Helikopter Sikorsky S-58T Twinpac merupakan pengembangan dari helikopter tipe S-58 atau CH-34 Chotaw buatan perusahaan Sykorski Amerika Serikat tahun 1955.   Sikorsky H-34 Choctaw (sebutan perusahaan S-58) adalah sebuah helikopter bermesin piston militer yang awalnya dirancang untuk memenuhi kebutuhan Angkatan Laut Amerika Serikat sebagai pesawat perang anti-kapal selam (ASW).  Helikopter CH-34 ini pertama kali terbang pada tanggal 20 September 1954, yang kemudian dalam perkembangannya dipergunakan untuk kepentingan sipil dan militer.

Sikorsky H-34 Choctaw  menggunakan mesin jenis piston wright R-1820-84 Cyclone bertenaga 1.525 pk, dan mampu menjangkau jarak 397 km dengan kecepatan 156 km/jam, serta mampu membawa 12 orang penumpang.   Helikopter ini memiliki bentuk yang agak unik, karena kursi penerbang berada di atas kabin pebumpang, sehingga penumpang dapat melihat aktivitas pilot dan copilot ketika sedang menerbangkan pesawat.

Seiring dengan perkembangan zaman dan kebutuhan di medan operasi, mesin piston R-1820-84 pada H-34 Choctaw  dinilai terlampau lemah ketika operasional.    Untuk mengatasi hal tersebut, Sikorsky memperkenalkan mesin Turboshaft Pratt & Whitney PT-6T-3/6 berkekuatan 1.875 shp sebagai pengganti mesin awal yang digunakan H-34 Choctaw.  Selain modifikasi pada mesin, bentuk fisik S-58 atau CH-34 Chotaw juga mengalami sedikit perubahan, khususnya  pada bagian hidung dari yang semula bundar setengah bola menjadi lonjong dan seolah memiliki dua lubang hidung.   Dari bagian hidung, putaran mesin dikirim ke pemutar baling-baling utama melalui main drive shaft.   Selain itu, nama helikopter inipun berubah dari S-58 (CH-34 P) menjadi S-58T Twinpac, sedangkan TNI AU menjuluki pesawat ini dengan sebutan “Codot”, karena bentuknya menyerupai kelelawar.

Dengan mesin baru tersebut, Sikorsky S-58T Twinpac menjadi lebih bertenaga, gesit, dan gaining power-nya menjadi lebih tinggi.  Sehingga pesawat dapat take-off secara cepat setelah speed dinaikkan, dan dapat segera berbelok tajam.   Kelebihan ini sangat diperlukan ketika operasional di wilayah konflik, karena dapat segera terhindar dari serangan darat.

 Helikopter S-58T Twinpac di Indonesia

Pada tahun 1960-an, hubungan Indonesia – Amerika Serikat mulai terjalin.  Keberhasilan Indonesia bernegoisasi dengan Amerika Serikat terkait dengan pembebasan Allan Lawrence Pope, seorang warga negara Amerika yang ditawan pihak Indonesia, karena telah membantu gerakan separatis Permesta di Wilayah Timur Indonesia, merupakan langkah awal hubungan bilateral kedua negara dan memiliki dampak yang cukup berarti bagi TNI AU.  Pemerintah Amerika Serikat mengijinkan Indonesia untuk membeli pesawat Hercules tipe C-130B yang baru diproduksi, sehingga diantara angkatan udara bangsa-bangsa lain di seluruh dunia, AURI (Indonesia) merupakan pengguna pertama jenis pesawat Hercules C-130B di luar Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF).  Pada 18 Maret 1960, pesawat C-130B Hercules pesanan Indonesia mulai berdatangan, yang ditandai dengan mendaratnya pesawat pertama dengan tail number T-1301 di Pangkalan Udara Kemayoran.

