Pada tahun 1960-an, armada pesawat angkut TNI AU terus bertambah mulai dari pesawat jenis angkut berat, sedang maupun jenis pesawat angkut ringan termasuk didalamnya pesawat Cessna 401A/402A.

Cessna 401A/402A diproduksi oleh Cessna Aircraft Company of Wichita USA pertama kali pada tahun 1966.  Pesawat yang pada saat itu tergolong canggih di kelasnya ini memiliki dua tipe yaitu tipe C-401 dan C-402.  Bermesin ganda dari pabrik Continental dengan 6 buah piston yang dilengkapi system turbo charger dan dapat menghasilkan tenaga sebesar 300 HP pada setiap mesinnya.  Pada awal tahun 1969 pesawat Cessna menjadi kekuatan TNI AU. Pengadaan pesawat Cessna 401/402 oleh Sekretariat Negara ini merupakan salah satu hasil pengadaan Renstra I yang awal penugasannya digunakan untuk Operasi PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat) di Irian Barat.  Operasi ini berjalan sukses dan pada November 1969 PBB menetapkan Irian Barat resmi masuk Republik Indonesia.  Dalam Operasi PEPERA, Cessna 401A/402A melaksanakan mobilisasi para kepala suku di Irian Barat untuk duduk dalam Dewan Musyawarh PEPERA yang dilaksanakan pada bulan Juli – Agustus 1969.  Disamping itu juga digunakan sebagai transportasi bagi para petugas dari PBB, negara-negara pengamat dan negara-negara peninjau. Daerah-daerah yang dijadikan sebagai tempat pemungutan suara mencakup 8 kabupaten, yaitu: Merauke, Jayawijaya, Paniai, Fakfak, Sorong, Manokwari, Biak dan Jayapura.   Setelah Operasi PEPERA, Cessna 401/402 masih digunakan di Papua untuk konsolidasi dan hubungan dengan pejabat kabupaten.   Akhir tahun 1971 konsolidasi Papua dianggap selesai dan pesawat dititipkan kepada Skadron 17 untuk angkutan VIP.

Awal Kedatangan

Tujuh pesawat Cessna yang dipesan Indonesia memiliki dua tipe yaitu C-401 sejumlah lima pesawat dan C-402 dua pesawat. Tipe C-401 dengan registrasi; A-4011, A-4012, A-4013, A-4014 dan A-4015.   Sedangkan tipe C-402 nomor registrasinya AF-4021 dan AF-4022.   Pesawat  yang digunakan sebagai angkut khusus dan latih lanjut bagi siswa Sekbang TNI AU jurusan transport ini mampu membawa 5 orang penumpang dengan kecepatan jelajah mencapai 310 km/jam (170 knots).

Untuk merealisasikan pengawakan Cessna 401A/402A di Indonesia, TNI Angkatan Udara memberangkatkan penerbang dan teknisi ke Amerika Serikat untuk mengikuti pelatihan dalam pengoperasian dan pemeliharaan pesawat Cessna 401A/402A. Dua penerbang yang dikirim ke Amerika adalah Mayor Pnb Djoko Susetyo dan Kapten Pnb Subardi.  Dua penerbang ini juga yang langsung membawa pesawat Cessna-402A ke Indonesia dengan rute yang sangat panjang.

Pesawat Cessna dengan Register AF-4021 diterbangkan oleh Kapten Pnb Subardi dan Register AF-4022 diterbangkan oleh Mayor Pnb Djoko Susetyo dengan didampingi oleh pilot dari pabriknya Cessna Aircraft Company of Wichita USA.  Pesawat diterbangkan langsung dari Wichita Kansas Amerika ke Lanud Halim Perdanakusuma selama beberapa hari dengan rute:

  1. Wichita Kansas ke Oakland selama 8 jam
  2. Oakland ke Hawai selama 13 jam
  3. Hawai ke Guam selama 15 jam
  4. Guam ke Singapore selama 16 jam
  5. Singapore ke Halim Perdanakusuma sekitar 3 jam

Dari Singapore menuju Halim Perdanakusuma, Mayor Pnb Djoko Susetyo dan Kapten Subardi tidak lagi didampingi penerbang dari pabrikan, tetapi terbang solo. Penerbangan “ferry flight” dari USA ini tentu tidak mudah untuk jenis pesawat kecil, namun dengan fisik dan stamina yang sangat tinggi, penerbangan selama 55 (limapuluh lima) jam dapat dilaksanakan dengan baik dan pesawat mendarat dengan selamat di Lanud Halim Perdanakusuma.  Dua penerbang ini jugalah yang kemudian memberikan pelatihan kepada para penerbang lainnya di Lanud Halim Perdanakusama.

