Penetapan Pemerintah No. 6/SD tanggal 9 April 1946 merupakan moment terpenting bagi TNI AU karena menjadi dasar pembentukan dan lahirnya TNI AU.  Ketetapan tersebut sekaligus menunjuk Komodor Udara R. Soerjadi  Soerjadarma sebagai Kepala Staf Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara (TRI AU) yang pertama dan saat itu berkedudukan di Jogyakarta.

Soerjadi  Soerjadarma lahir di Kota Banyuwagi, Propinsi Jawa Timur pada 6 Desember 1912, merupakan anak dari R. Suryaka Suryadarma pegawai bank di Banyuwangi, yang masih memiliki garis keturunan dari Kraton Kanoman, Cirebon.   Buyutnya adalah Pangeran Jakaria alias Aryabrata dari Kraton Kanoman.   Sedangkan kakeknya adalah Dokter Pangeran Boi Suryadarma yang bertempat tinggal di Kuningan Jawa Barat, beliau tamatan Sekolah Dokter Jawa.  Sejak kecil Soerjadarma telah menjadi yatim piatu, Ia ditinggal oleh ibu kandungnya dalam usia yang masih kecil, sedangkan ayahandanya wafat ketika Soerjadarma berusia sekitar lima tahun.  Sepeninggal kedua orangnya, Suryadarma ikut keluarga kakeknya di Jakarta.

Selain keturunan keraton, Soerjadarma hidup dalam keluarga yang memiliki pendidikan modern dan berpandangan luas.  Pada usia enam tahun, tepatnya tahun 1918, Soerjadarma masuk sekolah ELS (Eropese Lagere School) yaitu Sekolah Dasar khusus untuk anak Eropa atau Cina dan anak-anak Indonesia yang miliki keturunan bangsawan atau anak pejabat yang kedudukanya bisa disamakan dengan Bangsa Eropa.  Tahun 1926, Suryadarma menyelesaikan pendidikanya di ELS, yang kemudian melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya yaitu HBS (Hogere Burgere School) di Bandung.   Namun sebelum berhasil menamatkan sekolahnya di kota ini, ia harus berpindah ke Jakarta dan melanjutkan di KWS-III (Koning Willem School) Jakarta, sekolah ini sederajat dengan HBS, dan berhasil diselesaikan tahun 1931.

Setelah lulus dari KWS-III, Soerjadarma terus berusaha mengejar cita-citanya yang sudah tertanam sejak kecil, yaitu menjadi penerbang. Kemauan keras Soerjadarma untuk menjadi penerbang, dijalaninya dengan penuh semangat tanpa putus asa. Namun untuk mengejar cita-citanya ini jalan yang ditempuh masih panjang. Dari KWS ia tidak dapat langsung mengikuti pendidikan penerbang, Ia harus menjadi perwira dahulu. Untuk menjadi perwira, tidak ada jalan lain kecuali mengikuti pendidikan perwira di KMA (Koninklijke militaire Academic), yang saat itu hanya ada di Breda Negeri Belanda. Kemudian pada Bulan September 1931, Soerjadarma mendaftarkan diri masuk pendidikan perwira di KMA Breda.  Keinginan Soerjadarma untuk menjadi anggota militer ini sebenarnya tidak disetujui oleh kakeknya yang sekaligus menjadi ayah angkatnya. Setelah mendapat penjelasan dari Soerjadarma, akhirnya ayah angkatnya Dr. Boi Suryadarma tidak keberatan cucunya menjadi kadet (taruna) KMA.

Dasar-dasar kemiliteran dan kepemimpinan Soerjadarma diperolehnya ketika mengikuti Akademi Militer di Breda, Belanda yang  ditempuh selama tiga tahun. Setelah lulus dari Akademi Militer Breda pada tahun 1934, Suryadarma ditempatkan di Satuan Angkatan Darat Belanda di Nijmigen, Negeri Belanda, akan tetapi satu bulan kemudian Soerjadarma dipindahkan ke Batalyon I Infantri di Magelang sampai bulan Nopember 1936.  Dengan status sebagai perwira dengan pangkat Letnan Dua, akhirnya Suryadarma mendaftarkan diri sebagai Calon Cadet Penerbang.   Dua kali Suryadarma mengikuti test masuk Sekolah Penerbang, namun selalu gagal dengan alasan Suryadarma menderita sakit Malaria. Namun berkat keuletan dan kemauan yang keras, pada test yang ketiga Soerjadarma akhirnya dapat diterima menjadi siswa penerbang yang diselenggarakan di Kalijati.

