Pustaka

LOGISTIK DAN PENERBANG ANGKATAN UDARA

Dibaca: 923 Oleh 09 Jan 2010Tidak ada komentar
2015 06 02 00002
#TNIAU 

Misi Angkatan Udara (AU) adalah terbang dan bertempur.  Untuk melaksanakan misi tersebut Insan Udara (Airman) harus mengetahui dan memahami logistik. Perang dimasa mendatang merupakan perang modern berintensitas tinggi, berlangsung cepat dan mematikan.  Untuk memenangkan perang, kita harus mengkonsentrasikan kekuatan tempur berdasarkan waktu dan ruang.  Di lingkungan global yang berkembang pesat saat ini, keputusan strategis yang diambil sehubungan dengan logistik pada masa damai terbukti memiliki dampak yang jauh lebih besar terhadap apa yang mungkin terjadi selama berlangsungnya krisis atau pada waktu perang dibandingkan dengan waktu lain sepanjang sejarah.  Peningkatan logistik dalam hal strategi dan taktik dipertimbangkan secara seksama berdasarkan pertanyaan tentang kapan dan dimana perang akan dilaksanakan?   Karena perubahan geostrategi, ekonomi dan teknologi maka logistik menjadi pertimbangan yang mendominasi perumusan dan pelaksanaan strategi  dan taktik yang memerlukan konsentrasi untuk memenangkan perang.  Ada 4 faktor kunci yang harus dipertimbangkan bila kita ingin mencapai keberhasilan   dalam konsentrasi.  Hal ini bukanlah tugas yang mudah.  Meskipun dalam jumlah sangat sedikit, dampak, dinamika dan interdependensinya sulit diraih. Hal ini merupakan masalah yang berhubungan erat dengan perspektif dan substansi. Dengan kata lain hal ini berhubungan dengan bagaimana cara kita berpikir dan memandang suatu hal. Faktor tersebut bukanlah fungsi, obyek atau bahkan proses, namun merupakan kondisi yang mewakili sifat yang berhubungan dengan pencarian konsentrasi. 

Logistik selalu dihadapkan pada dua faktor yaitu keterbatasan sumber daya pada satu sisi dan tuntutan kemampuan penyediaan materiil, fasilitas dan jasa pada sisi lainnya. Operasi adalah kegiatan militer yang dilakukan dalam masa perang atau dalam masa damai ketika orang yang terlibat akan terancam bahaya karena keadaan politik dan sosial didaerah operasi.  Logistik adalah proses pergerakan kekuatan militer yang harus tetap dipertahankan untuk mensuply kekuatan tersebut.  Namun logistik tidak dapat berdiri sendiri.   Keberadaannya hanya satu setengah dari suatu partnership yang diperlukan untuk mencapai konsentrasi.  Mengapa memahami logistik sangat penting?  Karena logistik mengatur tempo dan kekuatan operasi   militer, baik bagi kita maupun musuh.   Kita harus memikirkan partnership logistik dan operasi karena hal itu merupakan suatu target, baik bagi kita maupun musuh. Seperti target lainnya, kita harus benar-benar memahami kepentingannya, kelemahannya dan unsur-unsur pentingnya guna memastikan bahwa kita telah mengetahui apa yang dapat dipertahankan dan apa yang dapat diserang.  Seluruh panglima dan komandan militer pada tingkat apapun akan mengandalkan keberhasilan partnership operasi dan logistik. Sejauh mana khususnya panglima dan komandan Angkatan Udara dapat memahami partnership logistik dan operasi dengan baik akan sangat berpengaruh sehubungan dengan sejauh mana keberhasilannya bagi mereka dan sejauh  mana mereka berupaya untuk mencapai keberhasilan tersebut untuk memenangkan perang.  