Dari Halim ke Malang

Diawal kedatanganya, Cessna 401A/402A ditempatkan di Skadron Udara 17 Linud Khusus Lanud Halim Perdanakusuma dan melaksanakan Operasi Pepera, setelah Operasi Pepera selesai dengan sukses dan Irian Barat masuk ke Indonesia, maka pesawat ini kembali ke Skadron 17 Linud Khusus. Pada tahun 1983, berdasarkan Surat Keputusan Kepala Staf TNI Angkatan Udara Nomor Kep/22/XI/1983 tanggal 29 November 1983, tentang revitalisasi dan refungsionalisasi Skadron Udara 17 Linud Khusus, yang mengubah kekuatan pesawat di Skadron Udara 17 Linud Khusus dengan pesawat-pesawat jenis baru yang sesuai dengan fungsi dan tugas utamanya. Dan kemudian namanya disesuaikan menjadi Skadron Udara 17 VIP.    Realisasi dari perubahan tersebut, pesawat-pesawat yang tidak termasuk sebagai pesawat VIP, seperti Cessna 401A/402A, Dakota C-47, Skyvan SC-7 dan Casa C-212, dititipkan ke Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma di bawah kendali Wing Ops 001.

Tahun 1985, berdasarkan Surat Keputusan Kepala Staf Angkatan Udara Nomor Kep/02/I/1985 tanggal 17 Januari 1985, Skadron 4 Pengintai Darat kembali dioperasionalkandengan menyandang nama baru Skadron Udara 4 Angkut Ringan.  Semua pesawat yang semula ber-home base di Skadron Udara17 Lanud Halim Perdanakusuma, yaitu Cessna 401A/402A, Dakota C-47, Skyvan SC-7 dan Casa C-212, dipindahkan ke Lanud Abdurachman Saleh Malang menjadi kekuatan Skadron Udara 4 Angkut Ringan.

Perpindahan ke Lanud Abdurachman Saleh dipimpin oleh Mayor Pnb Suharso sebagai Komandan Skadron, dan pada 9 April 1985 pengaktifan kembali Skadron Udara 4 diresmikan oleh Kasau Marsekal TNI Sukardi melalui upacara militer di depan hanggar Skadron Udara 32 Lanud Abdulrachman Saleh.

Berbagai Tugas Operasi

Sejak kedatangannya, selain OPERASI PEPERA di Irian Barat, pesawat Cessna 401A/402A banyak dilibatkan dalam berbagai kegiatan, baik dalam Operasi Militer untuk Perang (OMP) maupun Operasi Militer Selain Perang (OMSP), antara lain :

  1. Operasi Seroja.  Sejak awal pelaksanaan OPERASI SEROJA pada bulan Desember 1976 sampai dengan bulan Juli 1977 armada Cessna 401A/402A yang memiliki kemampuan foto udara telah dilibatkan dalam operasi militer untuk perang di Timor Timur.  Kemudian dilanjutkan dengan Operasi Kamdagrisampai dengan tahun 1989.   Pesawat Cessna 401A/402A di-BKO-kan di Pangkoopskam Timor-Timur dengan tugas membantu satuan-satuan lain, baik satuan darat, laut, maupun satuan sendiri dalam melaksanakan operasi di wilayah tersebut.  Pada operasi ini, Cessna obligue.  Kegiatan yang dilakukan adalah melaksanakan pemotretan udara dan pengintaian visual (air recognition atau air recce).    Operasi dilaksanakan diseluruh wilayah Timor-timur dengan sasaran tempat-tempat atau daerah-daerah yang di curigai sebagai tempat persembunyian Gerombolan Pengacau Keamanan (GPK).   Pelaksanaan photo recce dari Lanud Bakau menggunakan High Low Low High.   High dimaksudkan adalah batas ketinggian aman dari senjata yang dimilki musuh, sedangkan Low adalah batas terbang rendah menuju daerah sasaran pada ketinggian 500 feet dengan sekali passing (single passing).   Pada operasi di Timor Timur, pesawat Cessna 401A/402A menggunakan call sign “WALET” disamping melakukan pengintaian udara juga dibebani tugas menyebarkan pamflet dari pemerintah daerah di wilayah operasi.
  2. Operasi Natuna Jaya dan Operasi Halau. Pada pertengahan tahun 1975 setelah tentara Amerika menderita kekalahan di Vietnam telah menimbulkan gelombang pengungsi rakyat Vietnam secara besar-besaran. Para pengungsi ini menggunakan perahu kecil dan tongkang melalui Laut China Selatan memasuki Laut Natuna menuju ke Indonesia. Untuk menanggulangi para pengungsi tersebut PBB melalui UNHCR telah minta kepada pemerintah Indonesia agar bersedia menanggulanginya yaitu dengan menampung sementara di Pulau Galang.   Dari pulau Galang UNHCRmengatur penyaluran mereka ke negara yang bersedia menampung secara permanen. Kegiatan ini berlangsung sekitar tiga tahun. Pada tahun 1985 gelombang pengungsi ini kembali terjadi secara terus menerus tetapi karena mereka bukan lagi korban perang maka UNHCR tidak lagi bersedia mengurusnya. Oleh karena itu Pemerintah RI juga tidak bersedia menampungnya, sehingga untuk menanggulanginya dilakukan pengusiran agar tidak memasuki wilayah NKRI. Untuk itu pada bulan September 1985 di wilayah sekitar Laut  Natuna di gelar Operasi Halau yang dibawah kendali Pangkoopsau I.  Pesawat  Cessna 401A/402A di BKO-kan di Lanud Ranai bersama-sama dengan Unit OV-10 dari Skadron Udara 3 dan SA-330 Super Puma dari Skadron Udara 8   Pada operasi ini, tugas utama pesawat Cessna 401A/402A adalah sebagai pesawat yang mengawali dari seluruh rangkaian operasi. Hasil temuan dari pengintaian udara selanjutnya akan ditindak lanjuti oleh pesawat penghalau bersenjata yaitu pesawat OV-10 Bronco.    Dalam operasi laut ini, untuk memperoleh bukti-bukti yang otentik pesawat Cessna 401A/402A dilengkapi camera oblique (EG flight) yang tujuannya untuk mendapatkan foto udara secara acktual real time.    Pengintaian udara dilaksanakan dengan ketinggian antara 2.500 sampai 500 feet dan target yang dicari berupa kapal pengungsi berupa kapal tongkang yang sarat dengan muatan manusia.    Selain memperkuat Operasi Halau, Cessna 401A/402A juga dibebani pula dengan tugas administrative yaitu mengambil gaji seluruh personel dan PNS Lanud serta Satuan Radar di Ranai dari Tanjung Pinang.
  3. Operasi Rencong Terbang.   Pada operasi ini, Cessna 401A/402A ber-home base di Lanud Maimun Saleh di Pulau Sabang.  Operasi dimulai pada bulan Mei 1987.  Daerah pemotretan adalah wilayah Aceh Utara, Aceh Tengah, dan sepanjang pesisir pantai Utara Aceh, yang diduga sebagai tempat penyelundupan senjata-senjata dari negara tetangga serta sasaran-sasaran yang dicurigai sebagai tempat persembunyian tentara GAM.
  4. Operasi Hujan Buatan.  Selain mendukung OMP, Cessna 401A/402A dilibatkan pula dalam OMSP, seperti operasi hujan buatan yang bertujuan untuk melakukan modifikasi cuaca di beberapa wilayah Indonesia yang mengalami kekeringan akibat kemarau panjang atau untuk mengisi waduk-waduk dan bendung-bendung yang airnya mulai menyusut.   Operasi Hujan Buatan merupakan proyek dari Badan Pengakajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dan pertama kali dilaksanakan di Bogor, kemudian di Bandung, Solo dan Pulau Lombok.  Pada awal pelaksanaannya, Operasi Hujan Buatan disupervisi oleh Prof. DR. De Vacolt seorang ahli hujan buatan dari Thailand.

Bidang tugas lainnya yang dilaksanakan Cessna 401A/402A adalah survai lapangan menjelang Panen Raya, sebagai upaya meningkatkan hasil pertanian pemerintah pada tahun 1971 dengan melaksanakan Proyek Bimbingan Masyarakat (BIMAS). Dalam proyek ini pemerintah membantu petani dengan pupuk dan insektisida. Proyek ini diprakarsai oleh Menteri Pertanian yang pada waktu itu dijabat oleh Prof. DR. Ir. Hadi Tayeb. Guna mengetahui hasilnya maka pada setiap menjelang Panen Raya, Mentri Pertanian melakukan survai dari udara. Pesawat terbang yang digunakan adalah pesawat Cessna-401 dengan rute penerbangan dari Jakarta menyusuri daerah lumbung padi disepanjang bagian utara Pulau Jawa. Penerbangan dilakukan pada ketinggian 1.000 feet dan dilakukan secara zig-zag mulai dari daerah Bekasi sampai dengan Surabaya.