Soerjadarma menyelesaikan pendidikan Sekolah Penerbang pada bulan Juli 1938, namun tidak pernah diberikan brevet penerbang berhubung adanya politik diskriminasi Belanda, yang tidak mengizinkan seorang pribumi untuk menjadi penerbang karena Militaire Luchtvaartdient merupakan kelompok elite Belanda saat itu. Teman sekamar Soerjadarma ketika di Akademi Militer Breda, Captain A.L. Cox yang telah menjadi instruktur penerbang di Kalijati sudah tiga kali mengajukan Soerjadarma untuk di checkride, akan tetapi tetap ditolak dan hanya diberikan kesempatan untuk mengikuti ujian sebagai navigator.

Bulan Juli 1938, Soerjadi  Soerjadarma mengikuti pendidikan di Sekolah Pengintai (Waarnemerschool), yang kemudian pada bulan Juli 1939 ia ditugaskan sebagai navigator pada Kesatuan Pembom (Vliegtuiggroep) Glenn Martin di Andir Bandung.  Bulan Januari 1941, ia dipidahkan untuk menjadi instruktur pada Sekolah Penerbang dan Pengintai (Vlieg en Waarnemerschool) di Kalijati.  Setelah satu tahun menjadi instruktur, sejak Desember 1941 ia ditempatkan pada Kesatuan Pembom di 7 e Vliegtuig Afdeling, Reserve Afdeling Bommenwerners, yang dilaksanakan sampai bala tentara Jepang mendarat di Indonesia tanggal 8 Maret 1942.

Pada masa penjajahan Jepang, para perwira KNIL mendapat kesempatan untuk melarikan diri ke Australia, namun Soerjadi  Soerjadarma tetap memilih untuk tetap tinggal di tanah air.  Selama penjajahan Jepang, Soerjadi  Soerjadarma banyak mengalami kesulitan.  Melalui ajakan Komisaris Polisi Yusuf, Soerjadi  Soerjadarma menjadi Polisi Jepang.  Sebagai orang yang pernah mendapat pendidikan militer, Soerjadi  Soerjadarma menjalani tugasnya di kepolisian dengan disiplin dan suka bekerja.  Semula ia menjabat sebagai Kepala Seksi III/2 dan kemudian menanjak menjadi Kepala Administrasi Kantor Polisi Pusat di Bandung sampai dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.  Sesudah proklamasi, Soerjadi  Soerjadarma bergabung dengan pejuang-pejuang bangsa lainya dalam mempertahankan dan menegakkan kedaulatan Republik Indonesia.  Sejak saat itu Soerjadi  Soerjadarma sepenuhnya ikut dalam kancah revolusi Indonesia. Meskipun mendapat ancaman dari Jepang, tetapi Soerjadarma bertekad untuk tetap bergabung dengan pejuang-pejuang Bangsa Indonesia lainnya untuk ikut mendharmabhaktikan dirinya dalam upaya menegakkan kemerdekaan dan kedaulatan Republik Indonesia.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, PPKI melaksanakan sidang pertamanya pada 22 Agustus 1945, yang salah satu keputusanya adalah membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR).  Atas dasar keputusan tersebut, maka di daerah-daerah yang memiliki pangkalan udara dibentuklah BKR Udara, yang keanggotaanya terdiri dari para pemuda bekas anggota penerbangan jaman penjajahan Belanda dan Jepang serta para pemuda lainya.  Usaha pertama dari BKR dan rakyat adalah merebut pangkalan-pangkalan udara dari Jepang.

Pada 5 Oktober 1945, pemerintah mengeluarkan dekrit pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), yang selanjutnya dibentuk MT TKR (Markas Tertinggi TKR) di Yogyakarta.  Sebagai Kepala Staf Umum dijabat oleh Mayor Jendral Urip Sumohardjo.  Sejalan dengan pembentukan TKR, timbul gagasan dari Kepala Staf Umum TKR Mayor Jendral Urip Sumohardjo untuk membentuk suatu kekuatan udara di Indonesia.   Untuk mewujudkan gagasan tersebut,  Mayor Jendral Urip Sumohardjo memanggil Suryadi Suryadarma.  Panggilan pertama, Soerjadarma belum memenuhinya, karena Ia sedang melaksanakan tugas yang diberikan Bung Karno untuk menangani BKR di Priangan.  Akhirnya pada Bulan September 1945, Soerjadi  Soerjadarma memenuhi panggilan Urip Sumohardjo untuk berangkat ke Markas Tertinggi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) di Yogyakarta.  Gagasan yang bersifat perintah ini, kemudian disampaikan kepada Suryadi Suryadarma.  Dalam pernyataan kesanggupan untuk melaksanakan perintah tersebut, Soerjadi  Soerjadarma mengajukan saran, bahwa angkatan udara yang akan dibentuk seyogyanya merupakan suatu angkatan udara yag mendiri, seperti halnya Royal Air Force (RAF) di Inggris.  Ketika diserahi tugas membentuk angkatan udara pada bulan September 1945 tersebut, Suryadarma dihadapkan pada situasi yang tidak menguntungkan dan mengemban “mission impossible” sehingga benar-benar berangkat dari kilometer nol karena keterbatasan peralatan dan alusista pesawat terbang yang ada, ketidakadaan sumber daya manusia, bahkan sumber anggaran pembangunan AURI juga belum jelas.

Saran pembentukan angkatan udara yang mandiri tersebut dapat diterima oleh Mayor Jendral Urip Sumahardjo.  Hal ini terbukti dengan mulai dibicarakannya masalah kekuatan udara dalam sidang Konferensi Tentara Keamanan Rakyat pada tanggal 12 Nopember 1945 di Yogyakarta, dengan keputusan :

  1. Pembentukan bagian penerbangan dalam MT TKR.
  2. Sejak 10 Desember 1945 semua bagian penerbangan di Indonesia, termasuk prajurit, pegawai dan pangkalan serta alat-alatnya ditempatkan di bawah Kepala Penerbangan.
  3. Kepala Penerbangan berkedudukan di Markas Besar Umum.

Yang kemudian pada tanggal 12 Desember 1945 MT TKR mengeluarkan pengumuman yang ditandatangani oleh Letnan Jendral Oerip Sumohardjo yang menyatakan bahwa pada MT TKR di bentuk bagian penerbangan yang dipimpin oleh Soerjadi  Soerjadarma dan Sukarnen Martokusumo sebagai wakilnya.

Dengan terbentuknya TKR Bagian Penerbangan, maka pangkalan-pangkalan yang semula di bawah panglima divisi diserahkan kepada MT TKR yang selanjutnya diserahkan kepada TKR Bagian Penerbangan.  Sedangkan untuk mengembangkan kekuatan udara, maka diadakanlah perbaikan terhadap pesawat-pesawat tua peninggalan Jepang jenis latih, pemburu, pembom, pengintai dan lainnya sebagai modal pertama TKR Bagian Penerbangan. Yang pada akhirnya tanggal 27 Oktober 1945, untuk pertama kalinya para juru teknik TKR bagian penerbangan mampu memperbaiki sebuah pesawat latih “Cureng” yang berbendera merah putih dan dapat mengudara di atas Pangkalan Udara Maguwo, Yogyakarta.  Pesawat yang berhasil diperbaiki tersebut kemudian dimanfaatkan dalam rangka penerbangan mengunjungi pelosok-pelosok dalam daerah pulau Jawa.  Hal itu dilakukan sebagai media dalam mengobarkan semangat perjuangan dan menumbuhkan minat dirgantara nasional, sekaligus untuk menunjukkan eksistensi AURI sejajar dengan Angkatan lainnya.

Pada tanggal 24 Januari 1946 TKR Bagian Penerbangan menjadi TRI Jawatan Penerbangan, dengan markas di Jalan  Terban Taman No. 1 Yogyakarta yang berseberangan dengan  Markas Besar TKR.  Kebijakan pertama yang digariskan oleh Soerjadi  Soerjadarma selaku pimpinan TRI Jawatan Penerbangan adalah :

  1. Konsolidasi organisasi pusat (Markas Besar).
  2. Persiapan untuk ikut segera dalam operasi perjuangan kemerdekaan (Kesatuan Udara, lapangan terbang dan fasilitasnya).
  3. Melaksanakan pendidikan bagi calon penerbang, baik yang bersifat ulangan, lanjutan mapun baru.

Dalam membangun kekuatan udara Indonesia, Soerjadarma memanggil Agustinus Adisujtipto di Salatiga untuk ikut membantu menyusun kekuatan udara  Indonesia.  Selain itu, untuk konsolidasi TRI Jawatan Penerbangan, para eks penerbang Belanda maupun tenaga-tenaga yang pernah bekerja pada penerbangan Jepang, baik yang berada di Jawa maupun di luar Jawa dipanggil melalui mass media.

Meskipun dalam keadaan serba kekurangan, namun semangat Soerjadarma dalam membangun dan menyusun kekuatan udara Indonesia tidak pernah kendor.  Pangkalan-pangkalan udara yang telah diserahkan ke TRI Jawatan Penerbangan, mulai diperbaiki.   Banyak lapangan terbang yang dalam keadaan terlantar, bahkan ada yang sudah jadi kebun penduduk, sehingga tinggal landasannya saja.  Semuanya ini memerlukan kerja berat dan pembiayaan banyak.   Padahal keadaan ekonomi pada waktu itu sangatlah sulit, ditambah lagi adanya blokade ekonomi yang dilancarkan oleh Belanda.   Selain itu juga harus dibentuk dinas-dinas yang belum ada, seperti dinas teknik, dinas perminyakan, dinas perhubungan, dinas pemberitaan cuaca, dan lain-lain.

Pada 9 April 1946, Presiden RI Sukarno mengeluarkan Penetapan Presiden No. 6/SD/1946, TRI Jawatan Penerbangan dirubah menjadi TRI Angkatan Udara, dan diresmikan pula penggunaan sebutan dan tanda pangkat dilingkungan TRI Angkatan Udara, dengan susunan sebagai berikut :

  1. Pimpinan Tertinggi TRI AU : Panglima Besar Jenderal Sudirman.
  2. Kepala Staf TRI AU : Soerjadi  Soerjadarma dengan pangkat Komodor Udara (sama dengan Mayor Jendral di Angkatan Darat)
  3. Wakil Kepala Staf TRI AU I : R. Sukarnen Martokusumo dengan pangkat Komodor Muda Udara (sama dengan kolonel).
  4. Wakil Kepala Staf TRI AU II : Agistinus Adisutjipto, dengan pangkat Komodor Muda Udara.

Dalam perkembangan selanjutnya TRI AU lebih dikenal dengan nama AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia), yang merupakan angkatan yang berdiri sendiri, sederajat dengan Angkatan Darat dan Angkatan Laut.  Tanggal 9 April tersebut kemudian dijadikan diperingati  sebagai hari jadi TNI Angkatan Udara.

Tugas dan tanggung jawab Soerjadarma sebagai KSAU cukuplah berat, lebih-lebih pada waktu itu masih banyak masalah nasional maupun masalah dalam tubuh AURI sendiri yang harus diselesaikan dan dibenahi.  Lahirnya AURI bersamaan waktunya dengan masa perjuangan bangsa Indonesia dalam menegakan dan mempertahankan kedaulatan serta kemerdekaan bangsa dan negara Republik Indonesia.  Oleh karena itu disamping membenahi dan menyempurnakan tubuh AURI yang masih muda itu, juga sekaligus mengembangkan misi dalam perjuangan. Dengan demikian, maka terbentuknya TRI Angkatan Udara, tidak terlepas dari jerih payah Soerjadarma dalam melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan negara kepadanya.

Sejak memegang pimpinan AURI, Soerjadarma banyak melakukan penerbangan ke berbagai daerah di Indonesia. Ia dengan berani ikut terbang ke Yogyakarta, dari cross-country flight ke Gorda (Serang), dengan menggunakan Cureng, pesawat peninggalan Jepang, meskipun akhirnya harus mengadakan pendaratan darurat. Hal ini dilakukan untuk membuktikan kepada dunia luar, bahwa kita memiliki kekuatan udara di wilayah Nusantara. Walaupun yang digunakan adalah pesawat tua peninggalan Jepang. Namun, oleh karena didorong oleh tekad perjuangan dan semangat yang membaja, maka pesawat-pesawat rongsokan tersebut berhasil diperbaiki oleh tenaga teknisi Indonesia.

Pada tanggal 27 Februari 1948, Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma mendapat tugas rangkap sebagai KSAP (Kepala Staf Angkatan Perang) Republik Indonesia. Dan ketika Belanda melakukan aksi Militer II tahun 1948, Soerjadarma ikut tertawan bersama pimpinan Republik yang lain, dan dibuang ke Pulau Bangka. Kemudian tahun berikutnya, dalam memperkuat delegasi Indonesia menghadapi perundingan dengan pihak Belanda di KMB, Soerjadarma turut sebagai penasihat militer. Demikian juga pada waktu penyerahan kedaulatan tahun 1949. Pada tanggal 27 Juni 1950, Marsekal Suryadarma dengan resmi menerima penyerahan Markas Besar Koninklijke Militaire Luchtvaart (Angkatan Udara Belanda) kepada Angkatan Udara Republik Indonesia. Upacara ini mengakhiri serangkaian upacara penyerahan pesawat udara militer dan pangkalan Angkatan Udara  di beberapa tempat di Indonesia kepada AURI. Tahun itu juga, Suryadarma menyelenggarakan program pendidikan Kadet, antara lain mengirim sejumlah calon penerbang ke luar negeri, yaitu pada bulan  Mei 1948 sebanyak 20 Kadet AURI dikirim ke India tujuannya adalah mengusahakan pendidikan penerbang. Dan tidak kurang dari 60 orang kadet dikirim ke Amerika, selain itu juga memperbanyak awak pesawat dan staf personalia. Pada tahun yang sama, mulai merintis pembentukan Pasukan Payung Angkatan Udara, yang disebut Pasukan Gerak Cepat, yang kemudian dikenal sebagai Kopasgat.

Tahun 1960, Soerjadi Soerjadarma menjadi Menteri/Kepala Staf AURI. Jabatan KSAU diserahkan kepada Omar Dani dalam suatu peristiwa peralihan kepemimpinan yang tragis, di tengah hangatnya Operasi Mandala, pembebasan Irian Barat tahun 1962. Kemudian diangkat menjadi penasihat Militer Presiden RI di Jakarta sampai dengan tahun 1965, setelah menjabat penasehat presiden, Suryadarma diangkat sebagai Menteri Pos dan Telekomunikasi (Postel) di Jakarta. Tahun 1966 diperbantukan pada Menteri/PANGAU. Dan pada tahun 1968, Marsekal Suryadi Suryadarma diberhentikan dengan hormat dengan hak pensiun.

Setelah pensiun berbagai aktifitas dan kegemaran dilaksanakan seperti berburu dan menembak, koleksi batuan mineral/mulia, menulis, koleksi perangko, membaca dan lain-lain. Menginjak di usia ke 63 tahun, kesehatannya mulai menurun dan mengidap sakit komplikasi liver. Pada minggu kedua Agustus 1975, Suryadarma mulai dirawat di Rumah Sakit Husada, Jakarta selama seminggu.

