Marsma TNI Timbang Sembiring Meliala

Komandan Lanud Suryadarma

Marsma TNI Timbang Sembiring Meliala (Lahir di Kabanjahe-Karo, 18 Mei 1962) merupakan lulusan AAU tahun 1987. Menjadi siswa Sekolah Penerbang (Sekbang) pada tahun 1988 dan dilantik menjadi Komandan Lanud Suryadarma, pada tanggal 26
Juli 2017 sampai sekarang.

Menyiapkan dan melaksanakan pembinaan dan pengoperasian seluruh satuan jajarannya, pembinaan potensi dirgantara serta menyelenggarakan dukungan operasi bagi satuan lainnya. Dalam rangka pelak-sanaan tugasnya Lanud Suryadarma menyelenggarakan fungsi sebagai berikut :

a. Menyelenggarakan pembinaan dan menyiapkan satuan jajarannya.

b. Mengumpulkan dan merekam data guna pemyempurnaan taktik/teknik operasi dan latihan.

c. Melaksanakan pembekalan dan pengadaan materiil bagi satuan jajarannya.

d. Menyelenggarakan pemeliharaan Alutsista sampai dengan tingkat sedang.

e. Menyelenggarakan pembinaan potensi dirgantara.

f. Menyelenggarakan pemeliharaan sarana dan prasarana serta fasilitas pendukung yang menjadi tanggung jawabnya.

g. Mengadakan koordinasi dengan badan-badan dan instansi terkait di dalam dan di luar Lanud.

h. Mengajukan saran dan pertimbangan kepada Pangkoopsau mengenai hal-hal yang berhubungan dengan bidang tugasnya.

VISI : Istirahat adalah untuk mempersiapkan kerja keras berikutnya.

MISI :

 

  1. Menyelenggarakan pembinaan dan menyiapkan satuan dalam jajarannya.
  2. Meningkatkan pembinaan profesionalisme prajurit dalam pengawakan alutsista guna mewujudkan zero accident
  3. Membina kemampuan operasi.
  4. Menyelenggarakan pemeliharaan alutsista sampai tingkat sedang.
  5. Melaksanakan pembekalan dan pengadaan materiil guna mendukung kesiapan operasional satuan.
  6. Menyelenggarakan pemeliharaan sarana dan prasarana serta fasilitas pendukung yang menjadi tanggung jawabnya.
  7. Menyelenggarakan pembinaan potensi dirgantara.
  8. Mengusahakan peningkatan kesejahteraan bagi personel Lanud Suryadarma.

Sejarah Pangkalan Udara Suryadarma dimulai pada tahun 1914 saat pemerintah Belanda membentuk pangkalan udara di Kalijati yang merupakan lapangan terbang pertama di Indonesia, yang saat itu dibentuk merupakan Bagian Penerbangan Percobaan (Proef Vlieg Afdeling/ PVA) dari pasukan Hindia Belanda KNIL, dengan menempatkan dua pesawat amphibi Glen Martin buatan Amerika Serikat yang diberi roda tambahan agar dapat mendarat di Kalijati. Beberapa hal seperti iklim, cuaca dan angin yang cenderung stabil sehingga aman untuk penerbangan, serta secara geografis tidak terlalu jauh dari Batavia sehingga dapat memberikan bantuan operasi udara apabila dibutuhkan, merupakan pertimbangan utama dari Panglima Tentara KNIL saat itu Letnan Jenderal H. Ter Poorten dalam pemilihan lokasi di Kalijati.

Dalam perkembangan selanjutnya, pada tahun 1917 di Kalijati dibuka sekolah penerbangan yang pertama dengan mendatangkan pesawat baru yaitu 8 pesawat pengintai dan 4 pesawat latih. Keempat Pesawat Latih tersebut digunakan untuk kegiatan pendidikan bagi calon pilot/penerbang, sehingga pembangunan sarana prasarana pendidikan pilot di Pangkalan Udara Kalijati mulai dikerjakan dengan intensif. Hal ini dapat dilihat dari beberapa bangunan yang saat ini masih berdiri kokoh sebagai saksi sejarah. Bangunan-bangunan tersebut antara lain Hanggar A, yang saat ini digunakan sebagai hanggar Pesawat Polter Pilatus dari Satuan Udara Pertanian. Hanggar B yang saat ini digunakan sebagai Hanggar Helikopter 47 G Solooy. Hanggar C untuk Museum Amerta Dirgantara Mandala dan Pusat Pendidikan Terbang Layang, Hanggar D untuk Skadron Pendidikan 303, sedangkan bekas Gedung Sekolah Penerbang Belanda saat ini digunakan sebagai Markas Wingdiktekkal, juga kompleks-kompleks perumahan dinas salah satunya untuk Museum Rumah Sejarah Kalijati dan bangunan lainnya yang tersebar di area Lanud Suryadarma.

Kedatangan empat pesawat latih Belanda di Lanud Kalijati merupakan cikal-bakal bangsa Indonesia memiliki sekolah penerbang militer. Keempat pesawat tersebut awalnya digunakan mendidik penerbang baru tentara KNIL yang ada di Kalijati agar mampu mengawaki pesawat intai. Dengan adanya politik diskriminasi yang diterapkan pada warga pribumi, Sekolah Penerbang (Vliegschool) tersebut hanya menerima siswa warga Belanda asli, karena penerbang merupakan profesi elite bagi Belanda. Setelah Sekolah Penerbang berjalan 11 tahun, tepatnya pada tahun 1932, Pemerintah Belanda mulai menerima siswa pribumi, namun dengan persyaratan yang sangat ketat dan berat. Keadaan tersebut dialami oleh Letnan Suryadi Suryadarma saat harus menjalani tiga kali tes untuk diterima sebagai siswa penerbang pada 1937. Letnan Suryadi Suryadarma menjalani pendidikan selama enam bulan, dilanjutkan sekolah navigator dan akhirnya lulus pada tahun 1939. Selanjutnya ia menempuh pendidikan instruktur yang akhirnya mengantarkannya menjadi instruktur di Sekolah Penerbang Kalijati. Beberapa warga pribumi lainnya yang lulus brevet penerbang tingkat atas adalah Adi Sutjipto dan Sambujo Hurip. Sedangkan brevet penerbang tingkat pertama disandang oleh Husein Sastranegara, Sulistyo dan H. Suyono.

