Berita

Lanud Padang Terbangkan Pesawat Cassa-212 Lakukan Pemotretan Udara

Dibaca: 29 Oleh 26 Jun 2015Tidak ada komentar
Sukhoi Su-27
#TNIAU 

Hari ini 1unit pesawat Cassa C-212 dari skadron udara 4 Lanud Abdul Rahman Saleh Malang mulai melakukan pemotretan udara hingga 3 hari ke depan, di atas langit Lanud Padang Sumatera Barat, Kamis (25/6). Dalam Kegiatan ini Dinas Survei dan Pemotretan Udara TNI Angkatan Udara (Dissurpotrudau) Jakarta menggunakan camera canggih yang memiliki kemampuan ukurasi sangat maksimal. Danlanud Padang Letkol Pnb Mohammad Apon ST, MPA menjelaskan kegiatan pemotretan udara menggunakan pesawat Cassa A-2103 bertujuan untuk mendapatkan data yang up to date gun mendukung kondisi pertahanan dan keamanan negara serta pembangunan nasional kususnya Lanud Padang seperti, penentuan lokasi strategis pembangunan berbagai infra struktur pemerintah maupun untuk pemetaan daerah rawan bencana. Selain itu Pemotretan udara ini juga dimaksudkan untuk memperbaharui data foto udara lama dikarenakan adanya perubahan fungsi dan penggunaan lahannya. Pemotretan udara dilakukan dengan metode pemotretan vertikal dimana sumbu kamera tegak lurus dengan obyek di permukaan bumi. Ada 3 lokasi sasaran yang akan dilakukan pemotretan yakni, area Lanud Padang, Detasemen Piobang Kabupaten Lima Puluh kota, Detasemen Gadut di Bukit Tinggi dan semua aset ini  memiliki nilai sangat strategis  jelasnya.

Baca juga:  Lanud Wiriadinata Laksanakan Peringatan Tahun Baru Islam 1 Muhararam 1441 H

Sementara itu Lettu Sus Djoko Iswoyo Juru Photo Udara dari Disurpotrudau menambahkan, kegiatan pemotretan udara di Lanud Padang kita menggunakan kamera, yakni  kamera udara medium format RCD-30 dan kamera DSLR Nikon D4Xs yang dipasang di pesawat Casa 212 A- 2103 dari Skadron Udara 4 Lanud Abdulrahman Saleh. Penggunaan double camera ini dimaksudkan untuk mendapatkan foto udara berwarna yang dapat mewakili keadaan sebenarnya di lapangan dari segi posisi, bentuk, dan ukuran. Hasil akhir yang dari kegiatan ini adalah mosaik foto udara yang menggambarkan keadaan obyek maupun fenomena di permukaan bumi saat ini. Dari mosaik foto udara tersebut dapat diketahui besarnya perubahan penggunaan lahan agar nantinya pemetaan lahan TNI AU benar-benar akurat dan terlihat dengan jelas batas-batas kepemilikan, tambahnya.

Pangkalan udara (Lanud) merupakan obyek vital nasional yang dalam keadaan damai maupun perang harus selalu aman dari segala gangguan dan ancaman agar dapat beroperasi secara optimal untuk melaksanakan tugas pokok pengoperasian pesawat udara. Salah satu sumber referensi yang dapat digunakan dalam upaya mengetahui nilai strategisnya sebagai obyek vital nasional adalah mosaik foto udara format kecil (FUFK). Mengingat selama ini pemetaan Lanud TNI AU lebih mementingkan aspek geometrik dalam rangka menyajikan informasi yang akurat, maka diperlukan pendekatan fotogrametri untuk mengoreksi berbagai distorsi. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi kualitas geometrik mosaik terkontrol dari FUFK hasil pemotretan Dinas Survei dan Pemotretan Udara (Dissurpotrudau) dan melakukan komparasi ketelitian terhadap produk mosaik yang selama ini dikerjakan Dissurpotrudau. Penelitian ini akan menghasilkan mosaik terkontrol, dengan menggunakan titik kontrol tanah (TKT) yang diperoleh secara post marking melalui metode penentuan posisi DGPS-NTRIP (Differential GPS-Networked Transport of RTCM via Internet Protocol). Penentuan posisi DGPS dimaksudkan untuk efisiensi dan optimalisasi peralatan. Pengolahan data dimulai dari penentuan parameter orientasi dalam setiap foto, identifikasi TKT, identifikasi titik ikat pada daerah tampalan antar foto sesuai aturan Von Gruber dan proses Bundle Adjusment (BA). Parameter orientasi luar untuk setiap foto dalam satu blok dan koordinat peta atau tanah setiap titik ikat dihitung menggunakan teknik Bundle Block Adjusment (BBA). Parameter yang dihasilkan dari teknik BBA digunakan untuk ekstraksi ketinggian dan ortorektifikasi. Analisis data dilakukan dengan pengukuran akurasi posisi horisontal antara titik pada mosaik FUFK dengan titik cek lapangan. Mosaik terkontrol yang dihasilkan pada penelitian ini telah memenuhi standardisasi produk skala 1 : 9000. Hasil komparasi menunjukkan bahwasannya kualitas geometrik mosaik terkontrol lebih baik dari mosaik produk Dissurpotrudau, sehingga dapat digunakan sebagai salah satu informasi untuk kepentingan militer maupun pembangunan nasional. Akurasi posisi horisontal mosaik terkontrol menghasilkan Root Means Square Error (RMSE) sebesar 4,2 m. Sementara RMSE posisi horisontal mosaik produk Dissurpotrudau sebesar 88,2 m, sehingga besaran skala yang sesuai untuk produk tersebut adalah 1 : 159.800 Peningkatan akurasi posisi pada mosaik terkontrol jika dibandingkan dengan mosaik produk Dissurpotrudau sebesar 419,80 %.

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel