Save

Letkol Lek Sri Harjanto

Danskatek 024 Lanud Atang Sanjaya

Letkol Lek Sri Harjanto (Lahir di Wonogiri, 17 Januari 1976) merupakan lulusan AAU tahun 1999, dan dilantik menjadi Komandan Skadron Tekhnik 024 Lanud Atang Sendjaja pada tanggal 28 September 2016 sampai sekarang.

TERBENTUKNYA SKADRON TEKNIK 024

Dengan telah bertambah banyaknya jumlah pesawat-pesawat helikopter yang berada di jajaran Lanud Semplak (sekarang Lanud Atang Sendjaja), maka dianggap bahwa “skadron percobaan” berhasil. Ternyata bangsa kita mampu membentuk dan mengoperasikan satuan udara dengan kekuatan pesawat-pesawat helikopter. Oleh karena itu seiring dengan ditingkatkannya status Skadron Percobaan Helikopter menjadi Skadron 6 Helikopter, maka dibentuk pula satuan yang bertugas memelihara dan merawat pesawat-pesawat helokpter tersebut dengan sebutan Skadron Tehnik 6 dan berkedudukan di PAU Andir (sekarang Lanud Husein Sastranegara Bandung). Adapun yang dipercaya sebagai Komandan Skadron Tehnik 6 adalah Letnan Udara I Joem Soemarsono.

Pada saat itu pesawat helikopter yang dimiliki oleh AURI telah sedemikian banyak dengan adanya pesawat-pesawat baru. Bertambah sibuk pula para personil pemeliharaan dengan banyaknya macam dan jumlah pesawat. Oleh karena itu, setelah dibentuk satuan pemeliharaan pesawat helikopter yaitu Skadron Teknik 6 yang juga merupakan cikal bakal dari Skadron Teknik 024 sekarang ini. Skadron Teknik 6 ini bertugas merawat pesawat pada tingkat sedang. Satuan ini bertanggungjawab penuh atas kesiapan operasional pesawat-pesawat helikopter yang ada di Skadron 6.

Para pembaca sekalian, angka 6 pada nama Skadron Teknik 6 bukan sekedar nomor urut. Memang di lingkungan militer negara mana pun ada kebiasaan memberi nomor identifikasi suatu satuan secara acak dengan tujuan utama mengelabui musuh. Contohnya, negara Inggris dan Amerika Serikat. Pada Perang Dunia II Inggris membentuk divisi lintas udara (terjun payung) pertamanya dengan nama 1st Airborne Division. Divisi kedua dibentuk sesudahnya dan diberi nama 6th Airborne Division. Di Amerika ada 101st Airborne Division (yang kelak berubah fungsi menjadi Air Assault Division dengan spesialisasi pola serangan penyerbuan menggunakan helikopter). Tapi itu bukan berarti mereka punya lebih dari 100 divisi serbu udara! Bahkan total jumlah pasukan darat sekutu (dari Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Kanada, dan lain-lain) pada Perang Dunia II hanya sebanyak 48 divisi.

“Pasukan” helikopter ini tidak lama bercokol di Bandung. Pada tahun 1963 Skadron 6 boyongan ke rumah barunya di ‘daerah basah’, yaitu PAU Semplak, Bogor. “Daerah basah” karena memang sering turun hujan. Perpindahan ini juga diikuti oleh unit pemeliharaan pesawatnya. Komandan Skadron Teknik 6 kemudian dijabat oleh Kapten Udara Didi Syamsudin karena Pak Joem sudah disibukkan dengan kegiatan menerbangkan Bung Karno. Uniknya, Kapten Didi sendiri adalah seorang Perwira Teknik Skadron Udara 4 yang saat itu berkedudukan di PAU Semplak.

