Save

Marsda TNI Imran Baidirus, S.E.

PANGKOHANUDNAS

Marsekal Muda TNI Imran Baidirus, S.E. Lahir di Bukit Tinggi pada tanggal 03 September 1964, diterima menjadi Calon Prajurit Taruna, dan dilantik sebagai Letnan Dua pada tahun 1988. Mengikuti pendidikan Sekbang dan diwisuda (Wing Day) sebagai penerbang pada tahun 1989. Pada tanggal 04 Desember 2017 dilantik menjadi Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas).
sampai sekarang.

Tugas Kohanudnas

Kohanudnas bertugas menyelenggarakan upaya pertahanan keamanan atas wilayah udara nasional secara mandiri ataupun bekerja sama dengan Komando Utama Operasional Β lainnya dalam rangka mewujudkanΒ  kedaulatan dan keutuhan serta kepentingan lain dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan menyelenggarakan pembinaan administrasi dan kesiapan operasi unsur-unsur Hanud TNI AU Β dan melaksanakan siaga operasi untuk unsur-unsur Hanud dalam jajarannya dalam rangka mendukung tugas pokok TNI.

Visi : Terwujud dan Tegaknya Kedaulatan Negara di Udara

Misi :

  1. Mewujudkan kekuatan pertahanan udara secara terpadu yang mampu melindungi wilayah udara NKRI.
  2. Senantiasa menyiagakan personel dan alutsista.
  3. Mampu menindak setiap pelanggaran di wilayah udara Nasional sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
  4. Tercapainya kekuatan alutsista yang berbobot teknologi modern serta mampu menjaga wilayah udara Nasional.
  5. Mewujudkan Sumber Daya Manusia yang profesional, berdedikasi, mampu mengikuti perkembangan teknologi terkini dan pantang menyerah.
  6. Menyiapkan potensi kekuatan udara Nasional yang siap dimobilisasi.

LINTASAN SEJARAH
KOMANDO PEPTAHANAN UDARA NASIONAL

Diawali dengan dibentuknya SOC (Sector Operation Center) pada tahun 1958 yang terdiri dari unsur kekuatan Arhanud Angkatan Darat, Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP), Pasukan Penangkis Serangan Udara (PPSU), Pesawat P-51 Mustang dan Pesawat Jet Vampire, sebagai antisipasi serangan udara PRRI / PERMESTA yang menggunakan pesowat pembom B-26 Mitchel di daerah Jawa dan Sumatera.Β Β  Kemudian pada tahun 1961-1962 dibentuk Komando Pertahanan Udara Gabungan disingkat KOHANUDGAB dengan tujuan untuk melindungi pusat offensif Mandala Yudha yaitu Wilayah Indonesia Timur.Β Β  Kohanudgab terdiri dari Kohanud Angkatan Darat, Kohanud Angkatan Laut dan Kohanud Angkatan Udara.

Pada tahun yang sama, 1962, Presiden / Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia mengetuarkan Keputusan Presiden Nomor : 08 / PLM – P5 / 62, tanggal 9 Februari 1962 tentang dibentuknya KOHANUDNAS, menyusul Keputusan Presiden Nomor : 256 / PLT / 1962 tentang Posedur Komando Pertahanan Udara Nasional, yang selanjutnya tanggal 9 Februani ditetapkan sebagai hari jadi KOMANDO PERTAHANAN UDARA NA5IONAL.

Sebagai Komando Operasional Utama TNI, KOHANUNAS mempunyai lingkup tugas dan tanggung jawab nosional, sebutan ini tetap bertahan meskipun terjadi perubahan Struktur, Status dan Organisasinya, seperti Tahun 1967, KOHANUDNAS ditetapkan sebagai Komando Utama Operasional Hankam yang bersifat gabungan dan berfungsi sebagai Komando Kerangka.Β Β  Jabatan Pangkohanudnas ditetapkan dirangkap oleh Men/Pangau.

Tahun 1968, KOHANUDNAS ditetapkan sebagai Komando penuh integrasi ABRI.

Tahun 1972, KOHANUDNAS dinyatakan tidak tercantum lagi dalam organisasi TNI AU

Tahun 1974, ditetapkan bahwa Pangkohanudnas bertanggung jawab secara operasional kepada Menhankam/Pangab, sedangkan pembinaan dan teknis kepada Kasau.

Tahun 1976, KOHANUDNAS ditetapkan sebagai Komando Utama Fungsional TNI AU, dimana tanggung jawab operasional kepeda Menhankam/Pangab dan tanggung jawab pembinaan kepada Kasau.

Tahun 1983, KOHANUDNAS dikukuhkan sebagai Komando Utama Fungsional TNI AU.

Tahun 1984, KOHANUDNAS ditetapkan sebagai Komando Utama Operasional ABRI, dengan tugas pokok menyelenggarakan upaya pertahanan keamanan terpadu atas wilayah udara nasional secara mandiri maupun bekerjasama dengan komando utama operasional lainnya dalam rangka mewujudkan kedaulatan dan keutuhan serta kepentingan lain dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sejak berdirinya, KOHANUDNAS telah mengawaki dan mengoperasikan alat utama sistem senjata pertahanan udara yang cukup handal, yakni pada dekade tahun 1960-anΒ  dan 1970-an meliputi kekuatan Hanud TNI Angkatan Darat dengan Baterai-Baterai Anti Serangan Udara, kapal kapal TNI Angkatan Laut yang dilengkapi dengan Sistem Senjata Pertahanan Udara, dan kekuatan Hanud TN! Angkatan Udara yaitu Pesawat Tempur MIG-17, MIG-19, MIG-21, Radar P-30, Radar Decca, Peluru Kendali Jarak Sedang SA-75.Β Β  Pada tahun 1973, KOHANUDNAS diperkuat dengan Pesawat Tempur Sergap F-86 Sabre Skadron 14, Pesawat T-33 (T-Bird) Skadron 11.

Pada dekade tahun 1980-an unsur Tempur Sergap ditambah dengan Pesawat Tempur F-5 Tiger II dan A-4 Sky Hawk, penggelaran Radar Thomson diberbagai wilayah Indonesia, kekuatan Hanud TNI Angkatan Darat diperkuat dengan Meriam Hanud 57 mm, Rudal RBS-70, Rudal Rapier.Β Β  Kekuatan TNI Angkatan Laut juga ditingkatkan kemampuannya dengan Radar Hanud dan Rudal pada Kapal-kapal perang.

Selanjutnya pada dekade tahun 1990-an, unsur Hanud diperkuat dengan hadirnya Pesawat Tempur F-16 Fighting Falcon, Rudal Rapier Arhanud TNI Angkatan Darat, Radar Hanud dan Rudal Sea Cat pada KRI dan armada TNI Angkatan Laut.

Sejalan dengan semakin berkembangnya tugas dan tanggung jawab KOHANUDNAS untuk mengamankan wilayah udara nasional, maka berdasarkan Surat Keputusan Kepala Staf TNI AU Nomor Skep / 43 / II / 1999 tanggal 22 Februari 1999, KOHANUDNAS mendapat kepercayaan untuk melaksanakan tanggung jawab pembinaan 16 Satuan Radar TNI AU yang dialihkan dan KOOPSAU I dan II.

Selain itu untuk mengantisipasiΒ  pelanggaran wilayah udara di kawasan timurΒ  Indonesia, KOHANUDNAS telah membangun Kosek Hanudnas IV yang berkrdudukan di Biak, Papua dan memindahkan lokasi Satuan Radar 251 dari Madiun ke Buraen, Kupang, Nusa Tenggara Timur.

PANGKOHANUDNAS DARI MASA KE MASA

1.

Laksda Udara H.M. Soedjono (1962-1965)

2.

Laksda Udara Leo Wattimena (1965-1967)

3.

Laksda Udara Roesmin Nurjadin (1967-1969)

4.

Marsda TNI Sudjatmiko (1969-1973)

5.

Marsda TNI Suwondo (1973-1978)

6.

Marsda TNI Iskandar (1978-1984)

7.

Marsda TNI Hartono (1984-1987)

8.

Marsda TNI Ateng Suarsono (1987-1989)

9.

Marsda TNI Isbandi Gondosuwignyo, SE (1989-1991)

10.

Marsda TNI Subagyo, SE, MBA (1991-1993)

11.

Marsda TNI F.X Soejitno (1993-1995)

12.

Marsda TNI Irawan Saleh (1995-1997)

13.

Marsda TNI M. Koesbeni, S.IP, SE, MBA (1997-1999)

14.

Marsda TNI Sonny Rizani, SE (1999-2000)

15.

Marsda TNI Wartoyo, S.IP (2000-2001)

16.

Marsda TNI Zeky Ambadar, SE (2001-2002)

17.

Marsda TNIAchmadHasan Sajad (2002-2003)

18.

Marsda TNI Wresniwiro (2003-2003)

19.

Marsda TNI F. Djoko Poerwoko (2003- Β  Β  Β  )
20. Marsda TNI Hadiyan Suminta Atmadja (2015- Β  Β  Β  )

Save

Save

Save