Berita

Lanud Husein Sastranegara dan BPPT Buat Hujan Buatan

Oleh 25 Okt 2019 Oktober 28th, 2019 Tidak ada komentar
Lanud Husein Sastranegara dan BPPT Buat Hujan Buatan
#TNIAU 

TNI AU.  Untuk menanggulangi dampak kekeringan di wilayah Jawa Barat, khusus nya di Daerah Tangkapan Air (DTA), Lanud Husein Sastranegara bersama Tim Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Jawa Barat mengadakan Rapat bersama untuk merencanakan pembuatan hujan buatan di Ruang Rapat Suryadarma Lanud Husein Sastranegara, Jumat (25/10).

Komandan lanud Husein Sastranegara Kolonel Pnb Bonang Bayuaji G. S.E., M.M., menuturkan “Tujuan dari operasi TMC ini adalah untuk mengoptimalkan potensi curah hujan pada periode transisi musim kemarau menuju musim hujan Tahun 2019 di Daerah Tangkapan Air (DTA) Waduk Kaskade Citarum dengan pengelola 3 Waduk Kaskade Citarum lainnya yaitu Waduk Jatiluhur, Waduk Cirata dan Waduk Jati Luhur.”

Ada misi khusus yang direncanakan dengan memanfaatkan pesawat Pelita Air. “Misinya adalah Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), dalam hal ini menciptakan hujan buatan di wilayah Jawa Barat. Untuk wilayah yang akan menjadi misi adalah di sekitar aliran hulu sungai citarum dan mata air di sepanjang Gunung Tangkuban Perahu, Gunung Manglayang, Darah Bandung Barat, Cimahi, dan sepanjang daerah aliran sungai (DAS) sungai citarum, Purwakarta, dan Sumedang,” ujar Danlanud.

Baca juga:  Danlanud Soewondo Menyerahkan Hewan Qurban Kepada Panitia

Danlanud Husein Sastranegara menjelaskan, “Pesawat yang telah dimodifikasi khusus tersebut diperuntukkan untuk menyemai zat higroskopis, seperti garam dapur (NaCl) dan CaCl2, di bibit awan yang berpotensi turunnya hujan. Garam-garam tersebut harus berbentuk butiran halus dengan diameter 10-50 mikron. Nantinya, garam akan membentuk titik-titik uap air.”

“Rencana tim BPPT akan terbang menggunakan pesawat Pelita Air dengan menyemai garam, sekitar 5 ton sekali terbang dan kegiatan ini akan di laksanakan mulai hari ini sampai 20 hari kedepan,” jelas Danlanud.

Sementara itu Deputi Kepala BPPT Bidang SDM Bapak Yudi Antasena mengatakan “Kalau kita lihat, Indonesia ini secara umum oleh BMKG dibagi menjadi 407 pola iklim dan terdiri sekitar 342 zona musim. Jadi, andaikan terjadi kemarau secara bersamaan pada 342 zona itu, tentu akan sulit ditangani hanya dengan modifikasi cuaca, karena teknologi ini melingkupi daerah yang terbatas.”

Secara teori, lanjut Yudi Antasena, prinsip modifikasi cuaca adalah mendorong potensi awan menjadi hujan. Dia mencontohkan, sekumpulan awan yang hanya akan menjadi gerimis, jika diterapkan teknologi modifikasi cuaca bisa menjadi hujan lebat. Karena itu, syarat modifikasi cuaca adalah adanya awan yang menghasilkan hujan. “Teknologi ini tidak membuat awan hujan, tetapi mendorong awan hujan yang sudah ada, untuk menjadi hujan yang lebih lebat,” ujarnya.

Baca juga:  Latihan Kamhanlan Di Lanud Ranai

Rapat dihadiri juga Kepala BMKG Jawa Barat Bapak Toni Agus Wijaya, Kaintel Mayor Sus Hafidz, Kasi Baseops Mayor Lek I Ketut Wiratmadja, dan Dansatpomau Mayor Pom Krisna Hariyanto.

Terkait

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel