Save

Save

Save

Kolonel Pnb Wayan Superman

Komandan Lanud Rai

Kolonel Pnb Wayan Superman Lahir di Singaraja pada tanggal 06 Nopember 1970, dilantik menjadi Letnan Dua tahun 1992, Selanjutnya mengikuti pendidikan Sekolah Penerbang dan diwisuda (Wing Day) sebagai Penerbang pada tahun 1995, Pada tanggal 16 Desember 2017, dilantik menjadi Komandan Lanud Rai sampai sekarang.

TUGAS POKOK LANUD NGURAH RAI

            Lanud Ngurah Rai bertugas menyiapkan dan melaksanakan pembinaan dan pengoperasian seluruh satuan dalam jajarannya, pembinaan potensi dirgantara serta menyelenggarakan dukungan operasi bagi satuan lainnya. Dalam rangka pelaksanaan tugas tersebut, Lanud Ngurah Rai menyelenggarakan fungsi sebagai berikut :

  1. Menyelenggarakan pembinaan dan penyiapan satuan dalam jajarannya.
  2. Mengumpulkan dan merekam data guna penyempurnaan taktik/ teknik operasi dan latihan.
  3. Melaksanakan pembekalan dan pengadaan materiil bagi satuan jajarannya.
  4. Menyelenggarakan pemeliharaan alutsista sampai dengan tingkat sedang.
  5. Menyelenggarakan pembinaan wilayah pertahanan dirgantara.
  6. Menyelenggarakan pemeliharaan sarana dan prasarana serta fasilitas pendukung yang menjadi tanggung jawabnya.
  7. Mengadakan koordinasi dengan badan-badan dan instansi terkait di dalam dan di luar Lanud.
  8. Mengajukan saran dan pertimbangan kepada Pangkoopsau II mengenai hal-hal yang berhubungan dengan bidang tugasnya.

 

3. Melaksanakan pembekalan dan pengadaan materiil bagi satuan jajarannya.

4. Menyelenggarakan pemeliharaan alutsista sampai dengan tingkat sedang.

5. Menyelenggarakan pembinaan wilayah pertahanan dirgantara.

6. Menyelenggarakan pemeliharaan sarana dan prasarana serta fasilitas pendukung yang menjadi tanggung jawabnya.

7. Mengadakan koordinasi dengan badan-badan dan instansi terkait di dalam dan di luar Lanud.

8. Mengajukan saran dan pertimbangan kepada Pangkoopsau II mengenai hal-hal yang berhubungan dengan bidang tugasnya.

VISI

Menjadikan Lanud Ngurah Rai sebagai Pangkalan TNI AU yang selalu siap mendukung operasi TNI AU dalam menegakkan kedaulatan Negara di Udara, serta dapat menjadi mitra kerja yang baik dengan semua instansi khususnya di wilayah Bali demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

MISI

  1. Melaksanakan Tugas Pokok sesuai yang diamanatkan.
  2. Mengutamakan Safety di dalam pelakasanaan tugasnya.
  3. Menjalin hubungan yang baik kepada semua unsur untuk mendukung tugas pokok Lanud, maupun tugas-tugas lainnya.

Lanud Ngurah Rai bertugas menyiapkan dan melaksanakan pembinaan dan pengoperasian seluruh satuan dalam jajarannya, pembinaan potensi dirgantara serta menyelenggarakan dukungan operasi bagi satuan lainnya. Dalam rangka pelaksanaan tugas tersebut, Lanud Ngurah Rai menyelenggarakan fungsi sebagai berikut :

1. Menyelenggarakan pembinaan dan penyiapan satuan dalam jajarannya.

2. Mengumpulkan dan merekam data guna penyempurnaan taktik/ teknik operasi dan latihan.

Pangkalan TNI Angkatan Udara Sjamsudin Noor yang terletak di Banjarmasin Ibukota Kalimantan Selatan adalah merupakan Pangkalan Udara Type C dimana Letkol Pnb Mokh Mukhson memegang pucuk pimpinan tertinggi di Lanud ini. Walaupun bisa dibilang sebagai Lanud Pendukung, akan tetapi tidak dapat dipandang begitu saja. Operasi – operasi penerbangan juga sering dilaksanakan di Pangkalan di Lembah Borneo Kalimantan Selatan ini, kesiapan personel dalam menghandle setiap ada penerbangan militer dan membantu kelancaran penerbangan umum rutin dilaksanakan di Lanud ini.