Ditunjuknya Kapten Didi sebagai komandan karena Skadron Teknik 6 untuk sementara numpang di hanggar Skadron Udara 4 Lanu Semplak. Pada masa perpindahan ini, beberapa personel Skadron Teknik 6 ada yang ditugaskan membantu membidani berdirinya Skadron Teknik 016 Wing Materiel 10 di Bandung. Skatek 016 ini yang nantinya akan diserahi tugas untuk melaksanakan tugas-tugas pemeliharaan tingkat berat pesawat helikopter. Untuk melaksanakan tugas itu para personel teknik tersebut tidak ikut pindah ke Bogor. Mereka antara lain adalah :

1. Letnan Muda Udara I Maryono
2. Sersan Mayor Udara Bremer
3. Sersan Mayor Udara Rosid
4. Sersan Mayor Udara Sapei
5. Sersan Udara I E. Ajisan
6. Sersan Udara I Suraji
7. Sersan Udara I Agus
8. Sersan Udara I Saleh
9. Kopral Udara Iksan
10. Kopral Udara Tukimin
11. PNS Sumono

Dengan selalu berpegang teguh pada prinsip “Helikopter harus mengudara” untuk mengemban tugas negara, maka pada kurun waktu ini kegigihan para teknisi mempunyai catatan tersendiri. Pada saat itu dengan sarana bantuan yang amat jauh dari sempurna dan sangat terbatas (maklum, saat itu jaman perjuangan) para pelaksana pemeliharaan pesawat telah me-nunjukkan kemampuannya melaksanakan tugas secara maksimal dengan sepenuh hati. Perjuangan pemeliharaan yang sangat berat pada masa itu karena keterbatasan sarana dan prasarana merupakan suatu bentuk ujian keteguhan jiwa tersendiri yang sulit untuk ditandingi pada masa sekarang ini.

Pelaksanaan pemeliharaan di luar Pangkalan Induk (di spot) menjadi tantangan tersendiri karena keterbatasan peralatan yang ada. Dalam pelaksanaan pemeliharaan penggantian main component yang besar dan berat, yang seharusnya ditunjang dengan peralatan khusus seperti crane, sling, atau peralatan berat lainnya, pada saat itu menggunakan tiang-tiang dari kayu atau besi yang dilengkapi kerekan yang amat sederhana. Tapi dengan peralatan yang serba tradisional dan sederhana tersebut satuan pemeliharaan telah menunjukkan hasil jerih payahnya dengan bukti secara nyata dapat diakui dengan mengudaranya pesawat untuk melaksanakan tugas-tugas operasi dengan hasil yang baik. Bahkan mampu membuat militer Inggris di Kalimantan meningkatkan kewaspadaannya ketika Operasi Dwikora digelar oleh Bung Karno.

Di home base sendiri keadaannya tidak jauh berbeda dengan yang ada di daerah operasi. Sama-sama kekurangan sarana pemeliharaan yang memadai. Pada saat itu sarana dan prasarana untuk pemeliharaan memang sangat terbatas (kalau tidak boleh disebut kurang). Namun demikian ada beberapa kalimat pemacu semangat untuk dapat menunaikan tugas yang cukup berat tersebut, di antaranya,”Mosok gitu aja nggak bisa?” atau,”Mosok kalah sama barang ginian?” dan lain sebagainya.

Periode Pesawat Mi-6

Kekuatan pesawat helikopter memiliki kemampuan lebih besar dari pesawat yang sudah ada sebelumnya. Persiapan penambahan kemajuan di bidang kedirgantaraan di negara-negara lain memacu AURI untuk menyesuaikan diri. Untuk itu direncanakan penambahan pesawat tersebut diawali dengan pengiriman para personil dari Skadron 6 Helikopter dan dari Skadron Teknik 6 pada tahun 1964 untuk mempelajari sistem pemeliharaan helikopter angkut berat jenis Mi-6. Namanya memang mirip dengan kantornya James Bond yang bernama MI6. Tapi yang ini lain. Mi-6 (nama lengkapnya adalah Mil Mi-6. Orang lebih suka menyingkatnya menjadi Mi-6 atau Mee Six) adalah pesawat helikopter buatan Biro Mikhail Mil di Rusia yang kondang sebagai jagoan dalam hal pembuatan pesawat helikopter yang berukuran raksasa. Asal tahu saja, ukuran body pesawat Mi-6 besar sekali. Panjang badannya 33,5 meter, diameter main rotor 35 meter. Ruang kargonya berukuran 12 x 2,65 meter. Pesawat ini ditenagai oleh dua buah engine Soloviev D-25V berdaya 4.101 kW yang mampu membawa pesawat sejauh 650 kilometer dengan cruising speed 250 km/j atau sekitar 155 knots. Pesawat ini dapat membawa penumpang (dengan konfigurasi normal passenger seats) sebanyak 65 orang. Selain itu juga dapat berperan sebagai ambulance udara dengan kemampuan membawa pasien di atas tandu sebanyak 41 lengkap dengan 2 orang petugas medis udara. Total beban seberat 20117 kg(!) mampu diangkat oleh pesawat ini. Sepasang stub wing yang terpasang di kiri kanan badannya memberikan tambahan daya angkat (lift) sebanyak 20 persen. Untuk mempermudah keluar masuknya muatan, pada bagian belakang pesawat dipasang clam shell door dan ramp door.

Dengan kemampuan itu maka satu pasukan infanteri bersenjata lengkap sebanyak 70 orang bisa dibawa sekali angkut, atau sebuah tank ringan bisa dibawa di dalam perutnya! Seandainya satu skadron berkekuatan sebelas pesawat, dengan masing-masing bermuatan pasukan darat, menyerbu suatu sasaran, kita hanya bisa tertegun menyaksikan satu batalyon infantry berikut beberapa kendaraan tempur didaratkan “right on the spot” dari langit. Dan dalam waktu yang relatif singkat, pasukan ini akan mengobrak-abrik garis pertahanan lawan.

Adapun para personel pemeliharaan yang ditugaskan belajar ke Rusia guna mempelajari pesawat Mi-6 tersebut adalah:

1. Kapten Udara Moch. Besar
2. Kapten Udara Boerachman
3. Letnan Udara II Syamsudin Danas
4. Letnan Muda Udara I Moecharam
5. Letnan Muda Udara I Soewali. T
6. Letnan Muda Udara I GM. Soekamdi
7. Letnan Muda Udara II Moeljon
8. Letnan Muda Udara II Kusnadi Adenar
9. Sersan Mayor Udara D. Siregar
10. Sersan Mayor Udara Boedi Joewono
11. Sersan Udara I Pribadi
12. Sersan Muda Udara I Soewarso
13. Sersan Udara I Soetrisno
14. Sersan Udara I N. Autar
15. Sersan Udara I Mas’ud

Pada bulan Januari 1965 datang sebelas buah pesawat Mil Mi-6 dari Rusia. Dua di antara pesawat-pesawat tersebut dirakit di Pangkalan Udara Cililitan. Dalam rangka perakitan pesawat ini terjadi musibah gugurnya bapak Atang Sendjaja.

Pada tanggal 28 Juli 1965, Mayor Udara Atang Sendjaja bertugas memimpin iring-iringan truk dari Tanjung Priok menuju Pangkalan Halim Perdanakusuma. Konvoi ini mengangkut bagian-bagian pesawat Mil Mi-6 yang akan diassembly. Pada pukul 22.15, ekor pesawat, yang memang cukup tinggi itu, tersangkut kabel listrik tegangan tinggi. Aliran listrik merambat ke bawah dan mengenai Mayor Atang. Akibat sambaran listrik tegangan tinggi tersebut beliau meninggal seketika. Gugur salah seorang putera bangsa terbaik. Dengan mempertimbangkan jasa-jasa beliau dalam penerbangan helikopter di Indonesia, maka beliau dinaikkan pangkatnya menjadi Letnan Kolonel Anumerta. Pada tanggal 29 Juli 1966 nama beliau diabadikan sebagai nama pangkalan untuk menggantikan nama Pangkalan Udara Semplak yang ada di Bogor. Pangkalan ini menjadi Pangkalan Udara Atang Sendjaja.

Pesawat-pesawat helikopter raksasa Mil Mi-6 ini nantinya akan menjadi kekuatan Skadron 8 Helikopter dan digunakan dalam berbagai operasi militer, termasuk Dwikora yang terkenal itu, sampai dengan tahun 1972. Selain itu juga digunakan untuk melaksanakan misi-misi bantuan kemanusiaan saat terjadi bencana alam. Sayangnya, generasi sekarang ini tidak akan pernah bisa melihat jenis pesawat ini lagi, entah di museum atau dalam bentuk monumen, kecuali dalam foto. Karena situasi politik yang nantinya berubah, pesawat-pesawat raksasa ini dihancurkan tanpa sisa. Punah, politik memang kejam dan dengan hilangnya Mi-6, maka beku pula kegiatan operasional Skadron Udara 8 selama beberapa waktu.

Selain pesawat Mil Mi-6 yang didatangkan dari Rusia, AURI juga mendapatkan tambahan pesawat Mil Mi-4 sebanyak 16 buah dari Rusia serta pesawat Bell 204B Iroquois sebanyak 2 buah.

Pesawat Mil Mi-4 memiliki panjang badan 17 meter dan diameter rotor 21 meter dan ditenagai oleh sebuah piston engine 14 cylinders type Shvetsov ASh-82V yang berpendingin udara. Motor ini mampu membawa pesawat sampai dengan kecepatan 185 km/jam dan mencapai range sejauh 410 km dengan membawa muatan (load) dalam cabinnya. Muatan itu dapat berupa barang seberat 1600 kg, atau 15 orang pasukan bersenjata lengkap, atau sebuah jip (GAZ-59 buatan Rusia), atau sebuah meriam gunung kaliber 76,2 mm berikut crew dan amunisinya. Untuk mempermudah dalam proses memuat maupun membongkar muatan, pesawat ini dilengkapi dengan clam shell door pada bagian belakang fuselage atau badannya. Dan untuk keperluan tempur, pesawat ini dapat dipersenjatai senapan mesin berat kaliber 12,7 mm.

Sementara sosok Bell 204B tidak akan asing bagi para pemerhati film-film yang bertema Perang Vietnam seperti Green Berets, We Were Soldiers, Tour of Duty, dan lain-lain. Para pembaca mungkin lebih mengenalnya dengan sebutan UH-1 Huey. Memang itu adalah designasi militer Amerika Serikat untuk pesawat Bell 204 dan Bell 205. Pesawat ini menjadi kuda beban pasukan Amerika dan Australia dalam operasi militer di Vietnam. Pesawat yang ditenagai oleh engine Lycoming T5311A ini mampu dipacu sampai dengan kecepatan 106 knots dengan menempuh jarak sejauh 260 miles dengan membawa 10 orang pasukan bersenjata lengkap. Untuk menangani pemeliharaan pesawat ini maka diberangkatkan dua personel Skadron Teknik 024, yaitu Letnan Udara I Soehardjito dan Letnan Muda Udara II Soedjadijo ke Forth Worth dan Dallas, Texas, serta Stratford, Connecticut, Amerika Serikat.

Saat Bersejarah

Organisasi TNI Angkatan Udara mengalami penyempurnaan dari waktu ke waktu. Hal ini dilaksanakan dengan maksud untuk dapat mencapai hasil yang efektif dan efisien dalam setiap pelaksanaan tugas. Salah satunya terjadi dalam satuan pemeliharaan. Skadron Teknik 6 yang selama ini berada di bawah komando Wing Operasi 004 Helikopter dimasukkan ke dalam struktur organisasi Wing Logistik 020 bersama skadron-skadron teknik lainnya di jajaran AURI. Hal ini berkaitan dengan pemisahan wewenang dalam hal pemeliharaan tiap-tiap satuan, di mana satuan garis depan (skadron udara) hanya menangani pemeliharaan tingkat ringan, sementara pemeliharaan tingkat sedang dilaksanakan oleh Wing Logistik dan pemeliharaan tingkat berat dilaksanakan secara terpusat di Wing Materiil 10. Dengan penyempurnaan ini maka diharapkan pelaksanaan tugas-tugas pemeliharaan dapat berlangsung dengan lancar.

Kemudian datanglah saat bersejarah itu. Pada tanggal 19 September 1966 Skadron Teknik 6 berubah jadi Skadron Teknik 024 dan secara organisasi berada di bawah kendali Wing Logistik 020. Komandan yang memimpin Skadron Teknik 024 saat itu adalah Kapten Udara Abu Burachman. Karena itu tidak salah kalau Kapten Udara Abu Burachman disebut Komandan Skatek 024 yang pertama. Tidak salah juga seandainya tanggal 19 September ditetapkan sebagai hari ulang tahun Skadron Teknik 024.

Kedudukan Skadron Teknik 024 di bawah Wing Log 020 tidak lama. Melalui Keputusan Kasau Nomor 69 Tahun 1970 Skadron Teknik 024 dikembalikan lagi ke dalam jajaran Wing Operasi 004. Untuk meningkatkan kemampuan dalam hal pemeliharaan pesawat helikopter, maka anggota Skadron Teknik 024 banyak yang dikirim ke luar negeri untuk belajar. Pada tahun 1970 sampai dengan tahun 1972 telah dikirimkan para personil ke RAAF 5th Squadron di Fairbairn Base, Australia, untuk mempelajari sistem pemeliharaan helikopter jenis Bell-204B. Sebagai hasil latihan tersebut maka para personel Skatek 024 mampu melaksanakan pemeliharaan komponen-komponen pesawat Bell 204B sekaligus mempelajari suatu sistem pemeliharaan yang disebut “Bay Servicing”, yaitu suatu sistem pemeliharaan komponen pesawat secara berkala yang harus dilaksanakan di dalam ruangan bengkel untuk menjaga agar komponen tersebut tetap dalam kondisi siap pakai.

Pada tahun 1971-1972, ada penambahan pesawat jenis baru untuk menggantikan pesawat-pesawat buatan Blok Timur yang sudah tidak dapat diterbangkan lagi karena tidak adanya suku cadang. Jenis pesawat ini adalah Sikorsky S-58 atau dikenal dengan nama UH-34B Choctaw. Pesawat-pesawat ini adalah hibah dari militer Amerika Serikat, jadi bukan sama sekali baru, memiliki panjang 22 meter, tinggi 5 meter, dengan diameter main rotor 18,5 meter. Engine piston radial type R-1820 yang diusungnya mampu membawa pesawat sejauh ±200 Nm dengan kecepatan 90 knots. Pesawat ini datang secara bertahap dalam tiga gelombang dengan masing-masing gelombang sebanyak empat pesawat, lengkap dengan instruktur bule dari Amerika. Sesampainya di Indonesia, pesawat ini menjadi kekuatan Skadron Udara 6.

Sekedar tambahan informasi, pesawat-pesawat ini datang masih dengan membawa bekas-bekas luka yang dibawa dari Perang Vietnam. Jika ada yang iseng-iseng menghitung jumlah tambalan bekas lubang peluru pada badan pesawat ini, mungkin akan terkagum-kagum. Ada pesawat yang memiliki tambalan sebanyak 27 buah (!), besar dan kecil. Tapi banyak tambalannya atau tidak, para UH-34B ini telah membuktikan bahwa mereka adalah salah satu jenis helikopter yang tangguh dan battle-proven di jamannya.

Kemudian pada tahun 1972, secara bergiliran para personil pemeliharaan dikirimkan ke Helly Orient Pty Singapore, untuk mempelajari sistem pemeliharaan pesawat helikopter tingkat berat “IRAN” (Inspection and Repair As Necessary) khusus untuk pesawat helikopter jenis Bell-204B. Sebagai hasil nyata dari pengiriman personil ke Helly Orient Pty Singapore, maka mulai akhir tahun 1973 pesawat Bell-204B Iroquois dapat melaksanakan “IRAN” di Skadron Teknik 024. Pengetahuan ini kemudian ditingkatkan untuk selanjutnya menjadi kewenangan dan kemahiran Skadron Teknik 016 Wingmat 10 (belakangan berubah menjadi Satuan Pemeliharaan 16 Depo
Pemeliharaan 10).

Skadron Teknik 016 Wingmat 10 inilah yang berperanan penting dalam memodifikasi pesawat-pesawat S-58 antara tahun 1977-1978. Pesawat yang semula bermotor piston disulap menjadi bermotor turboshaft type PT6T-6 buatan Pratt & Whitney yang berkekuatan 1875 SHP. Designasinya pun berubah menjadi S-58T atau UH-34T. Kemampuannya jelas bertambah. Pesawat dengan model yang baru ini mampu dipacu sampai dengan jarak 260 Nm dengan kecepatan maksimal 117 Knots. Selain itu mampu mengangkut penumpang sampai 16 orang (tadinya 12 orang). Jadi lebih sangar. Selain itu Skadron Teknik 016 juga memodifikasi pesawat Bell-47G-3B1 “Sioux” (bermotor piston) menjadi Bell 47 “Soloy” (bermotor turboshaft) dengan engine Allison.

Selanjutnya dalam rangka pengadaan pesawat helikopter baru type SA-330J/L Puma, maka pada tahun 1978 para personil pemeliharaan dikirimkan ke Aerospatiale, Prancis untuk mempelajari sistem pemeliharaannya. Dan mulai tahun 1978, tepatnya pada tanggal 3 Mei, mulai datang secara bergelombang pesawat helikopter Puma, yang nantinya akan berjumlah 18 buah. Dari jumlah ini, sebanyak 7 buah adalah produksi IPT Nurtanio dengan lisensi dari Aerospatiale. Pesawat-pesawat ini menjadi kekuatan Skadron Udara 6, sebelum nantinya dialihkan ke Skadron Udara 8. Perlu diketahui bahwa setelah beku operasi sejak tanggal 22 September 1971, maka pada tanggal 14 Juli 1981 Skadron Udara 8 dinyatakan aktif kembali dan bertugas mengoperasikan pesawat-pesawat helikopter Puma.

Pada pesawat Puma inilah mulai diperkenalkan sistem kendali terbang otomatis yang dikenal dengan nama automatic pilot atau sering disingkat auto-pilot. Sistem ini menggunakan komputer untuk menjalankan pesawat agar dapat terbang tanpa memberikan beban kerja yang terlalu berat bagi awaknya. Jadi sudah mulai computerized meskipun terbatas. Pesawat yang digunakan sebagai perwakilan peresmian beroperasi kembalinya adalah pesawat Puma dengan nomor registrasi HT-3309. Pesawat ini dapat dipersenjatai dengan senapan mesin berat kembar kaliber 12,7 mm yang dipasang di troop cabin atau dua tabung peluncur roket FFAR kaliber 2,75 inch type LAU-51. Satu tabung peluncur dapat memuat 19 buah roket. Pada tanggal 28 Maret 1985 terjadi lagi reorganisasi di tubuh TNI Angkatan Udara (tadi kita sebut AURI). Berdasarkan reorganisasi ini maka Wing 004 dilikuidasi dan disatukan dengan Lanuma (tadi kita sebut PAU) Atang Sendjaja. Karena Wing 004 dilikuidasi/dihapuskan maka jajaran organisasi di bawahnya disatukan di bawah kendali Pangkalan Udara Utama (Lanuma) Atang Sendjaja. Seluruh kegiatan, baik operasi penerbangan maupun pemeliharaan, berada di bawah kendali Komandan Pangkalan.

Organisasi TNI Angkatan Udara terus berkembang sesuai tuntutan zaman yang juga terus berkembang. Pada tahun 2000 Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Atang Sendjaja (tadi disebut Lanuma) juga mengalami perkembangan, yaitu diaktifkannya kembali struktur organisasi Wing. Berdasarkan Instruksi Kepala Staf TNI Angkatan Udara nomor : Ins/2/II/200 tanggal 28 Pebruari 2000 tentang pembentukan organisasi Wing dalam jajaran Komando Operasi TNI-AU, mengaktifkan kembali operasional Wing Operasi 004 dengan nama baru Wing 4 Lanud Atang Sendjaja yang membawahi Skadron Udara 6 dan Skadron Udara 8 dengan Komandan Wing Kolonel Pnb Sujono. Sementara kedudukan Skadron Teknik 024 tetap berada di bawah kendali Komandan Lanud Atang Sendjaja dan bertugas memelihara serta merawat pesawat helicopter yang dioperasionalkan oleh Wing 4.

Para Pejabat Komandan Skadron Tehnik 024

1. Kapten TPT A. Boerachman, periode tahun 1966 s/d 1970.
2. Kapten TPT Syamsudin Danas, periode tahun 1970 s/d 1973.
3. Mayor TPT Tohari, periode tahun 1973 s/d 1976.
4. Mayor TPT Budoyo Diso, periode tahun 1976 s/d 1980.
5. Mayor TPT Pitoyo, periode tahun 1980 s/d 1984.
6. Mayor TPT Tri Wibowo, periode tahun 1984 s/d 1987.
7. Letkol Tek Sunarto, periode tahun 1987 s/d 1990.
8. Letkol Tek Maknur Sihaloho, periode tahun 1990 s/d 1992.
9. Letkol Tek Suratno, periode tahun 1992 s/d 1994.
10. Letkol Tek Suko Kuncoro, periode tahun 1994 s/d 1996.
11. Letkol Tek Gandung Mulyadi, periode tahun 1996 s/d 1997.
12. Letkol Tek Didi Sumardi, periode tahun 1997 s/d 1999.
13. Letkol Tek Suyoko Cipto, periode tahun 1999 s/d 2002.
11. Letkol Tek Kukuh Sudibyanto, tahun 2002 s/d sekarang.

PANGKALAN TNI AU ATANG SENDJAJA

Pangkalan TNI AU Atang Sendjaja , merupakan salah satu pangkalan Udara yang berada di dalam jajaran pembinaan Komando Opersi TNI AU I (Koopsau I) Jakarta. Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, pangkalan kebanggan masyarakat Bogor itu terletak di Desa Semplak (kini Desa Atang Sendjaja), Kecamatan Kemang, Bogor Barat. Menuju pangkalan yang satu ini dapat ditempuh melalui jalur Jalan Raya Parung, Kemang – Semplak. Kalau dari arah Kota Bogor dapat ditempuh melalui jalur Stasiun Bogor – Terminal Merdeka – Cilendek – perempatan Yasmin yang menuju ke arah Parung.

Memasuki wilayah pangkalan Udara ini kita akan dapat menyaksikan sebuah tugu Helikopter, yang menandakan disitulah ‘Home Base’ Helikopter TNI AU berada. Lokasinya rimbun dan asri, tampak bersahabat dan terbuka, sehingga masyarakat dapat sepintas melihat aktivitas yang tengah dilaksanakan. Tidak “angker” layaknya Komplek Militer zaman dulu. Pada masa penjajahan dulu, pangkalan ini ditakuti masyarakat. Disamping penjagaan ketat, masyarakat yang melintas ditabukan menoleh sedikit saja melihatnya, mungkin disebabkan karena pangkalan ini tadinya berfungsi sebagai ‘tempat nongkrongnya’ pesawat pengintai darat ke-enam dari Luchtvaart Militaire Nederland.

Berdasarkan Lampiran “B” Surat Kasetumau, nomor : B/477-08/17/02 Setumau, 21 Desember 1993, tentang Daftar Pangkalan TNI AU yang pernah mengalami perubahan nama, disebutkan bahwa nama Pangkalan Udara Semplak diganti menjadi Pangkalan Udara Atang Sendjaja, berdasarkan Keputusan Menteri/ Panglima Angkatan Udara, no. 75 tahun 1966, tanggal 23 Juli 1966.
Awalnya PAU Atang Sendjajas berklasifikasi Lanu II, tetapi sesuai Keputusan Kepala Staf TNI AU, No. : Kep/43/VII/1982, tentang Peningkatan Klasifikasi Lanu Atang Sendjaja, memutuskan klasifikasi Lanu II untuk Atang Sendjaya ditingkatkan menjadi Pangkalan Udara Utama (Lanuma).

Sesuai reorganisasi TNI AU status Lanuma untuk Atang Sendjaja berganti nama lagi menjadi Lanud Atang Sendjaja yang kita kenal sekarang ini, dengan klasifikasi sebagai Lanud type B. Adapun sesuai dengan kelasnya sebagai Lanud type B, maka jabatan Komandan dipegang oleh perwira TNI AU berpangkat Kolonel. Pada saat ini pejabat Komandan Lanud Atang sendjaja dijabat oleh Kolonel Perbang T. Djohan Basyar, S.IP.

Lanud Atang Sendjaja, berdasarkan Pokok-Pokok Organisasi dan Prosedur (POP) Pangkalan TNI AU Type B (Lanud Type B), merupakan satuan pelaksana Koopsau I yang berkedudukan langsung dibawah Pangkoopsau I. Lanud Atang Sendjaja seperti halnya lanud-lanud type B lainnya mempunyai tugas sebagai berikut :

1. Menyiapkan dan melaksanakan pembinaan dan pengoperasian seluruh satuan dalam jajarannya.
2. Pembinaan potensi dirgantara, serta menyelenggarakan dukungan opersi bagi satuan lainnya.
3. Lanud Atang Sendjaja berfungsi untuk menyelenggarakan pembinaan dan penyiapan satuan-satuan dalam jajarannya.
4. Mengumpulkan dan merekam data-data guna penyempurnaan taktik/teknik operasi dan latihan.
5. Melaksanakan pembekalan dan pengadaan materiil bagi satuan-satuan jajarannya.
6. Menyelenggarakan pemeliharaan Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) sampai dengan tingkat sedang.
7. Menyelenggarakan pemeliharaan sarana dan prasarana serta pasilitas pendukung yang menjadi tanggung jawabnya.
8. Mengadakan koordinasi dengan badan-badan dan instansi-instansi terkait di dalam dan di luar Lanud.
9. Mengajukan saran dan pertimbangan kepada Pangkoopsau I mengenai hal-hal yang berhubungan dengan bidang tugasnya.

Organisasi Lanud Atang Sendjaja disusun dalam 2 tingkat, yaitu; Tingkat Markas Pangkalan dan Tingkat Pelaksana. Adapun Tingkat Markas Pangkalan sebagai berikut :

1. Eselon Pimpinan : Komandan Lanud Atang Sendjaja.

2. Eselon Pembantu Pimpinan/Staf :
a. Ruang Operasi (Ruops)
b. Program dan Anggaran (Progar)
c.  Pemegang Kas (Pekas)
d. Pengadaan (Ada)
e. Penerangan dan Perpustakaan (Pentak
f.  Hukum (Kum)
g. Pengamanan (Pam)

3. Eselon Pelayanan :
a. Sentral Komunikasi (Senkom)
b. Sekretariat (Set)

4. Eselon Pembantu Pimpinan/ Staf Pelaksana :
a. Dinas Operasi (Disops)
b. Dinas Personel (Dispers)
c. Dinas Logistik (Dislog)

5. Eselon Pelaksana :
a. Wing 4 Lanud Atang Sendjaja
b. Skadron Udara 6 (Skadud 6)
c. Skadron Udara 8 (Skadud 8)
d. Skadron Tehnik 024 (Skatek 024)
e. Rumah Sakit tingkat IV (Rumkit) Lanud Atang Sendjaja
f. Satuan POMAU

Leave a Reply

Verifikasi CAPTCHA *