sejarah

Lahirnya AURI Dibumi Kalimantan

By 23 Mar 2018 March 26th, 2018 No Comments
logo-tni-au-featured-1600×900
#TNIAU #TNI-AU

Tanggal 10 Oktober 1945 para pemimpin rakyat di Kalimantan berhasil membentuk Pemerintah Daerah yang merupakan bagian dari RI dan ber ibukota di Banjarmasin. Namun pada tanggal 24 Oktober 1945, tentara sekutu yang menduduki Kalimantan, menyerahkan Pemerintahan Sipil di Kalimantan kepada NICA ( Belanda ) hal ini yang menciptakan kemarahan rakyat Kalimantan Para pejuang mulai menyusun kekuatan untuk berjuang dan Pemerintah Pusat RI juga mengirimkan pasukan bersenjata namun selalu kandas karena blokade Belanda yang begitu ketat, akhirnya timbul gagasan dari Gubernur Kalimantan Ir. Pangeran Moh. Noer, pada bulan Juli 1947, beliau mengirimkan surat kepada Pimpinan AURI Komodor Udara R. Suryadarma agar KSAU menerjunkan pasukan payung yang terdiri dari putra-putra daerah Kalimantan untuk membantu perjuangan rakyat Kalimantan. KSAU sangat memperhatikan permintaan tersebut, maka ditunjuklah MBT untuk membentuk staf khusus guna menyusun pasukan payung, pasukan ini berada dibawah KSAU dan Mayor Udara Tjilik Riwut putra daerah Kalimantan diangkat sebagai Perwira Operasi.

Setelah melalui seleksi maka terpilihlah 13 orang yang siap diterjunkan ditambah dua orang PHB AURI, selama seminggu mereka dilatih teori dan praktek di daratan ( Ground Training ) kemudian mulai ditentukan pesawat yang digunakan untuk penerjunan rahasia itu adalah pesawat Dakota RI-002, pilotnya adalah Bob Freeberg, co pilot adalah Opsir Udara III Makmur Suhodo, jumping master adalah Opsir Muda Udara III Amir Hamzah, penunjuk jalan adalah Mayor Udara Tjilik Riwut dan Iskandar , bertindak sebagai Komandan. Setelah segala persiapan yang diperlukan dianggap selesai maka pada tanggal 17 Oktober 1947 waktu dini hari sekitar pukul 01.30 WIB mereka menerima briefing singkat dari KSAU.

Pada pagi hari sekitar pukul 07.00 WIB mereka diterjunkan di Desa Sambi Kecamatan Arut Utara Kabupaten Kotawaringin Barat Kalimantan Tengah dengan membawa perlengkapan secukupnya, dengan tujuan membantu perjuangan rakyat Kalimantan dengan membentuk dan menyusun satuan-satuan gerilya dipulau Kalimantan dan sumber kekuatan utama adalah suku Dayak Kalimantan. Mereka juga bertugas untuk membuka pemancar induk agar dapat terjalin hubungan telekomunikasi antara Kalimantan dengan Pulau Jawa, khususnya pemerintahan RI di Jogyakarta. Selain itu mereka juga mempunyai tugas lain yaitu membentuk dan menyempurnakan daerah pendaratan dan penerjunan untuk rencana operasi udara dikemudian hari.

Kemudian mereka menuju Sepanbiha tempat yang menjadi sasaran operasi, namun pada tanggal 23 Nopember 1947 mereka terjebak di suatu gubuk milik Kepala Desa Sambi maka terjadilah tembak menembak dengan tentara sekutu mengakibatkan 3 orang gugur dan yang lainnya dapat meloloskan diri namun akhirnya tertangkap juga oleh pihak belanda. Meskipun misi ini tidak dapat berhasil seperti yang direncanakan, tetapi nilai yang terkandung dalam kegiatan operasi tersebut sangat penting artinya karena merupakan satu misi operasi lintas udara yang pertama kali dilakukan. Tiga belas orang yang diterjunkan tersebut semula dapat bertahan dengan melakukan perang gerilya yang dibantu oleh rakyat setempat selama tiga puluh lima hari. Namun akhirnya tertangkap oleh musuh sehingga tiga diantaranya gugur sedangkan sisanya ditawan oleh belanda hingga awal tahun 1950. Peristiwa ini disamping merupakan misi operasi lintas udara (Linud) yang pertama bagi Angkatan Bersenjata kita sekaligus juga sebagai tonggak dimulainya kiprah TNI Angkatan Udara di Bumi Kalimantan. Dan untuk memperingati peristiwa yang bersejarah, serta pengorbanan tanpa pamrih dari para pahlawan kusuma bangsa tersebut maka pada setiap tanggal Tanggal 17 Oktober ditetapkan sebagai hari jadi Korps Komando Pasukan Gerak Cepat (KOPASGAT) yang sekarang menjadi Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara ( KORPASKHAS TNI AU ).

Leave a Reply