Pada tahun 1961, hubungan Indonesia-AS ditandai pula dengan hadirnya Helikopter jenis S-58 Sikorsky di tanah air, sebagai hadiahPresiden Amerika Serikat John Fitzgeralad Kennedy kepada Presiden Indonesia Ir. Soekarno, sekaligus sebagai ungkapan persahabatan kedua negara.   Sejak kedatanganya, S-58 Sikorsky dijadikan  sebagai pesawat kepresidenan mendampingi pesawat helikopter Bell-47 J Ranger yang telah lebih dahulu datang.   Untuk tugas penerbangan ditunjuk Kapten Udara S. Kardjono yang sebelumnya dipercayakan kepada Mayor Udara Joem Soemarsono.

Memasuki akhir tahun 1971, kesiapan Wing Ops 004 Helikopter mengalami penurunan, karena adanya krisis suku cadang pesawat-pesawat buatan Uni Soviet, termasuk armada Mi-4 yang berada di Skadron Udara 6 Angkut Sedang.  Namun kesiapan Skadron Udara 6 tetap berlanjut, dengan datangnya pesawat helikopter jenis Sikorsky S-58 atau UH-34D Choctaw/Sikorsky dari Amerika Serikat.

Pesawat-pesawat tersebut merupakan hibah dari militer Amerika Serikat dan telah digunakan dalam perang Vietnam, yang didatangkan secara bertahap.   Gelombang pertama akhir tahun 1971 sebanyak empat pesawat, kemudian dilanjutkan gelombang berikutnya hingga mencapai 16 pesawat.   Pesawat ini didatangkan lengkap dengan instrukturnya dari Amerika Serikat. Penampilan UH-34D Choctaw yang menakutkan, tinggi, besar dan tangguh ini kemudian menjadi kekuatan dan lambang kebanggaan baru bagi Skadron    Udara 6.

Bersamaan dengan perkembangan tehnologi mesin pesawat UH-34D yang dikembangkan oleh perusahaan Sikorsky, maka untuk meningkatkan kemampuan armada UH-34D Sikorsky yang dioperasionalkan Skadron Udara 6,  pada akhir tahun 1978, TNI AU melaksanakan modifikasi seluruh unit UH-34D Sikorsky dengan mengganti piston engine pada UH-34D menjadi turboshaft PT6T-6 produksi pabrik Pratt-Whitney Kanada.    Modifikasi ini dilaksanakan di Sakdron Teknik 016 Bandung  (sekarang Sathar 16).    Setelah modifikasi pesawat UH-34D ini kemudian berubah nama menjadi S-58T “Twinpac” karena mesinnya terdiri dari dua mesin yang identik (kembar).   Dengan adanya periubahan engine, maka kemampuan pesawat juga bertambah mampu dipacu dengan jarak 260 Nm dengan kecepatan maksimal 117 knots, dan mampu mengangkut penumpang sampai 16 orang yang awalnya 12 orang.

Kiprah S-58T Twinpac

Awal kedatangan S-58T Twinpac di Indonesia, Skadron Udara 6 sedang tergabung dalam Operasi Wisnu (operasi Samber Kilat) yang bertujuan menumpas sisa-sisa gerombolan PGRS/Paraku di Kalimantan Barat sejak September 1972.   Pada awal operasi, pesawat yang digunakan adalah Bell-204B Iroquois, namun setelah UH-34D (S-58T Twinpac) menjadi kekuatan Skadron Udara 6, maka pada Mei 1973 tiga pesawat UH-34D turut dilibatkan dalam medan operasi bersama-sama dengan Bell-204B Iroquois.  Pada tahun 1975, UH-34D mengemban tugas penuh di Kalimantan Barat, karena pesawat Bell-204B Iroquois sepenuhnya ditarik dari operasi.  pada Operasi Wisnu ini, dua UH-34D Sikorsky mengalami accident, yang pertama tanggal 13 Juni 1976 menimpa pesawat bernomor registrasi H-3409 yang mengalami power lost di lereng Gunung Rawan di daerah Serawak.  Yang kedua menimpa pesawat H-3402 yang mngalami flame out (mesin terbakar) dalam penerbangan dari Sambas ke Singkawang dan menewaskan dua teknisi, yaitu Serma Aminoto dan Serka Soebadiono. Pada Desember 1978, Operasi Wisnu dinyatakan selesai, dan UH-34D ditarik dari Kalimantan Barat.

Pada pertengahan tahun 1979, pesawat S-58T Twinpac H-3406 menggantikan pesawat Puma dalam Operasi Seroja di Timor Timur.  Dalam menjalankan misi operasi, pesawat ini mengalami kisah yang menegangkan dan cukup unik.  Peristiwa tersebut berawal ketika S-58T Twinpac H-3406 menjalankan misi dropping senjata berat untuk satu regu pasukan dari Batalyon 641 Kodam XII yang sedang terjepit.  S-58T Twinpac H-3406 ditembaki musuh di daerah Nahareka di sebelah utara Lanud Baucau, namun tetap berhasil menjalankan misinya dan pasukan berhasil lolos.  Setelah misi selesai, S-58T Twinpac H-3406 kembali ke Baucau dengan 23 tembakan di sekujur badan pesawat.  Uniknya, walaupun landing light (lampu untuk pendaratan) tertembak disekelilingnya, tidak satu pelurupun mengenai bola lampunya.  Saat itu pesawat S-58T Twinpac H-3406 diawaki oleh Captain Pilot Kapten Pnb Moetanto Joewono dan Co-Pilot Lettu Pnb F. Soelaksito.

Pada tahun 1979, di Kalimantan Barat terjadi perkembangan baru menyangkut kondisi keamanan wilayah, sehingga sejak Juli 1979 pesawat S-58T Twinpac kembali diterjunkan ke kancah pertempuran sampai dengan Februari 1981, yang kemudian selanjutnya digantikan oleh Bell 204B-Iroquis.  Tahun 1980, S-58T Twinpac untuk pertama kalinya melaksanakan tugas di belahan Timur bumi Indonesia, setelah pesawat H-3410 diperintahkan untuk menggantikan pesawat Bell 204B-Iroquis yang telah melaksanakan tugas di Irian Jaya sejak Maret 1977 dalam rangka menumpas gerombolan bersenjata pimpinan Martin Tabu.  Ferry flight H-3410 dilaksanakan pada tanggal 5 Desember 1980.  Tanggal 17 Juli 1981, tugas S-58T Twinpac H-3410 berakhir dan digantikan oleh pesawat Puma.

Tahun 1982, gejolak yang ditimbulkan sisa-sisa PGRS/Paraku di Kalimantan Barat masih berlanjut.  Untuk mengatasi masalah ini, TNI menggelar operasi bersama dengan Malaysia melalui operasi yang bersandikan Operasi Kemudi di Utara Banua Martinus, Kabupaten Sintang.  Dalam operasi ini dua S-58T Twinpac dilibatkan, yaitu H-3404 dan H-3410.  Kedua pesawat berangkat pada tanggal 17 Januari 1982, dan berakhir setelah menjalankan tugas sekitar setengah tahun.

Operasi-operasi lain  yang pernah dilaksanakan oleh pesawat  S-58T Twinpac  antara lain:

  1. Operasi Terpadu/darurat militer menumpas Gerakan Aceh Merdeka (GAM),
  2. Operasi Anggrek Biru, yaitu operasi strategis wilayah barat dalam bentuk penggelaran pesawat helicopter dalam rangka untuk melaksanakan tugas Standby SAR dan mendukung operasional pesawat-pesawat tempur yang melaksanakan operasi di Medan dan Pekanbaru.
  3. Operasi Bakti dalam rangka penanggulangan alam akibat meletusnya Gunung Galunggung di Jawa Barat pada tanggal 28 April 1982.
  4. Operasi pencarian dan pertolongan terhadap para pendaki gunung yang dinyatakan hilang di hutan lindung Louser di Sumatera Utara.
  5. Standby SAR di Lanud Pekanbaru.
  6. Standby SAR di  Lanud Iswahyudi Madiun
  7. Mendukung operasi dan mobilitas pasukan TNI di wilayah Kodam VII, baik personel maupun logistik, dan membuka daerah pedalaman. Operasi yang dilaksanakan ini di Bawah Kendali Operasi (BKO) Kodam VII/Trikora Jayapura.

