Berita Kotama

Lintas Sejarah lanud Ranai

Dibaca: 681 Oleh 16 Jan 2010Tidak ada komentar
21722ef118dabb8b34f8ca385dddf40d
#TNIAU 

LINTAS SEJARAH LANUD RANAI

Lintas Sejarah lanud Ranai

Selayang Pandang

Pulau Natuna sebagai salah satu pulau dari gugusan pulau yang berada diwilayah Kabupaten Natuna terletak di Laut Cina Selatan, dengan titik koordinat antara 02 derajat sampai dengan 05 derajat Lintang Utara dan antara 104 derajat sampai dengan 110 derajat Bujur Timur terdiri dari daratan (pulau besar, kecil) dan perairan (lautan) dengan luas wilayah secara keseluruhan 141.901 km2 dibagi dalam tiga gugusan pulau yaitu

• Gugusan Pulau Anambas
• Gugusan Pulau Natuna Utara
• Gugusan Pulau Natuna selatan
 
Batas wilayah sebelah Utara adalah Vietnam dan Kamboja, batas Selatan adalah gugusan kepulauan Riau, sebelah Barat Semenanjung Malaysia dan pulau Bintan sedangkan sebelah Timur adalah Kalimantan Utara (Malaysia) dan Kalimantan Barat.

Pangkalan TNI AU (Lanud) Ranai terletak di Pulau Natuna yang termasuk gugusan kepulauan Natuna Utara tepatnya di Kelurahan Ranai Kecamatan Bunguran Timur Kabupaten Natuna, memiliki areal seluas 450,5 Hektar, dengan batas sebelah Barat kampung “Pring”, sebelah Timur pantai Laut Cina Selatan, sebelah Utara Kampung Batu Hitam dan Selatan Kampung “Penagih” (Kampung di atas muara sungai Ulu).
 
Sebagai salah satu pangkalan operasi type “ C ” Lanud Ranai meru-pakan satuan jajaran dibawah Komando Operasi TNI AU I, yang secara letak geografisnya berhadapan langsung dengan kemungkinan datangnya ancaman sehingga segala fasilitas penerbangan, baik sarana maupun prasarana serta pendukungnya harus tetap terpelihara dan dipersiapkan secara cermat guna kepentingan Pertahanan dan Keamanan Negara serta kepentingan kesejahteraan wilayah. Sejak dibangunnya landasan sampai dengan sekarang, Lanud Ranai telah beberapa kali dijadikan tempat latihan baik latihan antar satuan maupun latihan Gabungan, serta Operasi Udara dalam rangka menangani masalah pengungsian dan pencurian kekayaan Laut. Keberadaan Lanud yang memiliki landasan pacu meru- pakan prasarana transportasi udara telah memberikan peran sertanya dalam membantu pembangunan baik melalui Penerbangan Angkutan Udara Militer (PAUM) maupun dukungan terhadap penerbangan Perintis.

Lintas Sejarah lanud Ranai

Persiapan Pembuatan Landasan

Kepulauan Natuna yang merupakan gugusan pulau paling luar dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Malaysia, Vietnam, dan Kamboja serta berada dalam dua jalur perhubungan Internasional yaitu jalur penerbangan dan jalur laut maka para pemimpin TNI AU pada saat itu memandang perlu membangun Pangkalan Udara sebagai pertahanan udara di wilayah barat, dengan harapan pangkalan udara ini pada suatu saat akan mampu untuk menjadi benteng pertahanan pertama wilayah Indonesia apabila terjadi gangguan keamanan yang datangnya dari luar berupa invasi negara asing.

Lintas Sejarah lanud Ranai

Pembangunan Pangkalan Udara di Natuna dimulai dengan adanya tim survey dari Mabes AU yang datang ke P. Natuna pada tanggal 20 Maret 1952 dengan menggunakan kapal motor B.O. 38 yang berlabuh di dermaga nelayan Penagih yang merupakan pusat perniagaan penduduk Ranai pada saat itu. Selanjutnya tim survey tersebut mengadakan pertemuan dengan Pemuka dan aparat setempat sehingga pada tanggal 21 Maret 1952 Assisten Wedana kecamatan Bunguran Timur bersama para pemuka masyarakat membawa tim tersebut ke daerah yang bernama Padang Air Uma untuk mengadakan penelitian.

Satu tahun kemudian setelah dilaksanakan survey pertama maka pada tahun 1953 didatangkan kembali tim survey kedua yang mendarat dialur Pelabuhan Penagi dengan menggunakan pesawat PBY Catalina mereka mengadakan survey selama satu hari penuh guna melengkapi data-data lokasi yang akan di jadikan Landasan Pacu pesawat. Sejak kedatangan tim survey tersebut proses pembuatan landasan yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat setempat masih belum memperlihatkan tanda-tanda pelaksanaannya.

Pembuatan Landasan
 
Menyadari adanya suatu proses evaluasi dan pembahasan mengenai pembuatan landasan pacu tersebut akan memerlukan waktu yang panjang dan harus disesuaikan dengan Renstra Pembangunan Nasional maka pembangunannya belum dapat dilaksanakan dalam waktu relatif singkat dari selesai pelaksanaan survey dilapangan. Dengan adanya kejadian pada bulan April tahun 1955 yaitu menjelang Konfrensi Asia Afrika di Bandung beberapa penduduk Pulau Natuna melihat sebuah pesawat yang terbang dalam keadaan terbakar kemudian jatuh dilaut dekat P. Batu Billis Kelurahan Kelarik Kec Bunguran Barat yang akhirnya diketahui bahwa pesawat tersebut adalah milik maskapai penerbangan INDIA “KHASMIR PRINCES”, sedang membawa delegasi RRC ke Konfresi ASIA AFRIKA di Bandung, maka rencana pembangunan pangkalan udara dipercepat pelaksanaannya.

Dimulai pada tanggal 5 Mei 1955 sebanyak 7 orang tim pelaksana pembangunan pangkalan udara yang dipimpin oleh Letnan Udara Satu R. Sadjad Nrp 462981, mendarat dialur Pelabuhan Sedanau yaitu didaerah sebelah barat pulau Natuna menggunakan pesawat “Catalina” selanjutnya dengan menggunakan kapal motor penduduk setempat berangkat menuju Ranai dan tiba  pukul 19.00 WIB rombongan tersebut terdiri dari

1. Pratu EFFERT ADC Lettu R. SADJAD
2. Sipil KOMALING Mandor Satu
3. Sipil WILIEM Mandor dua merangkap TK Kayu
4. Sipil MATHIAS Tukang masak
5. Sipil CHALIK TK Masak merangkap TK Kayu
6. Sipil OTHING Ahli Tehnik
 
Kedatangan rombongan tersebut adalah dalam rangka merealisasikan pembuatan Landasan Pacu Ranai.
Keesokan harinya yaitu pada tanggal 6 Mei 1955 yang merupakan langkah awal dari rencana pembangunan landasan pacu, Tim tersebut mengadakan kunjungan guna musyawarah bersama dengan para pejabat dan pemuka masyarakat setempat. Dari hasil musyawarah tersebut seluruh masyarakat rela bergotong royong dan terkumpul orang sebanyak 17 orang untuk selanjutnya memulai pengukuran dan pematokan lokasi di daerah Padang Air Uma yang disaksikan oleh Wakil Lurah Ranai Bapak Bujang Ali Samad.

Baca juga:  Lanud Abd Saleh Gelar Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila

Lintas Sejarah lanud Ranai

Lintas Sejarah lanud Ranai

Kondisi Padang Air Uma merupakan daerah hutan dengan beberapa rawa dan kebun kelapa yang didalamnya terdapat kuburan Cina serta kuburan Indonesia (pribumi), disebelah utara adalah perkampungan Tandjung Pasir yang dihuni oleh lima kepala keluarga, sebelah selatan + 15 meter terdapat laut muara Sungai Ulu yang bermuara dialur Pelabuhan Penagi, disebelah timur 350 meter terdapat laut, disebelah barat + 50 meter terdapat kebun kelapa rakyat

Pembangunan pangkalan udara dilaksanakan bersama masyarakat dari 8 desa (Ranai, Sepempang, Tandjung, Tjeruk, Kelanga, Pengadah, Sungai Ulu dan Tjemaga ), terhimpun 5722 orang, dimulai pada tanggal 27 Mei 1955 oleh + 100 orang setiap harinya secara bergantian dengan mempergunakan peralatan yang sangat sederhana yang dibawa oleh tim berupa skop 4 buah, kampak 2 buah, dan palu besar 2 buah, sedangkan kekurangan peralatan berupa cangkul , parang, karung pengangkut pasir dibawa sendiri oleh rakyat sebagian diperoleh dari toko-toko secara kredit termasuk bahan makanan. Guna menghilangkan kelelahan pada malam harinya diputarkan Film yang sudah dipersiapkan oleh Tim sehingga masyarakat sangat antusias dalam melaksanakan pekerjaannya.