Peranan Lanud Sjamsudin Noor sanagat besar, event atau kegiatan yang terjadi di Lanud ini sangat banyak, salah satunya yaitu ikut mendukung pengamanan Ibadah Haji bagi umat Islam yang akan berangkat ke Tanah Suci serta pengerahan Pasukan dalam rangka pengamanan juga sering diminta dari satuan samping, baik itu Bandara Sjamsudin Noor sendiri , Rindam, Brimob, Lanal maupun Instansi – instansi lain. Dengan keikutsertaan dalam berbagai macam kegiatan ini diharapkan akan semakin mengharumkan nama TNI Angkatan Udara khususnya di Bumi Antasari Kalimantan Selatan ini.

LANUD NGURAH RAI DARI MASA KE MASA

 

Periode 1945-1949

 

Kebutuhan mutlak untuk mempertahankan sebuah Negara yang merdeka adalah adanya organisasi militer yang solid dan handal untuk itu tiga bulan setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia yaitu tanggal 5 Oktober 1945 secara resmi terbentuk Tentara Nasional Rakyat (TKR) yang berasal dari berbagai unsur laskar rakyat dan kelompok pejuang.

Sejalan dengan itu embrio TNI Angkatan Udara mulai terbentuk yang dikenal dengan nama TKR Jawatan Penerbang yang hanya bermodalkan semangat pengabdian dan jiwa kepeloporan. Sementara tugas utama yang harus diemban adalah mempertahankan kedaulatan Negara Republik Indonesia di udara. Persenjataan dan fasilitas pendukung kala itu sangat minim sekali, itupun sebagian besar sisa peninggalan tentara Jepang pada Perang Dunia II.

Dengan semangat dan kepeloporan yang tinggi, peralatan dan fasilitas yang ada tersebut didayagunakan semaksimal mungkin untuk menghadapi tugas-tugas operasi yang memerlukan kesiapan tinggi.

Fase selanjutnya ketika TKR Jawatan Penerbang dikembangkan menjadi TRI Angkatan Udara yang disyahkan pada tanggal tersebut selanjutnya menjadi hari TNI Agkatan Udara, namun eksistensi dan perkembangkan Angkatan Udara secara nasional maupun internasional mulai mencuat setelah dilakukan operasi serangan udara yang pertama kali pada tanggal 29 juli 1947 yang merupakan hari bhakti bagi pejuang-pejuang Angkatan Udara.

Pada fase ini fasilitas dan peralatan atau kekuatan TRI Agkatan Udara terdiri dari pesawat peninggalan Tentara Jepang seperti Guntai, Suky, Hayabusa, Nagashima, Curang dan Cukiu serta pesawat Bomber Bristol Blemheim dan pesawat angkut C-47 Dakota.

Semantara itu pada fase ini pangkalan-pangkalan udara belum banyak yang diaktifkan termasuk di pulau Bali. Jadi pada periode tahun 1945 hingga tahun 1949 walaupun sudah ada landasan di daerah Tuban tapi secara resmi belum ada Pangkalan Angkatan Udara Republik Indonesia.

 

Periode 1950-1959

 

Memasuki tahun 1950, sesaat setelah Pemerintah kerajaan Belanda secara resmi mengakui kedaulatan Republik Indonesia, TNI Angkatan Udara juga memasuki fase konsolidasi kekuatan dan kemampuan.

Pada periode ini Angkatan Udara tidak hanya mengandalkan kekuatan atau pesawat-pesawat warisan Jepang, namun mulai membeli pesawat-pesawat baru. Pada periode ini juga dilengkapi berbagai sarana pendukung, sarana pelayanan penerbangan dan pangkalan udara serta sarana pemeliharaan pesawat terbang.

Dengan demikian banyak pangkalan udara yang diaktifkan termasuk di pulau Bali mulai dibentuk Detasemen Penghubung (Detbung) yang beralamat di Jl. Yudistira Tapak Gangsul Denpasar dengan tugas pokok adalah melayani (Graound handling) pesawat-pesawat TNI AU yang singgah di Denpasar.