Akhirnya atas kehendak Tuhan Soerjadarma meninggal dunia pada Hari Sabtu tanggal 16 Agustus 1975 pukul 05.45 WIB.  Jenazahnya kemudian disemayamkan di rumah duka dan di Markas Besar TNI Angkatan Udara Jalan Gatot Subroto. Pemakamannya dilaksanakan pada 17 Agustus pukul 13.00 WIB di Pemakaman Umum Karet, Jakarta secara militer dengan Inspektur Upacara KASAU Marsekal TNI Saleh Basarah.        Sampai dengan akhir hayatnya, Marsekal TNI Rd. Soerjadi Soerjadarma didampingi oleh istri tercintanya Utami anak kelima keluarga Martokusumo, yang dinikahinya pada tanggal 3 Juni 1938, dan telah di karuniai tiga orang anak, yaitu Dra. Awaniduhita Priyanti, Erlangga Suryadarma dan Adityawarman Suryadarma.

TNI Angkatan Udara terlahir dari tidak ada, hingga menjadi angkatan udara paling canggih dan ditakuti di kawasan Asia Tenggara pada era tahun 1960-an merupakan wujud dari pengabdian Soerjadarma kepada negara dan Bangsa Indonesia dalam membangun dan mengembangkan Angkatan Udara Republik Indonesia selama 17 tahun menjabat KSAU yang pertama.  Melalui mottonya “Kembangkan Terus Sayapmu demi kejayaan tanah air tercinta ini, Jadilah Perwira sejati pembela tanah air”, Soerjadarma terus mengajak perwira-perwira muda AURI untuk terus bersemangat dalam menumbuh kembangkan AURI.  Untuk itu, pada tahun 2000 Suryadarma dikukuhkan oleh KSAU Marsekal TNI Hanafie Asnan sebagai Bapak AURI sesuai surat keputusan KSAU nomor SKEP/68/VI/2000 tanggal 20 Juni 2000.   Selain itu, untuk mengenang jasa-jasanya, sejak 7 September 2001, nama Soerjadarma diabadikan menggantikan nama Lanud Kalijati.  Dipilihnya Lanud Kalijati, karena Lanud Kalijati merupakan salah satu pangkalan cikal bakal berdirinya TNI Angkatan Udara, yaitu tempat dilaksanakannya sekolah penerbang pertama dan sekolah-sekolah pendukung penerbangan lainya.

Beberapa tanda kehormatan yang dimiliki Soerjadarma, antara lain, Bintang Maha Putra Adipurna, Bintang Sakti, Bintang Dharma, Bintang Garuda, Bintang Sewindu RI, Satya Lencana Perang Kemerdekaan I, Satya Lencana GOM I (Madiun), Satya Lencana GOM II (RMS), Satya Lencana GOM IV (Sulawesi Selatan), Satya Lencana GOM V (Jawa Barat), Satya Lencana GOM VII (Aceh), Satya Lencana Sapta Marga, Satya Lencana Kesetiaan VIII & XVI Tahun, Medali 10 Tahun AURI,  Middle of Yugoslav People Army First Class, The Grand Gordon of the Order of the Republik Thai, Order of the Crown, First Class Thai, Order of the White Elephant Second Class Thai.

Selain itu, Soerjadarma sebenarnya mendapat medali penghargaan dari pemerintah Belanda atas jasanya melawan tentara Jepang semasa pendudukan Jepang di Indonesia, akan tetapi medali tersebut tidak pernah diberikan oleh Belanda kepada Suryadarma karena dianggap menyeberang memihak Indonesia saat perang kemerdekaan.  Hingga saat ini medali tersebut masih dipajang di museum perjuangan Negara di Negeri Belanda.

TNI Angkatan Udara terlahir dari tidak ada, hingga menjadi angkatan udara paling canggih dan ditakuti di kawasan Asia Tenggara pada era tahun 1960-an merupakan wujud dari pengabdian R. Soerjadi Soerjadarma kepada negara dan Bangsa Indonesia dalam membangun dan mengembangkan Angkatan Udara Republik Indonesia.  Untuk mengenang jasa-jasanya,  pada tahun 2000, R. Soerjadi Soerjadarma dikukuhkan Pimpinan TNI AU sebagai “BAPAK AURI”, dan diabadikan menjadi nama Pangkalan Udara (Lanud) Soerjadarma di Kalijati.

“kembangkanlah terus sayap mu demi kejayaan tanah air

tercinta ini, jadilah Perwira sejati pembela tanah air”