Pembangunan Awal

Pekerjaan awal yang dilaksanakan adalah membuka hutan, Landasan di buat membujur dari selatan ke utara dengan azimut 00/18, panjang 1300 m dan lebar 40 m dengan schoulder kiri kanan masing – masing 15 m . Landasan ini berupa landasan rumput yang diperkeras dengan batu karang di garis tengah membujur seukuran jarak roda – roda pesawat C- 47 ( Dakota ).
 
Pada tanggal 2 Agustus 1955 dengan pesawat Catalina yang mendarat di Pelabuhan Penagi tiba rombongan KASAU Komodor Udara Rd. Suryadi Suryadarma dengan didampingi oleh Letnan Udara Satu Sadjad untuk memeriksa hasil-hasil yang telah dicapai dalam pembangunan Landasan Udara Ranai.
 
Seiring dengan berjalannya waktu bentuk landasan mulai kelihatan lahan yang tadinya rawa dan hutan sekarang sudah menjadi rata, akan tetapi dalam proses pengerasan tanah ditemui adanya hambatan dengan ketidak lengkapan peralatan di Ranai hal tersebut sangat berpengaruh terhadap kelancaran pembangunan, sehingga dicarikan jalan keluarnya dengan menggunakan alat manual dari pohon kelapa yang diangkat dengan tenaga manusia dan ditumbukan ke tanah tetapi hasilnya kurang memuaskan .

Dengan kondisi tersebut maka pada tanggal 2 September 1955 kepala PU I Effert Watulingas dengan dua anggota untuk berangkat ke Tanjung Pinang untuk meminjam Wals (mesin giling) ke jawatan PU Tanjung Pinang, pada tanggal 7 September wals tiba dengan menggunakan K.M LIPUR di Pelabuhan Penagi, wals yang beratnya 6 ton tidak memungkinkan untuk diturunkan keatas dermaga yang terbuat dari kayu, sehingga dalam proses penurunannya dari kapal wals tersebut di bongkar menjadi bagian – bagian kecil dan di rakit kembali di darat hingga dapat di gunakan. Dengan adanya penambahan kelengkapan peralatan Jeep dan dua buah Treler kesulitan pengangkutan pengangkutan pasir dan batu karang ke landasan dapat diatasi sehingga lebih mempercepat proses pembangunan

Pengerasan dan pemadatan landasan dikerjakan dengan wals secara terus-menerus selama 24 jam dengan tenaga kerja dua orang, seorang mengemudi wals dan seorang lagi memegang lampu petromak bergiliran tiap 6 jam dan teratur, suasana kerja siang malam tersebut berlangsung terus sampai saat- saat pendaratan pertama dilakukan.

Modal membuat landasan waktu itu adalah semangat membangun, persatuan serta gotong royong, satu hal lagi yang kelihatan sepele tetapi besar sekali artinya saat itu adalah sering diadakannya pemutaran film untuk umum tanpa dipungut bayaran, sehingga banyak orang datang menyaksikan. Sebagai balasannya mereka dengan suka rela membantu membuat landasan yang sebagian besar membawa alat apa adanya.

Pada tanggal 29 Desember 1955 dilakukan percobaan pendaratan pesawat C-47 (Dakota) AURI nomor registrasi T-480 dengan pilot Kapten Udara A. Fatah, salah seorang test pilot AURI yang dapat dibanggakan yang sekaligus dalam flight missionya berhasil dengan baik. Dengan berhasilnya percobaan pendaratan tersebut kegiatan pembangunan landasan secara gotong royong dinyatakan selesai pada tanggal 10 Maret 1956. Dalam pembangunan landasan tahap pertama ini tidak kurang dari dua belas pemilik pohon kelapa mendapat ganti rugi dua dollar Malaya tiap batang pohonnya. Rumah-rumah yang terkena proyek tersebut milik lima kepala keluarga, dengan rela pindah dan mengijinkan tanah mereka dipergunakan untuk pembangunan landasan.

Baca juga:  Alumnus AAU 93 Jalan Sehat Sambil Nostalgia Di Akademi Angkatan Udara

Pada tahun tersebut Letnan Udara Satu R Sadjad dinaikan pangkatnya menjadi kapten udara, dan dijadikan Komandan Pangkalan Udara Ranai yang pertama terhitung mulai tanggal 20 Mei 1955. Pembangunan lanjutan pangkalan udara terus dilaksanakan dengan membangun fasilitas-fasilitas pendukung pangkalan, menggunakan tenaga pekerja harian dengan upah tiga dollar Malaya, bagi pekerja-pekerja yang memiliki semangat kerja dan berprestasi baik diangkat menjadi kekuatan personil TNI AU yaitu sebagai Pegawai Negeri Sipil.

Adapun masyarakat yang telah berjasa dalam membuka hutan/membangun landasan secara suka rela dan gotong royong diberi piagam penghargaan oleh Kepala Staf Angkatan Udara Komodor Udara Rd. S Suryadarma dan mereka diberi kesempatan menikmati penerbangan (Joy flight) diatas kepulauan Natuna dengan pesawat Dakota.

Data-data Pangkalan Udara Ranai Tahun 1955
Nama : LANU RANAI
Kordinat : 0356’ N – 10825’ E
Elevasi : 7 Feet
Azimuth : 180 – 360
Dimensi : 1500 x 32 M

Pembangunan Lanjutan
 
Pembangunan lanjutan dilaksanakan mulai tahun 1960, landasan diperpanjang 200 m pengerasan dan pelebaran sehingga mampu didarati pesawat Hercules dengan baik. Sesuai dengan perkembangan jaman dan kemajuan teknologi serta didasari pentingnya Pangkalan TNI AU Ranai di lakukan pengembangan terhadap fasilitas pendukung operasi yang dilaksanakan secara bertahap seperti perpanjangan menjadi 2550 x 32 m penambahan appron, peralatan navigasi ( NDB, R/W light,dan Tower Radio Comunication ), pelayanan penerbangan (Meteo, PK dan Ground Support Equipment), terminal ( Base Ops dan VIP Room ). Dalam menghadapi situasi diwilayah Vietnam dan Kamboja pada saat itu pemerintah dihadapkan kepada masalah pengungsi ditambah lagi adanya pencurian terhadap kekayaan laut maka tahap pembangunan selanjutnya adalah pembuatan Hanggar dan Appron di sebelah barat Run way serta pembuatan Scramble Area diujung run way sebelah selatan yang selesai pembangunannya pada tahun 1981 dan secara keseluruhan peresmiannya di laksanakan pada tanggal 16 Mei 1981 oleh MENHANKAM/PANGAB Jenderal TNI M. JUSUF.

Lintas Sejarah lanud Ranai

Nama-nama pejabat Komandan Lanud Ranai

1. Kapten R Sadjad 1955-1958
2. Kapten Soeparman 1958-1959
3. Kapten Psk R Soedirman 1959-1960
4. Kapten Soekamto 1960-1960
5. Kapten Psk S Soekani 1960-1960
6. Kapten Soeratman 1960-1961
7. Lettu D Margono 1961-1961
8. Kapten R Soedaksono 1961-1961
9. Kapten R Soetopo 1961-1961
10. Lettu R Soetiono 1961-1961
11. Kapten Poernomosidi 1961-1962
12. Kapten Oemardi 1962-1962
13. Lettu Soewito 1962-1962
14. Kapten Soejoto 1962-1963
15. Kapten Soerojo Bambang 1963-1963
16. Kapten Moh. Saleh 1963-1963
17. Kapten Soekijo 1964-1964
19. Lettu Bambang Suprapto 1964-1965
20. Lettu Moechdiono 1965-1968
21. Letda Gatot Soeharno 1968-1971
22. Kapten Imam Mualim 1971-1977
23. Mayor Pnb Muherbeno 1977-1978
24. Mayor Pnb Pratisto 1978-1978
25. Mayor Pnb Ruchimat S 1979-1981
26. Mayor Pnb Wiyantono 1981-1983
27. Mayor Pnb Moelyadi 1983-1985
28. Letkol Pnb. Koesbeni 1985-1988
29. Letkol Pnb Sumihar S. Sihotang 1988-1990
30. Letkol Pnb F. Budi Hartanto 1990-1991
31. Letkol Pnb Syamsudin Arsad 1991-1994
32. Letkol Lek Chauli Marwan 1994-1996
33. Letkol Lek Anton Sudjarwo 1996-1998
34. Letkol Pnb S.B Supriyadi 1998-2001
35. Letkol Pnb Nilhandri 2001-2003
36. Letkol Pnb Syamsu Maizar 2003-Sekarang