Tugas Pendidikan Penerbang

Selama mengabdi di Angkatan Udara pesawat-pesawat Cessna 401/402 juga telah digunakan untuk mendidik dan melatih para Penerbang yang baru lulus dari pendidikan di Sekolah Penerbang Angkatan Udara di Yogyakarta. Para Penerbang baru tersebut dibagi dalam dua kelompok, yaitu Perwira Siswa yang mengikuti Pelatihan Terbang Transisi (Transition Flight Training) dan Siswa Penerbang (umumnya masih belum jadi Perwira efektif) yang mengikuti Pelatihan Terbang Split System yaitu mereka yang masih memiliki status sebagai Siswa Sekolah Penerbang di Wing Pendidikan 01. Intensitas pendidikan penerbang dengan pesawat Cessna C-401/402 termasuk tinggi terutama setelah tahun 1977. Hal ini dapat dilihat dari jumlah Penerbang yang selesai mengikuti pelatihan dan memiliki rating pesawat Cessna-401/402 selama 30 tahun mencapai 140 Penerbang.. Lebih dari separuhnya merupakan hasil pelatihan pada tahun 1980 sampai dengan 1989. Para Penerbang ini sekarang sebagian sudah purnawira, sebagian menjadi Pejabat TNI AU termasuk bapak Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Hadi Tjahjanto dan sebagian besar telah tersebar di berbagai perusahaan penerbangan di Indonesia (perusahaan Airlines).

Lahirnya Sang “WALET”

Walet merupakan kebanggaan, kehormatan dan identitas jati diri para penerbang-penerbang Skadron Udara 4, yang mengekspresikan karakter sebagai personel yang lincah, tanggap, tanggon, dan trengginas, serta dapat saling bekerjasama secara solid sehingga mampu untuk selalu diandalkan dalam menyelesaikan setiap misi.

Walet lahir pada Desember 1985, ketika awak pesawat pengintai Cessna 401A/402A, Captain Pilot Kapten PNB Chaerudin Ray dan Co-Pilot Lettu PNB Sudipo Handoyo selesai melaksanakan misi operasi (Operasi Halau) di Kepulauan Natuna.  Sewaktu melepas lelah di pantai Natuna, mereka melihat seekor burung Walet yang terbang lincah di sekitar mereka. Mengamati burung Walet yang terbang tersebut, timbul ide Kapten Pnb Chaerudin untuk mengambil Walet sebagai “call sign” pesawat Cessna 401A/402A yang sedang bertugas.  Kemudian istilah Walet resmi dikukuhkan sebagai panggilan bagi pesawat-pesawat yang bernaung di bawah Skadron Udara 4.  Sedangkan untuk pemberian Walet Number diurut berdasarkan senioritas, namun setelah Walet 15 mengalami perubahan, walet number diberikan kepada para penerbang yang sudah menjadi captain pilot saja.

Pengabdian Pesawat Cessna-401/402

Pada akhir tahun 1989, Cessna 401A/402A dinon-aktifkan karena kondisi pesawat yang secara teknis sudah tidak layak operasional. Untuk mewakili dari seluruh armada Cessna 401A/402A, dan untuk mengenang pengabdian pesawat tersebut, Cessna 401 dengan “tail number” A-4014 dijadikan Monumen di Lanud Abdurachman Saleh Malang.  Pengabdian Cessna 401A/402A kepada bangsa dan negara NKRI sekarang sudah menjadi bagian dari sejarah bangsa, khususnya TNI AU.  Untuk itu, sebagai penghargaan terhadap jasa-jasanya, pada bulan Juli 2017 Kasau Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P menginstruksikan agar pesawat Cessna 401 dengan tail number A-4014 direlokasi ke Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala di Lanud Adi Sutjipto, Yogyakarta dan diresmikan pada tanggal 3 Desember 2017. Harapannya adalah agar dapat menjadi benda sejarah yang akan selalu dikenang dan juga sebagai bahan pembelajaran bagi generasi penerus bangsa Indonesia sepanjang masa.