Pejabat-pejabat yang pernah menjabat sebagai Kepala Detasemen Penghubung antara lain :

Tahun 1953-1955 Sersan Mayor Udara (SMU) Cahyono,

Tahun 1955-1958 Letnan Muda Udara II (LMU II) Agus Sugito

Tahun 1958-1959, Ka Det Hub Letnan Muda Udara II (LMU II) Rudito.

Periode 1960-1965 

Dalam periode ini tugas pokok dari Det Hub Denpasar tetap melayani (Ground Handling) pesawat-pesawat TNI AU disamping tugas-tugas lain sebagai penghubung dengan masyarakat. Untuk memenuhi kebutuhan personel-personel yang berkualitas pada periode ini juga Dethub Denpasar mulai mengadakan tes penerimaan siswa untuk dididik menjadi prajurit AU.

Selain itu pembangunan mulai ditingkatkan yaitu pembuatan Hanggar pesawat dan Hanggar Parabolic untuk Helikopter, pembelian tanah di Tuban.

Selanjutnya perkembangan unsur Dethub ditingkatkan menjadi Pangkalan Angkatan Udara (PAU) tepatnya pada tahun 1962, sesuai dengan peningkatan tugas-tugas TNI AU di wilayah timur Indonesia dan markasnya dipindahkan dari Denpasar ke daerah Tuban berdekatan dengan landasan udara.

Operasi-operasi yang dilaksanakan pada periode tersebut adalah Operasi Penanggulangan Bencana Alam yaitu dibentuknya Komando Operasi Gunung Agung (KOGA) dengan mengerahkan pesawat-pesawat Hercules TNI AU untuk membantu mengangkut bantuan-bantuan sosial untuk masyarakat yang terkena bencana serta Operasi Penanggulangan G 30 S / PKI yang bergejolak pada tahun 1965.

Pejabat-pejabat periode tahun 1960 sampai dengan 1965 adalah:

Tahun 1959-1960 Letnan Muda Udara I (LMU I) Legowo

Tahun 1960-1962 Letnan Muda Udara I (LMU I) Budiman Adiyono

Tahun 1962-1965 Dan PAU Denpasar Letnan Udara I (LUS) Suliman

Periode Tahun 1966-1974 

Pada waktu periode itu terjadi dua kali perubahan unsur yaitu sampai tahun 1974 masih tetap sebagai PAU Denpasar dengan tugas pokok melayani (Ground Handling) pesawat-pesawat TNI AU dan tugas-tugas sosial kemasyarakatan lainnya. Menanggulangi kecelakaan tersebut dan Hanggar pesawat di Tuban dipakai untuk menampung jenasah para korban.

Pada kurun waktu itu tepatnya tanggal 24 April 1974 terjadi musibah kecelakaan pesawat PAN America (PAN AM) di desa Grojak Singaraja. Anggota PAU Denpasar ditambah dari Kodau IV Surabaya dikerahkan untuk ikut menanggulangi kecelakaan tersebut dan hangar pesawat di Tuban dipakai untuk menampung jenasah para korban.

Team dari PAU Denpasar waktu dipimpin oleh Kadisops Lettu I Made Astratenaya dibantu oleh Kaurpam Lettu Agus Kahardi serta DanSatprov Lettu Adron Suhendar.

Pada periode ini juga dibangun asrama anggota PAU Denpasar dengan sarana dan prasarananya dan pemindahan kembali Kantor dari Tuban ke jalan Melati Denpasar yaitu tahun 1968 sampai tahun 1969 yang akhirnya kembali lagi ke Hanggar Tuban.

Pada pemilu tahun 1971 ikut mensukseskan dengan mengerahkan anggota PAU untuk ikut mengamankan Pemilu sementara untuk kegiatan anggota PAU dibangun sarana olahraga yaitu Lapangan Sepak Bola.                      

           Pejabat-pejabat periode tahun 1966-1974 sebagai berikut: 

Tahun 1966-1970, Kapten DC.Zulkarnaen, Kapten Munandar.

Tahun 1970-1973, DanPAU Lettu Adm Gendrotomo.