Dalam masa perkembangannya Lanud Ranai telah mengalami pergantian Komandan Lanud sebanyak 36 Komandan, dari para mantan Komandan tersebut beberapa personil telah mencapai pengabdian terbaiknya di TNI AU yaitu dengan menduduki jabatan – jabatan strategis di jajaran TNI AU maupun TNI diantaranya adalah :

1. Marsekal Muda TNI ( Pur ) Koesbeni jabatan terahir Asisten KASAU bidang Operasi
2. Marsekal Muda TNI Syamsudin Arsad saat ini menjabat sebagai Widyaiswara LEMHANAS
3. Marsekal Pertama TNI F. Budi Hartanto saat ini menjabat sebagai Kepala Dinas Pengembangan Operasi MABESAU
4. Marsekal Pertama TNI Chauli Marwan saat ini menjabat sebagai Kepala Dinas Informasi, Pengumpulan dan Pengolahan Data MABESAU

Ini menunjukkan para Komandan Pangkalan TNI AU Ranai merupakan putera – putera terbaik TNI AU pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya yang telah berhasil mengemban tugas dan tanggung jawabnya.
 
SATRAD 202 RANAI

Satuan Radar 202 yang merupakan Insub satuan Lanud keberadaan-nya di pulau Natuna adalah sangat tepat dan strategis mengingat satuan tersebut merupakan mata bagi kepentingan pertahanan melalui pendeteksian bahaya ancaman yang datang dari dan melalui udara terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sejarah singkat SATRAD 202
 
Alat Utama Sistem Senjata berupa radar sangatlah penting, untuk mengantisipasi adanya kegiatan intervensi dan subversi yang dilakukan negara lain terhadap keutuhan wilayah NKRI terutama di kepulauan Natuna, maka Kepala Staf TNI Angkatan Udara mengeluarkan Petunjuk Operasi Nomor Jukops/02/VI/1980 tanggal 14 Juni 1980 untuk melaksanakan Operasi Jagabaya III yang digelar di Lanud Ranai.

Baca juga:  Pemerintah Indonesia Dan Amerika Diskusi ILSR (Integrated Logistics Support Review) Di Lanud Iswahjudi

Berdasarkan petunjuk tersebut maka Kohanudnas menyusun suatu rencana operasi dengan keluarnya Rencana Operasi Kohanudnas Nomor Renops/004//VII/1980 tanggal 31 Juli 1980 tentang pengoperasian Radar Nysa di Lanud Ranai, dan dimulailah penggelaran Radar Nysa B.C buatan Polandia tahun 1960 di Lanud Ranai.    Setelah kurang lebih dua minggu kegiatan penggelaran maka diadakan uji coba pengoperasian radar

Bersamaan dengan kegiatan uji coba pengoperasian radar tersebut Panglima Kohanudnas mengeluarkan telegram Nomor TK/1499/1980 tanggal 16 Agustus 1980 yang memberlakukan Rencana Operasi Kohanudnas menjadi Perintah Operasi.  Dengan berlakunya Perintah Operasi tersebut maka pada tanggal 19 Agustus 1980 dimulailah pengoperasian radar Nysa di Ranai , dan peristiwa ini merupakan awal berdirinya Satuan Radar 202 dengan nama “Satuan Radar Ranai” dibawah kendali Kosek III Medan.      Personil yang mengawaki Satuan Radar Ranai pada waktu itu bersifat penugasan berjumlah kurang lebih 12 ( dua belas ) orang, tergabung dalam satu tim berasal dari personel Wingkomlek 02 Adisumarmo dan Satuan Radar yang berada di Pulau Jawa. Jangka waktu penugasan kurang lebih dua bulan dalam satu periode, setelah itu diganti oleh tim lain

Pasca Radar Thomson TRS – 2215 R

Dengan semakin modern system pertahanan udara terutama berupa pendektesian dini terhadap serangan udara maka pada tahun 1982 TNI AU menganggap perlu untuk memutakhirkan alusista radar yaitu dengan menggelar radar type Thomson TRS – 2215 R buatan pabrik Thomson CSF Perancis di Lanud Iswahyudi dan Ranai.
 