Pada 30 Oktober 2003,  Sikorsky S-58T Twin Pack mengalami musibah, pesawat dengan nomor H-3408 jatuh di areal kebun kacang dan tanaman singkong di sekitar Lanud Atang Sanjaya, Bogor ketika sedang melaksanakan uji terbang.   Tujuh awak pesawat gugur dalam peritiwa tersebut yaitu;  Pilot Kapten Pnb Andy Wijaya, Co-pilot Kapten Pnb Gustaf Marganto, Serma Munajat Hadiansyah, Serka Bobby Aprianto, Serka Udin Syefudin, Sertu Ibnu Mawardi, dan Praka Sukendar.

Pada 12 Oktober 2005, accident kembali menimpa Sikorsky S-58T Twin Pack  H-3451, saat melakukan latihan rutin di sekitar Lanud Sentani Papua, dengan rute Sentani-South Area-Sentani, saat itu pesawat diawaki oleh Kapten Pnb Beuceu Ishak sebagai Pilot, Ko-pilot Letnan Pnb Satria Utama dan dua teknisi masing-masing Serma Hariyadi dan Serka Purnomo.  Setelah hilang selama satu tahun di hutan Papua, pada 19 Juli 2007 lokasi jatuhnya S-58T Twin Pack H-3451 ditemukan oleh warga disekitar Kecamatan Lereh, Papua.

Akhir Pengabdian S-58T Twinpac

Sejak kedatanganya di Indonesia, S-58T Twinpac telah menjadi bagian dari  tulang penggung kekuatan TNI AU dalam mendukung upaya pemerintah untuk menyelesaikan berbagai konflik di tanah air.  Berbagai operasi, baik OMP maupun OMSP, turut mewarnai kiprahnya di bumi Nusantara.   Peranan S-58 Twinpac mulai berkurang seiring datangnya pesawat SA-330 “Puma” yang dibeli pemerintah RI dari perusahaan Aerospatiale Perancis.   Pesawat ini didatangan dari Perancis pada tanggal 3 Mei 1978 sebanyak 6 pesawat.

 Accident yang menimpa S-58 Twinpac H-3406 di Desa Ogom Kecamatan Sei Kijang Kabupaten Pelalawan, Riau pada 7 Januari 2008 merupakan terkahir kalinya armada S-58 Twinpac mengangkasa di langit Indonesia, sekaligus sebagai akhir dari pengabdian S-58 Twinpac di Indonesia, karena setelah perisitiwa tersebut, pimpinan TNI AU menyatakan armada S-58 Twinpac dinonaktifkan, yang kemudian ditindaklanjuti dengan Surat keputusan Kasau Nomor Skep/534/XI/2009 tanggal 30 September 2009 tentang proses usul hapus pesawat S-58 Twinpac grouded.

Selama pengabdiannya, armada S-58 Twinpac telah berkiprah dalam berbagai operasi di Tanah Air, dalam rangka menjaga kewibawaan, keutuhan, dan kedaulatan NKRI.  Karena itu,  berdasarkan Instruksi Kasau Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P, tanggal 29 September 2017, S-58 Twinpac dengan tail number H-3404 direlokasi ke Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala dan diresmikan pada tanggal 3 Desember 2017 menjadi benda sejarah yang akan dikenang dan sebagai bahan pembelajaran generasi penerus bangsa sepanjang masa.