Logistik sejak Perang Dunia II (PD II) hingga Perang Teluk dipenuhi dengan contoh-contoh yang mengabaikan seluruh rincian tingkat manajemen yang tertutup secara cermat yang terlibat dalam logistik perang.  Pada PD II, selama Operation Overlord, meletusnya perang di Normandia tertunda disebabkan oleh ketidakmampuan untuk menggerakkan sumber daya melalui jalur logistik perang tersebut. Perang Korea dan Vietnam menjadi contoh kemampuan logistik yang dapat menggerakkan perbekalan ke pangkalan  udara (Aerial Port of Debarcation = APOD) dan pelabuhan laut ke medan perang, namun kemudian mengalami ketidakmampuan untuk menggerakkan kereta api dan mengambil barang yang tepat dari tempat yang tepat pada waktu yang tepat untuk mendukung perang.  Kereta api muncul kembali selama Perang Teluk (Operasi Badai Gurun) sehingga konsep Joint Movement Center (JMC = Pusat Pergerakan Gabungan) diterapkan guna menyesuaikan masalah logistik.  Operasi Badai Gurun berhasil sehingga dampak upaya JMC yang tidak memadai untuk mengarahkan logistik diabaikan, sehingga muncul analisa pasca Perang Teluk terhadap kemampuan militer Amerika Serikat (AS) untuk melaksanakan Logistik Perang Gabungan.  Analisa tersebut menunjukkan suatu sistem logistik merupakan kemampuan kekuatan tempur yang diperlukan bagi operasi militer atau perang pada masa mendatang yang bersifat ramping, mematikan dan memiliki mobilitas.

Baca juga:  Bangun Skadron Baru untuk Amankan Perbatasan

Militer AS sedang mengalami transformasi, dan transformasi untuk memperoleh sumber daya tactical mile terakhir tersebut masih belum terpecahkan.  Kepentingan pada tingkat tinggi dengan perhatian tertumpu pada Logistik Perang Gabungan terjadi ketika Sekretaris Pertahanan Rumsfeld merancang the United States Transportation Command (USTRANSCOM = Komando Transportasi Amerika Serikat) sebagai pemilik proses distribusi yang memiliki tugas dan tanggung jawab untuk memastikan pengiriman perbekalan dari tempat asal ke tempat pemakaian – pembuatan kemudian ke medan perang.

Dalam rangka mengemban tanggung jawab tersebut, Panglima USTRANSCOM mengajukan konsep the Deployment and Distribution Operation Center (DDOC = Pusat Operasi Penggelaran dan Distribusi) dan dengan persetujuan United States Central Command (USCENTCOM = Komando Pusat Amerika) menggelar USCENTCOM DDOC (CDDOC) ke Kuwait sebagai pilot program pada bulan Januari 2004.

CDDOC diciptakan guna menghubungkan penggelaran strategis dan proses distribusi dengan fungsi-fungsi operasional dalam mendukung kemampuan militer, dengan tujuan akhir meningkatkan logistik dari tempat asal ke tempat pemakaian.  CDDOC juga diawaki oleh personel yang dipersenjatai dengan teknologi informasi dan kemampuan untuk meraih kembali sehingga mampu menghubungkan penggelaran strategis dan proses distribusi tersebut dengan logistik perang dalam mendukung kemampuan militer.  Selain itu, CDDOC bergabung dengan JMC CENTCOM guna menciptakan suatu team yang efektif dalam mendukung logistik perang.  Berbagai inisiatif CDDOC sangat berhasil.

XDDOC sebagai sebuah konsep Logistik Perang Gabungan bukanlah obat mujarab, namun memang benar-benar sangat menjanjikan dalam meningkatkan logistik perang.  Meskipun CDDOC berhasil, masih muncul masalah yang disebabkan oleh kurangnya jumlah Intransit Visibility (ITV) dan tidak adanya struktur Komando dan Kendali (K2) yang membuat kurang harmonisnya partnership logistik dengan operasi.  Menciptakan suatu Logistik Perang Gabungan diluar konsep XDDOC, dengan doktrin untuk mengarahkan penggunaannya, personel yang terlatih dan diperlengkapi sebagaimana mestinya, dan kepemimpinan untuk mengarahkan dan mendidik melalui perkembangan teknologi merupakan awal yang sangat baik sehubungan dengan kemampuan Logistik Perang Gabungan.  Langkah selanjutnya dalam visi jangka panjang kemungkinan besar untuk memperhatikan Joint Force Logistics Component Commander (JFLCC = Panglima Komponen Logistik Kekuatan Gabungan).  JFLCC dengan kewenangan untuk menggagalkan dan mengambil keputusan pada tingkat komponen tersebut dapat memastikan bahwa Logistik Perang Gabungan XDDOC digunakan sebagaimana mestinya dan menjadi penentu peperangan.  Logistik Perang Gabungan XDDOC tersebut beserta teknologi ITV masa kini dan sistem K2 yang di-upgrade akan memperbaiki batasan diantara logistik strategis dan operasional serta membantu memberikan cara yang lebih maju bagi Logistik Perang Gabungan.