Setelah melalui kajian–kajian maka berdasarkan Skep Kasau nomor Skep/18/IX/1983 tanggal 21 September 1983 dibentuklah Satuan Radar 201 Iswahyudi dan Satuan Radar 301(pada saat itu) Ranai yang diresmikan secara bersamaan oleh Kasau Marsekal TNI Sukardi pada tanggal 22 September 1983 di Lanud Iswahyudi Madiun. Peristiwa tersebut menjadi hari bersejarah bagi Satrad 202 Ranai dan ditetapkan sebagai Hari Jadi Satrad 202 Ranai. Berdasarkan Instruksi Panglima Kohanudnas Nomor Ins/01/I/1984 tanggal 20 Januari 1984 tentang pengoperasian radar Hanud Thomson TRS 2215 – R di Satrad 201 Iswahyudi dan Satrad 301 Ranai, maka sejak saat itu Satrad 301 resmi beroperasi dibawah kendali Kosek III Medan

Perubahan Organisasi TNI AU

Dalam mendukung efisiensi dan efektifitas di tubuh TNI AU maka pada tahun 1985 terjadi perubahan organisasi sehingga banyak terjadi perubahan–perubahan dalam operasionalnya, Dengan dasar Surat Keputusan Kasau Nomor Skep/29/II/1985 tanggal 11 Maret 1985 tentang penempatan satuan–satuan TNI AU dan Instruksi Kasau Nomor Ins/03/III/1985 tanggal 12 Maret 1985 tentang pelaksanaan reorganisasi TNI AU, diadakanlah perubahan pembinaan Satrad 301 Ranai dari Kosek III ke jajaran Koopsau I, sehingga Lanud Ranai merupakan pembinaan langsung, selanjutnya diadakan perubahan nama dari Satrad 301 Ranai menjadi Satrad 202 Ranai. Dengan adanya peralihan pembinaan tersebut secara pertanggungjawaban Satrad 202 Ranai mempunyai dua jalur komando yaitu pembinaan dibawah kendali Lanud Ranai Koopsau I dan kendali operasi dibawah Kosek Hanudnas I Jakarta sesuai dengan telegram dari Panglima Kohanudnas Nomor TK/68/1989 tanggal 16 Februari 1989.

Pembinaan kembali ke Kohanudnas

Pada tanggal 11 Oktober 1985 keluarnya telegram Panglima ABRI Nomor ST/ 413/ 1985 tentang Konsepsi Pembinaan Kohanudnas maka Kepala Staf TNI AU mengeluarkan Surat Keputusan nomor skep/43/II/1999 tanggal 22 Februari 1999 tentang pengalihan pembinaan Satuan Radar yang berada di Lanud dalam jajaran Koopsau kedalam pembinaan Kohanudnas.

Satu sejarah terjadi lagi bagi Satrad 202 setelah kurang lebih 14 (empat belas) tahun dibawah pembinaan Lanud Ranai kembali kedalam pembinaan Kohanudnas melalui serah terima Satuan – satuan Radar yang berada di Lanud jajaran Koopsau I dan II di kampus Akademi TNI Angkatan Udara Yogyakarta oleh Kepala Staf TNI Angkatan Udara. Dengan demikian maka status pembinaan dan operasi Satrad 202 beralih kepada Kosekhanudnas I Jakarta.

Pengamanan Alat Utama Sistim Senjata
 
Dalam penggelaran unsur kekuatan udara diperlukan satu upaya sistem pengamanan yang dapat menjamin tetap beroperasinya Alutsista tersebut, maka sejak didirikannya satuan Radar di Lanud Ranai telah ditugaskan personil Paskhas yang sejak awal berkekuatan satu Flight. Kekuatan personil tersebut disamping mengamankan satuan Radar juga ditugaskan untuk mengamankan unsur kekuatan lain yaitu pesawat udara yang digelar di Lanud Ranai guna melaksanakan tugas pengamanan wilayah Laut Cina Selatan dari para pengungsi Vietnam dan juga terhadap pencurian kekayaan laut, sejak dinyatakan selesai operasi penanganan terhadap pengungsian tersebut kekuatan paskhas hanya terdiri satu regu.

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel