopter Bell-204 B Iroquis merupakan jenis Helikopter angkutan militer dan sipil tanpa adanya persenjataan, menggunakan mesin tunggal dengan dua bilah baling-baling pada rotor utama, dan mampu mengangkut penumpang maksimum 10 orang.  Pesawat ini mulai memperkuat armada helikopter TNI AU pada tahun 1964, yang ditandai dengan datangnya dua unit Bell-204 B Iroquis.  Satu dioperasikan di Skadron 6 Helikopter, dan satu unit lainya digunakan untuk kepentigan penerbangan Istana Kepresidenan dengan registrasi H-261.

Sejalan dengan perkembangan dan tuntutan tugas TNI AU pada era 1960-an, baik untuk kepentingan militer maupun non militer, serta semakin bertambahnya armada Helikopter di TNI AU, maka pada 25 Mei 1965, Menteri/Panglima Angkatan Udara Laksamana Madya Omar Dhani meresmikan berdirinya Wing Operasi 004 Helikopter yang membawahi beberapa skadron, yaitu Skadron Udara 6 Angkut Sedang, Skadron Udara 7 Angkut Khusus, Skadron Udara 8 Angkut Berat, dan Skadron Teknik 6.

Pembentukan skadron Helikopter tersebut, bertujuan untuk mengelompokan jenis-jenis Helikopter berdasarkan klasifikasi dan kemampuan masing-masing pesawat.  Sedangkan untuk Helikopter jenis Bell-204 B Iroquis yang memilki peran sebagai Helikopter angkut sedang, kemudian menjadi kekuatan Skadron Udara 7 Angkut Khusus, yang bermarkas di Lanud Atang Sendjaja, Bogor.

Dengan perannya sebagai Helikopter angkut sedang, maka keterlibatan Helikopter Bell-204 B Iroquis  tidak hanya difungsikan untuk mendukung kegiatan VIP, akan tetapi dilibatkan pula dalam berbagai kegiatan operasi militer yang terjadi pada masa awal kedatangannya, maupun peridoe-periode berikutnya.   Untuk memenuhi kebutuhan operasi militer, Bell-204 B Iroquis dipersenjatai dan ditingkatkan kemampuanya untuk dapat melaksanakan tugas-tugas operasi, baik sebagai Heli tempur maupun SAR.   Sedangkan untuk mendukung pembangunan di daerah, pada masa Orde Baru, TNI AU menghibahkan dua unit Bell-204 B Iroquis  ke pemerintah propinsi NAD dan propinsi Irian Jaya.

Pengabdian Bell-204 B Iroquis 

Sejak kedatanganya di Indonesia, Bell-204 B Iroquis  terus dilibatkan dalam berbagai kegiatan operasi. Kiprah Bell-204 B Iroquis  di persada Nusantara telah terbukti sangat membanggakan dalam menunaikan segala bentuk operasi, baik OMP maupun OMSP, yaitu:

  1. Tahun 1965, Bell-204 B Iroquis dilibatkan dalam Operasi Dwikora bersama-sama dengan Mi-6, Mi-4, dan Bell-47G-2 Trooper.  Mereka berangkat dari Lanud Atang Sendjaja Bogor, singgah di Lanud Palembang, Tanjung Pandan dan terus ke Pontianak sebagai pangkalan induk.   Daerah operasi meliputi sepanjang perbatatasan Kalimantan Indonesia dengan Kalimantan Utara Serawak dan Brunei Darussalam.   Operasi yang dilaksanakan adalah serbuan helikopter mengangkut pasukan dengan mendekat atau hovering di daerah sasaran, mengirim bantuan logistik dan bekal ulang untuk pasukan yang ada di garis depan, evakuasi medis, dan sebagai pesawat komando.
  2. Tahun 1965, Bell-204 B Iroquis  terlibat dalam Operasi Penegak di Jawa Barat dan Operasi Mental di daerah jawa Tengah dan Jawa Timur, sebagai operasi lanjutan untuk menghancurkan sisa-sisa G-30S/PKI.
  3. Operasi Samber Kilat, yaitu operasi penumpasan gerombolan bersenjata Pasukan Gerlya Rakyat Serawak (PGRS) dan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku).   Pada operasi ini, dua unit Bell-204 B Iroquis dilibatkan bersama-sama dengan empat unit MI-4, dengan tugas dropping pasukan ke daerah sasaran, dropping bantuan logistik, angkutan VIP atau pesawat kodal, evakuasi medis, dan recce flight. Operasi ini berakhir pada bulan September 1968.
  4. Pada November 1966 sampai dengan Februari 1967, Bell-204 B Iroquis  digunakan untuk memberikan latihan kepada enam orang penerbang dan 15 orang teknisi dari Lembaga Pariwisata Indonesia (Gatari).
  5. Operasi Tonggak di daerah perbatasan Kalimantan Timur bersama-sama dengan Malaysia.  Pada operasi ini, Bell-204 B Iroquis dikerahkan membuat tonggak-tonggak pembatas yang memisahkan RI dengan Malaysia, yang mulai dilaksanakan sejak tanggal 2 April 1976, dengan home basedaerah Tarakan.
  6. Pada Bulan Maret 1977, empat Bell-204 B Iroquis dikerahkan untuk memulihkan kekacauan dan gejolak sosial yang timbul akibat adanya Gerakan Pengacau Liar (GPL) yang dipimpin oleh Martin Tabu di Irian Jaya.  Pada operasi ini, Bell-204 B Iroquis bertugas untuk mobilitas udara, angkutan logistik, evakuasi medis, SAR, dan lain sebagainya.  Sepanjang pelaksanaan tugas di Irian Jaya diwarnai drama penyanderaan oleh gerombolan pengacau keamanan di daerah James dan Waris.   Pesawat Bell-204 B Iroquis mampu membebaskan sandera yang terdiri dari Danrem Kolonel Ismail, Ketua DPRD Jayapura dan beberapa pejabat lainnya.  Gerombolan pengacau ini sebelumnya telah membunuh dua Penerbang TNI AD dan membakas pesawat BO-105 milik Penerbad.  Dengan kejadian ini, operasi pembebasan dipimpin langsung oleh Komandan Skadron Udara 7  Mayor Pnb Komar Somawirya.   Berkat kemampuan dan keuletan dan kedisplinan tinggi dari para anggota yang terlibat, akhirnya sandera dapat dibebaskan dengan selamat.
  7. Kemampuan Bell-204 B Iroquis kembali diuji ketika ditugaskan dalam Operasi Seroja di Timor Timur sejak tahun 1977.  Pada operasi ini, Bell-204 B Iroquis kembali berperan untuk mobilitas udara, angkutan logistik, evakuasi medis, SAR, dan lain sebagainya.
  8. Tahun 1982, Bell-204 B Iroquis dilibatkan dalam operasi kemanusiaan penanggulangan bencana alam meletusnya Gunung Galunggung di Jawa Barat, dengan tugas evakuasi korban dan distribusi perbekalan.

Selama pengabdiannya, Bell-204 B Iroquis telah berkiprah dalam berbagai operasi di Tanah Air, dalam rangka menjaga kewibawaan, keutuhan, dan kedaulatan NKRI.  Karena itu, berdasarkan instruksi Kasau Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P pada bulan Agustus 2017  pesawat Bell-204 B Iroquis  Tail Number 2060, yang sebelumnya dihibahkan ke Pemerintah Daerah Papua, untuk di relokasi ke Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala Yogyakarta dan diresmikan pada tanggal 3 Desember 2017 sebagai benda sejarah yang perlu disimpan dan diabadikan untuk dikenang sepanjang masa, sekaligus  sebagai bahan pembelajaran, baik oleh generasi penerus bangsa maupun TNI AU.