Pada Tahun 1974 PAU Denpasar dilikuidasi menjadi Perwakilan Kodau IV Surabaya dengan kedudukan di Tuban Denpasar dengan kegiatan yang menonjol sebagai berikut:

Tahun 1974-1976, pada waktu itu Operasi “SEROJA” Timor-Timur sedang giat-giatnya dilaksanakan sehingga Perwakilan Kodau IV Denpasar ikut menunjang dan mendukung operasi tersebut dengan lebih meningkatkan pelayanan Ground Handling, er F-28 milik Garuda yang dipakai pada operasi tersebut yang harus transit di Denpasar. Juga mendukung Operasi penerbangan yang dilaksanakan oleh pesawat-pesawat TNI AU yang singgah di Denpasar. Khususnya pesawat-pesawat Fokker F-28 milik Garuda yang dipakai pada operasi tersebut yang harus transit di Denpasar. Juga mendukung Operasi penerbangan yang dilaksanakan oleh pesawat-pesawat TNI AU yang singgah di Denpasar.

Kegiatan lainnya adalah penyerahan Hanggar yang dipakai untuk kantor kepala MNA sehingga kantor Perwakilan harus bergeser ke sebelah barat Hanggar dan tahun 1977 dibuat Kantor Perwakilan diluar Hanggar yang selanjutnya kantor tersebut dijadikan Mess Crew karena kurang memenuhi syarat sebagai Kantor.

Selain itu dibangun 1 unit perumahan perwira untuk 2 kepala keluarga, pemasangan 2 saluran telepon otomatis di Kantor Perwakilan dan penambahan komunikasi adminlog saluran antara Perwakilan Denpasar dan Makodau IV Surabaya dengan radio TRX-SR.206 SBB. Dalam pelaksanaan tugas kemasyarakatan maka pada pemilu tahun 1977 anggota perwakilan juga bertugas untuk mengamankan dan mensukseskannya.

 

Pejabat-pejabat Kepala Perwakilan periode tahun 1974-1980 adalah:

 

Tahun 1974-1976 Lettu Gendrotomo

Tahun 1976-1978 Mayor Pj. Madio

Tahun 1978-1980 Mayor Pj. Rusli Saidi

 

Pada tanggal 29 Januari 1980 Perwakilan Kodau IV Denpasar ditingkatkan menjadi Pangkalan Angkatan Udara kelas III (Lanud Kelas III) “NGURAH RAI” berdasarkan skep KASAU Jakarta Nomor : Skep / 06 / III / 1979 tanggal 14 Maret 1979 dan diresmikan oleh Pangkodau IV Surabaya

 

Pejabat Komandan Lanud Ngurah Rai sebagai berikut:

  1. Mayor Nav Djaelani Tahun 1980-1983.
  2. Mayor Nav Boedi Santoso Tahun 1983-1986.
  3. Letkol Psk Soeprapto Tahun 1986-1989.
  4. Mayor Pnb Abiadi Hasan Tahun 1989-1991.
  5. Letkol Pnb Iwan Sidi Tahun 1991-1994.
  6. Letkol Pnb Daryatmo Tahun 1994-1996.
  7. Letkol Nav Sudjadijono, SE tahun 1996-1997.
  8. Letkol Pnb H.J Yususf Tahun 1997-1998.
  9. Letkol Pnb Putut Sukartono Tahun 1998-2000.
  10. Letkol Pnb Anastasius Sumadi tahun 2000-2002.
  11. Letkol Pnb Yoyok Yekti Setyono Tahun 2002-2004
  12. Letkol Pnb M. Wisnu Herlambang Tahun 2004-2006.
  13. Letkol Pnb Gustaf Brugman Tahun 2006-2008.
  14. Letkol Pnb Umar Fathurrahman Tahun 2008-2009.
  15. Letkol Aldrin P. Mongan Tahun 2009-2010.
  16. Letkol Pnb Jumarto Tahun 2010-2012.
  17. Letkol Pnb Atang Sudradjat Tahun 2012-2013
  18. Kolonel Pnb Sugiharto Prapto W. S.Sos Sampai Sekarang

 

I GUSTI NGURAH RAI

           Ketika melintas di ujung Bandara Ngurah Rai sebelah Timur sampai Jalan By Pass menuju Nusa Dua dan kita memasuki bandara akan kita melihat patung menjulang tinggi dengan tegap yang seraya mengingatkan kita kepada sikap kepatriotan Pahlawan I Gusti Ngurah Rai yang dijadikan nama Bandara dan Pangkalan TNI Angkatan Udara.

Sekilas tentang sejarah kepahlawanan I Gusti Ngurah Rai yang dilahirkan pada tahun 1917 berasal dari desa Carangsari kabupaten Badung adalah tokoh yang dikenal sebagai pahlawan yang gagah berani dari Pulau Dewata dalam “ Puputan Margarana” . Ketika itu tanggal 20 November 1946 Ngurah Rai sebagai komandan Pasukan Ciung Wanara yang berada di desa Marga dikepung serdadu Nica dibawah pimpinan JBT Konig dan akhirnya terjadi perang habis-habisan atau puputan sehingga menewaskan seluruh pasukan Ciung Wanara dan sebagian pasukan NICA.

Pertempuran yang diawali dengan terror oleh pasukan NICA yang menggiring rakyat sekitar desa Marga dan disiksanya karena tidak mau menunjukkan tempat pasukan Ciung Wanara berada, sehingga pada pukul 19.00 malam pertempuran pun terjadi di sekitar kebun jagung yang sedang berbuah di areal Subak Uma Kaang.

Setiap pasukan serdadu Belanda yang berani mendekat disikat habis oleh pasukan Ciung Wanara dan akhirnya pasukan Nica mundur dan kesempatan ini dimanfaatkan oleh Ngurah Rai untuk mengatur posisi pasukannya apabila terjadi serangan balik dari serdadu Belanda yang merasa dipecundangi itu.

Ternyata dugaannya tidak meleset sekitar jam 12 malam yang gelap gulita itu dari kejauhan berdatangan pesawat pembom NICA yang memuntahkan peluru-peluru asap, gas air mata dan peluru mitraliurnya sehimgga menimbulkan kepanikan pada pasukan Ciung Wanara.

Dalam keadaan panic dan marah setelah melihat Gusti Ngurah Sugianyar dan pasukannya banyak yang gugur I Gusti Ngurah Rai memerintahkan kepada pasukan yang ada untuk mengadakan pertempuran sampai titik darah penghabisan.

Dalam suasana gelap gulita ditambah kepulan asap dan dentuman mitraliur, pasukan Ngurah Rai yang tidak seimbang dengan pasukan musuh itu akhirnya gugur sebagai kusuma bangsa dalam membela dan mempertahankan kemerdekaan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Momentum tersebut diatas mengingatkan kepada kita bahwa heroism dari seorang komandan akan menaikkan moril kepada pasukannya dalam melaksanakan pertempuran. Hal tersebut tersirat dalam surat balasan yang disampaikan kepada JBT konig Komandan Pasukan NICA di Pulau Bali beberapa hari sebelum pecah puputan yang berbunyi :

Merdeka…… ! Surat telah kami terima dengan selamat, dengan singkat kami sampaikan jawaban sebagai berikut. Semenjak pendaratan tentara tuan, pulau menjadi tidak aman. Bukti telah nyata, tidak dapat dipungkiri lagi. Lihatlan penderitaan menghebat, mengancam keselamatan rakyat bersama, tambah-tambah kekacauan ekonomi menjerat leher rakyat.

           Keamanan terganggu, karena itu tuan memperkosa kehendak rakyat yang telah menyatakan kemerdekaannya. Soal perundingan, kami serahkan kebijaksanaan pemimpin-pemimpin kami dari Jawa. Bali bukan tempatnya perundingan diplomatic, dan saya bukan kompromis.

           Saya atas nama rakyat hanya menghendaki lenyapnya Belanda dari pulau Bali atau kami sanggup dan berjanji bertempur terus sampai cita-cita kami tercapai. Selama tuan tinggal di Bali, pulau Bali tetap menjadi belanga pertumpahan darah, antara kami dan pihak tuan. Sekian, harap menjadikan maklum adanya. Sekali Merdeka, tetap Merdeka !. 

A.n Dewan Perjuangan Bali,

Pemimpin,

I Gusti Ngurah Rai 

           Mengamati surat beliau maka bisa diambil kesimpulan bahwa Ngurah Rai adalah sangat berjiwa Ksatria, tetap berpegang teguh pada tekad rakyat dan sama sekali tidak mau mundur walaupun hanya setapak.