Baca juga:  Kliping Berita Media, 18 Januari 2013

Kita semua setuju dengan adanya hubungan antara fungsi logistik dengan  penerbang AU.  Logistik menyiapkan, mensuplai dan memelihara kekuatan-kekuatan militer secara esensial, dan merupakan basis bagi kemampuan kekuatan-kekuatan di darat, laut dan khususnya kekuatan udara untuk melaksanakan operasi udara yang logistiknya memang benar-benar harus ada.  Operasi udara merupakan kegiatan militer dengan mendayagunakan kekuatan dan kemampuan sistem senjata udara sebagai komponen utamanya yang memiliki ruang gerak yang luas dan mampu menjangkau setiap titik di atas permukaan.   Apakah hubungan logistik, operasi udara dan penerbang AU sudah didefinisikan dengan benar?    Pada awal tahun 1960-an terdapat hubungan yang telah ditetapkan antara logistik dan sistem senjata udara khususnya pesawat terbang (pesawat tempur, pesawat angkut dan helikopter) yakni logistik “mendukung” pesawat terbang.  Pada saat itu, masalah logistik  merupakan hal yang relatif baru, dan dengan beberapa penelitian yang sedang berlangsung, hal ini sangat lambat dalam menciptakan pemahaman yang lebih baik.  Oleh karena itu, selama masa itu, definisi hubungan ini tampak sesuai.  Namun tidak demikian hingga akhir tahun 1970-an, beberapa penganjur logistik militer mulai menyadari bahwa dukungan logistik pada pesawat terbang sebenarnya akan menciptakan dan mempertahankan kemampuan tempur. Kemampuan tempur ini diadakan bagi kekuatan-kekuatan tempur dalam bentuk penyediaan operasional pesawat terbang yang berkelanjutan.  Kesadaran ini menciptakan definisi lain dari hubungan tersebut; yakni bahwa logistik menciptakan dan mempertahankan kemampuan tempur.  Sementara itu banyak orang telah mendengar tentang hal ini namun hanya sedikit yang menyadari implikasinya.

Tingkat kemampuan tempur yang disediakan oleh logistik untuk kekuatan udara  menentukan panjangnya waktu pelaksanaan perang.  Pada saatnya hal ini membatasi dan membentuk cara perang dilaksanakan. Kemampuan tempur dikembangkan dan diterapkan pada design seluruh pesawat terbang.  Kemajuan teknologi pesawat terbang meningkatkan kecepatan, daya jangkau, kemampuan manuver, plafon dan kekuatan tembakan yang seluruhnya menjadikan rudal, stealth serta kemampuan tempur ofensif dan defensif lainnya lebih mematikan dan akurat.  Seluruhnya akan diterapkan pada pesawat terbang modern di masa mendatang.  Pesawat terbang tersebut akan berisi kemampuan tempur yang dimiliki kekuatan-kekuatan militer.  Kekuatan yang dimiliki kekuatan militer tidak lagi diukur dari jumlah personel bersenjata.  Saat ini, kekuatan militer diukur berdasarkan jumlah dan kemampuan tempur dari pesawat terbang yang dimiliki.  Departemen Pertahanan Amerika mendefinisikan dan memanage jumlah lingkungan disekitar logistik militer yaitu aktivitas dan sumber daya yang diperlukan untuk menciptakan dan mempertahankan kemampuan tempur.  Sementara itu dapat dikatakan bahwa pasukan masih berjalan merayap/lambat (belum mengalami kemajuan) dan biasanya hal-hal yang tidak terungkapkan adalah kemampuan berbasis kompetensi logistik yang mereka miliki.