Selanjutnya pada tahun 1939, Belanda mulai memindahkan lokasi sekolah penerbang dan pengintai dari Kalijati ke Pangkalan Udara Andir, Bandung dan mengubah nama sekolahnya untuk digabungkan menjadi Vlieg en Warnemer School.

Saat Jepang berhasil menduduki pertahanan Belanda di Kalijati, dilanjutkan dengan penyerahan kekuasaan Belanda kepada Jepang tanpa syarat pada 8 Maret 1942, kemajuan bangsa Indonesia pada dunia penerbangan dibatasi, sehingga bangsa Indonesia hanya sedikit yang dididik mengikuti penerbangan atau menjadi awak pesawat.

Mengingat begitu berharganya Lanud Kalijati bagi Belanda, beberapa Tentara Udara Belanda kembali ke Kalijati setelah Jepang kalah pada Perang Dunia II tahun 1945, yang bertahan hingga Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia pada 27 Desember 1949. Enam bulan kemudian pada 27 Juni 1950 semua fasilitas militer Belanda di Pangkalan Kalijati diserahkan kepada Indonesia melalui AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia). Dan sejak itu Pangkalan Udara Kalijati dijadikan kembali sebagai pusat pendidikan penerbang tingkat dasar dan lanjutan oleh AURI, namun pada tahun 1960 pendidikan penerbang dipindahkan ke Yogyakarta hingga kini.

Pada tahun 1960, saat Sekolah Penerbang dipindahkan ke Yogyakarta dan disatukan di tingkat akademi, Lanud Kalijati mengalami kesunyian dan keheningan dari dunia penerbangan. Kesunyian dan keheningan tersebut berubah pada tanggal 17 April 1989, saat Skadron Udara 7 sebagai skadron helikopter jenis khusus dan pendidikan pilot helikopter melaksanakan “Operasi Boyong” tahap pertama dari Lanud Atang Senjaya, Bogor ke Lanud Kalijati. Sehingga sejak Juni 1990 Skadron Udara 7 telah menjadi satuan baru di bawah Lanud Kalijati dan sejak saat itu tugas Lanud Kalijati bukan hanya memberikan dukungan operasi udara, melainkan juga melaksanakan tugas tambahan pendidikan penerbang helikopter.

Sejak dirintis tahun 1978 hingga tahun 2014, Skadron Udara 7 telah meluluskan sekitar 650 orang Pilot Helikopter. Selain prajurit TNI, pilot yang dididik sebelum tahun 1999 juga terdapat siswa-siswa dari luar negeri dan Kepolisian Republik Indonesia. Prestasi tersebut patut disyukuri karena dengan helikopter modifikasi jenis Bell 47 G Solooy yang merupakan pesawat tua nan tangguh, para siswa berhasil melewati masa-masa penggemblengan di kawah candradimuka Skadron Udara 7, Lanud Suryadarma untuk menjadi Pilot Helikopter (Chopper) yang profesional.

Pada tahun 1997 Lanud Kalijati yang saat itu merupakan Lanud tipe C yang ditingkatkan menjadi Lanud tipe B dengan pejabat Komandan Lanud tipe B pertama adalah Kolonel Pnb Bambang Wahyudi. Selanjutnya berdasarkan Surat Keputusan Kepala Staf TNI Angkatan Udara Nomor Skep/96/VIII/2001 Tanggal 27 Agustus 2001 Pangkalan TNI AU Kalijati berubah namanya menjadi Pangkalan TNI AU Suryadarma. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan kenangan atas jasa Bapak AURI, Marsekal TNI (Purn) Suryadi Suryadarma yang merupakan lulusan sekolah penerbangan Kalijati dan juga sebagai instruktur di sekolah penerbang Kalijati.

Kini, sejak tahun 1946, Lanud Suryadarma telah berganti komandan sebanyak 39 kali dan pada tahun 2015 ini Pangkalan TNI AU Suryadarma berada di bawah pimpinan Marsekal Pertama TNI Suparmono (Alumni AAU 1988 werving 1986) yang menjabat sejak 7 Agustus 2015. Seiring dengan dengan perubahan status Lanud Suryadarma dari Lanud Tipe B menjadi Lanud Tipe A sesuai dengan peraturan Kepala Staf Angkatan Udara nomer 13/VI/2015 Tanggal 25 Juni 2015.

Marsekal TNI (Purn) Rd. Suryadi Suryadarma kini telah tiada, ada pepatah “Harimau Mati Meninggalkan Belang, Gajah Mati Meninggalkan Gading”. Pun demikian halnya dengan Marsekal TNI (Purn) Rd. Suryadi Suryadarma, walaupun beliau telah tiada namun bangunan gading yang kokoh kuat telah ia tinggalkan, ia wariskan kepada generasi muda untuk dilestarikan dan dibangun menjadi lebih berjaya dengan motonya yang amat melegenda “Kembangkan Terus Sayapmu demi kejayaan tanah air tercinta ini, Jadilah Perwira sejati pembela tanah air”.

Save

Leave a Reply

Verifikasi CAPTCHA *