Tekadnya itu dibuktikan dalam beberapa kali pertempuran yang pernah dimenangkannya antara lain pada pertempuran di Tanah Aron tanggal 7 Juli 1946 dan penyerangan tangsi polisi NICA di Banjar Ole pada tanggal 18 Nopember 1946

Demikian kisah kepahlawanan I Gusti Ngurah Rai yang sewaktu kecil bernama I Gusti Ngurah Genjor atau I Gusti Ngurah Gejer anak dari pasangan I Gusti ngurah Pacung dan I Gusti Ayu Kompyang dari daerah Carangsari, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung.

I Gusti Ngurah Rai menamatkan Sekolah Dasar Belanda (HIS) di Denpasar, kemudian melanjutkan ke MULO di Malang Jawa Timur.

Selanjutnya pada tahun 1938 mengikuti pendidikan Offisier Corp Prayoda yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kerajaan Belanda di Gianyar, tanggal 30 Oktober 1945 I Gusti Ngurah Rai diangkat sebagai pemimpin TKR  dengan pangkat Mayor dan dinaikkan pangkatnya menjadi Letkol ketika pelantikannya di Yogyakarta.

Setelah itu pada tanggal 19 Desember 1945 I Gusti Ngurah Rai bersama dengan Gusti Bagus Putu Wisnu, Gusti Ngurah Bagus Sugianyar, Wayan Ledang dan Tjokorda Ngurah berangkat ke Yogyakarta untuk koordinasi dengan pemerintah pusat dalam upaya memperkuat keamanan di Pulau Bali dan kembali pada tanggal 4 April 1946 dan selanjutnya bermarkas di Munduk Malang, Tabanan dan akhirnya pada tanggal 20 November 1946 beliau gugur bersama pejuang lainnya dalam Puputan Margarana.

Dalam rangka mengenang Desa Margarana sebagai tempat pertempuran hebat dan mengenang jasa para pejuang yang telah gugur, maka dibangun Monumen Nasional Taman Pujaan Bangsa (TPB) Margarana dan setiap tanggal 20 Nopember diperingati sebagai hari Puputan Margarana. Pembangunan monumen tersebut dimulai pada tanggal 15 Mei 1954 dan selesai tanggal 20 November 1954.

Sekarang nama I Gusti Ngurah Rai diabadikan sebagai nama Bandara dan nama Pangkalan TNI Angkatan Udara di Tuban Denpasar. Untuk mengenang jasa I Gusti Ngurah Rai kini telah dibuatkan patungnya yang ditempatkan di ujung landasan Bandara sebelah timur  Ngurah Rai dan Pat untuk peringatan kepada kita bahwa di Pulau bali ini pernah ada pejuang yang gagah berani untuk mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan Negara Republik Indonesia.

_________________________________________________________________________

Pejabat Komandan Lanud Ngurah Rai sebagai berikut:

  1. Mayor Nav Djaelani Tahun 1980-1983.
  2. Mayor Nav Boedi Santoso Tahun 1983-1986.
  3. Letkol Psk Soeprapto Tahun 1986-1989.
  4. Mayor Pnb Abiadi Hasan Tahun 1989-1991.
  5. Letkol Pnb Iwan Sidi Tahun 1991-1994.
  6. Letkol Pnb Daryatmo Tahun 1994-1996.
  7. Letkol Nav Sudjadijono, SE tahun 1996-1997.
  8. Letkol Pnb H.J Yususf Tahun 1997-1998.
  9. Letkol Pnb Putut Sukartono Tahun 1998-2000.
  10. Letkol Pnb Anastasius Sumadi tahun 2000-2002.
  11. Letkol Pnb Yoyok Yekti Setyono Tahun 2002-2004
  12. Letkol Pnb M. Wisnu Herlambang Tahun 2004-2006.
  13. Letkol Pnb Gustaf Brugman Tahun 2006-2008.
  14. Letkol Pnb Umar Fathurrahman Tahun 2008-2009.
  15. Letkol Aldrin P. Mongan Tahun 2009-2010.
  16. Letkol Pnb Jumarto Tahun 2010-2012.
  17. Letkol Pnb Atang Sudradjat Tahun 2012-2013
  18. Kolonel Pnb Sugiharto Prapto W. S.Sos 2013-2015
  19. Kolonel Pnb Danet Hendriyanto S.Sos

Leave a Reply

Verifikasi CAPTCHA *