Masalah logistik yang dialami selama perang adalah tersedianya dukungan logistik secara tepat jenis, tepat jumlah dan tepat guna.  Logistik masa kini harus menghadapi tantangan dalam mendukung transformasi kekuatan tempur menjadi kekuatan untuk menyerang dan bertahan secara cepat, akurat, unggul dalam teknologi, sistim tangguh, tanggap, fleksibel, terintegrasi penuh dengan operasi yang dilaksanakan dan mobile.    

Baca juga:  Banjir di Jakarta: Warga Cipinang Melayu Tagih Janji Basuki

Perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah meningkatkan kemampuan pesawat tempur, pesawat angkut dan helikopter modern menjadi lebih dapat diandalkan, lebih mampu bertahan dan mampu melaksanakan bermacam operasi dan peran.   Namun demikian kemampuan tempur mempersyaratkan tersedianya logistik guna mendukung operasi udara dan penerbang AU.  Penerbang AU menuntut logistik seperti bahan bakar, amunisi, suku cadang dan perlengkapan dalam jumlah sangat besar untuk melaksanakan operasi udara untuk perang.  Seluruh komoditas tersebut harus diproduksi, dibeli, dikirim dan didistribusi bagi penerbang AU dan tentu saja sarana untuk melaksanakannya harus dipertahankan.  Kita mengetahui bahwa logistik menciptakan dan mempertahankan kemampuan tempur.  Kitapun beranggapan penerbang AU berjuang di medan perang.  Oleh karena itu, sangatlah masuk akal bila dikatakan bahwa dalam rangka seseorang menjadi penerbang AU, maka penerbang tersebut harus memiliki kemampuan melaksanakan perang.   Pesawat terbang dirancang dan diciptakan sejak awal sebagai alat perang, tidak demikian halnya dengan manusia.  Oleh karenanya, untuk menjadi penerbang AU maka para penerbang harus dilengkapi dengan sejumlah kemampuan tempur.  Dengan melengkapi para penerbang AU tersebut dengan pesawat terbang yang membuat mereka mampu melaksanakan operasi udara yang memiliki kemampuan tempur, berarti logistik  menciptakan kemampuan tempur.  Dapat diartikan disini bahwa logistik bukanlah mendukung penerbang AU tetapi menciptakan penerbang AU.  Transformasi ini bermula ketika seorang penerbang AU yang akan melaksanakan misi mulai melakukan start engine terhadap pesawat terbangnya.  Pada saat itulah, penerbang AU tersebut mengendalikan pesawat terbang beserta kemampuan tempur yang dimilikinya dan menjadi satu paket pemukul mematikan yang tak terpisahkan.  Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa sang penerbang telah menjadi penerbang AU seutuhnya.  Tanpa kemampuan tempur yang disediakan oleh pesawat terbang maka seorang penerbang AU hanyalah seorang penerbang yang menerbangkan pesawat tanpa kemampuan tempur.

Logistik merupakan elemen kunci dalam peperangan, terutama pada abad ke-21 bila dibandingkan dengan waktu-waktu sebelumnya. Realitanya logistik merupakan pertimbangan utama untuk melaksanakan perang dimasa mendatang. Keberhasilan di medan perang  modern ditentukan oleh sejauh mana panglima dan komandan AU mampu memanage dengan baik partnership logistik dan operasi. Logistik menciptakan dan mempertahankan penerbang AU mampu melaksanakan operasi udara dan memenangkan perang.

Daftar Pustaka

Fred Cluck, Colonel, USAF, Retired, Militray Logistics and Warfighter, Logistics Dimension 2006, Air Force Logistics Mangement Agency, July 2006.

Greory S. Otey, Lieutenant Colonel, USAF, Mending a Seam: Joint Theater Logistics, Logistics Dimension 2006, Air Force Logistics Mangement Agency, July 2006.

Mabes TNI, Naskah Sementara Petunjuk Dasar Logistik TNI, Jakarta, 1 Desember 2006. 

Mabes TNI AU, Doktrin TNI AU Swa Bhuwana Paksa, Jakarta, 9 April 2007.

Mabes TNI AU, Buku Petunjuk Induk TNI AU Tentang Operasi Udara, Jakarta, September 2004. 

RAAF, Fundamental of Australian Aerospace Power Australia, Aerospace Center, August 2002.

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel