Berita

LANUD TANJUNG PANDAN BERGANTI NAMA MENJADI LANUD H. AS. HANANJOEDDIN

Dibaca: 684 Oleh 23 Okt 2012Tidak ada komentar
P-51 Mustang, Perintis Tim Aerobatik TNI Angkatan Udara
#TNIAU 

Pergantian nama Lanud Tanjung Pandan menjadi Lanud H. Abdullah Sanusi Hananjoeddin merupakan salah satu komitmen generasi penerus sebagai bentuk penghargaan kepada para pahlawan dan sesepuh TNI AU dengan mengabadikan nama mereka sebagai nama Pangkalan Udara TNI Angkatan Udara yang masih menggunakan nama daerah.

Demikian dikatakan Kasau Marsekal TNI Imam Sufaat, S.IP., dalam sambutannya pada peresmian pergantian nama Lanud Tanjung Pandan menjadi Lanud H. Abdullah Sanusi Hananjoeddin. Senin (22/10).

Dikatakan, di masa depan Lanud H. AS. Hananjoeddin dapat berkembang menjadi pangkalan yang mampu menangani berbagai tantangan penugasan operasional. Untuk itu seluruh personel Lanud H. AS. Hananjoeddin harus benar-benar mau bekerja keras, bekerja cerdas dan bekerja iklas serta selalu mengutamakan Keselamatan Terbang dan Kerja dalam pelaksanaan tugas, harap Kasau.

Dalam catatan sejarah almarhum H. AS. Hanandjoeddin yang dilahirkan di Mempiu, Kecamatan Membalong, Belitung pada 8 Agustus 1910. Sebelum Revolusi kemerdekaan, AS. Hanandjoedin bekerja pada penerbangan Jepang bernama “Ozawa Butai”. Beliau dikenal sebagai salah seorang pelopor pembentukan BKR Divisi VIII Jawa Timur, khususnya BKR Udara Jawa Timur di Pangkalan Udara Bugis Malang.

Baca juga:  DANLANUD SOEWONDO JALIN SILATURAHMI KE HARIAN WASPADA

Setelah Jepang kalah, jelas Kasau, Hanandjoeddin bergabung pada TKR bagian Udara Lanud Bugis, Malang. Hanandjoeddin diangkat sebagai kepala bagian teknik Pangkalan Udara Bugis dengan pangkat Letnan Satu TKR dan bertugas merawat dan menerbangkan pesawat-pesawat Cureng, Cukiu dan Hayabusa yang dalam keadaan rusak sisa peninggalan Jepang. Hanandjoeddin melakukan uji terbang dan pelajaran cara menerbangkan pesawat pesawat Cukiu dengan penerbang Ali.

Sejak diangkat menjadi Letnan Satu TKR Udara, Hanandjoeddin sering memim­pin pasukan dalam perang kemerdekaan, baik pada Agresi Belanda pertama maupun kedua. Beliau juga berperan aktif dalam memper­tahankan kedaulatan Republik Indonesia, termasuk ikut menumpas berbagai pemberontakan di beberapa daerah, seperti Gerakan PKI di Pacitan, APRA di Bandung, serta pemberontak­­an PRRI di Sumatera.

Jabatan militer terakhir H. AS. Hanandjoeddin adalah Komandan Kompi Pasgat di Lanud Palembang, setelah pensiun dari TNI AU, Hanandjoeddin menjabat sebagai Bupati Belitung periode 1967-1972. Sebagai Bupati Belitung, AS. Hanandjoeddin dikenang masyarakat Belitung banyak memberikan kontribusi bagi kemajuan wilayah yang sekarang menjadi bagian dari propinsi kepulauan Bangka Belitung, ungkap Kasau.

Baca juga:  KOMANDAN SESKOAU SERAHKAN BUKU KEPEMIMPINAN TNI ANGKATAN UDARA

Indra Cahya Hanandjoeddin purta keenan H. AS. Hanandjoeddin mengatakan, Pemakaian nama H. AS. Hanandjoeddin menjadi nama pangkalan udara di Pulau Belitung kami anggap sebagai upaya mulia institusi TNI Angkatan Udara untuk melestarikan semangat dan nilai perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia di tahun1945.

“Semangat keteladanan orang tua kami sebagai prajurit pejuang dan pejuang prajurit semasa hidupnya, menjadikan warisan paling berharga bagi anak-cucunya, sehingga kami terus berupaya untuk menjaga nama baik beliau bersama seluruh prajurit Lanud Hananjoeddin”, harapnya.

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel